Filsafat sebagai suatu cabang dari ilmu pengetahuan diyakini merupakan suatu disiplin ilmu yang cukup sulit dan terkadang dianggap hantu bagi sementara kalangan pelajar. Kadang cabang ilmu ini menjadi sebuah cemoohan yang dihujat dan dilaknat sebagian umat muslim yang tulen dan shalih dalam mendalami, mengkaji dan mengamalkan nilai – nilai ajaran islam karena dianggap berbahaya dan bisa membawa orang yang berkecimpung didalamnya menjadi seorang kafir. Filsafat sering difitnah sebagai sekuleristik, ateis, dan anarkis karena suka menyobek selubung – selubung ideologis pelbagai kepentingan duniawi, termasuk yang tersembunyi dibalik pakaian seorang 'alim. Ia tidak sopan. Ia bagaikan anjing yang menggonggong, mengganggu dan menggigit.
Pandangan semacam ini sangat wajar dan seringkali kita jumpai dalam pandangan sementara masyarakat terutama masyarakat muslim yang berkecimpung dalam urusan 'ubudiyah. Kekhawatiran inipun juga sangat wajar mengingat banyak pemburu filsafat yang pada akhirnya karena kesalahan dalam memahami dan mengkaji ilmu ini kemudian tidak lagi mengindahkan nilai – nilai yang ada dalam ajaran agama islam. Namun bagaimana sebenarnya islam memandang ilmu ini? Apakah islam benar melarang tumbuh dan berkembangnya ilmu ini? Atau justeru sebaliknya?
Pada dasarnya tidak ada larangan didalam islam tentang mempelajari ilmu filsafat. Bahkan islam sangat menganjurkan agar manusia berfilsafat. Hal ini tertuang didalam al qur'an surat al ankabut ayat 20 :
قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الْآَخِرَةَ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (20)
Artinya : "Katakanlah : "Berjalanlah dibumi, maka perhatikanlah bagaimana (Allah) memulai penciptaan (makhluk), kemudian Allah menjadikan kejadian yang akhir, Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." ( Q.S. Al Ankabut: 20)
Ayat ini memberikan sebuah inspirasi dan motivator kepada umat islam agar melakukan proses penelitian analisis yang mendalam terhadap apa yang ada di bumi. Kata أنظروا كيف بدأالخلق memberikan sebuah pemahaman bahwa proses penciptaan Allah terhadap makhluq adalah sebuah proses yang perlu mendapat perhatian yang serius, analisis yang mendalam dan juga penelitian yang detail. Penelitian, analisis ini merupakan sebuah bagian dari kerja filsafat. Hal ini dikarenakan filsafat secara hakiki adalah ilmu kritis.
Sebagai sebuah ilmu kritis maka filsafat akan bergulat pada masalah – masalah dasar kemanusian bahkan tentang masalah – masalah ketuhanan. Filasafat harus mengkritik jawaban – jawaban yang tidak memadai dan harus ikut serta dalam mencari jawaban yang benar. Bahwa filsafat juga harus mencari jawaban perlu ditegaskan berhadapan dengan suatu trend modis masakini, seakan – akan tugas filsafat terbatas pada menanyakan pertanyaan – pertanyaan yang betul. Seakan – akan bukan tugasnya untuk mencoba memberi sebuah jawaban.
Sebagai ilmu kritis filsafat juga harus mampu untuk bersikap kritis bahkan pada hakikat ilmu filsafat itu sendiri. Filsafat memang harus mencari jawaban – jawaban, namun demikian jawaban – jawaban itu tidaklah abadi. Karena itu filsafat tidak akan pernah selesai dan tak pernah sampai pada akhir sebuah masalah. Filsafat akan berkembang sejalan dengan kehidupan manusia yang dinamis, berkembang dan senantiasa diliputi masalah.
Sebagai sebuah agama islam tidak pernah melarang manusia untuk berfikir secara bebas, akan tetapi islam memberikan batasan bahwa pemikiran yang dilakukan oleh manusia tidak berhubungan dengan dzat Allah sebagai Tuhan yang wajib disembah. Hal ini sesuai dengan pernyataan hukama' :
تفكروا فى خلق الله ولا تفكروا فى ذات الله
Artinya : berfikirlah tentang apa yang telah diciptakan Allah dan janganlah kalian berfikir tentang dzat Allah.
Hal ini dapat dimaklumi karena Dzat Allah sebagi Tuhan yang wajib disembah memiliki sifat yang tak terbatas. Berbeda dengan manusia. Sehebat apapun manusia namun kehebatan manusia itu hanya bersifat nisbi. Kemampuan akal manusia takkan mampu menjangkau pada hal – hal yang bersifat transenden. Manusia hanya mampu memahami dan menjangkau hal – hal yang bersifat immanent yang menjadi bidang garapan manusia yang dalam term diatas disebut sebagai خلق الله ( ciptaan Allah ).
Dalam sejarah islam kita mengenal tokoh – tokoh yang menjadi panutan dunia dalam bidang filsafat. Dibelahan dunia bagian timur kita mengenal Abu Yusuf Ya'kub ibnu Ishaq ibnu Ismail al Ash'ats ibnu Qais Al Kindi, Ar razi, Al Farabi, Ikhwanus Shafa dll. Sementara dibelahan barat ada Ibnu Bajjah, Ibnu Thufail, ibnu Rusyd dan masih banyak lagi yang lain. Para filosof ini menjadi sebuah bukti bahwa islam tidak memandang filsafat sebagi sebuah ilmu yang tidak boleh dipelajari dalam dunia islam. Justeru sebenarnya dalam islam sangat menekankan proses berfikir yang dengan proses tersebut keimanan bertambah, islam menjadi kuat dan disegani di seluruh belahan dunia. Intinya berfilsafat adalah penting demi dan untuk menegakkan kalimah Allah atas orang – orang yang menentangnya. Karena para penentang itu tidak akan menerima argument yang hanya berdasarkan keimanan saja akan tetapi mereka butuh rasional, logis dan realistis. Pemikiran semacam itu hanya mungkin didapat ketika kita belajar tentang filsafat.
والله أعلم بالصواب
Tampilkan postingan dengan label FILOSUF ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FILOSUF ISLAM. Tampilkan semua postingan
Minggu, 02 Januari 2011
Senin, 13 April 2009
BACALAH SELALU NIDA' " YAA SAYYIDII YAA RASUULALLAH " DIMANAPUN DAN KAPANPUN ANDA BERADA
Al-Ghazali
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i (lahir 1058 di Thus, Propinsi Khurasan, Persia (Iran), wafat 1111, Thus) adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan.
Daftar isi
1 Riwayat Hidup
2 Sifat Pribadi
3 Pendidikan
4 Karya
4.1 Teologi
4.2 Tasawuf
4.3 Filsafat
4.4 Fiqih
4.5 Logika
5 Pranala luar
6 Rujukan
7 Catatan
//
[sunting] Riwayat Hidup
Imam al-Ghazali dilahirkan pada tahun 450 Hijrah bersamaan dengan tahun 1058 Masehi di bandat Thus, Khurasan (Iran). Beliau berkun`yah Abu Hamid karena salah seorang anaknya bernama Hamid. Gelar beliau al-Ghazali ath-Thusi berkaitan dengan gelar ayahnya yang bekerja sebagai pemintal bulu kambing dan tempat kelahirannya yaitu Ghazalah di Bandar Thus, Khurasan. Sedangkan gelar asy-Syafi'i menunjukkan bahwa beliau bermazhab Syafi'i. Beliau berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh. Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli pikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Beliau pernah memegang jawatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di Baghdad. Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada 4 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah bersamaan dengan tahun 1111 Masehi di Thus. Jenazahnya dikebumikan di tempat kelahirannya.
[sunting] Sifat Pribadi
Imam al-Ghazali mempunyai daya ingat yang kuat dan bijak berhujjah. Beliau digelar Hujjatul Islam karena kemampuannya tersebut. Beliau sangat dihormati di dua dunia Islam yaitu Saljuk dan Abbasiyah yang merupakan pusat kebesaran Islam. Beliau berjaya mengusai pelbagai bidang ilmu pengetahuan. Imam al-Ghazali sangat mencintai ilmu pengetahuan. Beliau juga sanggup meninggalkan segala kemewahan hidup untuk bermusafir dan mengambara serta meninggalkan kesenangan hidup demi mencari ilmu pengetahuan. Sebelum beliau memulakan pengambaraan, beliau telah mempelajari karaya ahli sufi ternama seperti al-Junaid Sabili dan Bayazid Busthami. Imam al-Ghazali telah mengembara selama sepuluh tahun. Beliau telah mengunjungi tempat-tempat suci yang bertaburan di daerah Islam yang luas seperti Mekkah, Madinah, Jerusalem, dan Mesir. Beliau terkenal sebagai ahli filsafat Islam yang telah mengharumkan nama ulama di Eropa melalui hasil karyanya yang sangat bermutu tinggi. Sejak kecil lagi berliau telah dididik dengan akhlak yang mulia. Hal ini menyebabkan beliau benci kepada sifat riya, megah, sombong, takabur, dan sifat-sifat tercela yang lain. Beliau sangat kuat beribadat, wara, zuhud, dan tidak gemar kepada kemewahan, kepalsuan. Kemegahan, dan kepuran-puraan dan mencari sesuatu untuk mendapat keredhaan dari Allah SWT. Beliau mempunyai keahlian dalam pelbagai bidang ilmu terutamanya fiqih, usul fiqih, dan siyasah syariah. Oleh karena itu, beliau disebut sebagai seorang faqih.
[sunting] Pendidikan
Pada tingkat dasar, beliau mendapat pendidikan secara gratis dari beberapa orang guru karena kemiskinan keluarganya. Pendidikan yang diperoleh pada peringkat ini membolehkan beliau menguasai Bahasa Arab dan Parsi dengan fasih. Oleh sebab minatnya yang mendalam terhadap ilmu, beliau mula mempelajari ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, usul fiqih, filsafat, dan mempelajari segala pendapat keeempat mazhab hingga mahir dalam bidang yang dibahas oleh mazhab-mazhab tersebut. Selepas itu, beliau melanjutkan pelajarannya dengan Ahmad ar-Razkani dalam bidang ilmu fiqih, Abu Nasr al-Ismail di Jarajan, dan Imam Harmaim di Naisabur. Oleh sebab Imam al-Ghazali memiliki ketinggian ilmu, beliau telah dilantik menjadi mahaguru di Madrasah Nizhamiah (sebuah universitas yang didirikan oleh perdana menteri) di Baghdad pada tahun 484 Hijrah. Kemudian beliau dilantik pula sebagai Naib Kanselor di sana. Beliau telah mengembara ke beberapa tempat seperti Mekkah, Madinah, Mesir dan Jerusalem untuk berjumpa dengan ulama-ulama di sana untuk mendalami ilmu pengetahuannya yang ada. Dalam pengembaraan, beliau menulis kitab Ihya Ulumuddin yang memberi sumbangan besar kepada masyarakat dan pemikiran manusia dalam semua masalah.
[sunting] Karya
[sunting] Teologi
Al-Munqidh min adh-Dhalal
Al-Iqtishad fi al-I`tiqad
Al-Risalah al-Qudsiyyah
Kitab al-Arba'in fi Ushul ad-Din
Mizan al-Amal
Ad-Durrah al-Fakhirah fi Kasyf Ulum al-Akhirah[1][2]
[sunting] Tasawuf
Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama)[3], merupakan karyanya yang terkenal
Kimiya as-Sa'adah (Kimia Kebahagiaan)[4]
Misykah al-Anwar (The Niche of Lights)
[sunting] Filsafat
Maqasid al-Falasifah
Tahafut al-Falasifah,[5] buku ini membahas kelemahan-kelemahan para filosof masa itu, yang kemudian ditanggapi oleh Ibnu Rushdi dalam buku Tahafut al-Tahafut (The Incoherence of the Incoherence).
[sunting] Fiqih
Al-Mushtasfa min `Ilm al-Ushul
[sunting] Logika
Mi`yar al-Ilm (The Standard Measure of Knowledge)
al-Qistas al-Mustaqim (The Just Balance)
Mihakk al-Nazar fi al-Manthiq (The Touchstone of Proof in Logic)
[sunting] Pranala luar
(en) Al-Ghazali Web Site
[sunting] Rujukan
Laoust, H: La politique de Gazali, 1970.
Campanini, M.: Al-Ghazzali, in S.H. Nasr and O. Leaman, History of Islamic Philosophy 1996.
Watt, W M.: Muslim Intellectual: A Study of al-Ghazali, Edinburgh 1963.
[sunting] Catatan
^ (ar) Al-Ghazali. Ad-Durrah al-Fakhirah fi Kasyf Ulum al-Akhirah. Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. Cetakan I, 1409 H / 1988 M.
^ (id) -----. Kasyf Ulum al-Akhirah, Berwisata ke Alam Ruh. Penerbit Marja', Bandung. Cetakan I, Dzulhijjah 1424 H / Januari 2004 M.
^ (ar) -----. Ihya Ulumuddin (pranala unduhan, unduhan 5.33 MB).
^ (en) -----. The Alchemy of Happiness. Translator: Claud Field (1863-1941). Northbrook Society. 1909.
^ (en) Marmura. Al-Ghazali The Incoherence of the Philosophers (2nd edition). Printing Press, Brigham. ISBN 0-8425-2466-5.
Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Al-Ghazali"
Kategori: Filsuf Cendekiawan Muslim Kelahiran 1058 Kematian
Al-Ghazali
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i (lahir 1058 di Thus, Propinsi Khurasan, Persia (Iran), wafat 1111, Thus) adalah seorang filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan.
Daftar isi
1 Riwayat Hidup
2 Sifat Pribadi
3 Pendidikan
4 Karya
4.1 Teologi
4.2 Tasawuf
4.3 Filsafat
4.4 Fiqih
4.5 Logika
5 Pranala luar
6 Rujukan
7 Catatan
//
[sunting] Riwayat Hidup
Imam al-Ghazali dilahirkan pada tahun 450 Hijrah bersamaan dengan tahun 1058 Masehi di bandat Thus, Khurasan (Iran). Beliau berkun`yah Abu Hamid karena salah seorang anaknya bernama Hamid. Gelar beliau al-Ghazali ath-Thusi berkaitan dengan gelar ayahnya yang bekerja sebagai pemintal bulu kambing dan tempat kelahirannya yaitu Ghazalah di Bandar Thus, Khurasan. Sedangkan gelar asy-Syafi'i menunjukkan bahwa beliau bermazhab Syafi'i. Beliau berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh. Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli pikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia. Beliau pernah memegang jawatan sebagai Naib Kanselor di Madrasah Nizhamiyah, pusat pengajian tinggi di Baghdad. Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada 4 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah bersamaan dengan tahun 1111 Masehi di Thus. Jenazahnya dikebumikan di tempat kelahirannya.
[sunting] Sifat Pribadi
Imam al-Ghazali mempunyai daya ingat yang kuat dan bijak berhujjah. Beliau digelar Hujjatul Islam karena kemampuannya tersebut. Beliau sangat dihormati di dua dunia Islam yaitu Saljuk dan Abbasiyah yang merupakan pusat kebesaran Islam. Beliau berjaya mengusai pelbagai bidang ilmu pengetahuan. Imam al-Ghazali sangat mencintai ilmu pengetahuan. Beliau juga sanggup meninggalkan segala kemewahan hidup untuk bermusafir dan mengambara serta meninggalkan kesenangan hidup demi mencari ilmu pengetahuan. Sebelum beliau memulakan pengambaraan, beliau telah mempelajari karaya ahli sufi ternama seperti al-Junaid Sabili dan Bayazid Busthami. Imam al-Ghazali telah mengembara selama sepuluh tahun. Beliau telah mengunjungi tempat-tempat suci yang bertaburan di daerah Islam yang luas seperti Mekkah, Madinah, Jerusalem, dan Mesir. Beliau terkenal sebagai ahli filsafat Islam yang telah mengharumkan nama ulama di Eropa melalui hasil karyanya yang sangat bermutu tinggi. Sejak kecil lagi berliau telah dididik dengan akhlak yang mulia. Hal ini menyebabkan beliau benci kepada sifat riya, megah, sombong, takabur, dan sifat-sifat tercela yang lain. Beliau sangat kuat beribadat, wara, zuhud, dan tidak gemar kepada kemewahan, kepalsuan. Kemegahan, dan kepuran-puraan dan mencari sesuatu untuk mendapat keredhaan dari Allah SWT. Beliau mempunyai keahlian dalam pelbagai bidang ilmu terutamanya fiqih, usul fiqih, dan siyasah syariah. Oleh karena itu, beliau disebut sebagai seorang faqih.
[sunting] Pendidikan
Pada tingkat dasar, beliau mendapat pendidikan secara gratis dari beberapa orang guru karena kemiskinan keluarganya. Pendidikan yang diperoleh pada peringkat ini membolehkan beliau menguasai Bahasa Arab dan Parsi dengan fasih. Oleh sebab minatnya yang mendalam terhadap ilmu, beliau mula mempelajari ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, usul fiqih, filsafat, dan mempelajari segala pendapat keeempat mazhab hingga mahir dalam bidang yang dibahas oleh mazhab-mazhab tersebut. Selepas itu, beliau melanjutkan pelajarannya dengan Ahmad ar-Razkani dalam bidang ilmu fiqih, Abu Nasr al-Ismail di Jarajan, dan Imam Harmaim di Naisabur. Oleh sebab Imam al-Ghazali memiliki ketinggian ilmu, beliau telah dilantik menjadi mahaguru di Madrasah Nizhamiah (sebuah universitas yang didirikan oleh perdana menteri) di Baghdad pada tahun 484 Hijrah. Kemudian beliau dilantik pula sebagai Naib Kanselor di sana. Beliau telah mengembara ke beberapa tempat seperti Mekkah, Madinah, Mesir dan Jerusalem untuk berjumpa dengan ulama-ulama di sana untuk mendalami ilmu pengetahuannya yang ada. Dalam pengembaraan, beliau menulis kitab Ihya Ulumuddin yang memberi sumbangan besar kepada masyarakat dan pemikiran manusia dalam semua masalah.
[sunting] Karya
[sunting] Teologi
Al-Munqidh min adh-Dhalal
Al-Iqtishad fi al-I`tiqad
Al-Risalah al-Qudsiyyah
Kitab al-Arba'in fi Ushul ad-Din
Mizan al-Amal
Ad-Durrah al-Fakhirah fi Kasyf Ulum al-Akhirah[1][2]
[sunting] Tasawuf
Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama)[3], merupakan karyanya yang terkenal
Kimiya as-Sa'adah (Kimia Kebahagiaan)[4]
Misykah al-Anwar (The Niche of Lights)
[sunting] Filsafat
Maqasid al-Falasifah
Tahafut al-Falasifah,[5] buku ini membahas kelemahan-kelemahan para filosof masa itu, yang kemudian ditanggapi oleh Ibnu Rushdi dalam buku Tahafut al-Tahafut (The Incoherence of the Incoherence).
[sunting] Fiqih
Al-Mushtasfa min `Ilm al-Ushul
[sunting] Logika
Mi`yar al-Ilm (The Standard Measure of Knowledge)
al-Qistas al-Mustaqim (The Just Balance)
Mihakk al-Nazar fi al-Manthiq (The Touchstone of Proof in Logic)
[sunting] Pranala luar
(en) Al-Ghazali Web Site
[sunting] Rujukan
Laoust, H: La politique de Gazali, 1970.
Campanini, M.: Al-Ghazzali, in S.H. Nasr and O. Leaman, History of Islamic Philosophy 1996.
Watt, W M.: Muslim Intellectual: A Study of al-Ghazali, Edinburgh 1963.
[sunting] Catatan
^ (ar) Al-Ghazali. Ad-Durrah al-Fakhirah fi Kasyf Ulum al-Akhirah. Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. Cetakan I, 1409 H / 1988 M.
^ (id) -----. Kasyf Ulum al-Akhirah, Berwisata ke Alam Ruh. Penerbit Marja', Bandung. Cetakan I, Dzulhijjah 1424 H / Januari 2004 M.
^ (ar) -----. Ihya Ulumuddin (pranala unduhan, unduhan 5.33 MB).
^ (en) -----. The Alchemy of Happiness. Translator: Claud Field (1863-1941). Northbrook Society. 1909.
^ (en) Marmura. Al-Ghazali The Incoherence of the Philosophers (2nd edition). Printing Press, Brigham. ISBN 0-8425-2466-5.
Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Al-Ghazali"
Kategori: Filsuf Cendekiawan Muslim Kelahiran 1058 Kematian
ABU HAMID AL- GHAZALI
BACALAH SELALU NIDA' " YAA SAYYIDII YAA RASUULALLAH " DIMANAPUN DAN KAPANPUN ANDA BERADA
Cendekiawan Islam
Zaman Kegemilangan Islam
Nama: Abu Hāmid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazālī
Gelaran: Syaraful A'immah, Zainuddin, Hujjatul Islam
Lahir: 1058 M atau 450 H
Wafat: 1111 M atau 505 H
Mazhab: Syafie
Etnik: Parsi
Rantau: Parsi
Bidang: Tasawuf, Teologi (Kalam), Falsafah, Logik, Fiqh
Pengaruh: Fakhruddin al-Razi, Moses Maimonides, Thomas Aquinas, Ramón Martí, Nicholas Autrecourt, Shah Waliullah, Abdul-Qader Bedil
Abū Ĥāmid al-Ghazālī, (1058-1111) (bahasa Parsi: ابو حامد محمد ابن محمد الغزالی) yang dikenali sebagai Algazel di Dunia Barat, adalah salah seorang ilmuwan Islam. Beliau juga merupakan seorang wali Allah yang besar dan lebih dikenali umum sebagai seorang tokoh pemikir Islam serta dianggapi sebagai al-mujaddid untuk kurunnya.
Nama penuhnya Muĥammad ibn Muĥammad ibn Muĥammad ibn Aĥmad, dan nama gelaran nisbahnya al-Ghazālī aţ-Ţūsī. Nama panggilannya (kunyah) pula Abū Ĥāmid. Di antara nama-nama gelaran lain yang telah diberikan kepadanya ialah Ĥujjatul-Islām, Sirāj al-Mujtahidīn dan Zain al-'Ābidīn.
Kubur Al-Ghazali.
[sunting] Riwayat Hidup
Abū Ĥāmid al-Ghazālī dilahirkan pada tahun 450 Hijrah di desa Ghazālah, di pinggir kota Ţūs, yang terletak pada hari ini di bahagian timur laut negara Iran, berdekatan dengan kota Mashhad, ibu kota wilayah Khorāsān.
Keluarga Abū Ĥāmid al-Ghazālī kuat beragama. Ayahnya bekerja menenun kain dari bulu biri-biri. Hasil tenunan kainnya itu dibawa dari desa Ghazālah ke kota Ţūs untuk dijual di sana. Walaupun si ayah adalah seorang lelaki yang miskin, dia juga merupakan seorang yang jujur dan baik hati. Dia suka bergaul dengan al-'ulamā' dan juga para sufi sambil memetik ilmu-ilmu agama, serta berbakti dan berkhidmat kepada mereka. Kerana selalu mendampingi orang-orang yang berilmu dan sering pula mendengar uraian-uraian daripada mereka, si ayah telah merasa kesan positifnya, lalu berdoa agar dia dikurniakan seorang anak yang cerdik, berilmu dan juga şāliĥ. Doanya itu telah diperkenankan Allah.
Lahirlah anaknya yang telah diberikan nama Muĥammad. Pada hari tuanya, Muĥammad ini telah menjadi bukan sahaja seorang şāliĥ, malah telah menjadi seorang guru pula kepada golongan aş-şāliĥīn di zamannya, dan telah dikenali umum sebagai al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī.
Ayah Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah meninggal dunia ketika Abū Ĥāmid al-Ghazālī berumur lebih kurang enam tahun. Setelah ayahnya meninggal dunia, beliau dan adik lelakinya yang bernama Aĥmad, telah hidup di bawah asuhan seorang sahabat ayah mereka, seorang mutaşawwif.
Si ayah ada mewasiatkan sedikit wang dengan sahabatnya itu bagi membiayai kehidupan kedua-dua orang anaknya itu. Mereka pun mula belajar membaca dan menulis daripada sahabat ayah mereka itu. Tetapi, setelah beberapa waktu berlalu, wang belanja itu telah habis.
Maka pada suatu hari, berkatalah si sahabat ayah mereka itu kepada mereka:
"Ketahuilah, telah aku belanjakan segala wang yang telah diwariskan untuk engkau berdua. Dan aku ini seorang lelaki yang miskin dan sering berada di dalam kesempitan. Oleh itu, aku nasihatkan engkau berdua supaya pergi ke Ţūs dan belajar di madrasah di sana. Engkau berdua boleh menuntut ilmu pengetahuan di sana, yang dapat mendatangkan kesenangan kepada engkau berdua dan menghasilkan pangkat yang tinggi".
Madrasah yang dimaksudkan itu ialah sebuah institusi pelajaran yang diberikan nama al-Madrasah an-Niżāmiyyah. Ia telah diasaskan oleh Niżām al-Mulk, perdana menteri kepada as-Sulţān Alp Arslān (yang berketurunan Seljuq). Al-Madrasah an-Niżāmiyyah juga turut membiayai makanan, pakaian, dan juga kitab-kitab kegunaan para pelajarnya.
Niżām al-Mulk adalah seorang lelaki yang gemar kepada ilmu pengetahuan dan gemar pula bergaul dengan para cerdik pandai. Dia juga telah mendirikan beberapa madrasah, yang secara umumnya, dipanggil al-Madrasah an-Niżāmiyyah, di beberapa tempat lain di dalam empayar Kerajaan Banī al-‘Abbās (ad-Daulah al-‘Abbāsiyyah) ketika itu, seperti di Baghdād, al-Başrah, Mosul (Mauşil), Isfahan, Nīsyābūr, Merv, Balkh dan Herat.
Telah bercerita al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī mengenai sebab dia dan adiknya pergi menuntut ilmu:
"Kami telah menuntut ilmu kerana ghairillāh (sesuatu selain daripada Allah, yakni al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah pergi menuntut ilmu tidaklah benar-benar ikhlas kerana Allah)... "
Maka berangkatlah dua orang adik-beradik itu ke Ţūs.
Al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah belajar ilmu fiqh daripada seorang 'ālim yang bernama asy-Syaikh Aĥmad ibn Muĥammad ar-Rādhakānī. Dia juga telah mempelajari ilmu nahu dan ilmu hisab, serta telah berjaya menghafal isi al-Quran. Dia lebih menggemari ilmu-ilmu yang zahir seperti ilmu fiqh, sedangkan adiknya yang bernama Aĥmad itu, sejak masa mudanya lagi sudah mula cenderung kepada ilmu tasawuf.
Kemudian, pada tahun 465 Hijrah, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah pergi ke Jurjān (di dalam bahasa Parsi disebut sebagai Gorgān dan kota lama ini terletak lebih kurang 160 kilometer dari Ţūs) dan telah belajar daripada seorang guru yang bernama asy-Syaikh Abū Naşr Ismā‘īl ibn Mas‘adah al-Ismā‘īlī.
Ketika sedang belajar di Jurjān, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī merupakan seorang pelajar yang sangat rajin. Dengan tekun, dia telah menulis setiap pelajaran yang telah dia pelajari daripada gurunya itu. Kemudian, dia telah menyalin semula nota-nota itu dan telah dikumpulkannya di bawah beberapa tajuk yang tertentu. Dia sangat menyayangi nota-notanya itu.
Setelah tamat belajar di Jurjān, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī pun pulang ke Ţūs pada tahun 470 Hijrah. Dia telah mengikat nota-nota pelajarannya itu di dalam sebuah bungkusan dan kemudian telah bertolak bersama sebuah kafilah. Di tengah-tengah perjalanan, kafilah itu telah ditahan oleh sekumpulan penyamun yang telah merampas harta setiap anggota kafilah itu.
Ketika sampai giliran al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī pula, setiap barang kepunyaannya telah digeledah dan dirampas oleh kumpulan penyamun itu. Ketika penyamun-penyamun itu menyentuh bungkusan nota-notanya, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah berkata, "Ambillah semua yang engkau mahu, tetapi jangan engkau ambil bungkusan ini."
Penyamun-penyamun itu pula telah menyangka yang bungkusan itu mungkin mengandungi harta-harta yang amat berharga. Mereka pun membuka bungkusan itu. Tetapi mereka hanya menjumpai beberapa helai kertas yang sudah bertulis. Mereka pun bertanya, "Apa ini?"
Al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah menjawab, "Ini adalah hasil titik peluhku. Kerananya, aku telah meninggalkan kampung halamanku agar aku dapat mendengar, menulis dan memperolehi ilmunya."
Seorang anggota kumpulan penyamun itu telah ketawa dan telah berkata, "Bagaimanakah engkau boleh mendakwa yang engkau telah memperolehi ilmunya? Andaikata kami rampas bungkusan ini, engkau akan kehilangan ilmunya. Ilmu yang tersimpan di dalam beberapa helai kertas bukanlah ilmu yang sebenar!"
Bungkusan nota-nota itu pun dikembalikan kepada al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī. Kata-kata daripada si penyamun itu telah menyebabkan al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī tersedar dan mengubah cara dia berfikir.
Beberapa tahun kemudian, ketika dia mengingati kembali peristiwa ini, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah berkata, "Kata-kata daripada lelaki itu sebenarnya adalah kata-kata yang telah digerakkan (yakni diilhamkan). Allah telah menggerakkannya untuk berkata dengan kata-katanya itu, agar aku dapat menerima petunjuk. Apabila aku sampai semula di Ţūs, aku telah bekerja keras selama tiga tahun, sehingga aku telah berjaya menghapal segala yang telah aku tulis."
Al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī juga telah berkata, "Sebaik-baik nasihat dan teguran yang telah menyebabkan aku mengubah cara aku berfikir, telah datang daripada seorang penyamun jalanan!"
Peta Iran.Ketika berada di Jurjān, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah sempat bernikah, dan sepanjang hidupnya, telah dikurniakan oleh Allah dengan empat orang anak, seorang lelaki dan tiga orang perempuan. Tetapi malangnya, anak lelakinya yang bernama Ĥāmid itu, telah mati ketika masih kecil lagi.
Pada tahun 473 Hijrah, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah pergi ke al-Madrasah an-Niżāmiyyah di kota Nīsyābūr dan telah berguru dengan seorang syaikh yang sangat terkenal di waktu itu, bernama asy-Syaikh Điyā’uddīn Abū al-Ma‘ālī 'Abdul Mālik ibn ‘Abdullāh al-Juwainī. Guru ini juga dikenali umum dengan nama Imām al-Ĥaramain kerana dia pernah mengajar di Masjid al-Ĥarām di Makkah dan di Masjid an-Nabawī di al-Madīnah al-Munawwarah.
Al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī adalah seorang penuntut yang pintar dan disayangi pula oleh Imām al-Ĥaramain. Pernah gurunya ini memuji al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī dengan mengatakan bahawa al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī adalah umpama lautan yang tidak bertepi. Ini menandakan betapa dalam dan luasnya ilmu yang dimiliki oleh al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī. Malah telah dikatakan juga oleh beberapa orang pengkaji bahawa al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī memiliki darjah kecerdasan yang sangat tinggi, di paras genius.
Di al-Madrasah an-Niżāmiyyah di kota Nīsyābūr, tanda-tanda ketajaman otak al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī yang luar biasa itu telah mula kelihatan. Di pusat pengajian tinggi ini, dia telah belajar ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu bahasa seperti ilmu fiqh, ilmu usul, ilmu mantiq, ilmu falsafah, ilmu kalam dan ilmu perdebatan. Semua ilmu-ilmu ini telah dikuasainya dengan mudah. Dan di sini jugalah, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah mula menulis kitab-kitabnya yang banyak itu.
Al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī merupakan seorang ‘ālim yang gemar mempelajari bermacam-macam jenis ilmu. Ini telah diceritakan oleh al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī sendiri di dalam kitabnya yang bernama al-Munqidh Min ađ-Đalāl.
"Sejak aku masih muda lagi, yakni belum pun aku mencapai umur dua puluh tahun sehingga sekarang, dan kini umurku telah melebihi lima puluh tahun, aku telah terjun ke dasar laut (yakni ilmu) yang dalam ini. Tiada aku hiraukan segala kesulitan dan telah aku kumpulkan seluruh keberanianku.
Setiap jurang aku masuki sehingga aku sampai ke dasarnya. Setiap kemusykilan aku bongkar sehingga aku temui jawapannya yang jelas. Aku selidiki setiap kepercayaan dari setiap golongan. Aku korek hingga sampai ke dasar rahsia tersembunyinya. Ini semua telah aku lakukan agar aku dapat membezakan di antara yang benar dengan yang palsu, yang sunnah dengan yang bidaah.
Ketika aku bertemu dengan golongan batiniah, aku telah memeriksa dengan penuh teliti segala isi ajaran mereka. Ketika aku bertemu dengan kaum zahiriah pula, aku telah menyelidiki segala isi kandungan dan selok-belok ajaran mereka. Demikianlah halnya aku teruskan dengan setiap golongan.
Ketika aku bertemu dengan ahli-ahli falsafah, aku telah bergaul dengan mereka sehingga aku dapat mendalami cara pemikiran falsafah mereka. Ketika aku bertemu dengan ahli-ahli ilmu kalam, aku telah bergaul dengan mereka sehingga aku dapat mengikuti dan menyelidiki pokok-pokok pegangan hujah-hujah mereka.
Begitu juga apabila aku berdamping dengan para sufi, aku telah berusaha sehingga aku dapat mengetahui rahsia-rahsia kesufian. Ketika aku bergaul dengan ahli-ahli ibadat, aku telah mengkaji kesan-kesan amal ibadat mereka itu. Dan tiadalah aku temui kaum zindiq dan kaum engkar melainkan aku telah menyelidiki sebab-sebab dan latar belakang yang telah menjadikan mereka berpegangan demikian.
Al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah belajar ilmu tasawuf daripada asy-Syaikh Abū 'Alī al-Fađl ibn Muĥammad al-Fārmadhī aţ-Ţūsī (dilahirkan pada tahun 409 Hijrah di Fārmadh, yang terletak di dalam daerah Ţūs), seorang 'ālim dan faqīh, yang lebih terkenal di hari tuanya sebagai seorang guru sufi. Di bawah bimbingan gurunya ini, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah mengamalkan beberapa latihan rohani, tetapi dia tidak sempat mencapai tahap kesempurnaan, kerana gurunya ini telah meninggal dunia pada tahun 477 Hijrah.
(Fārmadh yang pernah dieja sebagai فارمذ pada zaman silam kini dieja dieja sebagai Fārmad فارمد)
Al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī juga ada bertemu dan belajar dengan beberapa orang guru sufi lain, dan salah seorang daripada mereka ialah asy-Syaikh Abū Bakr Yūsuf an-Nassāj aţ-Ţūsī. Dan di tangan guru sufi inilah, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah menerima beberapa pembukaan rohani tambahan, yang tidak sempat diterimanya semasa dia berguru dengan asy-Syaikh Abū 'Alī al-Fađl ibn Muĥammad al-Fārmadhī.
Sebenarnya, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah bertemu dahulu dengan asy-Syaikh Abū Bakr Yūsuf an-Nassāj aţ-Ţūsī sebelum bertemu dengan asy-Syaikh Abū 'Alī al-Fađl ibn Muĥammad al-Fārmadhī, dan setelah asy-Syaikh Abū 'Alī al-Fađl ibn Muĥammad al-Fārmadhī meninggal dunia, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah bertemu semula dengan asy-Syaikh Abū Bakr Yūsuf an-Nassāj aţ-Ţūsī untuk menerima ajaran-ajaran tambahan di dalam ilmu tasawuf.
Seperti keadaan asy-Syaikh Abū 'Alī al-Fađl ibn Muĥammad al-Fārmadhī, asy-Syaikh Abū Bakr Yūsuf an-Nassāj aţ-Ţūsī pernah berguru dengan asy-Syaikh Abū al-Ĥasan al-Kharqānī dan selepas itu dengan asy-Syaikh Abū al-Qāsim 'Abdullāh ibn 'Alī al-Jurjānī pula. Asy-Syaikh Abū Bakr Yūsuf an-Nassāj aţ-Ţūsī telah meninggal dunia pada tahun 487 Hijrah.
Beberapa waktu setelah Imām al-Ĥaramain meninggal dunia pada tahun 478 Hijrah, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah dijemput ke sebuah tempat bernama al-Mu‘askar untuk bertemu dengan Niżām al-Mulk.
Niżām al-Mulk telah banyak mendengar tentang keluasan dan ketinggian ilmu yang dimiliki oleh al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī. Oleh itu, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah diraikan sebagai seorang 'ālim yang besar. Al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah tinggal di al-Mu‘askar selama lebih kurang enam tahun. Dia juga telah ditemukan dengan al-fuqahā' dan para pemuka ilmu yang lain. Semuanya telah mengakui akan keluasan dan ketinggian ilmu al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī.
Pada tahun 484 Hijrah, Niżām al-Mulk telah melantik al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī ke jawatan pengetua (atau boleh juga dikatakan jawatan ketua profesor) di al-Madrasah an-Niżāmiyyah di Baghdād (yang tarafnya sama dengan Universiti Islam pada hari ini).
Ini adalah satu pencapaian yang sangat tinggi, kerana dalam usia baru tiga puluh empat tahun, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah diberikan gelaran Syaikh al-Islām, yakni setinggi-tinggi pangkat dari segi akademik dan keagamaan yang rasmi.
Al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah menjalankan tugas barunya ini dengan baik. Dia telah menarik perhatian daripada ramai para pelajar, yang dekat mahupun yang jauh. Nama al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah menjadi sangat terkenal di waktu itu, sebagai seorang 'ālim yang sangat fasih memberikan huraian-huraian pelajaran, dan sangat pandai berdebat dengan hujah-hujah yang jitu, serta sangat luas dan dalam pula ilmunya.
Tetapi keadaan hidup selesa yang penuh dengan kemegahan ini tidak berkekalan, kerana empat tahun kemudian, pada tahun 488 Hijrah, jiwanya telah melalui satu perubahan besar. Badan jasmaninya masih sihat tetapi jiwanya telah bergolak, dalam satu keadaan tertekan yang boleh diumpamakan seperti air yang sedang menggelegak. Ini telah menyebabkannya jatuh sakit.
Perubahan fikiran dan ledakan jiwa ini adalah berpunca dari satu kesedaran bahawa selama ini, segala kejayaan yang telah dicapainya, seperti memegang jawatan pengetua di al-Madrasah an-Niżāmiyyah di kota Baghdād itu, bukanlah telah dilakukannya dengan ikhlas semata-mata kerana Allah Ta'ala, tetapi telah juga dicampuri dengan sebab-sebab duniawi.
Sebuah kitab tulisan al-GhazālīTelah bercerita al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī di dalam kitabnya yang bernama al-Munqidh Min ađ-Đalāl:
Telah menjadi nyatalah kepadaku bahawa aku tidak akan mencapai kebahagian akhirat, melainkan dengan bertaqwa, dan juga mengekang kehendak nafsu. Dan yang utama sekali ialah memotong tali ikatan hati kepada dunia, dengan meninggalkan negeri yang penuh tipu daya ini, dan kembali ke negeri yang kekal abadi. Dan mengadap kepada Allah Ta‘ala dengan sepenuh hati. Dan ini tidak akan tercapai, melainkan dengan membuangkan dahulu segala kemegahan dan kekayaan, serta menjauhkan diri dari segala kesibukan dan tuntutan dunia (al-'alā'iq).
Kemudian aku telah memeriksa keadaan diriku sendiri. Maka aku dapati rupa-rupanya aku telah terperangkap di dalam jaring pada setiap arah. Dan apabila aku periksa pula pekerjaanku di dalam memberi kuliah dan ceramah, rupa-rupanya aku telah berkecimpung di dalam ilmu-ilmu yang tidak penting, dan tidak bermanfaat di jalan akhirat.
Setelah itu, aku berfikir pula tentang niatku di dalam memberi kuliah. Nyatalah, aku tidak ikhlas kerana wajah Allah Ta'ala. Malah, pembangkit dan pendorongku yang sebenar ialah mencari kemegahan dan kemasyhuran yang luas. Maka, aku pun yakin yang aku sedang berada di pinggir satu jurang yang merbahaya. Dan aku akan segera terjunam ke dalam api neraka, melainkan aku perbaiki keadaan diriku terlebih dahulu.
Perasaan jiwanya yang bergolak-golak ini, seakan-akan sedang meronta-ronta melawan fikiran akalnya sendiri. Dan ini merupakan satu tekanan jiwa yang amat berat dirasakan oleh al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī.
Sebuah kitab tulisan al-GhazālīTelah bercerita lagi al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī:
Tiadalah aku berhenti daripada berfikir akan keadaanku dan jalan mana yang akan aku pilih. Hatiku masih berbolak-balik.
Pada suatu hari, aku telah berazam untuk meninggalkan Baghdād, dan melepaskan diriku daripada keadaan hidup harian itu. Tetapi, pada keesokan harinya, aku telah membatalkan keputusan itu. Seolah-olah, sebelah kakiku telah melangkah ke hadapan, tetapi yang sebelah lagi telah mundur pula ke belakang!
Di pagi hari, aku telah bertekad untuk menuntut akhirat, tetapi di petang hari, tentera hawa nafsu telah datang menyerang, dan telah menghancurkannya. Syahwat dunia telah mengurungku, dan memaksa aku tetap kekal sahaja di situ, sedangkan suara keimanan telah menyeru kepadaku, “Kembaralah! Kembaralah! Tiadalah umurmu melainkan tinggal sedikit sahaja, sedangkan di hadapanmu adalah perjalanan yang jauh. Tiadalah engkau kumpulkan segala ilmu dan amal melainkan semuanya adalah riyak dan palsu belaka. Jika sekarang engkau masih belum bersiap sedia untuk akhirat, bilakah masanya engkau akan bersiap sedia? Jika sekarang engkau tidak putuskan tali belenggu itu, bilakah masanya untuk memutuskannya?”
Dan ketika seruan seperti ini bangkit, maka azam dan tekadku pun naik berkobar-kobar, rela menghadapi setiap cabaran dan rintangan.
Tetapi kemudian, datang semula syaitan dan berbisiklah dia, “Ini adalah satu perkara yang mengganggu-ganggu sahaja, jika engkau menyerah kepadanya. Biarkan sahaja. Ia akan hilang dengan segera. Jika engkau turuti ajakannya, lalu engkau tinggalkan pula segala kemegahan pangkat, serta keadaan yang baik ini, yang bebas daripada sebarang kesulitan, serta keadaan aman sejahtera yang bersih daripada perselisihan dan permusuhan, dan jika engkau turutinya, engkau akan menyesal, dan engkau akan menanggung kesukaran. Engkau tidak akan dapat kembali kepada keadaan senang seperti sebelumnya.”
Dan berterusanlah keadaanku ini, di mana aku berada di antara tarikan syahwat dunia, dan tarikan panggilan akhirat. Ia berpanjangan selama hampir enam bulan, bermula dari bulan Rejab tahun 488 Hijrah.
Pada bulan itu, aku telah berasa sudah tidak lagi berdaya, tiada lagi ikhtiarku, terpaksa menyerah sahaja. Allah telah mengunci lidahku, sehingga aku tidak dapat mengajar. Pada suatu hari, aku gagahi juga diriku untuk menyampaikan kuliah agar dapat menggembirakan hati para pelajarku. Tetapi lidahku telah menjadi kelu. Aku tidak dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Benar-benar tidak berdaya.
Dan keadaan bisu ini telah membuatku berdukacita, sehingga telah menjejaskan kekuatan pencernaan di perutku, dan menyekat makanan dan minumanku. Roti yang dicecah kuah pun tidak dapat aku kunyah, dan tidak dapat aku telan makanan walaupun sesuap.
Aku menjadi semakin lemah, sehingga para doktor yang merawatiku pun telah berputus asa, dan telah berkata mereka, “Perkara in berpunca dari kalbu. Dari situ, ia telah merebak hingga ke seluruh badan. Dan tiada cara untuk mengubatinya, melainkan melaluinya juga. Buangkanlah rahsia yang telah menghasilkan segala duka nestapa ini.”
Akhirnya, setelah menyedari akan betapa lemahnya diriku, setelah kehabisan segala ikhtiarku, aku pun berserah bulat-bulat kepada Allah Ta‘ala. Dia telah memperkenankan doaku, kerana Dialah Tuhan yang memperkenankan doa orang yang terdesak, apabila orang itu berdoa kepadaNya. Kini, menjadi ringanlah bagi hatiku untuk meninggalkan segala kemegahan, kekayaan, anak-anak dan rakan-rakan.
Oleh itu, pada bulan Zulkaedah tahun 488 Hijrah, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah meletakkan jawatannya sebagai pengetua di al-Madrasah an-Niżāmiyyah di Baghdād, dan telah mengambil keputusan untuk meninggalkan Baghdād dan menjadi seorang pengembara. Dia telah meminta adiknya, yakni asy-Syaikh Aĥmad al-Ghazālī, mengambil alih jawatannya itu.
Al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī kemudian telah mewaqafkan segala harta benda kepunyaannya, selain daripada sebahagian yang telah diketepikan untuk nafkah menyara hidup keluarganya, dan juga untuk dibuat bekal perjalanannya itu. Dan untuk mengelakkan daripada terjadi sebarang syak wasangka atau kekecohan, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī hanya mengumumkan yang dia akan berangkat ke Makkah al-Mukarramah untuk menunaikan ibadat haji.
Setelah meninggalkan Baghdād, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī pun menuju ke Syria dan telah menetap di kota Damaskus selama dua tahun. Dia juga telah banyak menghabiskan masanya duduk beriktikaf di Masjid Jamik al-Umawī di kota Damaskus. Ada kalanya dia akan naik ke menara masjid itu, dan selepas menguncikan pintunya, akan duduk berseorangan diri di sebuah sudut sepanjang hari. Dan pada hari ini pula, sudut itu telah diberikan nama panggilan Sudut al-Ghazāliyyah, untuk memperingati tempat di mana al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī pernah duduk beriktikaf di kala itu. (Sebelum itu, Sudut al-Ghazāliyyah telah dikenali dengan nama Sudut asy-Syaikh Naşr al-Maqdisī.)
[sunting] Peninggalannya
Kitab-kitab yang telah ditulis oleh beliau adalah amat banyak sekali dan telah dianggarkan melebihi 200 buah. Namun, yang masih kekal hingga ke hari ini hanyalah lebih kurang 50 buah sahaja.
Kebanyakan daripada kitab-kitab ini telah ditulis di dalam bahasa Arab, dan ada juga yang telah ditulis di dalam bahasa Parsi. Di antara kitab-kitab al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī yang lebih terkenal di negara Malaysia ialah:
ar-Risālah al-Ladunniyyah;
al-Munqidh Min ađ-Đalāl;
Bidāyah al-Hidāyah;
Minhāj al-‘Ābidīn;
Mīzān al-'Amal;
Kīmiyā' as-Sa'ādah;
Misykāh al-Anwār; dan
Iĥyā' 'Ulūmiddīn.
[sunting] Rujukan
Kandungan tulisan ini telah dipetik daripada laman web Maktabah Ibn Badawi dengan keizinan pemiliknya.
Diambil daripada "http://ms.wikipedia.org/wiki/Abu_Hamid_Al-Ghazali"
Kategori: Islam Ahli falsafah Parsi Ahli teologi Parsi Ahli falsafah Islam
Cendekiawan Islam
Zaman Kegemilangan Islam
Nama: Abu Hāmid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazālī
Gelaran: Syaraful A'immah, Zainuddin, Hujjatul Islam
Lahir: 1058 M atau 450 H
Wafat: 1111 M atau 505 H
Mazhab: Syafie
Etnik: Parsi
Rantau: Parsi
Bidang: Tasawuf, Teologi (Kalam), Falsafah, Logik, Fiqh
Pengaruh: Fakhruddin al-Razi, Moses Maimonides, Thomas Aquinas, Ramón Martí, Nicholas Autrecourt, Shah Waliullah, Abdul-Qader Bedil
Abū Ĥāmid al-Ghazālī, (1058-1111) (bahasa Parsi: ابو حامد محمد ابن محمد الغزالی) yang dikenali sebagai Algazel di Dunia Barat, adalah salah seorang ilmuwan Islam. Beliau juga merupakan seorang wali Allah yang besar dan lebih dikenali umum sebagai seorang tokoh pemikir Islam serta dianggapi sebagai al-mujaddid untuk kurunnya.
Nama penuhnya Muĥammad ibn Muĥammad ibn Muĥammad ibn Aĥmad, dan nama gelaran nisbahnya al-Ghazālī aţ-Ţūsī. Nama panggilannya (kunyah) pula Abū Ĥāmid. Di antara nama-nama gelaran lain yang telah diberikan kepadanya ialah Ĥujjatul-Islām, Sirāj al-Mujtahidīn dan Zain al-'Ābidīn.
Kubur Al-Ghazali.
[sunting] Riwayat Hidup
Abū Ĥāmid al-Ghazālī dilahirkan pada tahun 450 Hijrah di desa Ghazālah, di pinggir kota Ţūs, yang terletak pada hari ini di bahagian timur laut negara Iran, berdekatan dengan kota Mashhad, ibu kota wilayah Khorāsān.
Keluarga Abū Ĥāmid al-Ghazālī kuat beragama. Ayahnya bekerja menenun kain dari bulu biri-biri. Hasil tenunan kainnya itu dibawa dari desa Ghazālah ke kota Ţūs untuk dijual di sana. Walaupun si ayah adalah seorang lelaki yang miskin, dia juga merupakan seorang yang jujur dan baik hati. Dia suka bergaul dengan al-'ulamā' dan juga para sufi sambil memetik ilmu-ilmu agama, serta berbakti dan berkhidmat kepada mereka. Kerana selalu mendampingi orang-orang yang berilmu dan sering pula mendengar uraian-uraian daripada mereka, si ayah telah merasa kesan positifnya, lalu berdoa agar dia dikurniakan seorang anak yang cerdik, berilmu dan juga şāliĥ. Doanya itu telah diperkenankan Allah.
Lahirlah anaknya yang telah diberikan nama Muĥammad. Pada hari tuanya, Muĥammad ini telah menjadi bukan sahaja seorang şāliĥ, malah telah menjadi seorang guru pula kepada golongan aş-şāliĥīn di zamannya, dan telah dikenali umum sebagai al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī.
Ayah Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah meninggal dunia ketika Abū Ĥāmid al-Ghazālī berumur lebih kurang enam tahun. Setelah ayahnya meninggal dunia, beliau dan adik lelakinya yang bernama Aĥmad, telah hidup di bawah asuhan seorang sahabat ayah mereka, seorang mutaşawwif.
Si ayah ada mewasiatkan sedikit wang dengan sahabatnya itu bagi membiayai kehidupan kedua-dua orang anaknya itu. Mereka pun mula belajar membaca dan menulis daripada sahabat ayah mereka itu. Tetapi, setelah beberapa waktu berlalu, wang belanja itu telah habis.
Maka pada suatu hari, berkatalah si sahabat ayah mereka itu kepada mereka:
"Ketahuilah, telah aku belanjakan segala wang yang telah diwariskan untuk engkau berdua. Dan aku ini seorang lelaki yang miskin dan sering berada di dalam kesempitan. Oleh itu, aku nasihatkan engkau berdua supaya pergi ke Ţūs dan belajar di madrasah di sana. Engkau berdua boleh menuntut ilmu pengetahuan di sana, yang dapat mendatangkan kesenangan kepada engkau berdua dan menghasilkan pangkat yang tinggi".
Madrasah yang dimaksudkan itu ialah sebuah institusi pelajaran yang diberikan nama al-Madrasah an-Niżāmiyyah. Ia telah diasaskan oleh Niżām al-Mulk, perdana menteri kepada as-Sulţān Alp Arslān (yang berketurunan Seljuq). Al-Madrasah an-Niżāmiyyah juga turut membiayai makanan, pakaian, dan juga kitab-kitab kegunaan para pelajarnya.
Niżām al-Mulk adalah seorang lelaki yang gemar kepada ilmu pengetahuan dan gemar pula bergaul dengan para cerdik pandai. Dia juga telah mendirikan beberapa madrasah, yang secara umumnya, dipanggil al-Madrasah an-Niżāmiyyah, di beberapa tempat lain di dalam empayar Kerajaan Banī al-‘Abbās (ad-Daulah al-‘Abbāsiyyah) ketika itu, seperti di Baghdād, al-Başrah, Mosul (Mauşil), Isfahan, Nīsyābūr, Merv, Balkh dan Herat.
Telah bercerita al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī mengenai sebab dia dan adiknya pergi menuntut ilmu:
"Kami telah menuntut ilmu kerana ghairillāh (sesuatu selain daripada Allah, yakni al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah pergi menuntut ilmu tidaklah benar-benar ikhlas kerana Allah)... "
Maka berangkatlah dua orang adik-beradik itu ke Ţūs.
Al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah belajar ilmu fiqh daripada seorang 'ālim yang bernama asy-Syaikh Aĥmad ibn Muĥammad ar-Rādhakānī. Dia juga telah mempelajari ilmu nahu dan ilmu hisab, serta telah berjaya menghafal isi al-Quran. Dia lebih menggemari ilmu-ilmu yang zahir seperti ilmu fiqh, sedangkan adiknya yang bernama Aĥmad itu, sejak masa mudanya lagi sudah mula cenderung kepada ilmu tasawuf.
Kemudian, pada tahun 465 Hijrah, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah pergi ke Jurjān (di dalam bahasa Parsi disebut sebagai Gorgān dan kota lama ini terletak lebih kurang 160 kilometer dari Ţūs) dan telah belajar daripada seorang guru yang bernama asy-Syaikh Abū Naşr Ismā‘īl ibn Mas‘adah al-Ismā‘īlī.
Ketika sedang belajar di Jurjān, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī merupakan seorang pelajar yang sangat rajin. Dengan tekun, dia telah menulis setiap pelajaran yang telah dia pelajari daripada gurunya itu. Kemudian, dia telah menyalin semula nota-nota itu dan telah dikumpulkannya di bawah beberapa tajuk yang tertentu. Dia sangat menyayangi nota-notanya itu.
Setelah tamat belajar di Jurjān, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī pun pulang ke Ţūs pada tahun 470 Hijrah. Dia telah mengikat nota-nota pelajarannya itu di dalam sebuah bungkusan dan kemudian telah bertolak bersama sebuah kafilah. Di tengah-tengah perjalanan, kafilah itu telah ditahan oleh sekumpulan penyamun yang telah merampas harta setiap anggota kafilah itu.
Ketika sampai giliran al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī pula, setiap barang kepunyaannya telah digeledah dan dirampas oleh kumpulan penyamun itu. Ketika penyamun-penyamun itu menyentuh bungkusan nota-notanya, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah berkata, "Ambillah semua yang engkau mahu, tetapi jangan engkau ambil bungkusan ini."
Penyamun-penyamun itu pula telah menyangka yang bungkusan itu mungkin mengandungi harta-harta yang amat berharga. Mereka pun membuka bungkusan itu. Tetapi mereka hanya menjumpai beberapa helai kertas yang sudah bertulis. Mereka pun bertanya, "Apa ini?"
Al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah menjawab, "Ini adalah hasil titik peluhku. Kerananya, aku telah meninggalkan kampung halamanku agar aku dapat mendengar, menulis dan memperolehi ilmunya."
Seorang anggota kumpulan penyamun itu telah ketawa dan telah berkata, "Bagaimanakah engkau boleh mendakwa yang engkau telah memperolehi ilmunya? Andaikata kami rampas bungkusan ini, engkau akan kehilangan ilmunya. Ilmu yang tersimpan di dalam beberapa helai kertas bukanlah ilmu yang sebenar!"
Bungkusan nota-nota itu pun dikembalikan kepada al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī. Kata-kata daripada si penyamun itu telah menyebabkan al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī tersedar dan mengubah cara dia berfikir.
Beberapa tahun kemudian, ketika dia mengingati kembali peristiwa ini, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah berkata, "Kata-kata daripada lelaki itu sebenarnya adalah kata-kata yang telah digerakkan (yakni diilhamkan). Allah telah menggerakkannya untuk berkata dengan kata-katanya itu, agar aku dapat menerima petunjuk. Apabila aku sampai semula di Ţūs, aku telah bekerja keras selama tiga tahun, sehingga aku telah berjaya menghapal segala yang telah aku tulis."
Al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī juga telah berkata, "Sebaik-baik nasihat dan teguran yang telah menyebabkan aku mengubah cara aku berfikir, telah datang daripada seorang penyamun jalanan!"
Peta Iran.Ketika berada di Jurjān, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah sempat bernikah, dan sepanjang hidupnya, telah dikurniakan oleh Allah dengan empat orang anak, seorang lelaki dan tiga orang perempuan. Tetapi malangnya, anak lelakinya yang bernama Ĥāmid itu, telah mati ketika masih kecil lagi.
Pada tahun 473 Hijrah, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah pergi ke al-Madrasah an-Niżāmiyyah di kota Nīsyābūr dan telah berguru dengan seorang syaikh yang sangat terkenal di waktu itu, bernama asy-Syaikh Điyā’uddīn Abū al-Ma‘ālī 'Abdul Mālik ibn ‘Abdullāh al-Juwainī. Guru ini juga dikenali umum dengan nama Imām al-Ĥaramain kerana dia pernah mengajar di Masjid al-Ĥarām di Makkah dan di Masjid an-Nabawī di al-Madīnah al-Munawwarah.
Al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī adalah seorang penuntut yang pintar dan disayangi pula oleh Imām al-Ĥaramain. Pernah gurunya ini memuji al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī dengan mengatakan bahawa al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī adalah umpama lautan yang tidak bertepi. Ini menandakan betapa dalam dan luasnya ilmu yang dimiliki oleh al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī. Malah telah dikatakan juga oleh beberapa orang pengkaji bahawa al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī memiliki darjah kecerdasan yang sangat tinggi, di paras genius.
Di al-Madrasah an-Niżāmiyyah di kota Nīsyābūr, tanda-tanda ketajaman otak al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī yang luar biasa itu telah mula kelihatan. Di pusat pengajian tinggi ini, dia telah belajar ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu bahasa seperti ilmu fiqh, ilmu usul, ilmu mantiq, ilmu falsafah, ilmu kalam dan ilmu perdebatan. Semua ilmu-ilmu ini telah dikuasainya dengan mudah. Dan di sini jugalah, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah mula menulis kitab-kitabnya yang banyak itu.
Al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī merupakan seorang ‘ālim yang gemar mempelajari bermacam-macam jenis ilmu. Ini telah diceritakan oleh al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī sendiri di dalam kitabnya yang bernama al-Munqidh Min ađ-Đalāl.
"Sejak aku masih muda lagi, yakni belum pun aku mencapai umur dua puluh tahun sehingga sekarang, dan kini umurku telah melebihi lima puluh tahun, aku telah terjun ke dasar laut (yakni ilmu) yang dalam ini. Tiada aku hiraukan segala kesulitan dan telah aku kumpulkan seluruh keberanianku.
Setiap jurang aku masuki sehingga aku sampai ke dasarnya. Setiap kemusykilan aku bongkar sehingga aku temui jawapannya yang jelas. Aku selidiki setiap kepercayaan dari setiap golongan. Aku korek hingga sampai ke dasar rahsia tersembunyinya. Ini semua telah aku lakukan agar aku dapat membezakan di antara yang benar dengan yang palsu, yang sunnah dengan yang bidaah.
Ketika aku bertemu dengan golongan batiniah, aku telah memeriksa dengan penuh teliti segala isi ajaran mereka. Ketika aku bertemu dengan kaum zahiriah pula, aku telah menyelidiki segala isi kandungan dan selok-belok ajaran mereka. Demikianlah halnya aku teruskan dengan setiap golongan.
Ketika aku bertemu dengan ahli-ahli falsafah, aku telah bergaul dengan mereka sehingga aku dapat mendalami cara pemikiran falsafah mereka. Ketika aku bertemu dengan ahli-ahli ilmu kalam, aku telah bergaul dengan mereka sehingga aku dapat mengikuti dan menyelidiki pokok-pokok pegangan hujah-hujah mereka.
Begitu juga apabila aku berdamping dengan para sufi, aku telah berusaha sehingga aku dapat mengetahui rahsia-rahsia kesufian. Ketika aku bergaul dengan ahli-ahli ibadat, aku telah mengkaji kesan-kesan amal ibadat mereka itu. Dan tiadalah aku temui kaum zindiq dan kaum engkar melainkan aku telah menyelidiki sebab-sebab dan latar belakang yang telah menjadikan mereka berpegangan demikian.
Al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah belajar ilmu tasawuf daripada asy-Syaikh Abū 'Alī al-Fađl ibn Muĥammad al-Fārmadhī aţ-Ţūsī (dilahirkan pada tahun 409 Hijrah di Fārmadh, yang terletak di dalam daerah Ţūs), seorang 'ālim dan faqīh, yang lebih terkenal di hari tuanya sebagai seorang guru sufi. Di bawah bimbingan gurunya ini, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah mengamalkan beberapa latihan rohani, tetapi dia tidak sempat mencapai tahap kesempurnaan, kerana gurunya ini telah meninggal dunia pada tahun 477 Hijrah.
(Fārmadh yang pernah dieja sebagai فارمذ pada zaman silam kini dieja dieja sebagai Fārmad فارمد)
Al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī juga ada bertemu dan belajar dengan beberapa orang guru sufi lain, dan salah seorang daripada mereka ialah asy-Syaikh Abū Bakr Yūsuf an-Nassāj aţ-Ţūsī. Dan di tangan guru sufi inilah, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah menerima beberapa pembukaan rohani tambahan, yang tidak sempat diterimanya semasa dia berguru dengan asy-Syaikh Abū 'Alī al-Fađl ibn Muĥammad al-Fārmadhī.
Sebenarnya, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah bertemu dahulu dengan asy-Syaikh Abū Bakr Yūsuf an-Nassāj aţ-Ţūsī sebelum bertemu dengan asy-Syaikh Abū 'Alī al-Fađl ibn Muĥammad al-Fārmadhī, dan setelah asy-Syaikh Abū 'Alī al-Fađl ibn Muĥammad al-Fārmadhī meninggal dunia, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah bertemu semula dengan asy-Syaikh Abū Bakr Yūsuf an-Nassāj aţ-Ţūsī untuk menerima ajaran-ajaran tambahan di dalam ilmu tasawuf.
Seperti keadaan asy-Syaikh Abū 'Alī al-Fađl ibn Muĥammad al-Fārmadhī, asy-Syaikh Abū Bakr Yūsuf an-Nassāj aţ-Ţūsī pernah berguru dengan asy-Syaikh Abū al-Ĥasan al-Kharqānī dan selepas itu dengan asy-Syaikh Abū al-Qāsim 'Abdullāh ibn 'Alī al-Jurjānī pula. Asy-Syaikh Abū Bakr Yūsuf an-Nassāj aţ-Ţūsī telah meninggal dunia pada tahun 487 Hijrah.
Beberapa waktu setelah Imām al-Ĥaramain meninggal dunia pada tahun 478 Hijrah, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah dijemput ke sebuah tempat bernama al-Mu‘askar untuk bertemu dengan Niżām al-Mulk.
Niżām al-Mulk telah banyak mendengar tentang keluasan dan ketinggian ilmu yang dimiliki oleh al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī. Oleh itu, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah diraikan sebagai seorang 'ālim yang besar. Al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah tinggal di al-Mu‘askar selama lebih kurang enam tahun. Dia juga telah ditemukan dengan al-fuqahā' dan para pemuka ilmu yang lain. Semuanya telah mengakui akan keluasan dan ketinggian ilmu al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī.
Pada tahun 484 Hijrah, Niżām al-Mulk telah melantik al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī ke jawatan pengetua (atau boleh juga dikatakan jawatan ketua profesor) di al-Madrasah an-Niżāmiyyah di Baghdād (yang tarafnya sama dengan Universiti Islam pada hari ini).
Ini adalah satu pencapaian yang sangat tinggi, kerana dalam usia baru tiga puluh empat tahun, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah diberikan gelaran Syaikh al-Islām, yakni setinggi-tinggi pangkat dari segi akademik dan keagamaan yang rasmi.
Al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah menjalankan tugas barunya ini dengan baik. Dia telah menarik perhatian daripada ramai para pelajar, yang dekat mahupun yang jauh. Nama al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah menjadi sangat terkenal di waktu itu, sebagai seorang 'ālim yang sangat fasih memberikan huraian-huraian pelajaran, dan sangat pandai berdebat dengan hujah-hujah yang jitu, serta sangat luas dan dalam pula ilmunya.
Tetapi keadaan hidup selesa yang penuh dengan kemegahan ini tidak berkekalan, kerana empat tahun kemudian, pada tahun 488 Hijrah, jiwanya telah melalui satu perubahan besar. Badan jasmaninya masih sihat tetapi jiwanya telah bergolak, dalam satu keadaan tertekan yang boleh diumpamakan seperti air yang sedang menggelegak. Ini telah menyebabkannya jatuh sakit.
Perubahan fikiran dan ledakan jiwa ini adalah berpunca dari satu kesedaran bahawa selama ini, segala kejayaan yang telah dicapainya, seperti memegang jawatan pengetua di al-Madrasah an-Niżāmiyyah di kota Baghdād itu, bukanlah telah dilakukannya dengan ikhlas semata-mata kerana Allah Ta'ala, tetapi telah juga dicampuri dengan sebab-sebab duniawi.
Sebuah kitab tulisan al-GhazālīTelah bercerita al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī di dalam kitabnya yang bernama al-Munqidh Min ađ-Đalāl:
Telah menjadi nyatalah kepadaku bahawa aku tidak akan mencapai kebahagian akhirat, melainkan dengan bertaqwa, dan juga mengekang kehendak nafsu. Dan yang utama sekali ialah memotong tali ikatan hati kepada dunia, dengan meninggalkan negeri yang penuh tipu daya ini, dan kembali ke negeri yang kekal abadi. Dan mengadap kepada Allah Ta‘ala dengan sepenuh hati. Dan ini tidak akan tercapai, melainkan dengan membuangkan dahulu segala kemegahan dan kekayaan, serta menjauhkan diri dari segala kesibukan dan tuntutan dunia (al-'alā'iq).
Kemudian aku telah memeriksa keadaan diriku sendiri. Maka aku dapati rupa-rupanya aku telah terperangkap di dalam jaring pada setiap arah. Dan apabila aku periksa pula pekerjaanku di dalam memberi kuliah dan ceramah, rupa-rupanya aku telah berkecimpung di dalam ilmu-ilmu yang tidak penting, dan tidak bermanfaat di jalan akhirat.
Setelah itu, aku berfikir pula tentang niatku di dalam memberi kuliah. Nyatalah, aku tidak ikhlas kerana wajah Allah Ta'ala. Malah, pembangkit dan pendorongku yang sebenar ialah mencari kemegahan dan kemasyhuran yang luas. Maka, aku pun yakin yang aku sedang berada di pinggir satu jurang yang merbahaya. Dan aku akan segera terjunam ke dalam api neraka, melainkan aku perbaiki keadaan diriku terlebih dahulu.
Perasaan jiwanya yang bergolak-golak ini, seakan-akan sedang meronta-ronta melawan fikiran akalnya sendiri. Dan ini merupakan satu tekanan jiwa yang amat berat dirasakan oleh al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī.
Sebuah kitab tulisan al-GhazālīTelah bercerita lagi al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī:
Tiadalah aku berhenti daripada berfikir akan keadaanku dan jalan mana yang akan aku pilih. Hatiku masih berbolak-balik.
Pada suatu hari, aku telah berazam untuk meninggalkan Baghdād, dan melepaskan diriku daripada keadaan hidup harian itu. Tetapi, pada keesokan harinya, aku telah membatalkan keputusan itu. Seolah-olah, sebelah kakiku telah melangkah ke hadapan, tetapi yang sebelah lagi telah mundur pula ke belakang!
Di pagi hari, aku telah bertekad untuk menuntut akhirat, tetapi di petang hari, tentera hawa nafsu telah datang menyerang, dan telah menghancurkannya. Syahwat dunia telah mengurungku, dan memaksa aku tetap kekal sahaja di situ, sedangkan suara keimanan telah menyeru kepadaku, “Kembaralah! Kembaralah! Tiadalah umurmu melainkan tinggal sedikit sahaja, sedangkan di hadapanmu adalah perjalanan yang jauh. Tiadalah engkau kumpulkan segala ilmu dan amal melainkan semuanya adalah riyak dan palsu belaka. Jika sekarang engkau masih belum bersiap sedia untuk akhirat, bilakah masanya engkau akan bersiap sedia? Jika sekarang engkau tidak putuskan tali belenggu itu, bilakah masanya untuk memutuskannya?”
Dan ketika seruan seperti ini bangkit, maka azam dan tekadku pun naik berkobar-kobar, rela menghadapi setiap cabaran dan rintangan.
Tetapi kemudian, datang semula syaitan dan berbisiklah dia, “Ini adalah satu perkara yang mengganggu-ganggu sahaja, jika engkau menyerah kepadanya. Biarkan sahaja. Ia akan hilang dengan segera. Jika engkau turuti ajakannya, lalu engkau tinggalkan pula segala kemegahan pangkat, serta keadaan yang baik ini, yang bebas daripada sebarang kesulitan, serta keadaan aman sejahtera yang bersih daripada perselisihan dan permusuhan, dan jika engkau turutinya, engkau akan menyesal, dan engkau akan menanggung kesukaran. Engkau tidak akan dapat kembali kepada keadaan senang seperti sebelumnya.”
Dan berterusanlah keadaanku ini, di mana aku berada di antara tarikan syahwat dunia, dan tarikan panggilan akhirat. Ia berpanjangan selama hampir enam bulan, bermula dari bulan Rejab tahun 488 Hijrah.
Pada bulan itu, aku telah berasa sudah tidak lagi berdaya, tiada lagi ikhtiarku, terpaksa menyerah sahaja. Allah telah mengunci lidahku, sehingga aku tidak dapat mengajar. Pada suatu hari, aku gagahi juga diriku untuk menyampaikan kuliah agar dapat menggembirakan hati para pelajarku. Tetapi lidahku telah menjadi kelu. Aku tidak dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Benar-benar tidak berdaya.
Dan keadaan bisu ini telah membuatku berdukacita, sehingga telah menjejaskan kekuatan pencernaan di perutku, dan menyekat makanan dan minumanku. Roti yang dicecah kuah pun tidak dapat aku kunyah, dan tidak dapat aku telan makanan walaupun sesuap.
Aku menjadi semakin lemah, sehingga para doktor yang merawatiku pun telah berputus asa, dan telah berkata mereka, “Perkara in berpunca dari kalbu. Dari situ, ia telah merebak hingga ke seluruh badan. Dan tiada cara untuk mengubatinya, melainkan melaluinya juga. Buangkanlah rahsia yang telah menghasilkan segala duka nestapa ini.”
Akhirnya, setelah menyedari akan betapa lemahnya diriku, setelah kehabisan segala ikhtiarku, aku pun berserah bulat-bulat kepada Allah Ta‘ala. Dia telah memperkenankan doaku, kerana Dialah Tuhan yang memperkenankan doa orang yang terdesak, apabila orang itu berdoa kepadaNya. Kini, menjadi ringanlah bagi hatiku untuk meninggalkan segala kemegahan, kekayaan, anak-anak dan rakan-rakan.
Oleh itu, pada bulan Zulkaedah tahun 488 Hijrah, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī telah meletakkan jawatannya sebagai pengetua di al-Madrasah an-Niżāmiyyah di Baghdād, dan telah mengambil keputusan untuk meninggalkan Baghdād dan menjadi seorang pengembara. Dia telah meminta adiknya, yakni asy-Syaikh Aĥmad al-Ghazālī, mengambil alih jawatannya itu.
Al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī kemudian telah mewaqafkan segala harta benda kepunyaannya, selain daripada sebahagian yang telah diketepikan untuk nafkah menyara hidup keluarganya, dan juga untuk dibuat bekal perjalanannya itu. Dan untuk mengelakkan daripada terjadi sebarang syak wasangka atau kekecohan, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī hanya mengumumkan yang dia akan berangkat ke Makkah al-Mukarramah untuk menunaikan ibadat haji.
Setelah meninggalkan Baghdād, al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī pun menuju ke Syria dan telah menetap di kota Damaskus selama dua tahun. Dia juga telah banyak menghabiskan masanya duduk beriktikaf di Masjid Jamik al-Umawī di kota Damaskus. Ada kalanya dia akan naik ke menara masjid itu, dan selepas menguncikan pintunya, akan duduk berseorangan diri di sebuah sudut sepanjang hari. Dan pada hari ini pula, sudut itu telah diberikan nama panggilan Sudut al-Ghazāliyyah, untuk memperingati tempat di mana al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī pernah duduk beriktikaf di kala itu. (Sebelum itu, Sudut al-Ghazāliyyah telah dikenali dengan nama Sudut asy-Syaikh Naşr al-Maqdisī.)
[sunting] Peninggalannya
Kitab-kitab yang telah ditulis oleh beliau adalah amat banyak sekali dan telah dianggarkan melebihi 200 buah. Namun, yang masih kekal hingga ke hari ini hanyalah lebih kurang 50 buah sahaja.
Kebanyakan daripada kitab-kitab ini telah ditulis di dalam bahasa Arab, dan ada juga yang telah ditulis di dalam bahasa Parsi. Di antara kitab-kitab al-Imām Abū Ĥāmid al-Ghazālī yang lebih terkenal di negara Malaysia ialah:
ar-Risālah al-Ladunniyyah;
al-Munqidh Min ađ-Đalāl;
Bidāyah al-Hidāyah;
Minhāj al-‘Ābidīn;
Mīzān al-'Amal;
Kīmiyā' as-Sa'ādah;
Misykāh al-Anwār; dan
Iĥyā' 'Ulūmiddīn.
[sunting] Rujukan
Kandungan tulisan ini telah dipetik daripada laman web Maktabah Ibn Badawi dengan keizinan pemiliknya.
Diambil daripada "http://ms.wikipedia.org/wiki/Abu_Hamid_Al-Ghazali"
Kategori: Islam Ahli falsafah Parsi Ahli teologi Parsi Ahli falsafah Islam
Langganan:
Postingan (Atom)