Jumat, 24 Februari 2012
10 HAL YANG MENYEBABKAN DOA BELUM TERJAWAB
Suatu hari ketika, Ibrahim bin Adham seorang ‘alim yang terkenal zuhud dan wara’nya melewati pasar yang ramai. Selang beberapa saat beliau pun dikerumuni banyak orang yang ingin minta nasehat. Salah seorang diantara mereka bertanya :”Wahai guru! Allah telah berjanji dalam kitabNya, bahwa Dia akan mengabulkan do’a hambaNya. Kami tel;ah berdo’a setiap hari, siang dan malam, tapi mengapa sampai saat ini do’a kami tidak dikabulkan?”
Ibrahim bin Adham diam sejenak, lalu berkata,”Saudara sekalian! Ada sepuluh hal yang menyebabkan do’a kalian tidak dijawab oleh Allah.
Pertama, kalian mengenal Allah, namun tidak menunaikan hak – hakNya.
Kedua, kalian membaca al qur’an, tetapi kalian tidak mau mengamalkan isinya.
Ketiga, kalian mengaku bahwa iblis adalah musuh yang nyata, namun dengan suka hati kalian mengikuti jejak dan perintahnya.
Keempat, kalian mengaku mencintai rasulullah SAW, tetapi kalian suka meninggalkan ajaran dan sunnahnya.
Kelima, kalian sangat menginginkan surga, tapi kalian tak pernah melakukan amalan ahli surge.
Keenam, kalian takut dimasukkan neraka, namun kalian dengan senangnya sibuk dengan perbuatan para ahli neraka.
Ketujuh, kalian mengaku bahwa kematian pasti datang, namun kalian tidak pernah mempersiapkan bekal untuk menghadapinya.
Kedelapan, kalian sibuk mencari aib orang lain, dan melupakan cacat dan kekurangan kalian sendiri.
Kesembilan, kalian setiap hari memakan rezeki Allah, tapi kalian lupa mensyukuri nikmatNya.
Kesepuluh, kalian sering mengantar jenazah ke liang kubur, tapi kalian tidak pernah menyadari bahwa kalian juga akan mengalami hal yang serupa.”
Nasehat Ibrahim bin Adham diatas mengandung nilai yang sangat dalam. Banyak diantara manusia yang sering mengeluh kepada Allah SWT karena do’a – do’anya yang belum dikabulkan. Mereka mengira bahwa Allah ingkar akan janji yang telah Ia tuangkan didalam al qur’an yang mulia. Banyak juga diantara manusia yang kemudian lari dan mencari tempat meminta yang lain yang jauh lebih cepat. Akibatnya mereka terjebak dengan praktik – praktik dukun yang menyesatkan. Berbuat syirik dan semakin menjauh dari Allah meski dalam kehidupannya mereka lebih cepat mendapatkan harta kekayaan yang melimpah.
Demikianlah kebanyakan diantara manusia yang tidak mau introspeksi diri dan berpikir secara mendalam mengapa do’a - do’a yang mereka panjatkan siang dan malam tidak diijabahi Allah. Ibrahim mengingatkan kepada kita dengan nasehatnya diatas. Kita bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, akan tetapi nyatanya kita sering menyekutukannya. Kita tahu bahwa Allah memiliki sifat qudrah, namun kita sering merasa kita berkuasa. Allah adalah Dzat Yang Maha ‘Alim, kita mengaku pandai dan seterusnya.
Pada hakikatnya pengakuan kita sebagaimana diatas menggambarkan bahwa kita menyekutukan Allah karena sifat Allah adalah mukhalafatu lillhawaditsi ( Allah berbeda dengan makhluk ). Logikanya ketika Allah memiliki sifat qudrah maka makhluk ( termasuk didalamnya manusia ) adalah ‘ajzun ( lemah ). Kalau Allah ‘alim maka selain Allah adalah jahil demikian seterusnya.
Meskipun syirik dalam tingkatan ini tidak menyebabkan seseorang kafir, tetap sja namanya adalah syirik walaupun masih dalam tataran syirik khafi (samar ). Maka Ibrahim bin Adham mengingatkan kita bahwa kita mengenal Allah tapi kita tidak pernah memberikan hak – hakNya. Maka perlukah Allah menjawab do’a setiap orang yang tidak pernah menghargaiNya?
Jawabannya mungkin akan berbeda – beda tergantung siapa dan tendensi mereka yang ingin menjawab. Paling tidak dengan berpikir secara mendalam, merenung terhadap apa yang telah dinasehatkan Ibrahim bin Adham kita tidak akan dengan mudah untuk menyalahkan Allah lantas mencari jalan pintas demi mewujudkan apa yang kita inginkan.
Akhir – akhir ini kita sering melihat bagaimana terjadi banyak penyimpangan dalam lingkungan masyarakat kita. Baik penyimpangan itu berhubungan dengan hubungan manusia dengan Allah ( vertical ) maupun hubungan manusia dengan sesama dan alam lingkungan tempat ia berada (horizontal ). Kriminalitas merajalela, korupsi merambah diseluruh tingkatan, mulai pejabat sampai buruh dan pekerja kasar disawah, pabrik dan bangunan. Bila kita telusuri mungkin Sembilan puluh persen diantara mereka muslim. Sungguh sangat ironis sekali. Bukankah Allah memerintahkan kepada umatnya untuk senantiasa berlaku jujur? Bahkan Allah mengecam siapa saja orang yang berkata tentang sesuatu hal akan tetapi ia tidak melakukan hal itu. Sungguh ini adalah bukti betap banyak orang yang membaca al qur’an akan tetapi mereka tidak pernah mau mematuhi isinya.
Kita juga yakin bahwa iblis adalah musuh yang nyata. Kita sering mengumpat teman yang mungkin berbuat salah kepada kita dengan mengatakan “iblis” kepada mereka. Namun seringkali kita justeru mengikuti langkah – langkahnya. Kita yang mungkin bekerja disebuah pabrik, bila tidak ada mandor bekerja dengan sesukanya. Kita yang bekerja di lembaga pendidikan misalnya sering juga korupsi jam masuk, maupun pulang. Padahal kita digaji untuk mengajar dan sebagainya. Inilah sebenarnya langkah – langkah iblis. Iblis suka untuk menipu dan mencari keuntungan pribadi. Demi menghancurkan Adam a.s. ia menghalalkan segala cara agar Adam a.s. bisa keluar dari surga. Demi kenaikan gaji dan pangkat rela menyuap atau melakukan penipuan. Pantaslah kiranya dikatakan kepada mereka yang menempuh jalan semacam ini dengan orang yang mengikuti langkah iblis. Maka apakah do’a orang yang seperti ini pantas untuk dijawab Allah? Demikian seterusnya. Allahu A’lam…….
Jumat, 03 Desember 2010
Ulama' Sekarang tidur
Abul Qasim Al Hakim pernah ditanya oleh seseorang, " mengapa ulama – ulama sekarang nasihat – nasihatnya tidak ditaati orang, lain dengan ulama' – ulama' zaman dahulu?"
Abul Qasim menjawab , "ulama' – ulama' dahulu selalu berjaga sedangkan rakyatnya tidur. Merekalah yang membangunkan rakyat yang tertidur itu. Sedangkan ulama – ulama zaman sekarang tidur, sedangkan rakyatnya mati. Bagaimana mungkin orang yang tidur dapat vmembangunkan orang yang sudah mati?"
Apa yang tergambar dalam dialog diatas meruipakan satu diantara fenomena yang saat ini menggejala disekitar kita. Banyak sekali orang yang cerdik pandai,alim, allamah, hebat dalam berpidato dan berdakwah namun nasehat – nasehat mereka tidak mampu myentuh hati dan qalbu sami'in dan umat pada umumnya. Kenyataan ini menggugah hati kita untuk berfikir dan menganalisa mengapa hal ini terjadi???
Hampir setiap hari, bahkan setiap jam kita mendengar informasi dan berita baik dari televise maupun radio bahwa di daerah ini, disana dan disono terjadi penyimpangan, pelanggaran, pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, pencurian dan seabreg peristiwa dan kejadian yang mengerikan. Hmpir – hamper kita sudah tidak tahan lagi dengan peristiwa yang terjadi sampai - sampai ada yang beranggapan bahwa mati adalah jalan keluar yang terbaik na'udzu billah min syarri dzalik….. disaat ini kita berpikir dan bertanya " Dimana Ulama' – ulama' kita???"
Apa yang dikatakan oleh Abu Qasim mungkin ada benarnya atau bahkan mendekati benar. Ulama' – ulama' kita sedang tidur dan kita sebagai umatnya atau rakyatnya mungkin ibarrat orang mati. Mana mungkin orang yang tidur bisa membangunkan yang mati???? Hal yang mustahal bin mustahil alias tidak mungkin!!! Secara fisik barangkali kita bisa membedakan secara jelas bahwa ulama' – ulama' dahulu fisiknya kurus, kering, pakaiannya sangat sederhana. Sedangkan kalau kita perhatikan, ulama' – ulama' sekarang banyak yang fisiknya gemuk dan subur.
Fisik yang kurus akan berindikasi pada kepribadian sang 'alim yang sering riyadlah dan berpuasa ( istilah jawa : meres mata nglempit weteng, banyak berjaga dan berpuasa). Sedang fisik yang gemuk dan subur mngindikasikan pribadi yang jarang riyadlah dan jarang berjaga. Karena secara logika rasional, orang yang banyak berjaga akan kurus dan dia akan lebih tahan kantuk daripada orang yang kenyang.
Nah, dari sini kita akan tahu bahwa apa yang disampaikan oleh Syaikh Abul Qasim merupakan sebuah argument yang sangat rasional dan penuh kebijakan.
Ulama' yang sering riyadlah dan berpuasa serta berjaga dikala semua orang sedang tidur, ia akan mendapat keistimewaan – keistimewaan yang tidak dimiliki oleh mereka yang kurang atau jarang riyadlah meskipuyn dalam hal keilmuwan ia lebih hebat. Ulama' yang berjaga disaat semua umat sedang tidur, ia akan diberikan hati yang bening dan penglihatan yang mampu menyingkap segala rahasia yang tidak diketahui oleh manusia. Hal inilah yang kemudian menyebabkan ulama' yang semacam ini dikaruniai perkataan yang mampu menembus kepada sanubari orang yang dinasehati. Nasehatnya di dengar dan diamalkan oleh mereka yang mendengarnya. Keistimewaan orang – orang ini tergambar dalam al qur'an:
يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (1)قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا (2) نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا (3) أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآَنَ تَرْتِيلًا (4) إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا (5)
Artinya : " wahai orang yang berselimut (muhamad) (1) bangunlah untuk ( shalat ) pada malam hari , kecuali sebagian kecil( 2) (yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu ( 3) atau lebih dari (seperdua ) itu, dan bacalah al qur'an itu dengan perlahan – lahan (4) sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu (5).
zAyat diatas secara tegas memerintahkan kepada rasulullah ( khitabnya) agar lebih banyak terjaga dan bangun diwaktu malam hari ketimbang berselimut ( tidur). Meski khitab dalam ayat ini adalah rasulullah, namun pada hakikatnya ayat ini juga berlaku bagi semua umat manusia. Berjaga dan bangun diwaktu malam disini yang dimaksud adalah dalam rangka mendekatkan dan mengabdikan diri kepada Allah yang mungkin dilakukan dengan shalat lail, atau membaca alqur'an, mujahadah dll. Bukan bangun dan terjaga untuk hal – hal yang tidak berguna atau bahkan malah sesuatu yang makruh. Misalnya ngegosip, bercanda, bermain – main atau hanya sekedar ngopi. Berjaga yang semacam ini tidak termasuk kedalam kategori yang dimaksud dalm ayat al qur'an surat al muzammil di atas.
Orang yang benar – benar mau melaksanakan apa yang diperintahkan Allah sebagaimana ayat diatas maka Allah akan mengaruniakan kepadanya perkataan yang berat ( berbobot ). Perkataan yang berbobot yang dengan perkataan itu siapa yang mendengar maka akan patuh, tunduk dan mengikutinya. Inilah keistimewaan orang – orang yang mau menggunakan sebagian besar waktu malam mereka untuk mendekat dan bertafakkur serta munajat kepada Allah SWT.
Senada dengan al qur'an surat al muzammil ayat 1- 5 adalah surat al isra' ayat 79
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا (79)
Artinya : " Dan pada sebagian malam, laksanakanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu. Mudah – mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji ( Q.S. Al Isra; 79 )
Ayat ini memberikan petunjuk bagi kita agar hendaknya diwaktu malam kita bangun dan melaksanakan shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan. Jika shalat tahajud itu dilaksanakan dengan sungguh – sungguh niat beribadah kepada Allah dengan ikhlas maka insya Allah al "amil ( pelakunya ) akan diangkat oleh Allah ke tempat atau maqam, derajat yang tinggi, baik dimata umat lebih – lebih dihadapan Allah SWT. Karena derajatnya yang tinggi dan mulia maka sangat mungkin bila apa yang ia sampaikan dan ia katakana dipatuhi dan ditaati oleh siapa saja yang mendengar.
Itulah suatu gambaran ulama' yang mau untuk riyadlah dan mendekat kepada Allah memohon untuk urusan umat. Kata – katanya akan menjadi "sabda pandito ratu" kata – katanya akan di dengar sehingga diibaratkan oleh syaikh Qasim sebagai orang yang terjaga dan siap untuk membangunkan umat yang sedang tidur karena dinina bobokan oleh keindahan dunia yang hanya sementara dan menipu. Ia siap dan mau berkorban demi umatnya sebagaimana rasulullah yang rela mendaki jabal nur untuk bertahannuts, demi dan untuk urusan umatnya. Sementara umatnya sedang hidup bergelimangan maksiat rasul menyendiri, menyepi, mendekat kepada Allah dan memohonkan ampun bagi mereka. Sampai pada akhirnya turun wahyu kepada beliau dan terus beliau senantiasa perihatin dan mendekat, menangis dihadapan Allah demi dan untuk urusan umat. Adakah kita mampu berbuat seperti itu???
Mudah – mudahan Allah segera membangunkan para ulam' – ulama' kita yang sedang tidur dan memberikan kemampuan kepada kita untuk bisa berbuat yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Bermnanfaat bagi kita, keluarga, kerabat, sahabat dan umat masyarakat hingga mereka kemabali mengabdikan diri kepada Allah SWT wa RAsulihi SAW. Amin. Allahu A'lam Bis Shawaab……
Membersihkan Hati (تزكية النفس)

Membersihkan Hati (تزكية النفس)
Allah SWT menciptakan manusia dalam sebaik – baik bentuk. Tidak ada makhluk ciptaan Allah SWT di muka bumi ini yang jauh lebih sempurna dalam penciptaannya disbanding manusia. Hal ini sesuai dengan apa yang di firmankan Allah SWT di dalam al – qur'an :
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4)
Artinya : " Sungguh telah Kami ciptakan manusia dalam sebaik – baik bentuk" ( Q.S. At Thin : 4)
Melalui surat at thin ayat 4 ini Allah menerangkan kepada umat manusia bahwa manusia diciptakana dalam vbentuk yang sebaik – baiknya. Tidak ada makhluk lain di muka bumi ini yang menyerupai manusia dalam hal kesempurnaan ciptaanya. Seperti apapun indah dan baiknya hewan, tumbuhan tidak akan mmapu mengalahkan keindahan dan kesempurnaan bentuk manusia.
Hewan dan tumbuhan diciptakan Allah SWT untuk kepentingan manusia. Manusia hidup dimuka bumi sebagai seorang khalifah yang akan mengatur dan mengelola alam sekitarnya. Karena kepentingan inilah Allah SWT lantas menciptakan manusia dengan dibekali akal dimana dengan akal tersebut manusia akan berpikir untuk mengelola dan memanfaatkan alam sebagai bagian tugas dan amanah Allah SWT yang telah di bebankan pada diri mereka. Tugas manusia sebagai khalifah di bumi ini tampak jelas pada ayat al qur'an surat al baqarah ayat 30 :
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ (30)
Artinya : " Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : " Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang khalifah di bumi ini", mereka berkata : "apakah Engkau hendak menciptakan seorang yang senantiasa membuat kerusakan dan menumpahkan darah di dalamya ( bumi )?,padahal kami senantiasa mensucikanMU dengan bertahmid ( memujiMU ) dan mensucikanMU , Allah berfirman : "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui" ( Q.S. Al Baqarah : 30)
Ketika para malaikat memprotes tindakan Allah SWT yang akan menciptakan khalifah dimuka bumi, Allah berfirman bahwa sesungguhnya Ia lebih tahu daripada malaikat. Protes yang dilakukan oleh para malaikat ini bukan tanpa alasan, melainkan berdasarkan sebuah fakta dan pengalaman yang pernah terjadi. Konon sebelum bumi ini dihuni oleh manusia, Allah telah menciptkan makhluk lain di bumi ini. Kaum itu senantiasa membuat kerusakan dan menumpahkan darah. Kaum yang dimaksud menurut keterangan dalam kitab tafsir jalalin disebut dengan Banul Jan.
Demikianlah Allah menciptakan manusia sebagai seorang khalifah dengan membekali manusia dengan akal agar dengan akal itu ia mampu mengemban amanat Allah SWT di bumi sebagai seorang khalifah. Oleh karenanya akal inilah yang menjadi pembeda anatara nmanusia dengan makhluk lain yang dengan akal tersebut manusia kan mampu menjadi makhluk yang paling mulia diantara makhluk yang lain.
Disamping membekali diri manusia dengan akal, Allah SWT juga membekali manusia dengan nafsu. Nafsu adalah segalka macam bentuk keinginan di dalam hati manusia. Nafsu di ciptakan Allah SWT agar manusia berkembang dan memiliki dinamika dalam kehidupannya. Nafsu diciptakan oleh Allah SWT sebagai sebuah sarana untuk meraih kemajuan karena di barengi dan di imbangi dengan akal.
Akan tetapi pada kenyataanya, banyak sekali diantara manusia yang justru dikuasai oleh nafsunya. Nafsu yang semestinya dijadikan untuk alat dan sarana meraih kesuksesan baik di hadapan manusia ataupun dihadapan Allah SWT berubah menjadi penggerak dan bahkan menunggangi akal sehingga manusia dikuasai oleh nafsunya dan tidak lagi mampu menjadi khalifah fil ardli sebagaimana yang dikehendaki oleh Sang Khaliq ( Allah SWT ). Hal inilah yang menjadi persoalan yang penting diperhatikan dan perlu mendapat perhatian yang serius.
Kekeliruan dan kemaksiatan yang terjadi ini sebenarnya bermula dari dalam hati manusia dimana hati ini merupakan pusat gerak manusia. Hati yang dikuasai oleh nafsu akan menggerakkan seluruh organ manusia untuk melakukan hal –hal yang menyimpang dan tidak dibenarkan oleh syar'i.
Mengenai hati sebagai pusat gerak dan aktifitas yang akan berpengaruh terhadap perilaku ini, rasulullah mensabdakan dalam sebuah hadits :
ان فى الجسد لمضغة اذا صلحت صلح الجسد كله واذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهى القلب رواه البخارى ومسلم عن النعما ن
Artinya : " sesungguhnya di dalam jasad manusia itu ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik, maka menjadi baik pulalah seluruh jasad, dan apabila rusak, maka menjadi rusak pulalah seluruh jasad. Ketahuilah, yaitu hati ( H.R. Imam Bukhari dan Muslim dari Nu'man bin Rasyid).
Hadits diatas dengan tegas mengatakan bahwa dalam jasad manusia terdapat segumpal daging yang menjadi penentu dari seluruh aktifitas manusia. Rasul mengatakan jika segumpal daging itu baik, maka seluruh jasad akan menjadi baik. Artinya aktifitas dan perilakunya akan menjadi baik. Akan tetapi jika segumpal darah itu rusak, kotor dan dikuasai oleh nafsu maka aktifitas manusia akan menjadi jelek dan dikuasai oleh nafsu.
Terkadang kita berpikir bahwa apa yang terkandung dalam hadits ini kurang tepat. Ada yang beranggapan mungkin yang menjadi pusat dan kendali aktifitas fisik manusia adalah otak atau yang sering disebut akal. Pendapat ini didasarkan atas pendapat bahwa akallah yang mampu untuk memilih dan membedakan mana yang baik dan buruk dank arena akal telah di isi dengan banyak ilmu dan pengetahuan.
Pendapat ini kurang tepat karena fakta menunjukkan betapa banyak orang yang memiliki ilmu yang banyakk, otak yang cemerlang akan tetapi justeru dengan otak yang ia miliki, ia bukannya sadar dan menggunakan kelebihan itu untuk sesuatau yang baik akan tetapi justeru sebalaiknya. Seringkali juga kita dihadapkan pada permasalahn antara berbuat baik dan maksiat, akan tetapi kita tidak kuasa untuk meninggalkan maksiat padahal kita tahu itu salah. Inilah kenyataan yang menunjukkan bahwa hati jauh lebih berkuasa dalam menentukan gerak manusia dibandingkan akal.
Oleh karena pentingnya urusan hati ini, maka para ulama' ittifaq bainahum bahwa membersihkan hati dari segala kotoran hati itu wajib hukumnya. Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam kitab kifayatul atqiya' :
تزكية النفس عن الرذا ئل واجبة (كفاية الأتقياء)
Artinya : " membersihkan hati dari segala kotoran hati itu wajib hukumnya" ( kifayatul atqiya')
Wajib disini dalam arti harus di usahakan oleh setiap orang dalam rangka untuk menggapai kehidupan yang sejahtera bahagia dunia dan akhirat. Siapapum orang yang menghendaki kehidupan yang bahagia dan sejahtera utamanya di akhirat , maka ia harus mau dan berusaha dengan semaksimal mungkin untuk tazkiyatun nafsi ( membersihkan hati ). Jika ia tidak mau untuk melakukan ini, maka bias dipastikan kehidupan nya akan mengalami kesulitan dan bahkan kerugian yang besar di akhirat kelak.
Banyak usaha yang telah dilakukan orang dalam rangka untuk tazkiyatun nafsi ini. Kita menyaksikan banyak sekali pengajian – pengajian, halaqah – halaqah, kajian – kajian yang dilakukan, namun seiring dengan itu ternyata kemaksiatan semakin menjamur. Banyak pengajian umum di gelar akan tetapi sepulang pengajian hal itu seperti hanya menjadi angina lalu yang tidak membekas dalam hati. Itulah juga sebabnya semakin banyak pengajian diadakan, semakin banyak pula kemaksiatan dilakukan.
Berangkat dari fenomena diatas kita mesti bertanya , metode apakah kiranya yang tepat untuk digunakan dalam rangka upaya untuk tazkiyatun nafsi ini?. Semua hal telah dilakukan oleh manusia dalam rangka mencari kesucian hati, namun jika kita mau berfikir semua itu pada hakikatnya bermuara hanya pada satu aspek yakni aspek dhahiri (fisik). Padahal ada satu sisi yang semestinya itu di potensikan dan diasah oleh manusia yakni aspek rohani. Jika aspek fisik lebih mengutamakan aspek badani berupa kesehatan, makan teratur ndan bergizi, olahraga yang cukup, maka aspek batini ( rohani ) menghendaki agar kita memperbanyak untuk riyadlah, mengurangi makan, minum dan tidur. Aspek bathini lebih menginginkan agar kita memperbanyak untuk mengingat dan mengagungkan asma Allah tidak hanya secara lafald, akan tetapi lebih dari itu mampu merasakan dan meresapinya dalam hati.
Diakui atau tidak usaha bathini ini jarang sekali dilakukan oleh manusia pada umumnya dizaman sekarang. Manusia pada zaman ini lebih mnegunggulkan aspek otak dan fisik padahal apabila kedua potensi ini digali dengan seimbang maka akan terciptalah insane paripurna yang akan mampu memanifestasikan sifat – sifat ketuhanan di bumi dan mencerminkan khalifatullah yang sejati.
Mudah – mudahan Allah memberikan hidayah dan karuniaNYA kepada kita hingga kita mampu menjadi insane paripurna dan mampu menjadi khalifatullah fil ardli dalam arti yang sebenarnya. Semoga kita benar – banar mampu untuk sadar kepadaNYA dan kembali mengabdikan diri kepadaNYA.Amin. Wallahu A'lam Bi al Shawab…
Minggu, 10 Januari 2010
MUJAHADAH KUBRO GELOMBANG REMAJA
Tepat pada pukul 20.00 WIB acara mujahadah kubro ini dimulai dengan ditandai tasyafu'an kepangkuan beliau Rasulullah Saw dan istighatsah kepangkuan beliau ghautsu hadza zaman sebagai pembuka acara.
Tasyafu' adalah permohonan syafa'at kepangkuan beliau rasulullah SAW dengan membaca do'a shalawat tsaljul qulub yang merupakan salah satu shalawat yang terdapat dalam rangkain shalawat wahidiyah. Sedangkan Istighatsah adalah permohonan pertolongan kepada Ghautsu Hadza Zaman yang merupakan manusia pilihan Allah SWT sebagi wakilNYA di bumi pasca meninggalnya Rasulullah SAW. Dalam wahidiyah biasanya istighatsah ini dilaksanakan dengan membaca do'a istighatsah yang ada dalam rangkaian shalawat Wahidiyah.
Berbeda dengan kegiatan diluar wahidiyah, kegiatan wahidiyah biasanya diaksanakan secara khidmat dan khusyu' tanpa ada gurau dan canda. Nuansa ini senantiasa menjadi jiwa dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan oleh pengamal wahidiyah dimanapun berada. Bahkan tak jarang banyak pengamal yang menangis karena teringat akan dosa - dosa yang telah diperbuatnya di masa yang silam. Nuansa mujahadah kubro senantiasa membawa sebuah perubahan besar dalm diri para pengamal shalawat wahidiyah yang dengan bersungguh - sungguh aktif dalam mengikuti setiap acara. Oleh sebab itulah banyak diantara para pengamal yang rela datang meski jauh dari arena acara bahkan rela mengorbankan harta yang tidak sedikit demi dan untuk mengikuti acara mujahadah kubro ini. Mujahadah kubro bagi mereka adalah sarana audiensi sang hamba kepada Allah sang khaliq yang sangat istimewa karena mereka secara yaqadhatan dan nyata langsung berda dan makmum di wingking pengasuh perjuangan wahidiyah dan pondok pesantren kedunglo al munadhdharah sang Guru Rohani.
Pada malam itu adalah malam yang diperuntukkan bagi kalangan remaja wahidiyah. Dalam kesempatan ini beliau Romo K.H. Abdoel Latief R.A. dalam kesempatan fatwa amanat berpesan pada remaja agar mempersiapkan diri mereka untuk menyambut tali estafet perjuangan. Beliau mengatakan bahwa maju dan mundurnya perjuangan dan agama islam di masa mendatang ditentukan oleh remaja - remaja di masa sekarang. jika remaja saat ini maju niscaya perjuangan di masa yang akan datang juga akan maju.
Beliau juga menegaskan bahwa perjuangan wahidiyah tidak semata - mata perjuangan iman dan kesadaran yang mengenyampingkan urusan duniawi, akan tetapi perjuangan wahidiyah adalah perjuangan yang bersifat komprehensif yang mencakup seluruh sendi kehidupan manusia dengan tetap berpegang pada tali agama dan berdasarkan keimanan dan kesadaran tinggi kepada Allah SWT wa Rasulihi SAW. Perjuangan wahidiyah tidak menghendaki perjuangan yang bersifat parsial dan hanya bersifat mikro semata. Namun perjuangan wahidiyah adalah perjuangan yang utuh sebagaimana perjuangan Rasulullah SAW. Oleh karenanya beliau senantiasa berpesan agar disamping mujahadah yang tekun para remaja juga harus giat dalam belajar sehingga para remaja siap dalam menghadapi tantangan zaman dengan tetap sadar kepada Allah SWT.
Di akhir fatwanya beliau mengajak kepada seluruh pengamal wahidiyah agar mengerahkan/mengetok kekuatan bathiniyah karena perjuangan tidak akan pernah berhasil tanpa kekuatan bathiniyah yang kuat. Beliau mengajak para pengamal agar senantiasa riyadhah. Istilah beliau " melintir usus meres matha ". Beliau mengajak kepada pengamal agarm memperbanyak puasa dan melek malam untuk mendapatkan pertolongan Allah SWT. Beliau mennyitir sebuah dawuh " AD Du'au shilaahul mukmin " doa adalah senjata kaum mukmin yang dengan senjata itu insy. segala keluh kesah hamba akan ditolong Allah SWT.
Semoga mujahadah kubro gelombang remaja ini benar - benar mampu mengetuk hati remaja - remaja wahidiyah untuk mempersiapkan diri mereka dalam mengemban amanat perjuangan di masa yang akan datang. Sehingga umat masyarakat segera sadar "FAFIRUU ILALLAH WA RASULIHI SAW " dan negara ini segera di entaskan dari segala krisis yang melanda hingga menjadi negara yang " BALDATUN THAYYIBATUN WARABBUN GHAFUR ". AMIN
Kamis, 06 Agustus 2009
RASULULLAH SAW SANG PEMAAF

Memohon maaf atas kesalahan yang telah dilakukan, adalah cermin jiwa kesatria. Adapun memaafkan kesalahan orang lain disaat terbuka kesempatan untuk membalas, termasuk akhlak yang tinggi dan merupakan cermin kebesaran jiwa dan tujuan yang suci bersih. Mudah memaafkan adalah sifat Rabbani, sifat wajib yang terdapat pada diri Allah SWT sebagai Al Ghafur. Dan Allah mendidik NabiNya Muhamad SAW agar memiliki sifat tersebut. Sebagaimana firmanNya :
“ Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mngerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang – orang yang bodoh”. ( QS Al A’raf : 199 ).
Firman Allah SWT tersebut, Nabi wujudkan dalam segala tindak tanduk beliau, baik ucapan maupun perbuatan. Nabi SAW dalam berbagai kesempatan juga kerap menganjurkan para sahabat agar menghayati dan mengamalkan sifat pemaaf ini.
Bukti bahwa Rasulullah SAW adalah Sang Pemaaf, tersebar di banyak riwayat perjalanan kerasulan beliau. Sikap Rasulullah SAW saat menghadapi penduduk Mekkah Thaif, serta terhadap gembong mereka yang menjadi biang keladi fitnah dan kejahatan yang dengan sengaja dilancarkan kepada Rasulllah SAW, merupakan bukti sejarah yang tidak terbantahkan.
Hal pertama yang dilakukan oleh beliau Rasulullah SAW pada hari pertama dikuasainya kmbali kota Makkah, adalah memberi maaf secara besar – besaran kepada seluruh lawan dan penentangnya, termasuk pemimpin - pmimpinnya yang telah merajalela di bumi Makkkah, dengan segala bentuk kejahatannya. Peristiwa itu disebut dengan hari pengampunan umat.
Suatu hari di Makah, ketika Rasulullah SAW sedang thawaf mengelilingi Ka’bah, seorang lelaki bernama Fudlalah datang hendak membunuh Rasulullah SAW. Ketika Fudlalah mendekati Nabi, beliau SAW menegurnya, “ Engkau Fudlalah ?”
Ya aku Fudlalah “ jawabnya sinis. “ Apa yang kini terlintas di hatimu?“ tanya rasul. “ Tidak ada apa – apa, aku cuma menyebut dan ingat akan Allah “ jawab Fudlalah merah padam karena malu dan gugup. Maka tertawalah Nabi SAW seraya berkata , “ Astaghfirullah!” Kemudian beliau menghampiri dan meletakkan tangannya di atas dadanya. Maka dingin dan tenanglah hati Fudlalah . Selanjutnya ia berkata terus terang , “ Demi Allah, belum lagi Rasulullah SAW mengangkat tangannya dari dadaku, melainkan tak seorangpun manusia yang kucintai, lebih daripadanya”.
Seorang pendeta Yahudi bernama Zaid bin Sa’nah, telah lama mengkaji dan mempelajari kitab – kitab lama yang berisi berita gembira akan kedatangan seorang nabi penutup juga tentang sifat – sifat serta cirri khas nabi yang dinanti – natikan itu, sebagaimana yang termaktub dalam kitab itu. Ternyata semua sifat dan tanda – tanda kenabian tersebut benar terbukti pada diri Rasulullah SAW. Hanya ada dua tanda yang masih belum diyakini karena sang pendeta belum menyaksikan langsung. Kedua tanda yang dimaksud, ialah kelapangan dada yang sanggup menguasai luapan nafsu amarahnya. Jika diperlakukan tidak wajar, semakin bertambah kesabaran dan ketenangan hatinya. Sang pendeta ingin membuktikan sendiri kedua tanda itu ada pada diri Nabi SAW.
Untuk itu Zaid sang pendeta yahudi, kerap menghadiri majlis Nabi SAW, dengan maksud mengujinya. Hingga pada suatu hari datang seorang Badui kepada Nabi SAW, mengadukan penderitaan hidupnya serta serba kekurangan yang dialami penduduk di dusunnya. Zaid yang menyaksikan hal itu lantas meyarankan kepada Nabi SAW memberikan apa yang diperlukan dan diminta orang tersebut. “ Saya yang akan membeli dari engkau sekian kwintal dengan harga sekian “. Kata pendeta sambil menyerahkan delapan puluh dinar kepada si Badui.
Tanpa banyak bicara uang dinar sebanyak itu diterima si Badui dan segera meninggalkan majelis Nabi. Selanjutnya Nabi SAW berjanji kepada Zaid, bahwa beliaulah yang akan membayar uangnya pada waktu yang telah ditentukan bersama.
Sebelum masa perjanjian habis, Zaid sang pendeta datang menemui nabi untuk menagih hutang, dengan kasar ia mendekati nabi dan menarik surban beliau keras – keras, hingga terlepas dari bahu beliau. Selanjutnya dengan muka bengis dan suara lantang ia berkata , “ Apakah engkau sengaja tidak menepati janji, dan tidak membayar hutangmu padaku? Kalian hai putra keturunan Abdul Muththalib, selalu dan suka menunda – nunda dalam membayar hutang. Dan aku mengetahui benar perangai buruk itu setelah lama bergaul dengan kalian”.
Menyaksikan hal itu Sayyidina Umar RA berdiri dengan marah seraya katanya, “ Tutuplah mulutmu hai bedebah, hai musuh Allah. Pantaskah engkau berkata demikian kepada Rasulullah? Demi Tuhan yang mengutusnya dengan agama yang benar kalau sekiranya aku tidak kuatir, bahwa masalah engkau dengan beliau tidak akan terselesaikan, niscaya kepalamu sudah kulepas dari batang tubuhmu”.
Nabi SAW hanya tersenyum melihat sikap panik sahabatnya, beliau lalu dawuh, “ Bukan itu yang penting bagiku dan bagi dia ya Umar. Semestinya engkau menyurhku membayar dengan baik, dan menyuruh dia menuntut haknya dengan baik pula”.
Kemudian nabi meneruskan dengan dawuhnya, “ Ya Umar, bawalah dia. Berikan dan penuhi haknya. Dan tambahkan lagi dua puluh kati buah kurma sebagai ganti rugi, karena gertak ancaman dan ucapanmu kepadanya.”
Maka tenang dan mantaplah hati pendeta Yahudi itu. Dia semakin yakin akan kerasulan Muhammad SAW, Karena semua tanda kenabian yang dicarinya selama ini, telah ditemukan selengkapnya pada diri Nabi Muhammad SAW.
Anas bin Malik bercerita : Pernah aku berjalan bersama Nabi SAW. Ketika itu beliau memakai sorban yang tebal lagi kasar yang dikalungkan pada lehernya. Tiba – tiba diluar dugaan, datang seorang Badui dan dengan kerasnya menarik sorban Nabi SAW hingga bekas tarikannya itu jelas terlihat pada belakang lehernya. Kemudian Badui yang baru turun dari gunung itu, berkata :“ Ya Muhammad penuhilah kedua untaku itu dengan barang dan kepunyaan Allah yang ada padamu“.
Mendengar ucapan Badui itu , Nabi SAW terdiam sejenak lalu katanyaa,“Benar ! Harta itu kepunyaan Allah dan aku adalah hambaNya, dan karena perbuatanmu kepadaku, engkau harus mendapat balasan yang setimpal“.
“Tidak“. Jawab Badui cepat.
“Kenapa?“ tanya Nabi .
“Karena engkau tidak akan membalas kejahatan dengan kejahatan pula“ . Jawab Badui tenang. Maka keranjang yang terdapat di untanya dipenuhi dengan burgul dan buah kurma.
Itulah beliau Rasulullah SAW yang dipuji Allah „ Wa innaka la’ala khuluqin `adzim“ sang uswatun hasanah. Yang selalu membalas kejahatan dengan kebaikan. Memberi maaf sebelum diminta. Dan selalu memaafkan kesalahan orang seberat apapun kesalahannya. Sudah seharusnya, kita sebagai umatnya meneladani sifat mulia beliau yang mudah meminta maaf dan mudah memaafkan. Sungguh, hidup akan terasa damai dan indah apabila sifat saling mamaafkan ini menjadi sikap dan kebiasaan setiap insan yang hidup di dunia.
Dikutip dari majalah Aham Edisi 79/Th.XI Syawwal 1420 hal 22 - 23
Selasa, 17 Maret 2009
HIKMAH DI BALIK MAULID NABI
Rasulullah saw kembali kepangkuan Allah SWT, pada tanggal 12 rabiul awal tahun 11H diusianya yang ke 63 tahun. Beliau meninggalkan umatnya secara lahir, namun secara ruhani beliau tetap mebimbing umatnya. Dalam sebuah riwayat beliau bersabda : “ Hiupku adalah lebih baik bagimu dan kematianku juga kebaikan bagimu.”Begitu kasih dan sayangnya beliau pada umatnya hingga saat beliau wafat tiada lagi hal yang beliau hawatirkan dan beliau sebut – sebut diakhir hayatnya kecuali kata “ ummati…ummati…ummati…”Mari, kita introspeksi diri seberapa besarkah rasa cinta kita pada beliau ? Sudahkah kita ikuti suri tauladannya ? Ataukah kita hnya berfoya-foya dan bergemmbira dibawah naungan nafsu serta syahwat dunia yang senantiasa mmemperbudak kita?
Sudah menjadi sebuah tradisi dalam kehidupan umat islam, khususnya mereka yang menganut paham ahlus sunnah wal jamaah. Bahwa, pada setiap bulan rabiul awal diadakan peringatan maulid nabi saw. Dalam masyarakat jawa budaya ini telah mengakar begitu kuat terutama di masyarakat pedesaan dan pesantren. Pada hakikatnya tidak ada hadits nabi yang memerintahkan secara tegas tentang wajibnya pringatan maulid ini. Ditinjau dari hukum fiqh, maka sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh nabi, akan tetapi apabila sesuatu itu dilaksanakan bisa mendatangkan kemaslahatan, maka sesuatu ini dikatakan sebagai maslahah mursalah. Arinya kemaslahatan yang masih digantungkan. Dalam arti sebuah kemaslahatan yang muncul dari dilakukannya sebuah perbuatan yang tidak bertentangan dengan masalah syar’i.
Pada awalnya maulid nabi mmerupakan sesuatu yang asing dalam dunia islam. Namun pada akhirnya menjadi sebuah tradisi yang mengakar dan sulit ditinggalkan. Bila kita tinjau secara mendalam, banyak hal yang sangat bermanfaat dalam peringatan maulid nabi saw.Beberapa hal itu diantaranya adalah mendekatkan diri pada Allah SWT, menambah keimanan dan ketaqwaan, menambah rasa mahabbah kita kepada Allah wa rasulihi saw, mengingat sejarah perjuangan beliau, menambah semangat dalam beribadah dan masih banyak lagi manfaat yang dapat kita raih.
Karena begitu banyaknya hikmah dan manfaat dari peringatan maulid ini, maka para ulama’ salafus shaleh memberlakukan peringatan ini sebagai wujud syukur atas diutusnya nabi Muhammad saw. Hingga karena beliaulah ,benih-benih iman dan kesadaran mulai tumbuh dalam diri kita. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah sudahkah kita mencintai rasul dengan kecintaan yang sejati? Ataukah cinta kita hanyalah sebatas cinta imitasi? Renungkanlah dan pikirkanlah! Semoga kita diberi hidayah. Amin.Allaahu A’lam.
Jumat, 27 Februari 2009
KEMANA AKU HARUS MELANGKAH
Perjalanan panjang ini tentu akan sampai pada titik akhir. Suatu tempat dimana manusia akan menuai hasil dari perjalanan panjangnya. Karena sudah barang tentu perjalanan itu di tempuh untuk suatu tujuan.
Titik akhir itu adalah kematian yang akan membawa manusia pada suatu kehidupan baru yang berbeda dan sama sekali lain dari apa yang ia alami. Alam barzah dan alam akhirat, dimana semua manusia akan dimntai pertanggung jawaban atas apa yang selama ini dilakoninya selama hidupnya di dunia. Sebuah tempat penuh ujian dan tantangan.
Dahulu sebelum manusia dilahirkan, ia berada dalam alam arwah,di dalam rahim seorang ibu. Setelah Allah meniupkan ruh manusia kedalam jasadnya, iapun bertanya : ا لست بربكم“ Bukankah Aku ini Tuhanmu? “, Manusiapun menjawab :قا لوا بلى شهد نا , “ Mereka berkata :” Ya kami bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhan kami”.
Akan tetapi semua persaksian manusia itu menjadi kabur tatkala manusia dilahirkan kedunia, keluar dari rahim Sang Ibu. Ini terjadi bukan karena manusia tidak mengakui bahwa Allah adalah Tuhannya, melainkan karena ia lebih mempertuhankan terhadap nafsu syahwatnya dan godaan akan gemerlapnya kehidupan dunia yang serba tampak dalam pandangan mata lahirnya.
Dunia adalah tempat dimana manusia harus menjalani kehidupannya yang penuh dengan ujian. Sebagai tempat ujian sudah barang tentu dunia penuh dengan berbagai tipuan yang menghanyutkan. Tak ayal, disana sini kita perhatikan banyak hiburan mengasyikkan dari siaran – siaran televsi, VCD, media cetak, internet sampai tempat – tempat wisata dan hiburan yang semuanya menyajikan hiburan pembangkit nafsu dan syahwat manusia.
Disisi lain duia juga menggambarkan kehidupan yang syarat dengan persaingan an, kompetisi untuk meraih sebuah pangkat, derajat, dan kehormatan. Mulai dari tngkat RT, kepala desa, camat, bupati, sampai dengan presiden. Demikian halnya dari santri, ustadz, kyai sampai pada masyayikh. Tak pelak inipun menimbulkan ketimpangan disana – sini.
Tak jarang kita menyaksikan tempat – tempat yang semestinya menjadi sumber dari kemulyaan justeru menjadi tempat bagi sumber kehancuran dan kehinaan. Sekolah yang mestinya menjadi tempat untuk mencari ilmu pengetahuan, justeru digunakan sebagai tempat untuk berebut jabatan dan mengeruk keuntungan sebanyak – banyaknya. Posisi presiden yang semestinya menjadi tempat untuk mengabdi pada rakyat malah justeru berubah menjadi predator yang siap untuk menerkam dan menghancurkan masyarakat grass root yang telah mengangkatnya.
Lebih gila lagi pondok pesantren yang menjadi tempat mengajarkan ilmu agama untuk menyelamatkan umat dan masyarakat banyak yang telah berubah menjadi sebuah alat dalm meraih kepentingan untuk mencapai kepuasan sesaat. Dalil – dalil agama diperjual belikan demi uang untuk melegitimasi kerakusan – kerakusan dan ketamakan duniawi semata. Mungkin bisa dihitung dengan jari, pesantren – pesantren yang mampu mempertahankan citra dirinya sebagai benteng umat dan masyarakat dalam menggapai ridlo Allah SWT.
Fenomena semacam inilah yang mungkin telah di sinyalir oleh qaul ba’dlul hukama’ :
فسا د كبير عا لم متهاتك
Artinya : “ Kerusakan yang besar adalah apabila ada seorang ‘alim yang mutahatik ( tidak mau menggunakan ilmunya untuk kebaikan )”.Sorang ‘alim yang tidak mampu menempatkan posisinya sebagai ‘alim dan hanya menggunakan ke’alimannya untuk mencengkeram orang lain dan untuk kesenangan dirinya semata maka sesungguhnya dia tidak semakin dekat dengan Allah melainkan semakin jauh dari Allah SWT. Hal ini telah di singgung Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya :
من ازداد علما ولم يزددهدى لم يزدد من الله الا بعد
Artinya : “ Barangsiapa yang semakin bertambah ilmunya dan tidak bertambah hidayahnya maka ia tidak bertambah kepada Allah kecuali bertambah jauh”.Dalam hadits tersebut Rasulullah SAW menerangan bahwa siapapun orangnya yang semakin bertambah ilmunya , sedang ia tidak bertambah hidayahnya, maka ia tidak semakin bertambah dekat kepada Allah melainkan semakin bertambah jauh dari Allah akan tetapi ia tidak merasa. Hadits ini juga memberikan pemahaman bahwa seseorang yang semakin bertambah banyak ibadahnya, riyadlohnya akan tetapi tidak di iringi hidayah dari Allah, maka sesungguhnya ibadahnya itu tidak menjadikan sebab baginya untuk dekat kepada Allah melainkan semakin jauh darinya. Ibadah yang hanya di dorong oleh nafsu semata tidak akan membawa pelakunya untuk sadar kepada Allah akan tetapi justeru akan menjadi penghalang baginya untuk sadar kpada Allah. Karena yang tampak ketika ia beribadah bukannya Allah akan tetapi adalah kemampuan yang ada pada dirinya untuk beramal sebanyak – banyaknya. Ia merasa menjadi seseorang yang suci dan pantas untuk masuk kedalam surganya Allah.
Banyak sekali hadits yang meneragkan tentang keadaan amal yang tidak ada artinya ketika di lakukan dengan tidak benar – benar diiring rasa sadar akan Allah SWT. Diantara hadits – hadits tersebut adalah :
كم من صائم ليس له من صيامه الا الجو ع وا لعطش
Artinya : “ Banyak sekali orang yang berpuasa akan tetapi ia tidak mendapatkan sesuatupun dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga”.
رب قا رئ القر ن وا لقران يلعنه
Artinya : “ Banyak sekali orang yang membaca Al qur’an, namun Al qur’an justeru mnjadi laknat baginya “.Hadits – hadits diatas memberikan isyarat akan banyaknya amal manusia yang tidak ada gunanya ketika dilakukan dengan tidak di sertai hidayah Allah SWT. Betapa sebenarnya amal itu adalah sulit tidak semudah yang kita bayangkan.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah hidayah itu bisa di usahakan ? Jawaban dari pertanyaan itu telah di sinyalir dan di berikan Allah SWT di dalam Al Quran yang menjadi sumber rujukan bagi seluruh umat islam. Allah SWT berfirman :
وا لذ ين جا هدوا فينا لنهدينهم سبلنا
Artinya : “ Dan orang –orang yang bersungguh – sungguh dalam menuju kepada-KU pasti akan Aku tunjukan kepada mereka jalan – jalan-KU”.Berkaitan dengan hal ini Imam Abu Hamid Muhammad ibnu Muhammad Al Ghazali berkata dalam kitab monumentalnya ( Ihya’ Uluumid Diin ) :
المجا هدة مفتاح ا لهداية لا مفتاح لها سواها
Artinya : “ Mujahadah adalah kunci hidayah, tidak ada kunci hidayah selain mujahadah”.Ditinjau dari segi semantic, kataمجا هده berasal dari fi’il madli جاهد yang memiliki arti saling bersunguh – sunguh, berperang. Adapun ditinjau dari definisi ulama’ tasawuf maka kata مجاهده di gunakan untuk menunjuk sebuah upaya yang sungguh – sungguh secara batiniah untuk melawan hawa nafsu untuk di arahkan sadar ma’rifat kepada Allah SWT. Dengan upaya dan usaha yang sungguh – sungguh dari jiwa manusia ini akan dapat mngantarkan manusia untuk menjadikan amalnya murni seratus persen hanya untuk Allah dan sadar bahwa ia mampu dan dapat beramal semata – mata juga karena fadlal dari Allah SWT. Dengan semakin menekan nafsu yang ada pada dirinya maka akan timbul sebuah kesadaran dalam diri manusia bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Perkasa sedang manusia adalah makhluk yan sangat hina. Kesadaran ini akan membawa manusia untuk senantiasa tunduk dan patuh pada setiap apa yang diinginkan dan di perintahkan Allah SWT. Manusia akan semakin mawas diri dan semakin sadar akan kelemahan dirinya.
Berkatan dengan hal ini, Allah juga menegaskan di dalam Al Qur’an bahwa nabinyapun senantiasa mawas diri dan tidak membiarkan dirinya dihinggapi dan di gerogoti oleh nafsu. Di tegaskan dalam Al Qur’an :
وماا برؤ نفسي ا ن ا لنفس لامارة بالسوء
Artinya : “Dan sekali – kali aku tidak pernah membiarkan nafsuku, sesungguhnya nafsu itu senantiasa mengajak berbuat buruk “.>Diskripsi diatas menggambarkan betapa manusia hidup di dunia ini adalah sebagi sebuah ujian baginya dalam memilih hal – hal yang ia gandrungi dalam hidup. Manusia bagaikan berada dalam sebuah persimpangan jalan antara ke kiri dan ke kanan. Kemana ia melangkah adalah sebuah keputusan yang harus ia ambil dan pasti di dalamnya ada berbagai macam resiko yang harus ia hadapi. Keputusan yang tepat akan membawanya kepada kebahagiaan yang hakiki. Sedang sebuah keputusan yang salah akan membawanya pada sebuah jurang penderitaan tiada henti selamanya.
Pada akhirnya kita harus merenung kembali untuk mencari sebuah hakikat sejati “ DARI MANA AKU BERASAL, UNTUK APA AKU HIDUP, DAN HENDAK KEMANA AKU PERGI “ Kalau orang tua – dulu bilang kita harus mencari “ SANGKAN PARANING DUMADI “. ALLAAHU A’LAM
Selasa, 24 Februari 2009
IKHLAS,RUH SEGALA AMAL MANUSIA
Amal – amal adalah gabar sedangkan ruhnya adala adanya rahasia iklash di dalamnya….” Al Hikam.
Seringkali manusia tertipu dengan sangkaannya sndiri. Mereka menganggap bahwa banyaknya amal yang mereka lakukan adalah wujud kedekatan mereka pada Sang Khaliq. Padahal dalam sebuah hadits shahih di sebutkan :
من ازدا د علما ولم يزدد هدى لم يزد د من الله الا بعدا
Artinya : “ Barangsiapa yang semakin bertambah ilmunya dan tidak bertambah hidayahnya maka ia tidak bertambah dekat kepada Allah melainkan bertambah jauh”.
Hadits ini memberikan pemahaman bahwa semakin banyak dan tinggi ilmu seseorang itu belum tentu menunjukkan kedekatannya pada Allah SWT. Tinggi dan banyaknya ilmu yang di miliki seseorang apabila tidak di sertai hidayah dari Allah swt justru akan menjadikan ilmu itu menjadi sebuah laknat dan bomerang yang akan semakin menjauhkan manusia dari sisi Allah swt.
Hadits di atas juga memberikan pemahaman bahwa semakin banyak amal ibadah, riyadhah dan apapun aktivitas ibadah manusia secara lahir itu tidak menjadi jaminan bahwa orang tersebut dekat dengan Allah. Banyaknya amal, riyadloh dan segala bentuk ibadah lahir itu tiada lain hanyalah sebuah gambar semata sedang ruh yang akan menjadikan amal itu berarti dan memiliki arti penting yang akan menghidupkan amal itu tiada lain adalah keikhlasan dari sang pelaku itu sendiri.
Ikhlas adalah perbuatan dan kondisi batiniah yang tidak dapat di ketahui oleh orang lain. Ikhlas merupakan sebuah ketulusan dalam jiwa seseorang yang hanya di ketahui oleh orang yang malakukan amal dan Allah SWT. Betapapun bibir manusia berkata ribuan kali kata ikhlas akan tetapi itu belum tentu menjadi jaminan bagi ikhlasnya amal yang ia lakukan.
Ikhlas secara bahasa mengandung arti bersih, suci, murni. Dalam syari’at islam ikhlas di artikan sebagai pemurnian terhadap amal – amal ibadah tanpa pamrih apapun melainkan ridlo Allah SWT. Orang yang ikhlas tidak akan pernah berharap akan balasan dari orang yang di bantunya. Sebagaimana gambaran kedua orang tua yang menghidupi dan mendidik anak – anaknya hingga ia tumbuh menjadi orang dewasa. Tanpa pamrih apapun dari anak tersebut karena rasa cinta dan kasih sayang pada anaknya.
Seorang yang ikhlas dalam beramal kepada Allah tidak akan pernah mmeminta balasan dari Allah SWT ketika ia sedang beramal. Ia beribadah kepada Allah hanya semata – mata karena cinta kepadaNYA. Ia tidak akan pernah berharap akan surga dan tidak pula berharap jauh dari neraka. Yang ia harapkan hanya ridlo dari Allah semata. Mengharap surga bagi seorang mukhlis adalah hal yang sangat tida etis karena baik surga maupun neraka keduanya hanyalah makhluq Allah SWT. Padahal dalam sebuah ayat al qur’an di sebutkan:
قل لا املك نفسى ضرا ولا نفعا الا ما شاء الله
Artinya : “Katakanlah ( Wahai Muhamad ) sesungguhnya aku tidak memiliki kemapuan untuk mengambil suatu kemanfaatan dan kemadlorotan atas diriku sendiri keculi apa yang telah di kehendaaaki oleh Allah SWT”
.
Ayat di atas memberikan pemahaman bahwa manusia itu tidak akan pernah mampu dan bisa untuk mengambil satu manfaat ataupun madlorat bagi dirinya kecuali atas kehendak Allah. Demikian juga surga dan neraka. Surga akan mampu memberikan nikmat kepada manusia apabila Allah mengizinkannya. Neraka juga akan menjadi siksa bagi manusia ketika Allah menghendakinya. Akan tetapi apabila Allah berkehendak lain, maka surga dan neraka tidak akan berfungsi sebagaimana yang kita pahami saat ini. Demikanlah orang yang ikhlas dalam beramal tidak pernah memandang kepada surga dan neraka ketika beramal. Ia hanya mengharap ridla Allah dalam amalnya.
Lebih jauh lagi dalam pandangan sufi, maka ikhlas adalah sebagaimana di sebutkan dalam kitab Sulam Taufiq :
الا خلا ص هوترك الاخلا ص فى الاخلا ص فهو الاخلا ص
Artinya : Ikhlas adalah meninggakanl merasa bisa ikhlas di saat melakukan perbuatan ikhlas”.
Ungkapan di atas memberikan pemahaman bahwa ikhlas bukan hanya sebuah konsep yang terucap dengan kata – kata. Lebih dari itu ikhlas memberikan pengertian yang sangat dalam bahwa kikhlasan itu harus sampai pada tingkat dzauqiyah. Tingkatan rasa yang menyatu dalam perbuatan bahwa ketika kita sedang beribadah, kita sadar dan yakin sepenuhnya bahwa apa yang kita kerjakan itu hanya semata – mata karena pertolongan dari Allah SWT. Manusia tidak mampu melakukan apapun terkecuali atas kehendak dan izin Allah SWT. Ungkapan ini senada dengan kalimah hauqalah yaitu :
لا حو لا ولا قوة الا با لله
Artinya : “ Tiada daya ( untuk melakukan perintah Allah ) dan tiada kekuatan ( untuk menjauhkan diri dari larangan Allah ) kecuali atas kehendak ( fadlal ) Allah”.
Orang yang mampu menerapkan hal ini dalam kehidupan sehari – hari, maka ia adalah orang yang sangat beruntung karena mendapat fadlal yang besar dari Allah. Ikhlas memang hal yang sangat sulit untuk di laksanakan . Akan tetapi sulit itu bukan berarti tidak bisa. Asalkan kita selalu bersungguh – sungguh dalam bermohon dan munajat kepada Allah pasti Allah akan memberikan anugerah itu kepada mereka yang bersunguh – sungguh untuk mendapatkannya. Allah SWT berfirman di dalam kitab suci Al Qur’an:
والذ ين جا هد وا فينا لنهد ينهم سبلنا
Artinya : “ Barangsiapa yang bersungguh – sungguh ( menuju kami ), pasti sungguh akan kami tunjukkan jalan kami”.
Demikianlah Allah SWT telah memberikan lampu hijau kepada mereka yang mau bersungguh – sungguh untuk mencari ridlaNYA pasti Allah akan tunjukkan jalan – jalanNYA. Tinggal manusia mau ataukah tidak untuk berjuang melawan nafsunya untuk menuju kepada keridlaanNYA. Semoga Allah menunjukkan kepada kita jalan yang terang serta menaungi segala langkah kita agar kita senantiasa mendapat nikmat karunianNYA yang sempurna untuk senantiasa FAFIRUU ILALLAAH WA RASUULIHI SAW. Allaahu A’lam.
محمد فطانى البلتا رى
Rabu, 18 Februari 2009
MAHABBAH
Tak asing lagi kata – kata ini seringkali terdengar dan terngiang dalam telinga kita. Cinta, sungguh sebuah kata yang sangat indah dan enak di dengar serta di rasakan, namun sulit untuk di definisikan. Demkianlah Junayd mengatakan tentang cinta. Terasa begitu menyentuh dan tepat di rasa oleh yang mengalami cinta. Sekrang saatnyalah kita introspeksi tentang cinta kita kepada Allah. Adakah pengakuan cinta kita kepada Allah telah merasuk dalam diri dan hati kita yang pada akhirnya menjadi sebuah dzauq dalam diri kita ? Ataukah cinta kita kepada Allah dan rasulnya hanya sebatas sebuah ungkapan dalam bibir kita yang sama sekali jauh dari dzauq dan syauq ( rindu ) akan Allah dan rasulNYA?
Cinta kepada Allah dan rasulnya mengharuskan kita untuk tenggelam dalam samudera cintaNYA. Mengharuskan kita untuk menghapus segala apa yang ada dalam benak pikiran kita selain dariNYA. Dengan senantiasa menghadirkan Allah dan Rasulnya dalam setiap perilaku dan tindakan kita. Mendatangkan sifat Rahman dan RahimNYA, penyantun, penyabar, amanah dan segala sifat yang dimilkinya sehingga keberadaan kita adalah merupakan perwujudan sifatNYA di alam nyata.
Wahai para muslim ! Sudahkah kita benar – benar introspeksi diri dan melihat dengan segala kesadaran kita akan kasih sayangNYA, Akan cintaNYA pada kita? Ataukah kita hanya memandang dengan sinis, melihat dan menatap dengan tatapan menantang tanpa tahu cinta dan kasih saying NYA yang mendalam pada diri kita semua insan.
Mari kita berseru FAFIRRUUUUU ILALLAAH WA RASUULIHI SAW. Jangan pernah kau biarkan dirimu jatuh dalam pelukan iblis yang hanya akan menyesatkan dan mengantarmu pada liang neraka jahannam. Lihatlah segala apa yang ada di sekitarmu adakah mereka sudah sadar kpada Allah ? Ataukah mereka adalah orang – orang yang senantiasa bergumul dengan nafsu mreka yang kian hari kian merajalla? Semua itu adalah tanggung jawab kita. Jangan pernah melalaikan saudara – saudara kita karena bila itu yang terjadi kita akan semakin jauh dariNYA walau ibadah kita telah menumpuk setinggi gunung. Allaahu A’lam Bi Al Shawaab
DUNIA SARANA MENUJU KEHIDUPAN AKHIRAT
وابتغ فيما اتاك الله دارالاخرة ولاتنس نصيبك من الدنيا
Artinya : “Dan Carilah apa yang telah Allah berikan kepadamu berupa kehidupan ahirat dan janganlah engkau melupakan bagianmu ( dari kehidupan dunia )”.
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa islam menginginkan adanya keseimbangan antara dunia dan akhirat. Tidak di benarkan seseorang yang hanya melulu ibadah kepada Allah saja ( ibadah makhdlah), apalagi melulu mengurusi urusan duniawi. Hal ini sangat di kecam oleh islam.
Sudah menjadi kodrat manusia kiranya bahwa manusia tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa bantuan orang lain. Dalam hidupnya tidak mungkin manusia bisa hidup sendiri. Ia butuh teman untuk berbicara , butuh sahabat sebagai tempat curhat ataupun memenuhi hajat hidupnya. Oleh karenanya islam mengatur tata cara bermu’amalah dengan yang lainnya, yang kita kenal dengan hablun minan nas.
Hidup didunia ini pada dasarnya adalah tempat ujian. Tempat dmana seseorang harus menempa dirinya sebagai bekal bagi dirinya untuk menghadapi kehidupan yang lebih kekal dan abadi di akhirat. Karena di akhiratlah kehidupan sejati, kehidupan yang sebenarnya. Sebagaimana firman Allah :
ولى وللاخرة خير لك من ا لا
Artnya : “ Dan pastlah sesungguhnya kehidupan ahirat itu lebih baik bagimu daripada kehidupan dunia”.
Dalam menghadapi kehidupan yang abadi dan sejati inilah, maka manusia memerlukan bekal . Karena tanpa bekal manusia tidak akan mampu menjalaninya ( celaka ).Dalam suatu riwayat Abu Bakar As Shiddiq mengatakan :
من مات وليس له زائد فكانمادخل البحربدون السفينة
Artnya : “ Barang siapa mati sedang ia tidak memilii bekal , maka ia bagaikan masuk kedalam lautan tanpa mnggunakan perahu ( past ia akan tengglam di dalamnya )”.
Sedang maut dan alam barzah merupakan pintu awal akhirat. Di sebutkan dalam suatu riwayat bahwa sahabat Utsman Ibnu Affan senantiasa menangis tersedu – sedu setiap kali melewati makam. Seorang saabat bertanya :”Wahai Utsman!Gerangan apa yang menyebabkan engkau senantiasa menangis setiap melewati makam?”. Utsman menjawab : “Ketauhilah olehmu sekalian! bahwa alam kubur adalah pintu dari ahirat, maka barang siapa di alam kubur ini sengsara maka bagaimanakah nasibnya besok di yaumil qiyamah?”
Begitulah, Kehidupan akhirat adalah kehidupan sejati, sedang dunia adalah tempat untuk mncari bekal dalam menempuh kehidupan akhirat. Di sebutkan dalam sebuah hadits :
الدنيا مزرعة الاخرة
Artinya :” Dunia adalah ladang akhirat.”
Dalam sebuah hadits lain di sebutkan :
الدنيا بلاغ الى الاخرة
Artinya :” Dunia itu dapat menghantarkan kepada kehidupan akhirat”.
Dunia ini di ciptakan bukan untuk di hindari ataupun di jauhi. Akan tetapi dunia ini di ciptakan untuk di manfaatan seebagai sarana untuk menghantarkan seseorang sampai kepada Allah Rabbul Izzati. Karena tidak ada sesuatu yang di ciptakan Allah secara sia- sia.
SUFI SEJATI ADALAH YANG MAMPU MELEBUR DIRI
“ Peleburan sejati adalah ketika Allah menciptakan pada diri para wali perasaan takut- yakni ketakutan akan perpisahan…..”
Dalam islam kita mengenal adanya khauf dan raja’. Secara lughat khauf mempunyai makna takut, sedang raja’ mempunyai makna berharap. Kedua kata ini seringkali di hubungkan dengan hal ikhwal peribadatan seorang hamba kepada Tuhannya.
Kita mengenal dalam islam ada tatanan yang mengatur hubungan aktifitas manusia secara lahir dan batin. Secara lahir tatanan ini lebih kita kenal dengan syari’at atau fiqih. Sedang tatanan yang mengatur aktifitas manusia secara batin kita kenal dengan hakikat.
Secara syari’at ( tatanan lahir ), khauf lebih di pahami sebagai sebuah rasa yang muncul dalam hati manusia berupa rasa takut akan siksa dan adzab Allah SWT. Sehingga dalam hal ini, seorang “abid akan menyembah Allah karena sebuah dorongan dan pamrih ingin selamat dari siksa atau dengan kata lain ingin surga. Hal ini menandakan bahwa ia masih mengakui adanya kekuatan lain yang mampu berbuat kemudharatan pada dirinya selaaain Allah. Dan itu berarti masih ada unsur syirik di dalam ibadahnya walaupun dalam tataran syirik khafi. Padahal Allah telah berfirman :
قل لا املك نفسى ضرا ولا نفعا الا ما شاء الله
Artinya : “ Katakanlah ( wahai Muhammad SAW ): “ aku tidak memiliki kuasa atas diriku sendiri untuk berbuat madharat dan menarik kemanfaatan kecuali apa yang telah di kehendaki Allah SWT”.”
Khauf menurut pandangan hakikat lebih di maknai sebagai sebuah rasa yang muncul dalam diri seorang ‘abid berupa rasa takut akan kehilangan dan berpisah akan Dzat yang di cintai yaitu Allah SWT. Kecintaan yang begitu mendalam menyebabkan kekhawatiran dan rasa takut akan kehilangan orang yang di cinta. Ibarat seorang remaja yang sedang dimabuk cinta takkan pernah sanggup untuk berpisah dengan kekasih hatinya.
Dengan demikian tak ada lagi rasa dalam diri seoran ‘abid yang masuk dan sampai pada maqam ini suatu perasaan bahwa ada kekuatan di luar Dzat yang di cintainya “ Allah SWT “. Ia beribadah semata – mata hanya untuk Allah bukan karena ingin surga atau takut neraa. Ibadahnya hanya karena rasa cinta dan rindu kepada Tuhannya.Sebagaimana perkataan seorang sufi : “ …..Yaa Tuhanku ! Seandainya aku beribadah kepadaMU karena mengharap akan surgaMU, maka jauhkanlah aku darinya! Dan seandainya aku beribadah kepadaMU karena takut akan siksa api neraka, maka masukkanlah aku ke dalamnya! Tapi jika seandainya aku beribadah karena cinta kepadaMU, maka jangan biarkan aku berpisah denganMU barang sedetikpun”.
Itulah gambaran dari seorang sufi sejati. Seorang sufi bukanlah orang yang mengaku – aku sebagai sufi. Akan tetapi seorang sufi adala seorang yang mampu menghilangkan rasa ke – aku- an dan keber-ada-an sesuatu diluar Allah. Diluar Allah tidak ada, yang ada hanya Allah. Aku bisa makan karena di makankan oleh Allah. Aku bisa pandai, dipandaikan Allah. Atau dalam istilah lainnya addalah :
لا حولاولا قوة الابالله
Artinya : “ Tiada daya (untuk melaksanakan perintah Allah ) dan kekuatan ( menjauhi larangan Allah ) kecuali dengan fadhalnya Allah SWT”
Raja’ dilihat dari segi syari’at adalah harapan akan nikmat Allah SWT.Dilihat dari sisi ini, maka ada wujud diluar wujud Allah SWT yang berupa nikmat. Entah itu nkmat lahir maupun nikmat batin. Padahal salah satu sifat wajib bagi Allah adalah sifat wujud dan mukhaalafatu li al hawaadits pada sisi yang lain. Berarti kalau Allah itu wujud maka selain Allah adalah ‘adam ( tidak ada ). Adanya makhluk adalah semu. Makhluk wujud karena ia di wujudkan. Ia tidak mampu wujud dengan dirinya sendiri. Tanpa ada yang mewujudkan, mustahil ia akan ada.
Dengan demikian sebuah I’tikad akan adanya sesuatu diluar Allah adalah sebuah pengingkaran terhadap sifat Mukhaalafatu li al hawaadits. Dan sebuah pengingkaran terhadap saalh satu sifat yang dimiliki Allah sama halnya dengan menyekutukan Allah walaupun masih dalam sebuah tataran yang sangat tipis dan samar yang kita sebut dengan syirik Khafi. Hal ini di sebabkan karena menganggap bahwa Allah sama dengan makhluq, yaitu sama – sama memiliki sifat ada. Padahal Allah tidak sama dengan makhluk.
Raja’ apabila di pandang dari sudut hakikat mempunyai pengertian pengharapan akan pertemuaan dengan Sang Khaliq ( Wushuul Ila Allah ). Allah tidak dapat dilihat secara kasat mata, namun – menurut keyakinan para sufi- Allah bisa dilihat dengan mata hati. Hati manusia merupakan pusat dari segala aktifitas manusia. Pandangan mata lahir manusia hanya mampu memandang dan melihat segala hal yang tampak. Sedang mata batin manusia mampu melihat dan memandang segala hal tanpa terbatas ruang dan waktu.
Pada dasarnya raja’ ini tidak boleh lepas ddari aktifitas lahir manusia. Karena raja’ ini adalah aktifitas hati, maka seorang ‘abid tidak boleh merasa cukup dengan mengandalkan tumpukan ibadah lahirnya dengan tanpa adanya raja’ kepada Allah. Hal ini sangat di kecam, karena di dalm amal ini terdapat sifat sombong yang terselip dalam tumpukan ibadah yang sangat ia banggakan. Kebanggaan pada banyaknya amal ini akan membuat ‘abid akan menjagakan amal ibadahnya dan lalai pada tujuan ibadah yang sebenarnya. Oleh sebab itulah antara raja’ dan amal harus seiring dan sejalan. Bagaikan dua keping mata uang yang tak dapat di pisahkan antara yang satu dengan yang lain. Demikian halnya antara syari’at dan hakikat. Keduanya harus seiring dan sejalan. Syari’at tanpa adanya hakikat adalah kosong, sedang hakikat tanpa adanya syari’at adalah batal. Sebagaimana di tegaskan oleh Hujjatul Islam Imam Al Ghazali dalam kitabnya Bidayatul Hidayah :
شريعة بلاحقيقة عا طلة وحقيقة بلا شريعة با طلة
Artinya : “ Syariat tanpa hakikat kosong dan hakikat tanpa syari’at batal “.
Dalam dunia tasawuf kita mengenal adanya maqam jam’u ( kumpul-jawa ). Atau dalam istilah lain ada yang menyebutnya dengan fana’ atau lebur. Yang di maksud dengan fana’ atau lebur disini adalah meleburnya rasa seorang hamba kepada Tuhannya. Rasa yang muncul dalam diri seorang sufi yang tak bisa di gambarkan dalam retorika – retorka. Ibarat orang merasakan pedasnya cabe namun kata pedas yang ia ucapkan takkan mampu menggambarkan rasa yang ada dalam lidahnya tentang rasa pedas itu.
Pada kondisi fana’, seorang sufi tidak lagi mampu merasakan sesuatu melainkan kehadiran Allah. Bgitu dekatnya Allah dan begitu cintanya ia pada Allah hingga ia tidak lagi mampu merasakan kehadiran sesuatu selain Allah. Bahkan ia tidak mampu merasakan bahwa dirinya ada. Dalam kondisi semacam ini, biasanya seorang sufi sering mengeluarkan kata – kata yang sulit dipahami dan di terima oleh akal sehat manusia. Hingga apabila ini di pahami dengan kacamata syar’i maka yang terjadi adalah benturan antara rasa dan akal yang jelas akal menyalahkan dan menganggap bahwa itu adalah sesat. Peristiwa ini sering terjadi di masa islam kuno.
Di antara ulama’ – ulama’ sufi yang pernah mengatakan ungkapan – ungkapan nyleneh itu adalah Abu Mansur Al Hallaj, Abu Yazid Al Busthami, Abdul karim Al Jilli, dan Ibnu Arabi. Akibat dari ungkapan – ungkapan nyleneh ini kadang seorang sufi harus mati di tiang gantungan. Ungkapan nyleneh ini dalam dunia tasawuf di kenal dengan nama sathahat yaitu kata – kata ganjil yang keluar dari seorang sufi yang berada dalam kondisi fana’.
Sesungguhnya peristiwa yang tragis dalam sejarah itu tidak perlu terjadi apabiala ada pemahaman yang benar terhadap kondisi para sufi. Namun tampaknya pada saat itu banyak diantara para ulama’ yang hanya memandang dari sudut pandang syar’i sehingga yang terjadi adalah klaim bahwa tasawuf itu adalah menyimpang dan sesat. Padahal apabila ditinjau dari sebuah ayat Al Qur’an, maka kiranya kita akan membenarkan apa yang telah di lakukan oleh para sufi.
كل شئ ها لك الا وجهه
Artinya : “ Segala sesuatu itu hancur selain Allah SWT “. Allaahu A’lamu Bi Al Shawaab.