AL-QUR’AN HADITS MADRASAH ALIYAH KELAS XI SEMESTER II
MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas
mata kuliah “MDP Al-Qur’an Hadits”
Dosen Pengampu:
MUHAMMAD FATONI, M.Pd.I
Disusun Oleh:
DYAH NOVITASARI (3211093006)
IRSYADUL IBAD ( )
ISMA LAILA NUR AZIZAH ( )
Kelas : A
Semester : V (LIMA)
Jurusan : Tarbiyah
Prodi : PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) TULUNGAGUNG
NOVEMBER 2011
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Al-Qur’an Hadits Madrasah Aliyah Kelas XI Semester II”.
Shalawat serta salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang membawa kita dari zaman yang gelap menuju zaman yang terang benderang yakni agama Islam.
Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada:
1. Dr.Maftukhin, M.Ag. selaku ketua STAIN Tulungagung
2. Muhammad Fatoni, M.Pd.I selaku dosen pengampu yang telah memberikan pengarahan bagi penyusunan makalah ini
3. Rekan –rekan yang telah membantu terselesaikannya makalah ini
4. Fasilitas kampus, seperti tersedianya perpustakaan
Penyusun berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca umumnya. Untuk itu kritik dan saran sangat kami harapkan dari para pembaca demi perbaikan dan pengembangan makalah ini.
Demikianlah makalah kami, semoga dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya dan pembaca umumnya.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Tulungagung, November 2011
PENYUSUN
DAFTAR ISI
Halaman Judul i
Kata Pengantar ii
Daftar Isi iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan Pembahasan Masalah 2
D. Batasan Masalah………………………………………………………… 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Perintah Hidup Sederhana dan Menyantuni Para Dhu’afa 3
B. Kompetisi dalam Kebaikan 5
C. Amar Ma’ruf Nahi Munkar 6
D. Ujian dan Cobaan……………………………………………………….. 8
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 12
B. Saran 12
C. Harapan………………………………………………………………… 12
DAFTAR RUJUKAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Sebagai umat Islam sudah seharusnya kita memahami dan menerapkan kandungan Al-Qur’an dan Hadits dalam kehidupan. Kedua sumber hukum Islam tersebut tidak hanya mengatur dan menjelaskan tentang ibadah saja, melainkan juga masalah sehari-hari yang sering kita temui dalam kehidupan. Dimana masalah tersebut tidak bisa dianggap remeh, seperti hidup sederhana, sebagaimana yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah. Selain itu juga membahas tentang berkompetisi dalam kebaikan. Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan. Karena dengan begitu manusia akan akan memiliki semangat juang dalam meraih kebaikan. Kemudian tentang amar ma’ruf nahi munkar. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk memikirkan dirinya sendiri, dan diam saja melihat kemunkaran. Tetapi sudah menjadi kewajiban bagi umat Islam untuk saling mengingatkan dan mengajak pada kebaikan. Begitupun dalam masalah ujian dan cobaan. Tentu ada bedanya antara umat manusia yang berakhlak mulia dengan yang tidak. Orang yang beriman dan percaya akan kekuasaan Allah pasti akan menjadikan shalat dan sabar sebagai penawar hati ketika diterpa ujian dan cobaan, dan merasa yakin akan janji Allah bahwa akan selalu ada hikmah dibalik ujian dan cobaan tersebut. Maka dari itu, masalah-masalah tersebut penting untuk dibahas.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimanakah anjuran Islam mengenai hidup sederhana dan menyantuni para dhu’afa?
2. Bagaimanakah anjuran Islam mengenai kompetisi dalam kebaikan?
3. Bagaimanakah anjuran Islam mengenai amar ma’ruf nahi munkar?
4. Bagaimanakah anjuran Islam dalam menghadapi ujian dan cobaan?
C. TUJUAN PEMBAHASAN MASALAH
Untuk mengetahui:
1. Anjuran Islam dalam hal hidup sederhana dan menyantuni para dhu’afa
2. Anjuran Islam dalam hal kompetisi dalam kebaikan
3. Anjuran Islam dalam hal amar ma’ruf nahi munkar
4. Anjuran Islam dalam hal menghadapi ujian dan cobaan
D. BATASAN MASALAH
Makalah ini hanya membahas tentang:
1. Anjuran Islam dalam hal hidup sederhana dan menyantuni para dhu’afa
2. Anjuran Islam dalam hal kompetisi dalam kebaikan
3. Anjuran Islam dalam hal amar ma’ruf nahi munkar
4. Anjuran Islam dalam hal menghadapi ujian dan cobaan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pola Hidup Sederhana dan Perintah Menyantuni Para Dhu’afa
Artinya: dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (QS al-Isra` 26-27).
Ayat 26 diatas memerintahkan untuk menunaikan kewajiban memenuhi hak keluarga dekat, orang-orang miskin, dan orang-orang dalam perjalanan. Memenuhi kewajiban yang dimaksud pada ayat tersebut adalah menyantuni mereka dengan membantu memenuhi kebutuhan pokok yang diperlukan mereka.
Di akhir ayat ini Allah SWT melarang kaum muslimin membelanjakan harta secara boros, larangan ini bertujuan agar kaum muslimin dapat mengatur pengeluaran hartanya dengan perhitungan yang cermat sesuai dengan keperluannya tepat mengenai sasaran yang dituju sebagaimana ketentuan agama. Tidak boleh membelanjakan hartanya melebihi dari yang seharusnya. Dengan kata lain dilarang berlaku boros. Namun kenyatannya masyarakat sekarang ini adalah mereka berkeinginan keras memiliki harta kekayaan yang melimpah ruah seperti apa yang dimiliki konglomerat, pengusaha-pengusaha besar, dan lainnya seperti, mobil-mobil mewah, lengkap dengan peralatan serba lux, serba elektronik, tanah, dan sawah ladang yang berpuluh hektar dengan jalan yang tidak wajar, tidak sesuai dengan peraturan-peraturan dan hukum agama.
Pada ayat 27 masih mengenai larangan boros di dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa orang-orang yang boros itu adalah saudara syaitan. Mereka akan mengalami kesusahan di dunia dan mengalami murka Allah di akherat kelak.
hadits
Artinya: Dari Miqdad bin Ma’di Karib berkata: aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : Tidak ada yang lebih jahat daripada orang yang memadati lambung perutnya dengan makanan untuk menguatkan badannya. Jika perlu ia makan hendaklah perut diisi sepetiganya dengan makanan, sepertiganya dengan air (minum), dan sepertiganya lagi untuk udara (bernafas). (HR. Imam Tirmidzi).
Hadits tersebut menjelaskan bahwa Rasulullah saw menjelaskan secara tegas larangan makan dan minum secara berlebihan. Diketahui bahwa sesuatu yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, di dalamnya pasti terdapat madharat bagi manusia. Oleh karena itu Islam menganjurkan kepada manusia untuk hidup sederhana. Dalam hadits ini juga dipahami bahwa Rasulullah menyatakan, tergolong suatu kejahatan apabila seseorang memadati perutnya dengan makanan semata-mata. Karena yang demikian itu akan menimbulkan penyakit, baik lahir maupun batin.
Selanjutnya Rasulullah memberikan arahan berupa anjuran bahwa perut hendaknya diisi dengan teratur dan terencana. Kalau anjuran ini dilakukan dengan baik, akan menunjang kesehatan jasmani dan rohani.
Hidup sederhana bukanlah hidup melarat. Tetapi sebatas mencukupi kebutuhan yang diperlukan tanpa berlebih-lebihan dan melampaui batas.
Rasulullah SAW sebagai tauladan dan panutan kita telah banyak meninggalkan contoh – contoh dalam kesederhanaan baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan. Beliau dalam berbicara senantiasa menggunakan kata – kata yang sederhana , kadang – kadang beliau diam tidak berbicara kecuali hal –hal yang sangat berguna. Seandainya berkata pun beliau selalu berisi kata – kata yang membawa kesejahteraan orang lain, bukan yang menunjukkan kelebihannya.
Dalam penggunaan harta kakayaan senantiasa digunakan di jalan Allah. Hartanya lebih banyak yang beliau hadiahkan atau disedekahkan untuk orang lain. Beliau seorang Nabi dan Rasul dengan misi untuk merubah sikap manusia dari sikap yang merusak menuju sikap yang membangun. Beliau membawa keselamatan hidup manusia dunia akhirat.
B. Berkompetisi dalam Kebaikan
Artinya: Dari setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS Al-Baqarah:148).
Ayat ini secara global dapat dipahami sebagai dorongan kepada umat Islam untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan. Allah menerangkan bahwa setiap pemeluk agama mempunyai kiblatnya sendiri-sendiri. Tentunya kiblat itulah yang menjadi kecenderungan mereka untuk menghadap sesuai dengan keyakinan mereka. Dan kaum muslimin mempunyai kiblat yang ditetapkan langsung oleh Allah yaitu ka`bah. Berlomba-lomba dalam kebaikan diantaranya adalah shalat, bersedekah, menuntut ilmu, dan amalan-amalan positif yang lain. Dampak positif yang dihasilkan dari kompetisi dalam kebaikan yaitu terciptanya kondisi kehidupan yang dinamis, maju dan senantiasa bersemangat untuk berkreasi dan berinovasi. Allah swt. Akan mengumpulkan semua manusia, dimanapun dan dari arah manapun mereka berada. Tidak ada seorang pun yang luput dan lepas dari pengawasan Allah swt., yaitu pada saat manusia menjalani kehidupan di alam akhirat. Mereka akan diperlihatkan semua amal baik atau buruk yang pernah dilakukan pada saat hidup di dunia dan semua akan mendapat balasan sesuai dengan amalnya masing-masing.
Meneladani generasi yg baik, perbuatan baik, dan yang lebih baik lagi akan dilakukan oleh seorang muslim apabila dia mau meneladani orang yang berbuat baik. Hal ini menjadi penting karena dengan demikian dia menyadari bahwa meskipun perasaannya sudah banyak perbuatan baik yang dilakukannya tetap saja dia merasa masih sedikit dibanding orang lain yang jauh lebih baik dari dirinya. Hal ini akan memicu semangatnya untuk berbuat baik yang lebih banyak lagi. Karena itu idealnya seorang mukmin bisa menjadi seperti cermin bagi mukmin lainnya ,sehingga manakala seseorang mengenal dan memperhatikan dirinya akan merasakan begitu banyak kekurangan termasuk dalam hal berbuat baik.
C. Amar Ma`ruf Nahi Munkar
Artinya : Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.(QS Ali Imran:104)
Melalui ayat diatas Allah SWT memerintahkan kepada umat Islam agar di antara mereka ada sekelompok orang yang bergerak dalam bidang dakwah yang selalu memberi peringatan apabila nampak gejala-gejala perpecahan dan pelanggaran terhadap ganjaran agama, dengan jalan mengajak dan menyeru manusia untuk melakukan kebajikan, menyeru kepada ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar. Cara yang ditempuh adalah dengan menyadarkan manusia bahwa perbuatan-perbuatan yang baik itu akan mendatangkan keuntungan dan kebahagiaan baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain, baik di dunia maupun di akherat. Begitu juga sebaliknya, bahwa kemungkaran dan kejahatan itu akan selalu menimbulkan kerugian dan kemadaratan, baik bagi pelakunya maupun orang lain.
Dari sini dapat dimengerti bahwa Allah mewajibkan kepada umat Islam untuk melakukan dan menggiatkan dakwah agar agama yang mereka anut dapat berkembang dengan baik dan sempurna.
Dalam rangka berdakwah diperlukan syarat-syarat sebagai berikut:
1. Harus memahami kandungan Al-Qur`an dan sunnah Nabi serta sejarah da`wah Rasulullah.
2. Harus memahami keadaan orang-orang yang menjadi obyek Da`wah
3. Harus memahami bahasa serta dialek orang-orang yang menjadi obyek da`wah.
4. Harus memahami agama dan madzab-madzhab yang berkembang dalam masyarakat.
Rasulullah berpesan kepada umat Islam agar mereka senantiasa waspada dan terus menggiatkan gerakan dakwah dan semangat juang sehingga ajaran Islam benar-benar ditaati oleh manusia. Apabila melihat kemunkaran kapan saja dan dimana saja, kita diperintahkan untuk mencegah dan mengubahnya sesuai dengan kemampuan dan kondisi kita masing-masing. Sebagaimana sabda Rasulullah dalam hadits berikut:
HADITS
Artinya: Dari Abi Sa’id Al Khudry ra. Ia berkata : Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: Siapapun di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah mengubahnya dengan tangan atau kekuasaannya. Apabila tidak mampu dengan cara ini, maka hendaklah menggunakan lisannya, apabila cara itu tidak mampu, maka hendaklah dengan hatinya. Demikian itu (cara terakhir) adalah termasuk selemah-lemahnya iman. (HR. Muslim).
Hadits dan perkataan Syaikhul Islam di atas menjelaskan bahwa amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan karakter seorang yang beriman, dan dalam mengingkari kemungkaran tersebut ada tiga tingkatan:
1. Mengingkari dengan tangan.
2. Mengingkari dengan lisan.
3. Mengingkari dengan hati.
Tingkatan pertama dan kedua wajib bagi setiap orang yang mampu melakukannya, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits di atas, dalam hal ini seseorang apabila melihat suatu kemungkaran maka ia wajib mengubahnya dengan tangan jika ia mampu melakukannya, seperti seorang penguasa terhadap bawahannya, kepala keluarga terhadap istri, anak dan keluarganya, dan mengingkari dengan tangan bukan berarti dengan senjata.
Adapun dengan lisan seperti memberikan nasihat yang merupakan hak di antara sesama muslim dan sebagai realisasi dari amar ma’ruf dan nahi mungkar itu sendiri, dengan menggunakan tulisan yang mengajak kepada kebenaran dan membantah syubhat (kerancuan) dan segala bentuk kebatilan.
Adapun tingkatan terakhir (mengingkari dengan hati) artinya adalah membenci kemungkaran- kemungkaran tersebut, ini adalah kewajiban yang tidak gugur atas setiap individu dalam setiap situasi dan kondisi, oleh karena itu barang siapa yang tidak mengingkari dengan hatinya maka ia akan binasa.
D. Ujian dan Cobaan
Artinya : Sungguh kami pasti akan terus menerus menguji kamu berupa sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang -orang yang bersabar. (QS Al-Baqarah:155).
Ujian atau cobaan yang diberikan kepada manusia itu pada hakikatnya sedikit sehingga betapa pun besarnya ujian dan cobaan, ia sedikit jika dibandingkan dengan imbalan dan balasan yang akan diterima. Ujian yang diberikan Allah sedikit. Ia dikatakan hanya sedikit, dan setiap manusia yang diuji mestinya harus mampu memikulnya sebab antara ujian atau cobaan dengan potensi kemampuan yang diberikan kepada manusia adalah lebih besar potensi yang ada. Masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari adalah bisakah manusia menggunakan potensi-potensi yang dianugrahkan Allah itu. Pada ayat sebelum ini adalah perintah untuk shalat dan bersabar. Sesuai tuntunan Nabi ketika ujian berlangsung maka Beliau shalat. Itu sebabnya Rasul saw., sebagaimana diriwayatkan Hudzaifah ibn Al-Yamin, bahwa “apabila beliau dihadapkan pada satu kesulitan atau ujian , beliau melaksanakan shalat”.
Sepanjang kehidupan kita, ujian & cobaan datang silih berganti karena makna kehidupan itu sendiri adalah bagaimana menghadapinya. Ujian & cobaan kehidupan adalah tantangan yang akan memilah mana orang yang tahan uji dan mana orang yang lemah, mana orang yang beriman dan mana orang tidak beriman. Bagi seorang mukmin kehidupan akan selalu mendatangkan keberuntungan karena ia bersyukur ketika memperoleh nikmat dan bersabar ketika menghadapi kesulitan. Sebaliknya orang tak beriman selalu tak beruntung, ketika memperoleh nikmat ia lupa diri dan ketika menghadapi kesulitan berat ia lupa ingatan. Sabar ialah tabah hati tanpa mengeluh dalam menghadapi cobaan dan rintangan, dalam jangka waktu tertentu, dalam rangka mencapai tujuan. Islam mengajarkan bersabar itu indah.
Dalam Al-Baqarah: 155, Allah telah menyebutkan beberapa ujian di antaraya:
1) Sedikit dari rasa takut, yakni keresahan hati atau ketakutan menyangkut sesuatu yang buruk yang terjadi atau yang akan terjadi, atau hal-hal yang tidak menyenangkan, dan tidak diharapkan yang mungkin akan terjadi.
2) Sedikit rasa lapar, yakni keinginan yang sangat kuat untuk makan dan minum karena perut kosong keroncongan, tetapi belum menemukan makanan dan minuman yang dibutuhkan.
3) Kekurangan harta, ujian ini bentuknya seperti kemiskinan.
4) Kekurangan jiwa,seperti adanya kematian dan apapun sebab dari kematian. Hal ini merupakan ujian atau cobaan bagi yang ditinggalkan.
5) Buah-buahan, tidak berbuahnya tanaman baik di perkebunan maupun sawah sebagaimana yang diharapkan.
Informasi Allah tentang “materi ujian” ini adalah merupakan nikmat besar tersendiri, sebab dengan kita mengetahui dan memahami bentuk dan macam ujian tersebut maka kita dapat mempersiapkan diri menghadapi aneka ujian itu. Ujian pada hakikatnya dibutuhkan dan diperlukan oleh manusia dalam rangka untuk kenaikan tingkat. Ujian itu sendiri baik. Yang buruk adalah kegagalan menghadapinya.
Allah memang tidak menerangkan kapan, dimana, dan dalam bentuk apa isi ujiannya. Seseorang yang takut menghadapi ujian adalah ia sama dengan menuju pintu gerbang kegagalan, demikian juga ujian-ujian IIahi. Demikian juga manusia harus siap menghadapi sesuatu apapun bentuk dan ujian dan kita yakin dengan membentengi diri dari segala macam bentuk keyakinan. Biarkan dia datang kapan saja, sebab yang paling penting bagi kita adalah bagaimana kita mampu menjawab atau menghadapinya.
HADITS
Artinya: Dari Suhaib, dia berkata: Rasulullah bersabda: Sungguh menakjubkan keadaan orang beriman karena semua urusannya baik. Hal itu tidak bisa diraih seorangpun selain mereka yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, dia bersyukur dan itu baik baginya. Jika tertimpa musibah ia bersabar dan itu adalah baik baginya. (HR. Muslim).
Semua manusia dalam menjalani kehidupan di dunia pasti akan mengalami ujian dan cobaan. Dalam menghadapi ujian dan cobaan itu manusia ada yang tetap bersikap tenang dan ada pula yang bersikap sedih, putus asa, bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengakhiri hidupnya. Namun orang beriman memiliki sikap mulia dalam menghadapi ujian dan cobaan itu sehingga dapat membawa kebaikan padanya. Dalam kandungan hadits di atas, menunjukkan sikap orang yang beriman dalam menghadapi ujian. Sikap inilah yang membedakan antara orang beriman dan orang kafir. Segala bentuk cobaan ataupun ujian dapat menjadikan setiap urusan yang dihadapinya selalu bernilai kebaikan.
Kandungan lain hadits di atas adalah semua urusan orang beriman akan menjadi baik apabila ia mau bersikap sabar saat ditimpa musibah. Sebagai seorang beriman harus yakin apapun bentuk musibah yang ditimpakan kepada kita, musibah itu pasti masih pada batas-batas kemampuan manusia. Allah tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hambaNya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Allah memerintahkan untuk menunaikan kewajiban memenuhi hak keluarga dekat, orang-orang miskin, dan orang-orang dalam perjalanan dan melarang kaum muslimin membelanjakan harta secara boros.
2. Adanya dorongan kepada umat Islam untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan.
3. Sudah menjadi kewajiban bagi umat Islam untuk selalu beramar ma’ruf nahi munkar, maka sudah selayaknya umat melakukan dakwah, meskipun hanya kepada keluarga terdekat.
4. Ujian dan cobaan harus dihadapi dengan shalat dan sabar.
B. Saran
Penting sekali bagi umat Islam untuk tidak hanya membaca Al-Qur’an dan Hadits, melainkan juga memahami dan menerapkannya dalam kehidupan.
C. Harapan
Semoga makalah ini bermanfaat bagi penyusun pada khususnya dan pembaca pada umumnya.
DAFTAR RUJUKAN
Tim Musyawarah Guru Bina PAI MAdrasah Aliyah, Lembar Kerja Siswa Al-Hikmah.
http://ayat-ayatallah.blogspot.com/2011/03/
http://www.hidayatullah.com/read/17925/11/07/2011/ayo-berkompetisi-dalam-kebaikan!.html
http://muslim.or.id/manhaj/amar-maruf-nahi-mungkar-1.html
http://dunia.pelajar-islam.or.id/dunia.pii/blog/bersabar-itu-indah-3.html
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Jumat, 03 Februari 2012
Kamis, 02 Februari 2012
MAKALAH
KANDUNGAN HADIS TENTANG MENUNTUT ILMU DAN MENGHARGAI WAKTU
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
“MDP Al-Qur’an dan Hadits "
Dosen Pembimbing:
Muhammad Fatoni, M.Pd.I
Disusun Oleh :
Resti Safrina Hayati (3211093020)
Nur Kholis (3211093019)
Agus Saifulloh (3211093001)
Semester : V
Prodi : PAI “A”
Jurusan : Tarbiyah
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) TULUNGAGUNG
OKTOBER 2011
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, bahwa hanya dengan petunjuk dan hidayah-Nya penulisan makalah ini dapat terselesaikan dan sampai di hadapan para pembaca yang berbahagia. Semoga kiranya membawa manfaat yang sebesar-besarnya dan memberikan sumbangan yang berarti bagi pendidikan pada masa sekarang dan yang akan datang.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Yang telah membawa kita ke dunia yang penuh dengan kedamaian.
Dengan terselesaikannya pembuatan makalah ini penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada :
Bapak Dr. Maftukhin, M.Ag selaku Ketua STAIN Tulungagung
Muhammad Fatoni, M.Pd.I, selaku dosen pembimbing
Teman-teman yang ikut berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini.
Fasilitas perpustakaan STAIN Tulungagung
Dalam penulisan makalah ini tentunya banyak dijumpai kekurangan dan kelemahannya. Untuk itu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan mengharap tegur sapa serta saran-saran penyempurnaan, agar kekurangan dan kelemahan yang ada tidak sampai mengurangi nilai dan manfaat bagi pengembangan studi Islam pada umumnya.
Tulungagung, Oktober 2011
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL....................................................................................... i
KATA PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................ 1
B. Rumusan Masalah........................................................................ 1
C. Tujuan Masalah............................................................................ 1
D. Batasan Masalah.......................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Hadis tentang menuntut ilmu ................................................... 2
B. Hadis tentang menghargai waktu ................................................ 7
C. Penerapan kedua hadis dalam kehidupan sehari-hari .................. 8
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................. 10
B. Saran........................................................................................... 10
DAFTAR RUJUKAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Waktu dan ilmu adalah sebuah anugrah dari Allah swt yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan dicari. Sebagai seorang pelajar yang pandai memanfaatkan waktu dan memiliki kewajiban untuk menuntut ilmu maka harus dapat menyelesaikan belajarnya tepat waktu. Tentu saja dengan prestasi yang memuaskan.
Sebagai generasi penerus dan sebagai pelajar harusnya mereka memiliki kesadaran betapa pentingnya memanfaatkan sebuah waktu dengan baik dan menuntut ilmu. Tapi kenyataan sekarang, banyak dari mereka yang kurang menyadari hal itu.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana kandungan hadis tentang menuntut ilmu?
2. Bagaimana kandungan hadis tentang menghargai waktu?
3. Bagaimana penerapan kandungan hadis tentang menuntut ilmu dan menghargai waktu dalam kehidupan sehari-hari?
C. TUJUAN MASALAH
1. Untuk mengetahui bagaimana kandungan hadis tentang menuntut ilmu.
2. Untuk mengetahui bagaimana kandungan hadis tentang menghargai waktu.
3. Ubntuk mengetahui bagaimana penerapan kandungan hadis tentang menuntut ilmu dan menghargai waktu dalam kehidupan sehari-hari.
D. BATASAN MASALAH
Pembahasan makalah ini dibatasi hanya pada masalah kandungan hadis tentang menuntut ilmu dan menghargai waktu.
BAB II
PEMBAHASAN
A. HADIS TENTANG MENUNTUT ILMU
Abu Darda r.a. telah menceritakan hadits berikut:[1]
Artinya:
Aku telah mendengar Rosulullah saw, bersabda: ”barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu,niscahya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju ke surga.sesungguhnya para Malaikat benar-benar meletakkan sayapnya karena rida kepada penuntut ilmu. Sesungguhnya orang alim itu benar-benar dimintakan ampunan oleh semua makhluk di langit dan dibumi hingga ikan-ikan yang ada di air.keutamaan orang yang alim atas yang ahli ibadah seperti keutamaan rembulan atas semua bintang-bintang.sesungguhnya ulama itu adalah pewaris nabi,sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham melainkan mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barang siapa yang mengambil ilmu bagian yang berlimpah”.
Keterangan:
Abu Darda tinggal di Damaskus, lalu datang kepadanya seorang lelaki dari Madinah. Abu Darda berkata kepadanya, “apakah gerangan yang menyebabkan engkau datang kemari?” lelaki itu menjawab,” tiadalah aku datang kemari melainkan karena suatu hadis yang pernah kudengar darimu. “selanjutnya abu darda menceritakan hadis ini.
Para malaikat yang dimaksud di dalam hadis ini adalah yang telah disebutkan dalam hadis sebelumnya. Mereka berhenti dan mengelilingi orang-orang yang sedang menuntut ilmu untuk memperoleh bagian dari rahmat Allah yang diturunkan kepada mereka dan cahayanya. Demikian itu mereka lakukan mereka rida terhadap perbuatan orang-orang yang sedang menuntut ilmu dan sebagi penghormatan buatannya.
Yang dimaksud dengan penuntut ilmu ialah penuntut ilmu yang mengamalkan ilmunya.
Makhluk yang dilangit, maksudnya ialah para malaikat yang ada dilangit, mereka membaca tasbih seraya memuji Rabb mereka dan memintakan ampunan buat orang-orang yang dibumi. Makhluk yang dibumi, maksudnya manusia, jin dan hewan.
Al-Hiitaan, ikan-ikan; permohonan ampun oleh semua makhluk yang telah disebutkan buat orang yang alim, maksudnya mereka mendoakannya. Demikian itu karena orang yang alim dengan bimbingan dengan petunjuknya kepada manusia menyebabkan ia disukai Allah SWT.
Apabila Allah menyukainya, maka turut mencintainya pula semua malaikat dan makhluknya dan apabila mereka mencintainya maka mereka pasti mendoakannya. Hal ini ingsaAllah akan kami sebutkan dalam bab akhlak.
Artinya:
Dari Abu Hurairah r.a, dai berkata: ” Rosulullah saw bersabda: Apabila anak adam meninggal dunia, terputuslah ilmunya kecuali tiga perkara, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang mendo’akannya “. (HR. Muslim).
Kandungan Hadits:
Anjuran untuk mempersiapkan bekal sebelum mati dengan amal-amal shalih.
Amal-amal shalih yang manfaatnya tetap berlanjut setelah orangnya meninggal dunia, maka pahalanya tetap mengalir kepadanya.
Anjuran agar melaksanakan amal kebaikan dengan cara wakaf, seperti membangun masjid, madrasah, membuat sumur, Hatau menanam pohon. Semuanya itu merupakan sedekah jariyah.
Disunahakan mengajarkan ilmu dan menyusun kitab-kitab yang bermanfaat. Itulah diantara ilmu nafi’ (yang bermanfaat) yang pahalanya tetap berlangsung sepanjang zaman.
Anjuran untuk mendidik anak dan mengajari mereka perkara yang fardhu dan sunnah, serta adab sopan santun agar mereka menjadi orang-orang shalih.
Artinya: Dari Anas bin Malik, ia berkata,” Rasulullah saw bersabda, “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap umat islam. Memebrikan ilmu kepada orang yang bukan ahlinya (tidak tepat), seperti orang yang mengalungi babi dengan permata, mutiara atau emas.” (H.R Ibnu Majah No. 220)
Penjelasan Hadis:[2]
Hadis di atas mengandung pengertian bahwa mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Kewajiban itu berlaku bagi laki-laki ataupun perempuan, anak-anak ataupun dewasa. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk malas mencari ilmu. Ilmu yang wajib diketahui oleh setiap muslim adalah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan tata cara peribadatan kepada Allah swt. Hal itu disebabkan setiap muslim wajib beribadah kepada Allah swt, sedangkan kepada Allah swt tanpa mengetahui ilmunya dapat mengakibatkan kesalahan. Apabila dalam beribadah salah tata caranya, maka ibadah itu tidak akan diterima oleh Allah swt.
Ilmu-ilmu bersifat keduniaan seperti, kedokteran, ekonomi, matematika, atau ilmu yang lain merupakan suatu keutamaan. Mencari ilmu-ilmu tersebut hukumnya adalah fardu kifayah. Meskipun demikian, kita tidak boleh menganggap remeh ilmu-ilmu tersebut.
Dalam hadis tersebut juga disebutkan bahwa mengajarkan suatu ilmu kepada orang yang tidak paham adalah perbuatan sia-sia. Maksudnya, ilmu itu harus disampaikan sesuai dengan taraf berfikir si penerima ilmu. Memberikan ilmu secara tidak tepat diibaratkan mengalungkan perhiasan pada babi. Meskipun dikalungi perhiasan, babi tetap sebagai binatang kotor yang menjijikkan.
Apabila setiap orang islam menyadari pentingnya menuntut ilmu, semua akan berlomba-lomba mendapatkannya. Banyak manfaat yang diperoleh orang yang menuntut ilmu, diantaranya sebagai berikut:
1. Orang yang mencari ilmu akan memperoleh pahala seperti orang yang berjihat. Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah saw,
“Rasulullah saw bersabda: Jadilah kamu orang yang berilmu atau orang yang menuntut ilmu atau pendengar ilmu atau pecinta ilmu, dan janganlah kamu jadi orang ke lima (selain mereka) sebab kamu akan binasa”. (HR. Addarimi)
“Tuntutlah ilmu walaupun ke negeri Cina karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap mereka kepada para penuntut ilmu karena senang (rela) dengan yang dituntut”. (HR. Ibnu Abdilbar).
“Orang yang keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia kembali (ke rumahnya)”. (HR. At-Tirmidzi dan Anas bin Malik No. 2571).
Orang yang menuntut ilmu, sejak keluar dari rumah sampai ia kembali, termasuk orang yang berjuang di jalan Allah swt, hal ini menunjukkan betapa besar penghargaan Rasulullah saw terhadap orang yang bersungguh-sungguh menutut ilmu. Apabila ia mati dalam menuntut ilmu, insya allah ia termasuk golongan orang yang mati syahid.
2. Menuntut ilmu mempunyai keutamaan lebih baik dari pada salat seratus rekaat. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw kepada Abu Dzar berikut ini,
“Wahai Abu Dzar, keluarmu dari rumah pada pagi hari untuk mempelajari satu ayat dan kitab Allah itu lebih baik dari pada engkau mengerjakan salat seratus rekaat”. (HR. Ibnu Majah dan Abu Dzar No. 215).
Orang yang menuntut ilmu meskipun hanya mempelajari satu ayat Al-Qur’an, kebaikannya melebihi orang yang salat sunah seratus rekaat.
3. Orang yang suka menuntut ilmu akan dimudahkan jalannya menuju syurga dan dinaungi para malaikat. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw
“Barang siapa menempuh jalan mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Sesungguhnya para malaikat menaungkan sayap-sayapnya kepada orang yang menuntut ilmu akrena senang (terhadap apa yang diperbuat)”. (HR. At-Tirmidzi dan Abu ad-Darda’ No. 2606)
Rasulullah saw memberikan motivasi kepada umat islam agar tertarik pada ilmu dan berusaha untuk memilikinya. Hadis di atas mengandung satu syarat dan dua jawab. Syarat ialah sesuatu yang harus dimiliki (dilakukan) manusia. Jawab ialah janji yang akan ditepati Allah kepada orang yang memiliki persyaratan tersebut. Syarat yang harus dimiliki seseorang dalam hadis tersebut adalah mau berusaha menuntut ilmu. Jika itu sudah dilakukan, Allah swt akan memberikan janjinya, yaitu memudahkan jalan ke surga dan akan selalu dinaungi malaikat.
4. Menuntut ilmu menambah pengetahuan yang belum diketahui sebagaimana dalam hadis berikut,
“Dan Ibnu Abbas r.a bahwa Rasulullah saw, bersabda, “Barangsiapa belajar ilmu dan mengamalkannya, Allah akan mengajarkan apa yang belum diketahuinya.” (HR. Abu Syaikh dari Kitab at-Targhib wa at-Tarhib).
Seseorang yang mau menuntut ilmu dan mengamalkannya, Allah swt akan mengajarkan kepadanya tentang sesuatu yang belum diketahuinya. Setelah memperoleh ilmu, manusia mempunyai kewajiban untuk mengamalkannya. Dengan mengamalkan itu, seseorang akan mendapat pengalaman yang berharga dalam hidupnya.
B. HADIS TENTANG MENGHARGAI WAKTU
Artinya: Dari Abdullah bin Umar r.a berkata, “Rasulullah saw memegang pundakku seraya berkata, “Jadilah kamu di dunia ini seakan-akan kamu orang asing atau orang yang melewati suatu jalan. “Ibnu Umar berkata, “Apabila kamu berada di sore hari, janganlah kamu menunggu (melakukan sesuatu) hingga pagi datang, apabila kamu berada di pagi hari, janganlah kamu menunggu (melakukan sesuatu) hingga sore datang. Gunakanlah waktu sehatmu untuk menghadapi sakitmu dan waktu hidupmu untuk menghadapi matimu.” (HR. Al-Bukhary No. 5937).
“Dari Ibnu Abas r.a berkata Rasulullah saw, bersabda: Manfaatkan 5 keadaan sebelum datangnya 5: Masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehat sebelum masa sakitmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, masa kayamu sebelum datang masa fakirmu dan masa hidup sebelum datang matimu”. (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)
Penjelasan Hadis:
Hadis tersebut menjelaskan bahwa waktu di dunia ini kita disuruh bersikap seperti orang asing atau sedang melewati jalan. Dengan demikian, kita harus menyadari bahwa kesempatan hidup ini hanya sebentar, seperti orang yang singgah dalam suatu perjalanan.
Kita harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Apabila kamu berada di sore hari, janganlah kamu menunggu (melakukan sesuatu) hingga pagi datang. Apabila kamu berada di pagi hari, janganlah kamu menunggu (melakukan sesuatu) hingga sore datang. Artinya, apa yang mampu kita lakukan saat ini, jangan ditunda-tunda. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada saat berikutnya.
Pada akhir hadis itu dijelaskan, gunakanlah waktu sehatmu untuk menghadapi waktu sakitmu, dan waktu hidupmu untuk menghadapi waktu kematian. Ketika sehat, kita mampu melakukan berbagai aktivitas. Kesehatan harus kita manfaatkan. Jika sudah jatuh sakit, biasanya baru kita menyesalinya. Ketika masih diberi hidup oleh Allah swt, amri kita gunakan untuk memperbanyak ibadah. Apabila kematian sudah datang, tidak ada lagi yang bisa kita lakukan.
C. PENERAPAN KANDUNGAN HADIS TENTANG MENUNTUT ILMU DAN MENGHARGAI WAKTU DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Penerapan kandungan hadis menuntut ilmu dan menghargai waktu dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:
1. Memanfaatkan masa muda untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya, baik secara formal maupun non formal;
2. Menampakkan kesungguhan dalam belajar, baik ketika berada di dalam maupun di luar sekolah;
3. Lebih mengutamakan penguasaan ilmu daripada memikirkan harta;
4. Rela mengeluarkan biaya demi tercapainya suatu ilmu;
5. Rajin menghadiri majelis ilmu
6. Rajin memanfaatkan waktu-waktu longgarnya untuk membaca buku-buku ilmu pengetahuan;
7. Menyetujui dan mendukung setiap usaha untuk meningkatkan ilmu pengetahuan;
8. Gemar bergaul dengan orang-orang yang lebih pandai dan saleh serta mengurangi bergaul dengan orang-orang yang tidak berilmu.
KANDUNGAN HADIS TENTANG MENUNTUT ILMU DAN MENGHARGAI WAKTU
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
“MDP Al-Qur’an dan Hadits "
Dosen Pembimbing:
Muhammad Fatoni, M.Pd.I
Disusun Oleh :
Resti Safrina Hayati (3211093020)
Nur Kholis (3211093019)
Agus Saifulloh (3211093001)
Semester : V
Prodi : PAI “A”
Jurusan : Tarbiyah
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) TULUNGAGUNG
OKTOBER 2011
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, bahwa hanya dengan petunjuk dan hidayah-Nya penulisan makalah ini dapat terselesaikan dan sampai di hadapan para pembaca yang berbahagia. Semoga kiranya membawa manfaat yang sebesar-besarnya dan memberikan sumbangan yang berarti bagi pendidikan pada masa sekarang dan yang akan datang.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Yang telah membawa kita ke dunia yang penuh dengan kedamaian.
Dengan terselesaikannya pembuatan makalah ini penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada :
Bapak Dr. Maftukhin, M.Ag selaku Ketua STAIN Tulungagung
Muhammad Fatoni, M.Pd.I, selaku dosen pembimbing
Teman-teman yang ikut berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini.
Fasilitas perpustakaan STAIN Tulungagung
Dalam penulisan makalah ini tentunya banyak dijumpai kekurangan dan kelemahannya. Untuk itu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan mengharap tegur sapa serta saran-saran penyempurnaan, agar kekurangan dan kelemahan yang ada tidak sampai mengurangi nilai dan manfaat bagi pengembangan studi Islam pada umumnya.
Tulungagung, Oktober 2011
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL....................................................................................... i
KATA PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................ 1
B. Rumusan Masalah........................................................................ 1
C. Tujuan Masalah............................................................................ 1
D. Batasan Masalah.......................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Hadis tentang menuntut ilmu ................................................... 2
B. Hadis tentang menghargai waktu ................................................ 7
C. Penerapan kedua hadis dalam kehidupan sehari-hari .................. 8
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................. 10
B. Saran........................................................................................... 10
DAFTAR RUJUKAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Waktu dan ilmu adalah sebuah anugrah dari Allah swt yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan dicari. Sebagai seorang pelajar yang pandai memanfaatkan waktu dan memiliki kewajiban untuk menuntut ilmu maka harus dapat menyelesaikan belajarnya tepat waktu. Tentu saja dengan prestasi yang memuaskan.
Sebagai generasi penerus dan sebagai pelajar harusnya mereka memiliki kesadaran betapa pentingnya memanfaatkan sebuah waktu dengan baik dan menuntut ilmu. Tapi kenyataan sekarang, banyak dari mereka yang kurang menyadari hal itu.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana kandungan hadis tentang menuntut ilmu?
2. Bagaimana kandungan hadis tentang menghargai waktu?
3. Bagaimana penerapan kandungan hadis tentang menuntut ilmu dan menghargai waktu dalam kehidupan sehari-hari?
C. TUJUAN MASALAH
1. Untuk mengetahui bagaimana kandungan hadis tentang menuntut ilmu.
2. Untuk mengetahui bagaimana kandungan hadis tentang menghargai waktu.
3. Ubntuk mengetahui bagaimana penerapan kandungan hadis tentang menuntut ilmu dan menghargai waktu dalam kehidupan sehari-hari.
D. BATASAN MASALAH
Pembahasan makalah ini dibatasi hanya pada masalah kandungan hadis tentang menuntut ilmu dan menghargai waktu.
BAB II
PEMBAHASAN
A. HADIS TENTANG MENUNTUT ILMU
Abu Darda r.a. telah menceritakan hadits berikut:[1]
Artinya:
Aku telah mendengar Rosulullah saw, bersabda: ”barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu,niscahya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju ke surga.sesungguhnya para Malaikat benar-benar meletakkan sayapnya karena rida kepada penuntut ilmu. Sesungguhnya orang alim itu benar-benar dimintakan ampunan oleh semua makhluk di langit dan dibumi hingga ikan-ikan yang ada di air.keutamaan orang yang alim atas yang ahli ibadah seperti keutamaan rembulan atas semua bintang-bintang.sesungguhnya ulama itu adalah pewaris nabi,sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham melainkan mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barang siapa yang mengambil ilmu bagian yang berlimpah”.
Keterangan:
Abu Darda tinggal di Damaskus, lalu datang kepadanya seorang lelaki dari Madinah. Abu Darda berkata kepadanya, “apakah gerangan yang menyebabkan engkau datang kemari?” lelaki itu menjawab,” tiadalah aku datang kemari melainkan karena suatu hadis yang pernah kudengar darimu. “selanjutnya abu darda menceritakan hadis ini.
Para malaikat yang dimaksud di dalam hadis ini adalah yang telah disebutkan dalam hadis sebelumnya. Mereka berhenti dan mengelilingi orang-orang yang sedang menuntut ilmu untuk memperoleh bagian dari rahmat Allah yang diturunkan kepada mereka dan cahayanya. Demikian itu mereka lakukan mereka rida terhadap perbuatan orang-orang yang sedang menuntut ilmu dan sebagi penghormatan buatannya.
Yang dimaksud dengan penuntut ilmu ialah penuntut ilmu yang mengamalkan ilmunya.
Makhluk yang dilangit, maksudnya ialah para malaikat yang ada dilangit, mereka membaca tasbih seraya memuji Rabb mereka dan memintakan ampunan buat orang-orang yang dibumi. Makhluk yang dibumi, maksudnya manusia, jin dan hewan.
Al-Hiitaan, ikan-ikan; permohonan ampun oleh semua makhluk yang telah disebutkan buat orang yang alim, maksudnya mereka mendoakannya. Demikian itu karena orang yang alim dengan bimbingan dengan petunjuknya kepada manusia menyebabkan ia disukai Allah SWT.
Apabila Allah menyukainya, maka turut mencintainya pula semua malaikat dan makhluknya dan apabila mereka mencintainya maka mereka pasti mendoakannya. Hal ini ingsaAllah akan kami sebutkan dalam bab akhlak.
Artinya:
Dari Abu Hurairah r.a, dai berkata: ” Rosulullah saw bersabda: Apabila anak adam meninggal dunia, terputuslah ilmunya kecuali tiga perkara, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang mendo’akannya “. (HR. Muslim).
Kandungan Hadits:
Anjuran untuk mempersiapkan bekal sebelum mati dengan amal-amal shalih.
Amal-amal shalih yang manfaatnya tetap berlanjut setelah orangnya meninggal dunia, maka pahalanya tetap mengalir kepadanya.
Anjuran agar melaksanakan amal kebaikan dengan cara wakaf, seperti membangun masjid, madrasah, membuat sumur, Hatau menanam pohon. Semuanya itu merupakan sedekah jariyah.
Disunahakan mengajarkan ilmu dan menyusun kitab-kitab yang bermanfaat. Itulah diantara ilmu nafi’ (yang bermanfaat) yang pahalanya tetap berlangsung sepanjang zaman.
Anjuran untuk mendidik anak dan mengajari mereka perkara yang fardhu dan sunnah, serta adab sopan santun agar mereka menjadi orang-orang shalih.
Artinya: Dari Anas bin Malik, ia berkata,” Rasulullah saw bersabda, “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap umat islam. Memebrikan ilmu kepada orang yang bukan ahlinya (tidak tepat), seperti orang yang mengalungi babi dengan permata, mutiara atau emas.” (H.R Ibnu Majah No. 220)
Penjelasan Hadis:[2]
Hadis di atas mengandung pengertian bahwa mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Kewajiban itu berlaku bagi laki-laki ataupun perempuan, anak-anak ataupun dewasa. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk malas mencari ilmu. Ilmu yang wajib diketahui oleh setiap muslim adalah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan tata cara peribadatan kepada Allah swt. Hal itu disebabkan setiap muslim wajib beribadah kepada Allah swt, sedangkan kepada Allah swt tanpa mengetahui ilmunya dapat mengakibatkan kesalahan. Apabila dalam beribadah salah tata caranya, maka ibadah itu tidak akan diterima oleh Allah swt.
Ilmu-ilmu bersifat keduniaan seperti, kedokteran, ekonomi, matematika, atau ilmu yang lain merupakan suatu keutamaan. Mencari ilmu-ilmu tersebut hukumnya adalah fardu kifayah. Meskipun demikian, kita tidak boleh menganggap remeh ilmu-ilmu tersebut.
Dalam hadis tersebut juga disebutkan bahwa mengajarkan suatu ilmu kepada orang yang tidak paham adalah perbuatan sia-sia. Maksudnya, ilmu itu harus disampaikan sesuai dengan taraf berfikir si penerima ilmu. Memberikan ilmu secara tidak tepat diibaratkan mengalungkan perhiasan pada babi. Meskipun dikalungi perhiasan, babi tetap sebagai binatang kotor yang menjijikkan.
Apabila setiap orang islam menyadari pentingnya menuntut ilmu, semua akan berlomba-lomba mendapatkannya. Banyak manfaat yang diperoleh orang yang menuntut ilmu, diantaranya sebagai berikut:
1. Orang yang mencari ilmu akan memperoleh pahala seperti orang yang berjihat. Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah saw,
“Rasulullah saw bersabda: Jadilah kamu orang yang berilmu atau orang yang menuntut ilmu atau pendengar ilmu atau pecinta ilmu, dan janganlah kamu jadi orang ke lima (selain mereka) sebab kamu akan binasa”. (HR. Addarimi)
“Tuntutlah ilmu walaupun ke negeri Cina karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap mereka kepada para penuntut ilmu karena senang (rela) dengan yang dituntut”. (HR. Ibnu Abdilbar).
“Orang yang keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia kembali (ke rumahnya)”. (HR. At-Tirmidzi dan Anas bin Malik No. 2571).
Orang yang menuntut ilmu, sejak keluar dari rumah sampai ia kembali, termasuk orang yang berjuang di jalan Allah swt, hal ini menunjukkan betapa besar penghargaan Rasulullah saw terhadap orang yang bersungguh-sungguh menutut ilmu. Apabila ia mati dalam menuntut ilmu, insya allah ia termasuk golongan orang yang mati syahid.
2. Menuntut ilmu mempunyai keutamaan lebih baik dari pada salat seratus rekaat. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw kepada Abu Dzar berikut ini,
“Wahai Abu Dzar, keluarmu dari rumah pada pagi hari untuk mempelajari satu ayat dan kitab Allah itu lebih baik dari pada engkau mengerjakan salat seratus rekaat”. (HR. Ibnu Majah dan Abu Dzar No. 215).
Orang yang menuntut ilmu meskipun hanya mempelajari satu ayat Al-Qur’an, kebaikannya melebihi orang yang salat sunah seratus rekaat.
3. Orang yang suka menuntut ilmu akan dimudahkan jalannya menuju syurga dan dinaungi para malaikat. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw
“Barang siapa menempuh jalan mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Sesungguhnya para malaikat menaungkan sayap-sayapnya kepada orang yang menuntut ilmu akrena senang (terhadap apa yang diperbuat)”. (HR. At-Tirmidzi dan Abu ad-Darda’ No. 2606)
Rasulullah saw memberikan motivasi kepada umat islam agar tertarik pada ilmu dan berusaha untuk memilikinya. Hadis di atas mengandung satu syarat dan dua jawab. Syarat ialah sesuatu yang harus dimiliki (dilakukan) manusia. Jawab ialah janji yang akan ditepati Allah kepada orang yang memiliki persyaratan tersebut. Syarat yang harus dimiliki seseorang dalam hadis tersebut adalah mau berusaha menuntut ilmu. Jika itu sudah dilakukan, Allah swt akan memberikan janjinya, yaitu memudahkan jalan ke surga dan akan selalu dinaungi malaikat.
4. Menuntut ilmu menambah pengetahuan yang belum diketahui sebagaimana dalam hadis berikut,
“Dan Ibnu Abbas r.a bahwa Rasulullah saw, bersabda, “Barangsiapa belajar ilmu dan mengamalkannya, Allah akan mengajarkan apa yang belum diketahuinya.” (HR. Abu Syaikh dari Kitab at-Targhib wa at-Tarhib).
Seseorang yang mau menuntut ilmu dan mengamalkannya, Allah swt akan mengajarkan kepadanya tentang sesuatu yang belum diketahuinya. Setelah memperoleh ilmu, manusia mempunyai kewajiban untuk mengamalkannya. Dengan mengamalkan itu, seseorang akan mendapat pengalaman yang berharga dalam hidupnya.
B. HADIS TENTANG MENGHARGAI WAKTU
Artinya: Dari Abdullah bin Umar r.a berkata, “Rasulullah saw memegang pundakku seraya berkata, “Jadilah kamu di dunia ini seakan-akan kamu orang asing atau orang yang melewati suatu jalan. “Ibnu Umar berkata, “Apabila kamu berada di sore hari, janganlah kamu menunggu (melakukan sesuatu) hingga pagi datang, apabila kamu berada di pagi hari, janganlah kamu menunggu (melakukan sesuatu) hingga sore datang. Gunakanlah waktu sehatmu untuk menghadapi sakitmu dan waktu hidupmu untuk menghadapi matimu.” (HR. Al-Bukhary No. 5937).
“Dari Ibnu Abas r.a berkata Rasulullah saw, bersabda: Manfaatkan 5 keadaan sebelum datangnya 5: Masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehat sebelum masa sakitmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, masa kayamu sebelum datang masa fakirmu dan masa hidup sebelum datang matimu”. (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)
Penjelasan Hadis:
Hadis tersebut menjelaskan bahwa waktu di dunia ini kita disuruh bersikap seperti orang asing atau sedang melewati jalan. Dengan demikian, kita harus menyadari bahwa kesempatan hidup ini hanya sebentar, seperti orang yang singgah dalam suatu perjalanan.
Kita harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Apabila kamu berada di sore hari, janganlah kamu menunggu (melakukan sesuatu) hingga pagi datang. Apabila kamu berada di pagi hari, janganlah kamu menunggu (melakukan sesuatu) hingga sore datang. Artinya, apa yang mampu kita lakukan saat ini, jangan ditunda-tunda. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada saat berikutnya.
Pada akhir hadis itu dijelaskan, gunakanlah waktu sehatmu untuk menghadapi waktu sakitmu, dan waktu hidupmu untuk menghadapi waktu kematian. Ketika sehat, kita mampu melakukan berbagai aktivitas. Kesehatan harus kita manfaatkan. Jika sudah jatuh sakit, biasanya baru kita menyesalinya. Ketika masih diberi hidup oleh Allah swt, amri kita gunakan untuk memperbanyak ibadah. Apabila kematian sudah datang, tidak ada lagi yang bisa kita lakukan.
C. PENERAPAN KANDUNGAN HADIS TENTANG MENUNTUT ILMU DAN MENGHARGAI WAKTU DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Penerapan kandungan hadis menuntut ilmu dan menghargai waktu dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:
1. Memanfaatkan masa muda untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya, baik secara formal maupun non formal;
2. Menampakkan kesungguhan dalam belajar, baik ketika berada di dalam maupun di luar sekolah;
3. Lebih mengutamakan penguasaan ilmu daripada memikirkan harta;
4. Rela mengeluarkan biaya demi tercapainya suatu ilmu;
5. Rajin menghadiri majelis ilmu
6. Rajin memanfaatkan waktu-waktu longgarnya untuk membaca buku-buku ilmu pengetahuan;
7. Menyetujui dan mendukung setiap usaha untuk meningkatkan ilmu pengetahuan;
8. Gemar bergaul dengan orang-orang yang lebih pandai dan saleh serta mengurangi bergaul dengan orang-orang yang tidak berilmu.
Minggu, 02 Januari 2011
Pendidikan Islam Di Era Modern
Pendidikan adalah factor yang sangan urgen dan significan dalam sejarah peradaban manusia. Tingkat kemajuan peradaban seringkali diidentikkan dengan seberapa tingkat kemajuan pendidikan di Negara tersebut.
Pendidikan islam adalah salah satu bagian dari system pendidikan yang ada didunia. Pendidikan islam digunakan untuk menyebut sebagian dari bentuk pendidikan yang secara otomatis memiliki cirri dan karakter yang berbeda serta watak yang berbeda dengan pendidikan lain diluar pendidikan islam.
Sementara itu bila ditinjau dari pengertian pendidikan dengan merujuk pada sistim pendidikan nasional sebagaimana yang tercantum pada undang undang republic Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentangg Sistem Pendidikan Nasional, maka pendidikan memiliki arti "usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalaian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara." Pengertian pendidikan sebagaimana yang terdapat pada undang – undang diatas lebih menekankan pada aspek pendidikan sebagai sebuah lembaga formal ( dalam hal ini sekolah – sekolah formal semisal SD/MI,SMP/MTs dll).
Pada dasarnya pendidikan islam juga bisa diartikan sebagaimana pengertian diatas hanya saja didalam pendidikan islam upaya yang dilakukan dalam upaya pengembangan potensi anak tersebut harus senantiasa berpedoman pada nilai – nilai yang terkandung didalam al qur'an maupun hadits yang merupakan sumber utama dalam kehidupan umat islam. Hal ini mutlak mengingat keduanya adalah asas utama yang menjadi pondasi bagi bangunan islam secara kaffah.
Perlu diketahui bahwa pendidikan islam tidak sama dengan pendidikan agama islam. Ahmad marimba nengatakan bahwa pendidikan agama islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa agar memahami ajaran islam (knowing), terampil melakukan ajaran islam ( doing ), dan melakukan ajaran islam dalam kehidupan sehari – hari. Sedangkan pendidikan islam adalah bimbingan jasmani rohani berdasarkan hukum – hukum agama islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran – ukuran islam. Pendidikan agama islam menekankan pada aspek – aspek pengetahuan tentang ajaran agama islam yang pada akhirnya menunut untuk diterapkan dalam kehidupan sehari – hari sebagai sebuah tingkah laku yang islami. Pendidikan agama islam ini mencakup materi – materi seperti fiqih, qur'an hadits, aqidah akhlak, tasawuf dll. Sedangkan pendidikan islam lebih menitik beratkan pada upaya pembentukan manusia yang memiliki kepribadian utama menurut ukuran islam. Pendidikan ini mencakup segala aspek kehidupan yang dijiwai dengan semangat islam didalamnya. Pendidikan dalam kategori yang kedua ini bisa mencakup ilmu – ilmu yang mungkin secara langsung tidak berhubungan dengan islam akan tetapi bila dikaji secara mendalam tidak keluar juga dari jalur islam semisal filsafat, matematika, biologi, kimia, kedokteran geografi dsb. Pendidikan islam mencakup berbagai ranah keilmuwan namun dikembangkan sesuai dengan koridor – koridor keislaman yang sesuai dengan al qur'an dan hadits. Sehingga para ilmuwan dan intelektual yang berkecimpung dalam disiplin ilmunya masing – masing tetap tidak keluar dari jalur yang telah ditetapkan islam.
Sejarah mencatat bahwa banyak kalangan diluar islam yang mengembangkan keilmuwan sesuai dengan bidangnya sampai pada puncaknya mereka berbalik dan menentang agama mereka sendiri. Kita mengenal Nietze yang karena kegandrungannya pada disiplin ilmu yang ia miliki sampai akhirnya mengatakan bahwa "Tuhan Telah Mati". Ada juga Karl Marx yang karena kegilaannya sampai – sampai dia mengatakan "Agama Adalah Candu" dan masih banyak sederetan ilmuwan dan intelektual barat yang pada titik klimaks pemikiran mereka memiliki pemahaman yang senafas dengan Nietze dan Marx. Lain halnya dalam dunia islam. Puncak intelektual yang diperoleh dalam pengembaraan keilmuwan justru menjadikan mereka sebagai insane shalih yang semakin tawadlu' dan rendah dihadapan Allah. Mereka semakin sadar akan kelemahan yang mereka miliki dan semakin sadar bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Segala – galanya. Dalam islam kita mengenal al Farazi ahli astronomi islam yang pertama kali menyusun astrolabe, Al Fargani penulis ringkasan astronomi yang diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis. Dalam bidang kedokteran kita mengenal Al Razi, tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measle, ia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Selain itu ada Ibnu Sina seorang filosof yang berhasil menemukan system peredaran darah pada manusia bahkan bukunya al qanuun fi al thib diakui sebagai ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah. Tidak berhenti disitu dalam bidang optic kita menganal Abu Ali Al Hasan Ibnu al Haytami yang dikenal dibarat dengan nama al hazen. Dialah orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dililihat. Menurut teorinya bendalah yang mengirim cahaya ke mata dank arena menerima cahaya itu mata melihat benda yang bersangkutan. Dalam bidang kimia ada jabir ibnu Hayyan yang terkenal sebagai bapak kimia. Ia berpendapat bahwa logam seperti timah, besi, dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan suatu zat tertentu. Matematikapun tidak dibiarkan lepas oleh para ilmuwan dan intelektual islam. Dalam disiplin matematika kita mengenal Muhammad ibnu Musa Al Khawarizmi yang juga mahir dalm bidang astronomi. Dialah yang menciptakan ilmu Al Jabbar dan masih banyak lagi disiplin ilmu yang menjadi perhatian ilmuwan dan intelektual muslim kala itu dalam membangun pendidikan islam seperti filsafat, theology, sains, geografi dsb. Namun yang perlu dicatat tidak ada dalam tradisi sejarah intelektual muslim yang dalam titik klimaksnya menentang islam. Hal ini sangat berbeda dengan budaya intelektual barat yang sekuleris. Justeru sebaliknya keilmuwan yang diperoleh menjadi pelengkap bagi mereka untuk menjadi insane yang memiliki perilaku utama dan shalih. Konsistensi para intelektual muslim ini berimplikasi pada kejayaan islam pada masa pemerintahan khilafah Abbasiyah khususnya pada masa pemerintahan khalifah Harun Al Rasyid yang begitu cinta dan meneruh perhatian besar pada tradisi keilmuwan.
Akan tetapi dunia islam mengalami perubahan dan kemunduran yang sangat drastis pasca terjadinya serangfan salib. Umat islam menjadi psimis dan bahkan memandang bahwa ilmu yang benar dan mesti dipelajari adalah ilmu yang berhubungan dengan kehidupan akhirat semata (fiqih, akhlak, tasawuf dan yang semisal). Pandangan ini lebih diperparah lagi dengan banyaknya fatwa ulama' saat itu yang mengatakan bahwa belajar beberapa cabang ilmu ( seperti filsafat, logika, astronomi dan yang semisal ) hukumnya adalah haram. Pandangan semacam inilah yang pada akhirnya menimbulkan adanya dikotomi keilmuwan dalam islam. Ada ilmu agama dan ilmu umum. Belajar ilmu agama itu hukumnya wajib sedangkan yang lain tidak. Parahnya lagi ditambah fatwa yang menyatakan bahwa pintu ijtihad telah ditutup.
Fenomena diatas menjadi sebuah pemicu mundurnya islam dan peradaban islam dimata dunia. Ghazwul fikri yang diterapkan oleh mereka yang tidak suka terhadap islam semakin mulus dan menuai hasil dengan munculnya generasi islam yang shalih namun tidak peka terhadap situasi social yang ada.
Di era Modern ini, pendidikan islam dihadapakan pada situasi global dimana barat telah mengalami puncak kejayaan dengan penguasaan teknologi informasi dan sains yang luar biasa. Pendidikan islam harus segera berbenah diri dalam menghadapi percaturan global apabila tidak ingin semakin usang dan kuna tertelan oleh waktu. Apabila pendidikan islam tidak segera berbenah diri dengan melakukan rekonstruksi dan rekonsiliasi dalam kurikulum dan materinya serta konsentrasi bidang garapannya sudah dapat dipastikan bahwa pendidikan islam akan ditinggalkan dan tidak lagi mendapat perhatian dari umat dan masyarakat.
Fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa pendidikan islam ( dalam hal ini pesantren salaf ) mengalami tingkat kemerosotan yang sangat significan. Lembaga pesantren kurang diminati sementara generasi islam oleh karena kurikulum dan materi yang didalamnya stagnan dan tidak memberi sebuah tantangan dan jaminan bagi kehidupan dimasa mendatang. Pesantren harus segera berbenah diri apabila tidak ingin ditinggalkan sama sekali oleh masyarakat.
Oleh sebab itu di era modern seperti saat ini pendidikan islam harus mampu memberikan sebuah solusi dan jawaban riel dan nyata bagi masyarakat. Pendidikan islam harus mampu bersaing dengan pendidikan yang lain dengan mempersiapkan generasi yang siap bersaing.
Materi dan konsentrasi garapan pendidikan islam tidak hanya berkutat pada aspek religius ( Fiqih, Qur'an hadits, Akhlak dll ). Lebih dari itu pendidikan islam harus mampu memberikan kontribusi yang besar dalam bidang – bidang yang lain seperti matematika, informasi, teknologi, ekonomi, geografi dan lain sebagainya. Dengan mengubah konsentrasi kajian dan bidang garapan tentunya bukan berarti pendidikan islam meninggalkan aspek religiusnya. Namun aspek religius itu harus senantiasa menjiwai, menjadi ruh yang akan menjadi sebuah motivator dalam mengembangkan keilmuwan.
Jika aspek – aspek ini diperhatikan dan betul – betul digarap dengan maksimal bukan mustahil islam akan menjadi agama yang memiliki peradaban tinggi dan menjadi pusat peradaban dunia. Islam akan kembali mengulang masa keemasanya dalam keilmuwan, menjadi kiblat dunia dalam hal ilmu dan pengetahuan.
Hal yang mesti dilakukan untuk pertama kali adalah membangunkan generasi muslim dari tidur panjangnya. Mesti diakui mesti saat ini telah banyak bermunculan lembaga – lembaga pendidikan islam bahkan mungkin telah menjamur di seluruh penjuru tanah air mulai dari play group sampai perguruan tinggi semisal STAIN, UIN dsb, namun budaya dan nuansa keilmuwan masih sangat sedikit ( Untuk tidak menyebut jarang dan bahkan tidak ada ) kita jumpai. Berbeda dengan pendidikan diluar islam seperti lembaga pendidikan Kristen. Mahasiswa dan siswa cenderung bersifat pasif dalam mengembangkan keilmuwan. Jarang diketemukan budaya baca, tulis, dan analisis yang ditemukan dalam kehidupan sehari – hari mereka. Keadaan seperti ini timbul dari tidak adanya rasa butuh dan perhatian pada ilmu. Hal inilah yan g semestinya dihilangkan dari generasi islam.
Apabila kita bernostalgia dengan kembali melihat biografi ulama' – ulama' dahulu pada masa kejayaan islam, disana akan kita temukan betapa mereka sangat menghargai ilmu pengetahuan. Ekonomi yang sulit, jarak jauh yang mesti ditempuh tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk mencari, mangkaji dan mendaatkan pengetahuan. Mereka rela untuk meninggalkan tanah kelahirannya, keluarga bahkan kesenangan hidup dunia demi dan untuk ilmu pengetahuan.
Pendidikan islam yang mampu menjadi solusi dan problem solving terhadap persoalan umat adalah harapan bersama. Harapan itu tidak mungkin bisa terwujud tanpa adanya budaya – budaya keilmuwan yang diciptakan oleh generasi muslim yang menjadi harapan.
Pendidikan islam memerlukan tangan – tangan yang tulus dalam memajukan islam sebagai sebuah peradaban yang kokoh. Peran serta semua kalangan tentunya diharapkan disini dalam rangka menyambut apa yang disabdakan oleh rasulullah saw : " Islam itu tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi dari islam". Semoga apa yang menjadi harapan dan cita – cita rasulullah ini tidak hanya menjadi sebuah jargon yang me"nina bobok" kan umat islam. Umat islam mesti bangun dari tidunya dan sadar bahwa untuk mencapai sebuah peradaban yang tinggi perlu adanya kerja keras, usaha yang serius, keistiqamahan dalam usaha, sabar dalam meraih mimpi, dan tidak meremehkan pada segala hal meskipun hal itu remeh dalam lahirnya. Perlu sebuah perjuangan yang tidak mudah dan yang pasti dalam setiap perjuangan perlu adanya pengorbanan. Mudah – mudahan dalam waktu yang tidak lama lagi cita – cita rasul itu bisa terealisasi dan kita sebagai generasi sadar akan tanggung jawab besar dalam menjadikan islam sebagai agama yang paling tinggi diantara agama yang lain. Tinggi dalam hal agama, peradaban, ekonomi, iptek dan sebagainya dalam seluruh aspek kehidupan. Amin.
والله أعلم بالصواب
Pendidikan islam adalah salah satu bagian dari system pendidikan yang ada didunia. Pendidikan islam digunakan untuk menyebut sebagian dari bentuk pendidikan yang secara otomatis memiliki cirri dan karakter yang berbeda serta watak yang berbeda dengan pendidikan lain diluar pendidikan islam.
Sementara itu bila ditinjau dari pengertian pendidikan dengan merujuk pada sistim pendidikan nasional sebagaimana yang tercantum pada undang undang republic Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentangg Sistem Pendidikan Nasional, maka pendidikan memiliki arti "usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalaian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara." Pengertian pendidikan sebagaimana yang terdapat pada undang – undang diatas lebih menekankan pada aspek pendidikan sebagai sebuah lembaga formal ( dalam hal ini sekolah – sekolah formal semisal SD/MI,SMP/MTs dll).
Pada dasarnya pendidikan islam juga bisa diartikan sebagaimana pengertian diatas hanya saja didalam pendidikan islam upaya yang dilakukan dalam upaya pengembangan potensi anak tersebut harus senantiasa berpedoman pada nilai – nilai yang terkandung didalam al qur'an maupun hadits yang merupakan sumber utama dalam kehidupan umat islam. Hal ini mutlak mengingat keduanya adalah asas utama yang menjadi pondasi bagi bangunan islam secara kaffah.
Perlu diketahui bahwa pendidikan islam tidak sama dengan pendidikan agama islam. Ahmad marimba nengatakan bahwa pendidikan agama islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa agar memahami ajaran islam (knowing), terampil melakukan ajaran islam ( doing ), dan melakukan ajaran islam dalam kehidupan sehari – hari. Sedangkan pendidikan islam adalah bimbingan jasmani rohani berdasarkan hukum – hukum agama islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran – ukuran islam. Pendidikan agama islam menekankan pada aspek – aspek pengetahuan tentang ajaran agama islam yang pada akhirnya menunut untuk diterapkan dalam kehidupan sehari – hari sebagai sebuah tingkah laku yang islami. Pendidikan agama islam ini mencakup materi – materi seperti fiqih, qur'an hadits, aqidah akhlak, tasawuf dll. Sedangkan pendidikan islam lebih menitik beratkan pada upaya pembentukan manusia yang memiliki kepribadian utama menurut ukuran islam. Pendidikan ini mencakup segala aspek kehidupan yang dijiwai dengan semangat islam didalamnya. Pendidikan dalam kategori yang kedua ini bisa mencakup ilmu – ilmu yang mungkin secara langsung tidak berhubungan dengan islam akan tetapi bila dikaji secara mendalam tidak keluar juga dari jalur islam semisal filsafat, matematika, biologi, kimia, kedokteran geografi dsb. Pendidikan islam mencakup berbagai ranah keilmuwan namun dikembangkan sesuai dengan koridor – koridor keislaman yang sesuai dengan al qur'an dan hadits. Sehingga para ilmuwan dan intelektual yang berkecimpung dalam disiplin ilmunya masing – masing tetap tidak keluar dari jalur yang telah ditetapkan islam.
Sejarah mencatat bahwa banyak kalangan diluar islam yang mengembangkan keilmuwan sesuai dengan bidangnya sampai pada puncaknya mereka berbalik dan menentang agama mereka sendiri. Kita mengenal Nietze yang karena kegandrungannya pada disiplin ilmu yang ia miliki sampai akhirnya mengatakan bahwa "Tuhan Telah Mati". Ada juga Karl Marx yang karena kegilaannya sampai – sampai dia mengatakan "Agama Adalah Candu" dan masih banyak sederetan ilmuwan dan intelektual barat yang pada titik klimaks pemikiran mereka memiliki pemahaman yang senafas dengan Nietze dan Marx. Lain halnya dalam dunia islam. Puncak intelektual yang diperoleh dalam pengembaraan keilmuwan justru menjadikan mereka sebagai insane shalih yang semakin tawadlu' dan rendah dihadapan Allah. Mereka semakin sadar akan kelemahan yang mereka miliki dan semakin sadar bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Segala – galanya. Dalam islam kita mengenal al Farazi ahli astronomi islam yang pertama kali menyusun astrolabe, Al Fargani penulis ringkasan astronomi yang diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis. Dalam bidang kedokteran kita mengenal Al Razi, tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measle, ia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Selain itu ada Ibnu Sina seorang filosof yang berhasil menemukan system peredaran darah pada manusia bahkan bukunya al qanuun fi al thib diakui sebagai ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah. Tidak berhenti disitu dalam bidang optic kita menganal Abu Ali Al Hasan Ibnu al Haytami yang dikenal dibarat dengan nama al hazen. Dialah orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dililihat. Menurut teorinya bendalah yang mengirim cahaya ke mata dank arena menerima cahaya itu mata melihat benda yang bersangkutan. Dalam bidang kimia ada jabir ibnu Hayyan yang terkenal sebagai bapak kimia. Ia berpendapat bahwa logam seperti timah, besi, dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan suatu zat tertentu. Matematikapun tidak dibiarkan lepas oleh para ilmuwan dan intelektual islam. Dalam disiplin matematika kita mengenal Muhammad ibnu Musa Al Khawarizmi yang juga mahir dalm bidang astronomi. Dialah yang menciptakan ilmu Al Jabbar dan masih banyak lagi disiplin ilmu yang menjadi perhatian ilmuwan dan intelektual muslim kala itu dalam membangun pendidikan islam seperti filsafat, theology, sains, geografi dsb. Namun yang perlu dicatat tidak ada dalam tradisi sejarah intelektual muslim yang dalam titik klimaksnya menentang islam. Hal ini sangat berbeda dengan budaya intelektual barat yang sekuleris. Justeru sebaliknya keilmuwan yang diperoleh menjadi pelengkap bagi mereka untuk menjadi insane yang memiliki perilaku utama dan shalih. Konsistensi para intelektual muslim ini berimplikasi pada kejayaan islam pada masa pemerintahan khilafah Abbasiyah khususnya pada masa pemerintahan khalifah Harun Al Rasyid yang begitu cinta dan meneruh perhatian besar pada tradisi keilmuwan.
Akan tetapi dunia islam mengalami perubahan dan kemunduran yang sangat drastis pasca terjadinya serangfan salib. Umat islam menjadi psimis dan bahkan memandang bahwa ilmu yang benar dan mesti dipelajari adalah ilmu yang berhubungan dengan kehidupan akhirat semata (fiqih, akhlak, tasawuf dan yang semisal). Pandangan ini lebih diperparah lagi dengan banyaknya fatwa ulama' saat itu yang mengatakan bahwa belajar beberapa cabang ilmu ( seperti filsafat, logika, astronomi dan yang semisal ) hukumnya adalah haram. Pandangan semacam inilah yang pada akhirnya menimbulkan adanya dikotomi keilmuwan dalam islam. Ada ilmu agama dan ilmu umum. Belajar ilmu agama itu hukumnya wajib sedangkan yang lain tidak. Parahnya lagi ditambah fatwa yang menyatakan bahwa pintu ijtihad telah ditutup.
Fenomena diatas menjadi sebuah pemicu mundurnya islam dan peradaban islam dimata dunia. Ghazwul fikri yang diterapkan oleh mereka yang tidak suka terhadap islam semakin mulus dan menuai hasil dengan munculnya generasi islam yang shalih namun tidak peka terhadap situasi social yang ada.
Di era Modern ini, pendidikan islam dihadapakan pada situasi global dimana barat telah mengalami puncak kejayaan dengan penguasaan teknologi informasi dan sains yang luar biasa. Pendidikan islam harus segera berbenah diri dalam menghadapi percaturan global apabila tidak ingin semakin usang dan kuna tertelan oleh waktu. Apabila pendidikan islam tidak segera berbenah diri dengan melakukan rekonstruksi dan rekonsiliasi dalam kurikulum dan materinya serta konsentrasi bidang garapannya sudah dapat dipastikan bahwa pendidikan islam akan ditinggalkan dan tidak lagi mendapat perhatian dari umat dan masyarakat.
Fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa pendidikan islam ( dalam hal ini pesantren salaf ) mengalami tingkat kemerosotan yang sangat significan. Lembaga pesantren kurang diminati sementara generasi islam oleh karena kurikulum dan materi yang didalamnya stagnan dan tidak memberi sebuah tantangan dan jaminan bagi kehidupan dimasa mendatang. Pesantren harus segera berbenah diri apabila tidak ingin ditinggalkan sama sekali oleh masyarakat.
Oleh sebab itu di era modern seperti saat ini pendidikan islam harus mampu memberikan sebuah solusi dan jawaban riel dan nyata bagi masyarakat. Pendidikan islam harus mampu bersaing dengan pendidikan yang lain dengan mempersiapkan generasi yang siap bersaing.
Materi dan konsentrasi garapan pendidikan islam tidak hanya berkutat pada aspek religius ( Fiqih, Qur'an hadits, Akhlak dll ). Lebih dari itu pendidikan islam harus mampu memberikan kontribusi yang besar dalam bidang – bidang yang lain seperti matematika, informasi, teknologi, ekonomi, geografi dan lain sebagainya. Dengan mengubah konsentrasi kajian dan bidang garapan tentunya bukan berarti pendidikan islam meninggalkan aspek religiusnya. Namun aspek religius itu harus senantiasa menjiwai, menjadi ruh yang akan menjadi sebuah motivator dalam mengembangkan keilmuwan.
Jika aspek – aspek ini diperhatikan dan betul – betul digarap dengan maksimal bukan mustahil islam akan menjadi agama yang memiliki peradaban tinggi dan menjadi pusat peradaban dunia. Islam akan kembali mengulang masa keemasanya dalam keilmuwan, menjadi kiblat dunia dalam hal ilmu dan pengetahuan.
Hal yang mesti dilakukan untuk pertama kali adalah membangunkan generasi muslim dari tidur panjangnya. Mesti diakui mesti saat ini telah banyak bermunculan lembaga – lembaga pendidikan islam bahkan mungkin telah menjamur di seluruh penjuru tanah air mulai dari play group sampai perguruan tinggi semisal STAIN, UIN dsb, namun budaya dan nuansa keilmuwan masih sangat sedikit ( Untuk tidak menyebut jarang dan bahkan tidak ada ) kita jumpai. Berbeda dengan pendidikan diluar islam seperti lembaga pendidikan Kristen. Mahasiswa dan siswa cenderung bersifat pasif dalam mengembangkan keilmuwan. Jarang diketemukan budaya baca, tulis, dan analisis yang ditemukan dalam kehidupan sehari – hari mereka. Keadaan seperti ini timbul dari tidak adanya rasa butuh dan perhatian pada ilmu. Hal inilah yan g semestinya dihilangkan dari generasi islam.
Apabila kita bernostalgia dengan kembali melihat biografi ulama' – ulama' dahulu pada masa kejayaan islam, disana akan kita temukan betapa mereka sangat menghargai ilmu pengetahuan. Ekonomi yang sulit, jarak jauh yang mesti ditempuh tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk mencari, mangkaji dan mendaatkan pengetahuan. Mereka rela untuk meninggalkan tanah kelahirannya, keluarga bahkan kesenangan hidup dunia demi dan untuk ilmu pengetahuan.
Pendidikan islam yang mampu menjadi solusi dan problem solving terhadap persoalan umat adalah harapan bersama. Harapan itu tidak mungkin bisa terwujud tanpa adanya budaya – budaya keilmuwan yang diciptakan oleh generasi muslim yang menjadi harapan.
Pendidikan islam memerlukan tangan – tangan yang tulus dalam memajukan islam sebagai sebuah peradaban yang kokoh. Peran serta semua kalangan tentunya diharapkan disini dalam rangka menyambut apa yang disabdakan oleh rasulullah saw : " Islam itu tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi dari islam". Semoga apa yang menjadi harapan dan cita – cita rasulullah ini tidak hanya menjadi sebuah jargon yang me"nina bobok" kan umat islam. Umat islam mesti bangun dari tidunya dan sadar bahwa untuk mencapai sebuah peradaban yang tinggi perlu adanya kerja keras, usaha yang serius, keistiqamahan dalam usaha, sabar dalam meraih mimpi, dan tidak meremehkan pada segala hal meskipun hal itu remeh dalam lahirnya. Perlu sebuah perjuangan yang tidak mudah dan yang pasti dalam setiap perjuangan perlu adanya pengorbanan. Mudah – mudahan dalam waktu yang tidak lama lagi cita – cita rasul itu bisa terealisasi dan kita sebagai generasi sadar akan tanggung jawab besar dalam menjadikan islam sebagai agama yang paling tinggi diantara agama yang lain. Tinggi dalam hal agama, peradaban, ekonomi, iptek dan sebagainya dalam seluruh aspek kehidupan. Amin.
والله أعلم بالصواب
Minggu, 01 November 2009
ABSTRAK TESIS

Pemikiran Al-Gazali Dalam Pendidikan Islam
(Studi Analisis Tentang Pemikiran Al-Ghazali dalam Tujuan Pendidikan dan Metodenya, Siswa dan Guru dalam Pendidikan Islam)
ABSTRAK
Muhamad Fatoni, NIM: 3241074012, 2009. Pemikiran Al-Gazali Dalam Pendidikan Islam (Studi Analisis Tentang Pemikiran Al-Ghazali dalam Tujuan Pendidikan Islam dan Metodenya, Siswa dan Guru dalam Pendidikan Islam), Tesis, Pendidikan Agama Islam, Konsentrasi Manajemen Pendidikan Islam, Program Pascasarjana STAIN Tulungagung, Pembimbing: (1). Prof. Dr. H. Mujamil, M.Ag, (2) Dr. Abad Badruz Zaman, Lc., M.Ag.
Tidak diragukan lagi bahwa pendidikan adalah hal pneting dalam kehidupan manusia. Dengan pendidikan segala sesuatu akan diketahui. Bayangkan, bagaimana kehidupan manusia andaikata tidak ada ilmu. Pasti tidak akan diketahui bagaimana cara melestarikan ala mini. Sungguh Allah telah berfirman dalam Al-Quran Al-Karim: “Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman diantara kamu dan orang-orang yang dikaruniai ilmu beberapa derajat”.
Al-Ghazali memandang ilmu adala urusan yang paling penting, ia lebi utama secara mutlak. Dengan ilmu segala sesuatu bisa diketahui dan segala sesuatu yang diinginkan manusia akan tercapai. Hal ini tidak bisa diragukan lagikarena keberhasilan seseorang banyak berhubungan dengan ilmu. Seseorang yang ingin menjadi pemimpin ia harus pandai dalam urusan hokum, seseorang yang ingin menjadi saudagar ia harus ahli dalam urusan berdagang. Al-Ghazali menjelaskan bahwa seseorang yang menuntut ilmu kemudian ia mendapatkan ilmu yang banyak serta mengajarkannya pada orang lain akan tetapi ia tidak melaksanakannya maka ia rugi dan ilmu itu tidak memberikan manfaatdan tidak bisa menyelamatkannya dari azab Allah. Jadi seorang pencari ilmu setelah ia berhasil mendapatkan ilmu itu ia harus melaksanakan dan memanfaatkannya untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Oleh sebab itu penulis tertarik untuk menulis tesis dengan judul “Pemikiran Al-Gazali Dalam Pendidikan Islam (Studi Analisis Tentang Pemikiran Al-Ghazali dalam Tujuan Pendidikan Islam dan Metodenya, Siswa dan Guru dalam Pendidikan Islam).
Rumusan masalah: (1) Apa saja tujuan pendidikan menurut Al-Gahazali?, (2) Siapakah murid itu menurut Al-Gahazali?, (3) Siapakah guru itu menurut Al-Gahazali?, (4) Bagaimana metode pendidikan menurut Al-Gahazali?
Tesis ini merupakan kajian teoritik atau study kepustakaan. Penulis menggunakan metode kepustakaan dalam mengumpulkan data dengan melakukan kajian terhadap buku, majalah-majalah dan karya-karya ilmiah lain yang memungkinkan penulis untuk menggunakannya sebagai dasar dan pijakan dalam penulisan tesis ini. Adapun analisis data dalam kajian ini menggunakan kajian analisis isi (Content Analysis) dan metode interpretasi.
Adapun hasil dari kajian ini adalah: a)Sesungguhnya pendidikan islam terdiri dua aspek, tujuan secara dhair dan batin, tujuan jangka pendek dan jangka panjang. B) Tugas seorang murid menurut Al-Ghazali adalah: 1) Belajar dengan niat ibadah mendekatkan diri kepada Allah, 2) Mengurangi keinginan duniawi, 3) Tawadhu’, 4) Menjaga pikiran dari perselisian ilmu agar mendapatkan pengetahuan yang utu dan mendalam, 5) Mempelajari ilmu-ilmu yang terpuji baik ilmu dunia maupun akhirat dan menjauhkan diri dari ilmu-imu yang tercela, dan seterusnya. Kewajiban-kewajiban seorang guru adalah: 1) Menyayangi muridnya dan menempatkannya pada tempat seorang anak, 2) Mengajar semata-mata karena Allah dan mendekatkan diri kepadaNya, 3) Memberi nasehat kepada murid bahwa sesungguhnya tujuan menuntut imu adalah mendekatkan diri kepada Allah bukan kekuasaan, keagungan dan kemuliaan, dan seterusnya. Kode Etik seorang guru adalah: 1) Ia seorang yang cerdas, 2) Zuhud dari dunia, 3) Mengikuti seorang guru yang waspada dan memiliki runtutan guru sampai kepada Rasulullah saw. dan setersnya. Adapun metode yang digunakan Al-Ghazali dalam mendidik agama adalah 1) Memulai dengan hafalan dan pemahaman, 2) Menanamkan I’tikad dan keyakinan, 3) Menunjukkan bukti-bukti dan dalil-dalil. Adapun metode yang digunakan dalam mendidik akhlak adalah: 1) Guru memahami tabiat peserta didik dan potensinya, 2) Guru menjaga keadilan dalam mendidik anak, 3) Guru menjauhkannya dari teman-teman yang tidak baik, 4) Menyibukkan waktu siswa dengan aktifitas yang bermanfaat, 5) Memberi penghargaan pada siswa yang berbuat baik dan sanksi bagi siswa yang berbuat salah, 6) Menjauhkan murid dari bermalas-malasan dan meremehkan hubungan sesame manusia, 7) memperhatikan waktu bermain bagi seorang siswa yang masih kecil.
Selasa, 17 Maret 2009
PROPOSAL PENELITIAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Proses pendidikan telah berlangsung sepanjang sejarah dan berkembang sejalan dengan perkembangan kehidupan sosial budaya umat manusia di muka bumi, pendidikan merupakan penolong utama bagi manusia untuk menjalani kehidupan ini. Tanpa pendidikan, maka manusia sekarang tidak akan berbeda dengan keadaan pada masa purbakala. Karena pada dasarnya pendidikan adalah usaha orang tua untuk mewariskan segala pengalaman, pengetahuan dan nilai-nilai serta norma-norma kehidupan sosial budaya yang dimilikinya kepada generasi mudanya agar nantinya mereka mampu hidup dan mengembangkan lingkungan kehidupan sosial budaya yang diwarisinya dengan sebaik-baiknya dan dengan proses pendidikan yang berlangsung dari generasi ke generasi tersebut, kehidupan sosial budaya peradaban manusia telah tumbuh dan berkembang sepanjang sejarahnya, sementara itu, Allah SWT telah mengutus rasul-rasulnya sepanjang sejarah tersebut, untuk memberikan petunjuk-petunjuk guna menjaga dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan kehidupan sosial budaya dan peradaban umat manusia itu, agar tidak menyimpang dari tujuan Allah sebagai khalifahnya.
Hal ini sebagaimana diisyaratkan dalam al Qur’an pada surat Al A’laa ayat 1-3 yaitu:
“Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Pengasih, Penyayang. Yang menciptakan (semua alam) lalu menyempurnakan kejadiaannya. Dan yang menentukan dan memberi petunjuk”.
Pendidikan baik sebagai proses pengembangan potensi-potensi individu menuju kepada kebahagiaan masyarakat ataupun sebagai pewarisan kebudayaan dari generasi tua kepada generasi muda, telah diakui sebagai satu-satunya jawaban terhadap masalah kemunduran suatu bangsa. Lebih ditegaskan lagi oleh Muhammad Abduh yang dikutip Azyumardi Azra bahwa “Pendidikan adalah alat yang ampuh untuk melakukan perubahan”.
Pendidikan merupakan bagian terpenting dari kehidupan yang sekaligus membedakan manusia dengan hewan, hewan juga belajar, tetapi lebih ditentukan oleh insting. Sedangkan bagi manusia, pendidikan merupakan rangkaian kegiatan menuju pendewasaan guna menuju kehidupan yang lebih berarti.
Salah satu faktor penting yang diyakini oleh masyarakat dalam kelangsungan hidup manusia adalah pendidikan. Pendidikanlah yang mampu menstimuli perubahan sosial (Sosial Change) ke arah terbentuknya suatu kondisi masyarakat yang dicita-citakan.
Islam sebagai sebuah agama, mengatur kehidupan manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Untuk mencapai kesejahteraan itu, manusia selain dibekali Allah dengan akal pikiran , (intellect) juga diberikan wahyu yang berfungsi untuk membimbing perjalanan hidupnya.
Akal pikiran merupakan anugerah Allah yang paling tinggi kepada manusia, akal pikiran manusia inilah yang membedakan dengan makhluk Allah lainnya. Dengan akal pikiran yang dimilikinya ini pulalah manusia menempati tempat tertinggi di antara makhluk-makhluk lain.
Potensi manusia sebagai karunia Allah itu haruslah dikembangkan, sesuai dengan petunjuk-Nya yang disebut ibadah , dan apabila tidak dikembangkan berarti manusia mengingkari maksud dari penciptaanya. Maksud penciptaan manusia tertuang dalam Surat Az-Zaariyaat 56 yaitu:
“Tidaklah aku jadikan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyenbah kepadaku”.
Pendidikan Islam mempunyai sejarah yang panjang dalam pengertian seluas-luasnya. Pendidikan Islam berkembang seiring dengan kemunculan Islam itu sendiri. Dalam konteks masyarakat Arab, di mana Islam lahir dan pertama kali berkembang, kedatangan Islam lengkap dengan usaha-usaha pendidikan untuk tidak menyebut sistem-merupakan tranformasi besar. Sebab, masyarakat Arab pra-Islam pada dasarnya tidak mempunyai sistem pendidikan formal. Pada masa awal perkembangan Islam, tentu saja pendidikan formal yang sistematis belum terselenggara. Pendidikan yang berlangsung dapat dikatakan umumnya bersifat informal.
Pendidikan Islam sebagai bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam.
Aplikasi pendidikan Islam mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah karena Islam menjadi pedoman seluruh aspek kehidupan manusia baik duniawi maupun ukhrowi.
Pendidikan pada umumnya dan khususnya pendidikan Islam, tujuannya tidaklah sekedar proses alih budaya atau alih ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) tetapi juga sekaligus sebagai proses alih nilai: ajaran Islam (transfer of value).
Sebagai media sosial yang memantulkan jiwa falsafah Islam disatu pihak, dan media inilah yang melaksanakan falsafah tersebut. Di pihak lain, nabi Muhammad SAW telah memberikan perhatian berat kepada pendidikan semenjak tahun-tahun pertama kebangkitan Islam dengan menyuruh agar mengajarkan menulis dan membaca.
Hubungan pembaharuan dan pendidikan, lebih khusus lagi dengan pendidikan Islam berkaitan dengan dunia pendidikan secara umum pada satu sisi pendidikan dipandanag sebagai suatu variable modernisasi atau pembangunan. Tanpa pendidikan yang memadai, akan sulit bagi masyarakat manapun untuk mencapai kemajuan, karena itu pendidikan merupakan kunci yang membuka pintu ke arah modernisasi.
Tapi pada sisi lain pendidikan masih dianggap sebagai obyek modernisasi atau pembangunan. Pendidikan pada Negara yang tengah menjalankan program modernisasi masih terbelakang dalam berbagai hal. Karena itu pendidikan harus diperbarui, dibangun kembali atau modernisasi, sehingga dapat memenuhi harapan dan fungsi yang diembannya.
Lembaga pendidikan Islam yang lahir dan berkembang sesuai dengan semangat ajaran Islam itu sendiri, tidaklah heran, jika Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan hijrahnya dari Makkah ke Madinah, mendirikan masjid di Quba yang mana di situ jua mempelajari tulis dan baca.
Dalam perkembangan selanjutnya lembaga-lembaga pendidikan Islam tumbuh dalam situasi yang berbeda untuk melahirkan tujuan-tujuan tertentu pula, tujuan itu dirumuskan sesuai dengan kebutuhan kehidupan masyarakat Islam yang terus berkembang.
Menurut Marimba yang dikutip Azyumardi Azra lembaga pendidikan adalah “organisasi atau kelompok manusia yang karena satu dan lain hal memikul tanggung jawab atas terlaksananya pendidikan. Badan-badan Pendidikan itu bertugas memberi pendidikan kepada si terdidik.
Lembaga-lembaga pendidikan berusaha menciptakan situasi proses pendidikan sebagaimana fungsinya. Berdasarkan fungsi dan tugas yang diembannya pendidikan dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu keluarga, sekolah, dan badan-badan pendidikan kemasyarakatan diluar keluarga dan sekolah.
Sebagai pendidikan formal sekolah mempunyai dasar, tujuan, isi, metode, dan alat-alatnya yang disusun secara eksplisit, sistematis dan distandarisasikan.
Disadari atau tidak, segala sesuatu di dunia ini perlu diatur. Pengaturan yang dimaksud untuk kelancaran, keteraturan, kedinamisan dan ketertiban oleh sebab itulah diperlukan pengadministrasian. Sejauh ini Sondang Siagian menyebut abad kini adalah “Abad Administrasi”.
Dalam dunia pendidikan administrasi pendidikan merupakan penerapan pengertian administrasi pendidikan dalam arti luas. Administrasi sebagai suatu proses keseluruhan, semua kegiatan bersama dalam bidang pendidikan memanfaatkan semua fasilitas yang tersedia baik personil, materiil maupun spiritual untuk mencapai tujuan pendidikan. Segala kegiatan yang dilakukan di dalam proses administrasi pendidikan dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan khususnya dalam pendidikan.
Penulis merasa perlu mengkaji lebih lanjut tentang administrasi pendidikan untuk mengetahui bagaimana pemikiran Hasan Langgulung tentang Administrasi Pendidikan dalam perspektif Pendidikan Islam. Administrasi yang bagaimana yang dapat mendayagunakan berbagai sumber manusia dan non manusia sehingga pendidikan berjalan secara teratur, efektif dan efisien untuk menciptakan tujuan pendidikan (khususnya Islam).
Dengan adanya pembahasan ini penulis berharap dapat menjelaskan lebih detail tentang hal tersebut di atas yang akan dikembangkan dalam tesis ini.
B. Perumusan Masalah
Karya tulis memuat rumusan yang muncul berkenaan dengan judul tesis “Administrasi Pendidikan Dalam Perspekif Pendidikan Islam”, sebagai berikut:
1. Bagaimana Tinjauan Umum tentang Administrasi Pendidikan ?
2. Bagaimana pemikiran Hasan Langgulung tentang Administrasi Pendidikan dalam Perspektif Pendidikan Islam?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan secara umum adalah untuk gambaran secara menyeluruh (holistik) dan mendalam (komprehensip) tentang “Administrasi Pendidikan dalam Perspektif Pendidikan Islam sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui Tinjauan Umum tentang Administrasi Pendidikan .
2. Untuk mengetahui pemikiran Hasan Langgulung tentang Administrasi Pendidikan dalam Perspektif Pendidikan Islam.
D. Kegunaan Hasil Penelitian
Kegunaan yang dapat diambil dari kajian ini adalah :
1. Secara teoritis kajian ini dapat berguna dalam pengembangan khasanah ilmiah terutama tentang Administrasi Pendidikan Dalam Perspektif Pendidikan Islam, baik bagi pihak yang berkepentingan dalam hal pendidikan ataupun tidak.
2. Secara praktis kajian ini berguna bagi penulis maupun pembaca dalam mengetahui bagaimana sebenarnya Administrasi Pendidikan Dalam Perspektif Pendidikan Islam.
3. Hasil kajian ini dapat dijadikan salah satu bahan referensi /pertimbangan /bacaan di perpustakaan STAIN Tulungagung khususnya dan pada umumnya serta pihak-pihak lain yang membutuhkan.
E. Penegasan Istilah
Penulis menganggap perlu untuk menjelaskannya secara konseptual maupun secara operasional dari variabel yang digunakan untuk menghindari penafsiran lain dan mempermudah pemahaman dalam tesis ini:
1. Secara konseptual
Administrasi Pendidikan : Sejumlah proses pelaksanan dan teknis yang berlaku melalui usaha kolektif, kooperatif, manusiawi, yang terorganisir dan selalu berusaha untuk menciptakan iklim intelektual, psikologis, dan material yang sesuai, yang membangkitkan semangat dan mendorong aktivitas dan keinginan kerja, dengan menggabungkan, menyusun, dan memobilisir seluruh sumber-sumber dan tenaga manusia serta material yang ada, dan mengembangkan dan membimbingnya dengan sempurna untuk mencapai tujuan-tujuan lembaga atau aparat pendidikan dimana administrasi itu berbeda.
Pendidikan Islam : Menyiapkan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan, dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beamal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat.
2. Secara operasional
Administrasi Pendidikan dalam Perspektif Pendidikan Islam merupakan suatu proses pelaksanaan dan teknis dalam proses pendidikan dengan berbagai usaha untuk mencapai tujuan-tujuan lembaga atau aparat pendidikan yang semuanya dalam konteks nilai-nilai, syariat-syariat dan pendidikan Islam.
F. Metode Penelitian
1. Pendekatan Kajian
Penelitian inimenggunakan jenis pendekaan kajian pustaka yang bersifat tekstual, non kuantitatif yang tidak melibatkan diri pada perhitungan angka-angka atau kuantitatif. Penulis menggunakan jenis penelitian Library Research, dengan pertimbangan dari asal tempat dimana penelitian ini dilakukan yaitu perpustakan, maka penelitian ini di sebut sebagai “penelitian kepustakaan” atau disebut “Kajian Pustaka” yaitu suatu bentuk penampilan argumentasi penalaran keilmuan yang menjelaskan hasil dari study pustaka dan olah pikir peneliti tentang suatu persoalan.
2. Sumber Kajian
Sumber dari kajian ini terdiri dari sumber primer dan sumber skunder. Sumber primer yang merupakan bahan pustaka yang isinya sumber temuan penelitian yang berupa buku karangan Hasan Langgulung yang berjudul Asas-Asas Pendidikan Islam, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, Pendidikan dan Peradaban Islam “Suatu Analisa Sosia-Psikologi”, Kreativitas dan Pendidikan Islam, dan Falsafah Pendidikan Islam (terj.), dan beberapa pemikiran tentang pendidikan Islam.
Sumber data skunder dalam kajian ini terdiri dari jurnal penelitian, disertasi, thesis, tesis, laporan penelitian, buku teks, makalah, laporan seminar, dan diskusi ilmiah atau terbitan-terbitan resmi pemerintah. Dan majalah ilmiah, arsip-arsip serta dokumen resmi.
3. Metode Kajian
Dalam menganalisis suatu permasalahan, dibutuhkan cara berfikir yang tepat. Karena tesis merupakan kajian teoritis, maka metode analisis yang penulis gunakan adalah metode analisis conten analisis yaitu analisis isi yang sistematik untuk menagalisis isi peran dan mengolahnya. Metode ini leih menampakkan watak dari berbagai teori dan analisis.
Di samping itu, juga mengunakan metode analisis deskriptif yang memberikan gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai suatu hal, dan setelah dilakukan conten analisis.
Dalam hal ini penulis menelaah seluruh tulisan baik berupa tulisan yang telah dipublikasikan tidak secara langsung dan khusus mengenai pembahasan Administrasi Pendidikan dalam Perspektif Pendidikan Islam (Telaah Pemikiran Hasan Langgulung), akan tetapi terdapat esensi yang dapat menunjang dalam melakukan penafsiran dan pemaknaan, sehingga dapat memberikan manfaat bagi peneliti untuk memilih dan menguraikan data-data tersebut, yang korelatif dengan topik masalah dan sub-sub bahasan yang akan dibahas.
G. Sistematika Pembahasan
Sebelum diuraikan secara terperinci kandungan tesis ini akan penulis coba deskripsikan sistematika pembahasan yang terdiri dari lima bab, sebagai berikut;
Bab I: Pendahuluan, yang menjelaskan sekaligus menempatkan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan hasil penelitian, penegasan istilah baik secara konseptual maupun operasional, metode penelitian, dan diakhiri dengan sistematika pembahasan.
Bab II: Berisi tentang pembahasan biografi dan latar belakang pemikiran Hasan Langgulung, yang meliputi; biografi intelektual Hasan Langgulung, Kompetensi Hasan Langgulung dalam Pendidikan Islam, dan Tinjauan tentang Pendidikan Islam.
Bab III: Berisi tentang tinjauan Administrasi Pendidikan dalam Pemikiran Hasan Langgulung yang terdiri dari; pengertian Administrasi Pendidikan, Ciri-ciri Administrasi Pendidikan, Dasar dan Tujuan Administrasi Pendidikan, Ruang Lingkup Administrasi Pendidikan, Pentingnya Administrasi Pendidikan, Fungsi Administrasi Pendidikan, Pola-Pola Kepemimpinan Administrasi Pendidikan.
Bab IV: Berisi tentang Administrasi Pendidikan dalam Perspektif Pendidikan Islam (Pemikiran Hasan Langgulung) yang terdiri dari; prinsip menekankan Iman dan Akhlak dalam Kerja Administrasi, Prinsip Keadilan dan Persamaan, Prinsip Musyawarah, Prinsip Pembagian Kerja dan Tugas, prinsip Berpegang pada (Perencanaan, Organisasi Supervisi, Pengawasan, dan Follow Up), Prinsip Penghargaan, (Pergaulan Baik, dan Hubungan Baik dengan Pekerja), Prinsip Menekankan (Kemampuan, Pengalaman, dan Keikhlasan dalam Pencalonan, Pelantikan, Kenaikan Pangkat dan Pemberian Mandat dalam Pekerjaan).
Bab V : Penutup, bab terakhir ini memberikan kesimpulan dari uraian bab-bab sebelumnya yang tidak bertentangan dengan pokok masalah yang diriumuskan. Sekaligus membuat saran-saran yang konstruktif dan inovativ bagi pembaca tesis ini.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Proses pendidikan telah berlangsung sepanjang sejarah dan berkembang sejalan dengan perkembangan kehidupan sosial budaya umat manusia di muka bumi, pendidikan merupakan penolong utama bagi manusia untuk menjalani kehidupan ini. Tanpa pendidikan, maka manusia sekarang tidak akan berbeda dengan keadaan pada masa purbakala. Karena pada dasarnya pendidikan adalah usaha orang tua untuk mewariskan segala pengalaman, pengetahuan dan nilai-nilai serta norma-norma kehidupan sosial budaya yang dimilikinya kepada generasi mudanya agar nantinya mereka mampu hidup dan mengembangkan lingkungan kehidupan sosial budaya yang diwarisinya dengan sebaik-baiknya dan dengan proses pendidikan yang berlangsung dari generasi ke generasi tersebut, kehidupan sosial budaya peradaban manusia telah tumbuh dan berkembang sepanjang sejarahnya, sementara itu, Allah SWT telah mengutus rasul-rasulnya sepanjang sejarah tersebut, untuk memberikan petunjuk-petunjuk guna menjaga dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan kehidupan sosial budaya dan peradaban umat manusia itu, agar tidak menyimpang dari tujuan Allah sebagai khalifahnya.
Hal ini sebagaimana diisyaratkan dalam al Qur’an pada surat Al A’laa ayat 1-3 yaitu:
“Sucikanlah nama Tuhanmu yang Maha Pengasih, Penyayang. Yang menciptakan (semua alam) lalu menyempurnakan kejadiaannya. Dan yang menentukan dan memberi petunjuk”.
Pendidikan baik sebagai proses pengembangan potensi-potensi individu menuju kepada kebahagiaan masyarakat ataupun sebagai pewarisan kebudayaan dari generasi tua kepada generasi muda, telah diakui sebagai satu-satunya jawaban terhadap masalah kemunduran suatu bangsa. Lebih ditegaskan lagi oleh Muhammad Abduh yang dikutip Azyumardi Azra bahwa “Pendidikan adalah alat yang ampuh untuk melakukan perubahan”.
Pendidikan merupakan bagian terpenting dari kehidupan yang sekaligus membedakan manusia dengan hewan, hewan juga belajar, tetapi lebih ditentukan oleh insting. Sedangkan bagi manusia, pendidikan merupakan rangkaian kegiatan menuju pendewasaan guna menuju kehidupan yang lebih berarti.
Salah satu faktor penting yang diyakini oleh masyarakat dalam kelangsungan hidup manusia adalah pendidikan. Pendidikanlah yang mampu menstimuli perubahan sosial (Sosial Change) ke arah terbentuknya suatu kondisi masyarakat yang dicita-citakan.
Islam sebagai sebuah agama, mengatur kehidupan manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Untuk mencapai kesejahteraan itu, manusia selain dibekali Allah dengan akal pikiran , (intellect) juga diberikan wahyu yang berfungsi untuk membimbing perjalanan hidupnya.
Akal pikiran merupakan anugerah Allah yang paling tinggi kepada manusia, akal pikiran manusia inilah yang membedakan dengan makhluk Allah lainnya. Dengan akal pikiran yang dimilikinya ini pulalah manusia menempati tempat tertinggi di antara makhluk-makhluk lain.
Potensi manusia sebagai karunia Allah itu haruslah dikembangkan, sesuai dengan petunjuk-Nya yang disebut ibadah , dan apabila tidak dikembangkan berarti manusia mengingkari maksud dari penciptaanya. Maksud penciptaan manusia tertuang dalam Surat Az-Zaariyaat 56 yaitu:
“Tidaklah aku jadikan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyenbah kepadaku”.
Pendidikan Islam mempunyai sejarah yang panjang dalam pengertian seluas-luasnya. Pendidikan Islam berkembang seiring dengan kemunculan Islam itu sendiri. Dalam konteks masyarakat Arab, di mana Islam lahir dan pertama kali berkembang, kedatangan Islam lengkap dengan usaha-usaha pendidikan untuk tidak menyebut sistem-merupakan tranformasi besar. Sebab, masyarakat Arab pra-Islam pada dasarnya tidak mempunyai sistem pendidikan formal. Pada masa awal perkembangan Islam, tentu saja pendidikan formal yang sistematis belum terselenggara. Pendidikan yang berlangsung dapat dikatakan umumnya bersifat informal.
Pendidikan Islam sebagai bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam.
Aplikasi pendidikan Islam mencakup seluruh aspek kehidupan yang dibutuhkan oleh hamba Allah karena Islam menjadi pedoman seluruh aspek kehidupan manusia baik duniawi maupun ukhrowi.
Pendidikan pada umumnya dan khususnya pendidikan Islam, tujuannya tidaklah sekedar proses alih budaya atau alih ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) tetapi juga sekaligus sebagai proses alih nilai: ajaran Islam (transfer of value).
Sebagai media sosial yang memantulkan jiwa falsafah Islam disatu pihak, dan media inilah yang melaksanakan falsafah tersebut. Di pihak lain, nabi Muhammad SAW telah memberikan perhatian berat kepada pendidikan semenjak tahun-tahun pertama kebangkitan Islam dengan menyuruh agar mengajarkan menulis dan membaca.
Hubungan pembaharuan dan pendidikan, lebih khusus lagi dengan pendidikan Islam berkaitan dengan dunia pendidikan secara umum pada satu sisi pendidikan dipandanag sebagai suatu variable modernisasi atau pembangunan. Tanpa pendidikan yang memadai, akan sulit bagi masyarakat manapun untuk mencapai kemajuan, karena itu pendidikan merupakan kunci yang membuka pintu ke arah modernisasi.
Tapi pada sisi lain pendidikan masih dianggap sebagai obyek modernisasi atau pembangunan. Pendidikan pada Negara yang tengah menjalankan program modernisasi masih terbelakang dalam berbagai hal. Karena itu pendidikan harus diperbarui, dibangun kembali atau modernisasi, sehingga dapat memenuhi harapan dan fungsi yang diembannya.
Lembaga pendidikan Islam yang lahir dan berkembang sesuai dengan semangat ajaran Islam itu sendiri, tidaklah heran, jika Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan hijrahnya dari Makkah ke Madinah, mendirikan masjid di Quba yang mana di situ jua mempelajari tulis dan baca.
Dalam perkembangan selanjutnya lembaga-lembaga pendidikan Islam tumbuh dalam situasi yang berbeda untuk melahirkan tujuan-tujuan tertentu pula, tujuan itu dirumuskan sesuai dengan kebutuhan kehidupan masyarakat Islam yang terus berkembang.
Menurut Marimba yang dikutip Azyumardi Azra lembaga pendidikan adalah “organisasi atau kelompok manusia yang karena satu dan lain hal memikul tanggung jawab atas terlaksananya pendidikan. Badan-badan Pendidikan itu bertugas memberi pendidikan kepada si terdidik.
Lembaga-lembaga pendidikan berusaha menciptakan situasi proses pendidikan sebagaimana fungsinya. Berdasarkan fungsi dan tugas yang diembannya pendidikan dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu keluarga, sekolah, dan badan-badan pendidikan kemasyarakatan diluar keluarga dan sekolah.
Sebagai pendidikan formal sekolah mempunyai dasar, tujuan, isi, metode, dan alat-alatnya yang disusun secara eksplisit, sistematis dan distandarisasikan.
Disadari atau tidak, segala sesuatu di dunia ini perlu diatur. Pengaturan yang dimaksud untuk kelancaran, keteraturan, kedinamisan dan ketertiban oleh sebab itulah diperlukan pengadministrasian. Sejauh ini Sondang Siagian menyebut abad kini adalah “Abad Administrasi”.
Dalam dunia pendidikan administrasi pendidikan merupakan penerapan pengertian administrasi pendidikan dalam arti luas. Administrasi sebagai suatu proses keseluruhan, semua kegiatan bersama dalam bidang pendidikan memanfaatkan semua fasilitas yang tersedia baik personil, materiil maupun spiritual untuk mencapai tujuan pendidikan. Segala kegiatan yang dilakukan di dalam proses administrasi pendidikan dimaksudkan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan khususnya dalam pendidikan.
Penulis merasa perlu mengkaji lebih lanjut tentang administrasi pendidikan untuk mengetahui bagaimana pemikiran Hasan Langgulung tentang Administrasi Pendidikan dalam perspektif Pendidikan Islam. Administrasi yang bagaimana yang dapat mendayagunakan berbagai sumber manusia dan non manusia sehingga pendidikan berjalan secara teratur, efektif dan efisien untuk menciptakan tujuan pendidikan (khususnya Islam).
Dengan adanya pembahasan ini penulis berharap dapat menjelaskan lebih detail tentang hal tersebut di atas yang akan dikembangkan dalam tesis ini.
B. Perumusan Masalah
Karya tulis memuat rumusan yang muncul berkenaan dengan judul tesis “Administrasi Pendidikan Dalam Perspekif Pendidikan Islam”, sebagai berikut:
1. Bagaimana Tinjauan Umum tentang Administrasi Pendidikan ?
2. Bagaimana pemikiran Hasan Langgulung tentang Administrasi Pendidikan dalam Perspektif Pendidikan Islam?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan secara umum adalah untuk gambaran secara menyeluruh (holistik) dan mendalam (komprehensip) tentang “Administrasi Pendidikan dalam Perspektif Pendidikan Islam sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui Tinjauan Umum tentang Administrasi Pendidikan .
2. Untuk mengetahui pemikiran Hasan Langgulung tentang Administrasi Pendidikan dalam Perspektif Pendidikan Islam.
D. Kegunaan Hasil Penelitian
Kegunaan yang dapat diambil dari kajian ini adalah :
1. Secara teoritis kajian ini dapat berguna dalam pengembangan khasanah ilmiah terutama tentang Administrasi Pendidikan Dalam Perspektif Pendidikan Islam, baik bagi pihak yang berkepentingan dalam hal pendidikan ataupun tidak.
2. Secara praktis kajian ini berguna bagi penulis maupun pembaca dalam mengetahui bagaimana sebenarnya Administrasi Pendidikan Dalam Perspektif Pendidikan Islam.
3. Hasil kajian ini dapat dijadikan salah satu bahan referensi /pertimbangan /bacaan di perpustakaan STAIN Tulungagung khususnya dan pada umumnya serta pihak-pihak lain yang membutuhkan.
E. Penegasan Istilah
Penulis menganggap perlu untuk menjelaskannya secara konseptual maupun secara operasional dari variabel yang digunakan untuk menghindari penafsiran lain dan mempermudah pemahaman dalam tesis ini:
1. Secara konseptual
Administrasi Pendidikan : Sejumlah proses pelaksanan dan teknis yang berlaku melalui usaha kolektif, kooperatif, manusiawi, yang terorganisir dan selalu berusaha untuk menciptakan iklim intelektual, psikologis, dan material yang sesuai, yang membangkitkan semangat dan mendorong aktivitas dan keinginan kerja, dengan menggabungkan, menyusun, dan memobilisir seluruh sumber-sumber dan tenaga manusia serta material yang ada, dan mengembangkan dan membimbingnya dengan sempurna untuk mencapai tujuan-tujuan lembaga atau aparat pendidikan dimana administrasi itu berbeda.
Pendidikan Islam : Menyiapkan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan, dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beamal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat.
2. Secara operasional
Administrasi Pendidikan dalam Perspektif Pendidikan Islam merupakan suatu proses pelaksanaan dan teknis dalam proses pendidikan dengan berbagai usaha untuk mencapai tujuan-tujuan lembaga atau aparat pendidikan yang semuanya dalam konteks nilai-nilai, syariat-syariat dan pendidikan Islam.
F. Metode Penelitian
1. Pendekatan Kajian
Penelitian inimenggunakan jenis pendekaan kajian pustaka yang bersifat tekstual, non kuantitatif yang tidak melibatkan diri pada perhitungan angka-angka atau kuantitatif. Penulis menggunakan jenis penelitian Library Research, dengan pertimbangan dari asal tempat dimana penelitian ini dilakukan yaitu perpustakan, maka penelitian ini di sebut sebagai “penelitian kepustakaan” atau disebut “Kajian Pustaka” yaitu suatu bentuk penampilan argumentasi penalaran keilmuan yang menjelaskan hasil dari study pustaka dan olah pikir peneliti tentang suatu persoalan.
2. Sumber Kajian
Sumber dari kajian ini terdiri dari sumber primer dan sumber skunder. Sumber primer yang merupakan bahan pustaka yang isinya sumber temuan penelitian yang berupa buku karangan Hasan Langgulung yang berjudul Asas-Asas Pendidikan Islam, Manusia dan Pendidikan Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, Pendidikan dan Peradaban Islam “Suatu Analisa Sosia-Psikologi”, Kreativitas dan Pendidikan Islam, dan Falsafah Pendidikan Islam (terj.), dan beberapa pemikiran tentang pendidikan Islam.
Sumber data skunder dalam kajian ini terdiri dari jurnal penelitian, disertasi, thesis, tesis, laporan penelitian, buku teks, makalah, laporan seminar, dan diskusi ilmiah atau terbitan-terbitan resmi pemerintah. Dan majalah ilmiah, arsip-arsip serta dokumen resmi.
3. Metode Kajian
Dalam menganalisis suatu permasalahan, dibutuhkan cara berfikir yang tepat. Karena tesis merupakan kajian teoritis, maka metode analisis yang penulis gunakan adalah metode analisis conten analisis yaitu analisis isi yang sistematik untuk menagalisis isi peran dan mengolahnya. Metode ini leih menampakkan watak dari berbagai teori dan analisis.
Di samping itu, juga mengunakan metode analisis deskriptif yang memberikan gambaran secara sistematis, faktual dan akurat mengenai suatu hal, dan setelah dilakukan conten analisis.
Dalam hal ini penulis menelaah seluruh tulisan baik berupa tulisan yang telah dipublikasikan tidak secara langsung dan khusus mengenai pembahasan Administrasi Pendidikan dalam Perspektif Pendidikan Islam (Telaah Pemikiran Hasan Langgulung), akan tetapi terdapat esensi yang dapat menunjang dalam melakukan penafsiran dan pemaknaan, sehingga dapat memberikan manfaat bagi peneliti untuk memilih dan menguraikan data-data tersebut, yang korelatif dengan topik masalah dan sub-sub bahasan yang akan dibahas.
G. Sistematika Pembahasan
Sebelum diuraikan secara terperinci kandungan tesis ini akan penulis coba deskripsikan sistematika pembahasan yang terdiri dari lima bab, sebagai berikut;
Bab I: Pendahuluan, yang menjelaskan sekaligus menempatkan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan hasil penelitian, penegasan istilah baik secara konseptual maupun operasional, metode penelitian, dan diakhiri dengan sistematika pembahasan.
Bab II: Berisi tentang pembahasan biografi dan latar belakang pemikiran Hasan Langgulung, yang meliputi; biografi intelektual Hasan Langgulung, Kompetensi Hasan Langgulung dalam Pendidikan Islam, dan Tinjauan tentang Pendidikan Islam.
Bab III: Berisi tentang tinjauan Administrasi Pendidikan dalam Pemikiran Hasan Langgulung yang terdiri dari; pengertian Administrasi Pendidikan, Ciri-ciri Administrasi Pendidikan, Dasar dan Tujuan Administrasi Pendidikan, Ruang Lingkup Administrasi Pendidikan, Pentingnya Administrasi Pendidikan, Fungsi Administrasi Pendidikan, Pola-Pola Kepemimpinan Administrasi Pendidikan.
Bab IV: Berisi tentang Administrasi Pendidikan dalam Perspektif Pendidikan Islam (Pemikiran Hasan Langgulung) yang terdiri dari; prinsip menekankan Iman dan Akhlak dalam Kerja Administrasi, Prinsip Keadilan dan Persamaan, Prinsip Musyawarah, Prinsip Pembagian Kerja dan Tugas, prinsip Berpegang pada (Perencanaan, Organisasi Supervisi, Pengawasan, dan Follow Up), Prinsip Penghargaan, (Pergaulan Baik, dan Hubungan Baik dengan Pekerja), Prinsip Menekankan (Kemampuan, Pengalaman, dan Keikhlasan dalam Pencalonan, Pelantikan, Kenaikan Pangkat dan Pemberian Mandat dalam Pekerjaan).
Bab V : Penutup, bab terakhir ini memberikan kesimpulan dari uraian bab-bab sebelumnya yang tidak bertentangan dengan pokok masalah yang diriumuskan. Sekaligus membuat saran-saran yang konstruktif dan inovativ bagi pembaca tesis ini.
Kamis, 05 Maret 2009
SDI QURROTA A'YUN KUMJUNGI MAQAM AULIYA' JATIM
Pada hari sabtu tepatnya tanggal 28 pebruari 2009, SDI Qurrota A’yun yang di pelopori oleh beliau Bapak Drs. Imam Muslimin sebagai kepala sekolah, mengadakan kunjungan ziarah ke maqam auliya’ di Jawa Timur. Ikut serta dalam acara ini hampir seluruh Bapak/ Ibu guru baik dari PLAY GROUP, TK, maupun SD. Dalam pelaksanaan kegiatan ini panitia menggunakan kendaraan bus dari PT BAROKAH dari kota Kediri.
Perjalanan ziarah ini dimulai pada sore hari sekitar jam 15.30 yang berstat di halaman SDI Q.A. Rombongan berangkat dengan di buka oleh kepala sekolah SDI selaku ketua dan penanggung jawab rombongan ziarah. Dalam acara pembukaan ini, beliau memberikan pengarahan kepada para rombongan tentang tujuan maupun tata cara berdoa’a sewaktu di maqam. Hal ini sangat pnting, mengingat bahwa ada sebagian diantara masyarakat yang keliru dalam niatnya ketika berziarah ke maqam. Sehingga kekeliruan niat ini bisa menyebabkan terjadinya kemusyrikan dengan meminta kepada wali bukan meminta kepada Allah SWT. Selanjutnya acara di lanjutkan dengan membaca do’a naik kendaraan bersama- sama dan berangkat ke tempat tujuan. Sebagai imam dalam ziarah ini adalah Bapak Kya Supriono, pengasuh dan pengampu pondok pesantren dan madrasah Far’u Hidayatul Mubtadi’ien Beji Ngunut Tulungagung yang terletak di samping lokasi sekolah.
Ziarah ini di mulaidari makam As Syaikh ‘Ali Shadieq Umman, seorang tokoh dan ‘ulama’ terkemuka di wilayah Ngunut. Di sini para jama’ah yang terdiri dari seluruh siswa – siswi kelas VI SDI Q.A. beserta dewan asatidz, staf dan karyawan ikut bertahlil bersama yang diimami oleh bapak Kyai Supriono. Setelah acara tahlil selesai di lanjutkan dengan acara do’a bersama untuk bermohon kepada Allah atas segala hajat dan niatan masing – masing dengan tabarukan dan tafa’ulan di samping maqam orang shaleh dengan harapan semoga do’a – do’a tersebut akan lebih mudah di ijabahi oleh Allah SWT.
Selepas dari maqam beliau Asy Syaikh Mbah Kyai Ali Shadiq Umman rombongan melanjutrkan perjalanan ziarahnya ke maqam auliya’ tersohor di kawasan kota Kediri yang terkenal dengan sebutan “ kota tahu “. Maqam yang menjadi jujugan dari rombongan jama’ah ini adalah maqam Syaikh Wasil di Stono Gedong. Jamaah sampai di maqam ini kira – kira tepat menjelang maghrib. Selanjutnya para jamaah melanjutkan perjalanannya dengan mengadakan tahlil dan do’a sebagai mana lazimnya. Acara slesai pada sekitar pukul 19.00. selanjutnya jama’ah melanjutkan perjalananya ke Jombang yang terkenal sebagai kota santri.
Di kota ini jama’ah berkunjung ke maqam Syaikh Sulaiman. Sebelum tahlil dan do’a bersama diadakan, rombongan melaksanakan shalat jama’ takhir dan qashar di masjid yang berada di samping maqam syaikh Sulaiman. Setelah itu tahlil dan do’a bersama untuk tabarukan dan tafaa’ulan di laksanakan. Kira – kira acara di maqam ini seelsai pada pukul 23.00 WIB.
Selepas acara di maqam ini, rombongan melanjutkan perjalanan ke maqam Syaikh Jumadil Kubro yang terletak di kota Trowulan Mojokerto. Kota Trowulan adalah kota yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Kota ini adalah pusat dari kerajaan besar yang pernah menyatukan Nusantara bahkan sampai ke Thailand di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dengan Sang Maha Patih Gajah Mada. Maqam ini di bangun dengan sangat megahnya. Bangunan – bangunan yang adapun juga melambangkan kegagahan dari sejarah yang pernah terukir di bumi Indonesia. Di sisi maqam ini juga terdapat museum bersejarah yaitu museum kerajaan Majapahit.
Syaikh Jumadil Kubro konon adalah seorang ulama’ terkenal dari Timur Tengah. Beliau adalah kakek dari Kanjeng sunan Ampel yang dimaqamkan di Surabaya. Di maqam ini sebagaimana I maqam – maqam lainnya, jama’ah melaksanakan tahlil dan do’a bersama. Selesai tahlil dan do’a di maqam ini, rombongan melanjutkan perjalananya ke maqam Syaikh Bungkul Surabaya. Rombongan tiba disini kira – kira pada pukul 24.00 WIB. Selanjutnya jama’ah mengadakan do’a dan tahlil bersama dengan di pimpin oleh Kyai Supriono. Acara selesai kira – kira pada pukul 24.30 WIB.
Perjalanan selanjutnya adalah ke maqam sunan Ampel Surabaya. Maqam ini berada di kawasan Ampel Denta di samping masjid Ampel Surabaya. Sebagaimana biasa acara dilaksanaan dengan mengadakan do’a dan tahlil bersama – sama. Sunan Ampel adalah salah satu sunan yang memiliki keahlian yang mumpuni dalam bidang keilmuwan. Karena kepiawaiannya beliau akhirnya di beri kepercayaan untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan di Surabaya. Di kawasan maqam ini juga terdapat dua maqam yang terkenal sebagai pembantu Sunan Ampel yaitu maqam Mbah Bolong dan maqam Mbah Shaleh.
Mbah Bolong di kenal dengan nama tersebut karena konon pada saat pendirian Masjid Ampel ini, banyak diantara warga yang ikut dalam pembangunan masjid ini ragu, apakah masjid ini benar – benar menghadap ke kiblat ataukah tidak. Akhirnya dengan seizin Allah Mbah Bolong melubangi dinding imaman tempat salat. Ketika dinding itu selesai di lubangi, Mbah Bolong meminta kepada warga untuk melihat sendiri apakah masjid itu benar – benar telah menghadap kiblat atau tidak. Tanpa di duga, dengan izin Allah setiap orang yang melihat melalui lubang tu bisa menyaksikan Ka’bah secara langsung tanpa harus pergi ke Makkah. Ini menandakan bahwa masjid itu telah benar – benar menghadap ke kiblat.
Sedangkan dalam cerita Mbah Shaleh, konon beliau adalah salah seorang pembantu setia sunan Ampel. Beliau mengabdikan dirinya untuk membersihkan kawasan masjid Ampel. Konon Allah telah berkehendak untuk memanggil duluan Mbah Saleh ke hadiratnya daripada Sunan Ampel. Hingga pada saat itu keadaan masjid Ampel kotor. Beliau berguma dan berkata pada diri dan pembantunya, Seandainya Mbah Shaleh masih hidup pasti kawasan masjid ini akan bersih dan tidak ada satu kotoranpun di dalamnya. Konon ketika Sunan Ampel bergumam demikian sekonyong – konyong, syahdan beliau Mbah Shaleh hidup kembali dan membersihkan kawasan masjid Ampel. Kejadian ini berlangsung sampai sembilan kali berturut – turut. Hal inilah yang melatar belakangi adanya maqam Mbah Shaleh yang berjumlah sembilan.
Dari maqam ini, rombongan melanjutkan perjalanannya ke maqam Raden ‘Ainul Yaqien atau yang lebih di kenal dengan nama Kanjeng Sunan Giri. Beliau adalah seorang yang sangat terkenal dalam bidang keilmuwannya. Beliau meimiliki keistimewaan semenjak kecil dengan memiliki ilmu ladunni. Konon selepas wafatnya Kanjeng Syaikh Maulana Malik Ibrahim atau yang di kenal dengan Sunan Gresik, beliaulah yang diangkat sebagai pemimpin wali songo di tanah Jawa. Beliau adalah wali yang miliki pendirian teguh dalam penerapan syari’at islam. Beliau ingin dalam penyebaran islam tidak ada unsur hindu maupun budha yang ikut ambil bagian di dalamnya. Konon beliau pernah berselisih paham dengan Kanjeng Sunan Kalijaga yang di kenal sebagai wali yang menggunakan metode da’wahnya dengan mengikuti budaya setempat. Disaat peresmian masjid Demak, Sunan Giri berselisih paham dengan Sunan Kalijaga yang menginginkan peresmian masjid Demak dengan mengadakan pagelaran wayang yang pada saat itu masih menggunakan model golek. Sunan Giri menentang dan melarang hal itu karena dianggap menyalahi syari’at islam yang melaarang membuat sesuatu yang menyerupai bentuk manusia secara sempurna. Beliau tetap bersikukuh untuk tidak memperbolehkan hal itu. Berbeda dengan Kanjeng Sunan Kalijaga yang juga bersikukuh untuk tetap mengadaan pertunjukan wayang tersebut. Akhirnya sunan Giri mengabulkan permintaan tersebut akan tetapi wayang golek itu harus di rubah menjadi wayang kulit sehingga rupa dalam wayang itu tidak menyerupai manusia. Karena dalam islam membuat sesuatu yang menyerupai manusia itu di larang agama. Usulan ini di terima oleh Kanjeng Sunan Kalijaga yang selanjutnya menjadi dalang dalam pertunjukan wayang tersebut. Disinilah tampak kecerdasan yang dimilki Sunan Kalijaga yang kemudian merubah cerita dan nama – nama yang ada di dalam wayang itu dengan symbol – symbol keislaman. Disini juga beliau mengganti nama Bathara Guru yang menjadi pemimpin para dewa dengan nama Shang Hyang Girilaya yang menunjukkan bahwa wayang kulit tersebut muncul atas inisiatif cerdas dari Kanjeng Sunan Giri yang merupakan pmimpin wali songo.
Selepas dari maqam ini kira – kira pukul 04.30 WIB. Jama’ah mengadakan shalat jama’ah shubuh dimasjid Sunan Giri untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya adalah maqam Syaikh Sunan Maulana Malik Ibrahim atau Syaikh Sunan Gresik. Beliau adalah wali yang tertua dari jajaran wali songo. Beliau adalah pemimpin pertama dari wali songo. Rombongan tiba di maqam ini pada sekitar pukul 06.00 pagi. Rombongan mengadakan tahlil dan do’a bersama di maqam ini dengan di imami oleh Bapak Kyai Supriono.
Selepas dari maqam Sunan Gresik, jama’ah melanjutkan perjalanan ke maqam Sunan Drajat. Maqam ini terletak di daerah Drajat di sebuah bukit yang cukup tinggi. Sesampai di Drajat rombongan langsung menuju ke warung lumayan yang ada di depan kawasan maqam Sunan Drajat. Disini mereka memesan sarapan pagi sesuai dengan selera makan masing – masing. Mulai dari bobor, pecel, nasi jagung, dll.
Selesai sarapan, rombongan bergegas berangkat ke maqam untuk berdo’a dan tahlil bersama. Tidak sebagaimana maqam auliya’ yang lain, di maqam in terdapat ungkapan – ungkapan kejawen yang merupakan ajaran dari Sunan Drajat yang memiliki makna yang mendalam. Di sebelah maqam, kira – kira sekitar 300 m terdapat museum Sunan Drajat yang berisi koleksi benda – benda kuno yang di miliki oleh Sunan Drajat. Selepas tahlil dan do’a bersama, rombongan melepas kepenatan dengan beristirahat dan mandi untuk membersihkan badan agar segar dan sehat kembali. Di sini para rombongan juga mulai berbelanja. Ada yang membeli kopyah, baju, cinderamata dll. Ada juga yang melepas kepenatan dengan berpose bersama teman, sanak saudara bahkan ada yang berpose bersama dengan monyet! Wah pokoknya seru abi……..s deh!
Puas dengan menghabiskan waktu untuk istirahat dan melepas kepenatan di Drajat, rombongan melanjutkan perjalanannya ke Syaikh Samarqandi di Tuban. Beliau adalah ulama’ dari Samarkhan. Beliau adalah ayah dari Sunan Ampel Surabaya. Rombongan sampai di tempat ini pada sekitar pukul 12.00 WIB. Sesampai di sini jamaah lngsung menuju ke maqam dan mengadakan tahlil serta do’a bersama yang selanjutnya di teruskan dengan menunaikan shalat jama’ taqdim dan qashar di masjid samping maqam. Selanjutnya rombongan menghabiskan waktu dengan membeli oleh – oleh dan kenang – kenangan dari tempat ini. Banyak juga dari ibu – ibu yang ikut dalam rombongan ini membeli ikan maupun terasi yang memang cukup terkenal dari daerah ini. Selesai belanja rombongan harus menanti agak lama karena bus yang di tumpangi dan mengangkut mereka harus “ NGEBAN”. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh para rombongan untuk istirahat. Ada juga sebagian dari rombongan yang memanfaatkan waktu ini untuk menikmati indahnya pemandangan di pesisir pantai Tuban di pantai utara pulau Jawa ini. Ada yang berpose dan bergaya di atas bebatuan pantai. Anak- anak memanfaatkan moment ini untuk bermain dan mencari batu – batu kerang indah yang ada di sepanjang pantai ini.
Setelah selesai dari perbaiakannya, bus yang mengangkut rombongan langsung bertolak menuju tujuan terakhir yaitu maqam Sunan Bonang. Maqam Sunan Bonang berlokasi agak jauh dari tempat parkir kendaraan. Biasanya para peziarah akan memanfaatkan jasa para tukang becak untuk sampai ke lokasi. Namun, ada juga diantara para peziarah yan ingin berolahraga dan diet gratis dengan berjalan kaki ke area lokasi maqam. Sunan Bonang adalah salah satu wali yang memilki wawasan keagamaan sekaligus budaya yang kesohor. Beliau mengadakan dakwah islamnya dengan menggunakan pendekatan adat dan budaya masyarakat. Beliau banyak menciptakan tembang – tembang yang memiliki makna dan ajaran tinggi. Beliau adalah seorang yang zuhud dan wara’.
Setiba dilokasi maqam, para jama’ah langsung menuju maqam dan segera melaksanakan tahlil dan do’a bersama. Selesai tahlil dan do’a bersama para peziarah melakukan “ SHOOPING “ besar – besaran. Hal ini dikarenakan maqam ini adalah tujuan terakhir dari rute ziarah yang di adakan. Tak ayal, para penjaja makanan, penjual pakaian, mainan, serta cenderamata menjadi sasaran serbuan mereka. Tidak terasakan lagi rasa capek, penat dan panasnya terik matahari yang menyengat. Semua itu tidak terasa karena telah terobati dengan rasa ingin berbagi kebahagiaan dengan keluarga dirumah dengan membeli buah tangan dari tempat ziarah. Selesai dari maqam ini, rombongan melanjutrkan kembali perjalanannya untuk menuju ke tempat asal mereka bumi Tulungagung. Diatas bus inilah para jamaah mulai tampak capek dan kehabisan tenaga akibat dari aktifitasnya selama kurang lebih sehari semalam. Para jamaah banyak yang tidur terlelap dalam bus sampai akhirnya para jama’ah tiba di sebuah tempat makan untuk makan malam. Selepas makan, para rombongan mengadakan jamaah shalat maghrib dan shalat isya’ dengan jama’ ta’khir. Selanjutnya rombongan langsung meluncur ke Tulungagung di Desa Beji Ngunut Tulungagung.
Perjalanan ziarah ini dimulai pada sore hari sekitar jam 15.30 yang berstat di halaman SDI Q.A. Rombongan berangkat dengan di buka oleh kepala sekolah SDI selaku ketua dan penanggung jawab rombongan ziarah. Dalam acara pembukaan ini, beliau memberikan pengarahan kepada para rombongan tentang tujuan maupun tata cara berdoa’a sewaktu di maqam. Hal ini sangat pnting, mengingat bahwa ada sebagian diantara masyarakat yang keliru dalam niatnya ketika berziarah ke maqam. Sehingga kekeliruan niat ini bisa menyebabkan terjadinya kemusyrikan dengan meminta kepada wali bukan meminta kepada Allah SWT. Selanjutnya acara di lanjutkan dengan membaca do’a naik kendaraan bersama- sama dan berangkat ke tempat tujuan. Sebagai imam dalam ziarah ini adalah Bapak Kya Supriono, pengasuh dan pengampu pondok pesantren dan madrasah Far’u Hidayatul Mubtadi’ien Beji Ngunut Tulungagung yang terletak di samping lokasi sekolah.
Ziarah ini di mulaidari makam As Syaikh ‘Ali Shadieq Umman, seorang tokoh dan ‘ulama’ terkemuka di wilayah Ngunut. Di sini para jama’ah yang terdiri dari seluruh siswa – siswi kelas VI SDI Q.A. beserta dewan asatidz, staf dan karyawan ikut bertahlil bersama yang diimami oleh bapak Kyai Supriono. Setelah acara tahlil selesai di lanjutkan dengan acara do’a bersama untuk bermohon kepada Allah atas segala hajat dan niatan masing – masing dengan tabarukan dan tafa’ulan di samping maqam orang shaleh dengan harapan semoga do’a – do’a tersebut akan lebih mudah di ijabahi oleh Allah SWT.
Selepas dari maqam beliau Asy Syaikh Mbah Kyai Ali Shadiq Umman rombongan melanjutrkan perjalanan ziarahnya ke maqam auliya’ tersohor di kawasan kota Kediri yang terkenal dengan sebutan “ kota tahu “. Maqam yang menjadi jujugan dari rombongan jama’ah ini adalah maqam Syaikh Wasil di Stono Gedong. Jamaah sampai di maqam ini kira – kira tepat menjelang maghrib. Selanjutnya para jamaah melanjutkan perjalanannya dengan mengadakan tahlil dan do’a sebagai mana lazimnya. Acara slesai pada sekitar pukul 19.00. selanjutnya jama’ah melanjutkan perjalananya ke Jombang yang terkenal sebagai kota santri.
Di kota ini jama’ah berkunjung ke maqam Syaikh Sulaiman. Sebelum tahlil dan do’a bersama diadakan, rombongan melaksanakan shalat jama’ takhir dan qashar di masjid yang berada di samping maqam syaikh Sulaiman. Setelah itu tahlil dan do’a bersama untuk tabarukan dan tafaa’ulan di laksanakan. Kira – kira acara di maqam ini seelsai pada pukul 23.00 WIB.
Selepas acara di maqam ini, rombongan melanjutkan perjalanan ke maqam Syaikh Jumadil Kubro yang terletak di kota Trowulan Mojokerto. Kota Trowulan adalah kota yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Kota ini adalah pusat dari kerajaan besar yang pernah menyatukan Nusantara bahkan sampai ke Thailand di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dengan Sang Maha Patih Gajah Mada. Maqam ini di bangun dengan sangat megahnya. Bangunan – bangunan yang adapun juga melambangkan kegagahan dari sejarah yang pernah terukir di bumi Indonesia. Di sisi maqam ini juga terdapat museum bersejarah yaitu museum kerajaan Majapahit.
Syaikh Jumadil Kubro konon adalah seorang ulama’ terkenal dari Timur Tengah. Beliau adalah kakek dari Kanjeng sunan Ampel yang dimaqamkan di Surabaya. Di maqam ini sebagaimana I maqam – maqam lainnya, jama’ah melaksanakan tahlil dan do’a bersama. Selesai tahlil dan do’a di maqam ini, rombongan melanjutkan perjalananya ke maqam Syaikh Bungkul Surabaya. Rombongan tiba disini kira – kira pada pukul 24.00 WIB. Selanjutnya jama’ah mengadakan do’a dan tahlil bersama dengan di pimpin oleh Kyai Supriono. Acara selesai kira – kira pada pukul 24.30 WIB.
Perjalanan selanjutnya adalah ke maqam sunan Ampel Surabaya. Maqam ini berada di kawasan Ampel Denta di samping masjid Ampel Surabaya. Sebagaimana biasa acara dilaksanaan dengan mengadakan do’a dan tahlil bersama – sama. Sunan Ampel adalah salah satu sunan yang memiliki keahlian yang mumpuni dalam bidang keilmuwan. Karena kepiawaiannya beliau akhirnya di beri kepercayaan untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan di Surabaya. Di kawasan maqam ini juga terdapat dua maqam yang terkenal sebagai pembantu Sunan Ampel yaitu maqam Mbah Bolong dan maqam Mbah Shaleh.
Mbah Bolong di kenal dengan nama tersebut karena konon pada saat pendirian Masjid Ampel ini, banyak diantara warga yang ikut dalam pembangunan masjid ini ragu, apakah masjid ini benar – benar menghadap ke kiblat ataukah tidak. Akhirnya dengan seizin Allah Mbah Bolong melubangi dinding imaman tempat salat. Ketika dinding itu selesai di lubangi, Mbah Bolong meminta kepada warga untuk melihat sendiri apakah masjid itu benar – benar telah menghadap kiblat atau tidak. Tanpa di duga, dengan izin Allah setiap orang yang melihat melalui lubang tu bisa menyaksikan Ka’bah secara langsung tanpa harus pergi ke Makkah. Ini menandakan bahwa masjid itu telah benar – benar menghadap ke kiblat.
Sedangkan dalam cerita Mbah Shaleh, konon beliau adalah salah seorang pembantu setia sunan Ampel. Beliau mengabdikan dirinya untuk membersihkan kawasan masjid Ampel. Konon Allah telah berkehendak untuk memanggil duluan Mbah Saleh ke hadiratnya daripada Sunan Ampel. Hingga pada saat itu keadaan masjid Ampel kotor. Beliau berguma dan berkata pada diri dan pembantunya, Seandainya Mbah Shaleh masih hidup pasti kawasan masjid ini akan bersih dan tidak ada satu kotoranpun di dalamnya. Konon ketika Sunan Ampel bergumam demikian sekonyong – konyong, syahdan beliau Mbah Shaleh hidup kembali dan membersihkan kawasan masjid Ampel. Kejadian ini berlangsung sampai sembilan kali berturut – turut. Hal inilah yang melatar belakangi adanya maqam Mbah Shaleh yang berjumlah sembilan.
Dari maqam ini, rombongan melanjutkan perjalanannya ke maqam Raden ‘Ainul Yaqien atau yang lebih di kenal dengan nama Kanjeng Sunan Giri. Beliau adalah seorang yang sangat terkenal dalam bidang keilmuwannya. Beliau meimiliki keistimewaan semenjak kecil dengan memiliki ilmu ladunni. Konon selepas wafatnya Kanjeng Syaikh Maulana Malik Ibrahim atau yang di kenal dengan Sunan Gresik, beliaulah yang diangkat sebagai pemimpin wali songo di tanah Jawa. Beliau adalah wali yang miliki pendirian teguh dalam penerapan syari’at islam. Beliau ingin dalam penyebaran islam tidak ada unsur hindu maupun budha yang ikut ambil bagian di dalamnya. Konon beliau pernah berselisih paham dengan Kanjeng Sunan Kalijaga yang di kenal sebagai wali yang menggunakan metode da’wahnya dengan mengikuti budaya setempat. Disaat peresmian masjid Demak, Sunan Giri berselisih paham dengan Sunan Kalijaga yang menginginkan peresmian masjid Demak dengan mengadakan pagelaran wayang yang pada saat itu masih menggunakan model golek. Sunan Giri menentang dan melarang hal itu karena dianggap menyalahi syari’at islam yang melaarang membuat sesuatu yang menyerupai bentuk manusia secara sempurna. Beliau tetap bersikukuh untuk tidak memperbolehkan hal itu. Berbeda dengan Kanjeng Sunan Kalijaga yang juga bersikukuh untuk tetap mengadaan pertunjukan wayang tersebut. Akhirnya sunan Giri mengabulkan permintaan tersebut akan tetapi wayang golek itu harus di rubah menjadi wayang kulit sehingga rupa dalam wayang itu tidak menyerupai manusia. Karena dalam islam membuat sesuatu yang menyerupai manusia itu di larang agama. Usulan ini di terima oleh Kanjeng Sunan Kalijaga yang selanjutnya menjadi dalang dalam pertunjukan wayang tersebut. Disinilah tampak kecerdasan yang dimilki Sunan Kalijaga yang kemudian merubah cerita dan nama – nama yang ada di dalam wayang itu dengan symbol – symbol keislaman. Disini juga beliau mengganti nama Bathara Guru yang menjadi pemimpin para dewa dengan nama Shang Hyang Girilaya yang menunjukkan bahwa wayang kulit tersebut muncul atas inisiatif cerdas dari Kanjeng Sunan Giri yang merupakan pmimpin wali songo.
Selepas dari maqam ini kira – kira pukul 04.30 WIB. Jama’ah mengadakan shalat jama’ah shubuh dimasjid Sunan Giri untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya adalah maqam Syaikh Sunan Maulana Malik Ibrahim atau Syaikh Sunan Gresik. Beliau adalah wali yang tertua dari jajaran wali songo. Beliau adalah pemimpin pertama dari wali songo. Rombongan tiba di maqam ini pada sekitar pukul 06.00 pagi. Rombongan mengadakan tahlil dan do’a bersama di maqam ini dengan di imami oleh Bapak Kyai Supriono.
Selepas dari maqam Sunan Gresik, jama’ah melanjutkan perjalanan ke maqam Sunan Drajat. Maqam ini terletak di daerah Drajat di sebuah bukit yang cukup tinggi. Sesampai di Drajat rombongan langsung menuju ke warung lumayan yang ada di depan kawasan maqam Sunan Drajat. Disini mereka memesan sarapan pagi sesuai dengan selera makan masing – masing. Mulai dari bobor, pecel, nasi jagung, dll.
Selesai sarapan, rombongan bergegas berangkat ke maqam untuk berdo’a dan tahlil bersama. Tidak sebagaimana maqam auliya’ yang lain, di maqam in terdapat ungkapan – ungkapan kejawen yang merupakan ajaran dari Sunan Drajat yang memiliki makna yang mendalam. Di sebelah maqam, kira – kira sekitar 300 m terdapat museum Sunan Drajat yang berisi koleksi benda – benda kuno yang di miliki oleh Sunan Drajat. Selepas tahlil dan do’a bersama, rombongan melepas kepenatan dengan beristirahat dan mandi untuk membersihkan badan agar segar dan sehat kembali. Di sini para rombongan juga mulai berbelanja. Ada yang membeli kopyah, baju, cinderamata dll. Ada juga yang melepas kepenatan dengan berpose bersama teman, sanak saudara bahkan ada yang berpose bersama dengan monyet! Wah pokoknya seru abi……..s deh!
Puas dengan menghabiskan waktu untuk istirahat dan melepas kepenatan di Drajat, rombongan melanjutkan perjalanannya ke Syaikh Samarqandi di Tuban. Beliau adalah ulama’ dari Samarkhan. Beliau adalah ayah dari Sunan Ampel Surabaya. Rombongan sampai di tempat ini pada sekitar pukul 12.00 WIB. Sesampai di sini jamaah lngsung menuju ke maqam dan mengadakan tahlil serta do’a bersama yang selanjutnya di teruskan dengan menunaikan shalat jama’ taqdim dan qashar di masjid samping maqam. Selanjutnya rombongan menghabiskan waktu dengan membeli oleh – oleh dan kenang – kenangan dari tempat ini. Banyak juga dari ibu – ibu yang ikut dalam rombongan ini membeli ikan maupun terasi yang memang cukup terkenal dari daerah ini. Selesai belanja rombongan harus menanti agak lama karena bus yang di tumpangi dan mengangkut mereka harus “ NGEBAN”. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh para rombongan untuk istirahat. Ada juga sebagian dari rombongan yang memanfaatkan waktu ini untuk menikmati indahnya pemandangan di pesisir pantai Tuban di pantai utara pulau Jawa ini. Ada yang berpose dan bergaya di atas bebatuan pantai. Anak- anak memanfaatkan moment ini untuk bermain dan mencari batu – batu kerang indah yang ada di sepanjang pantai ini.
Setelah selesai dari perbaiakannya, bus yang mengangkut rombongan langsung bertolak menuju tujuan terakhir yaitu maqam Sunan Bonang. Maqam Sunan Bonang berlokasi agak jauh dari tempat parkir kendaraan. Biasanya para peziarah akan memanfaatkan jasa para tukang becak untuk sampai ke lokasi. Namun, ada juga diantara para peziarah yan ingin berolahraga dan diet gratis dengan berjalan kaki ke area lokasi maqam. Sunan Bonang adalah salah satu wali yang memilki wawasan keagamaan sekaligus budaya yang kesohor. Beliau mengadakan dakwah islamnya dengan menggunakan pendekatan adat dan budaya masyarakat. Beliau banyak menciptakan tembang – tembang yang memiliki makna dan ajaran tinggi. Beliau adalah seorang yang zuhud dan wara’.
Setiba dilokasi maqam, para jama’ah langsung menuju maqam dan segera melaksanakan tahlil dan do’a bersama. Selesai tahlil dan do’a bersama para peziarah melakukan “ SHOOPING “ besar – besaran. Hal ini dikarenakan maqam ini adalah tujuan terakhir dari rute ziarah yang di adakan. Tak ayal, para penjaja makanan, penjual pakaian, mainan, serta cenderamata menjadi sasaran serbuan mereka. Tidak terasakan lagi rasa capek, penat dan panasnya terik matahari yang menyengat. Semua itu tidak terasa karena telah terobati dengan rasa ingin berbagi kebahagiaan dengan keluarga dirumah dengan membeli buah tangan dari tempat ziarah. Selesai dari maqam ini, rombongan melanjutrkan kembali perjalanannya untuk menuju ke tempat asal mereka bumi Tulungagung. Diatas bus inilah para jamaah mulai tampak capek dan kehabisan tenaga akibat dari aktifitasnya selama kurang lebih sehari semalam. Para jamaah banyak yang tidur terlelap dalam bus sampai akhirnya para jama’ah tiba di sebuah tempat makan untuk makan malam. Selepas makan, para rombongan mengadakan jamaah shalat maghrib dan shalat isya’ dengan jama’ ta’khir. Selanjutnya rombongan langsung meluncur ke Tulungagung di Desa Beji Ngunut Tulungagung.
PEMBINAAN GURU DENGAN PENDEKATAN KOLABORATIF
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara efektif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dengan demikian pendidikan mempunyai tujuan untuk mencetak kader-kader generasi yang memiliki kecakapan dalam bidang jasmani dan sekaligus bidang rohani.
Semakin baik pendidikan suatu bangsa, semakin baik pula kualitas bangsa itu, itulah asumsi secara umum terhadap program pendidikan suatu bangsa. Pendidikan yang maju memberikan implikasi terhadap majunya suatu bangsa. Demikian pula rendahnya kualitas pendidikan menunjukkan rendahnya kualitas suatu bangsa. Dalam pendidikan, salah satu aspek yang terpenting yang menjadi penentu keberhasilan pendidikan adalah pendidik (guru). Guru yang memiliki kompetensi memadai akan menghantarkan seorang peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Sebaliknya kompetensi yang kurang yang dimiliki seorang guru akan menghambat siswa didik dalam mencapai tujuan pendidikan. Dengan demikian seorang guru harus memiliki kompetensi yang memadai. Untuk tujuan itulah diperlukan adanya pembinaan terhadap guru. Pembinaan tersebut dimaksudkan agar guru benar-benar mampu mengembangkan dirinya dan memiliki kompetensi yang cukup untuk melaksanakan tugasnya sebagai pendidik.
Makalah ini akan membahas tentang pembinaan guru melalui pendekatan kolaboratif sebagai pengantar diskusi dalam perkuliahan Pasca Sarjana STAIN Tulungagung.
B. Batasan Masalah
Agar pembahasan makalah ini tidak melebar, maka penulis memberikan batasan pada masalah yang akan dikaji pada makalah ini. Adapun masalah yang akan dikaji pada makalah ini adalah pengertian pendekatan Collaborative, Caracteristic pendekatan Collaborative, sasaran pendekatan collaborative dan pembinaan guru dengan pendekatan Collaborative.
C. Rumusan Masalah
Sesuatu dengan batasan masalah diatas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana pengertian pendekatan kolaboratif?
2. Apa saja karakteristik pendekatan kolaboratif?
3. Siapakah yang menjadi sasaran dari pendekatan kolaboratif?
4. Bagaimanakah pembinaan guru dengan pendekatan kolaboratif?
D. Tujuan Pembatasan Masalah
1. Untuk mengetahui pengertian pendekatan kolaboratif
2. Untuk mengetahui karakteristik pendekatan kolaboratif
3. Untuk mengetahui sasaran dari pendekatan kolaboratif
4. Untuk mengetahui pembinaan guru dengan pendekatan kolaboratif
E. Manfaat Penelitan
a. Secara teoritis
Penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan khazanah ilmu pengetahuan khususnya yang berhubungan dengan supervisi terutama dalam masalah pembinaan guru dengan pendekatan Colaborative.
b. Secara Praktis
a. Bagi para peneliti selanjutnya maka penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan rujukan ataupun pijakan dalam melakukan penelitian selanjutnya.
b. Bagi kalangan akademis, maka makalah ini berguna sebagai bahan referensi dalam aktifitas akademik yang diselenggarakan yang berhubungan dengan pendekatan colaborative.
F. Penegasan Istilah
a. Teoritis
Pembinaan adalah proses, cara, pembuatan membina (negara dsb), pembaharuan, penyempurnaan, usaha, tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
Guru adalah orang yang pekerjaannya ( mata pencahariannnya, profesinya) mengajar.
Pendekatan adalah proses, cara, perbuatan mendekati ( hendak berdamai, bersahabat dsb), usaha dalam rangka aktifitas penelitian untuk mengadakan hubungan dengan orang yang diteliti, metode untuk mencapai pengertian tentang maslah penelitian, rancangan.
Colaborative adalah (perbuatan) kerjasama (dengan musuh).
b. Operasional
Dengan demikian maka Pembinaan guru dengan pendekatan kolaboratif mengandung arti usaha untuk melakukan pembinaan/penyempurnaan terhadap seorang guru dengan cara melakukan usaha pendekatan dan menjalin kerjasama dengan guru agar dicapai tujuan bersama yang diharapkan dalam upaya untuk mengaktifkan dan mengefisienkan kegiatan pembelajaran yang ada.
G. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis peneitian dalam penelitian ini adalah study kepustakaan yaitu penelitian akademik yang tujuan utamanya adalah mengembangkan aspek teoritis maupun aspek manfaat praktis.
2. Obyek Penelitian
Yang menjadi obyek penelitian dalam penelitian ini adalah pembinaan yang dilaksanakan oleh supervisor dengan menggnakan pendekatan collaborative. Hal ini sengaja dilakukan karena dilapagan banyak terjadi penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh supervisor . Bahkan seringkali seorang supervisor bertindak sebagai inspektor yang hanya bertindak untuk mencari-cari kesalahan dari orang yang disupervisi. Akibatnya banyak terjadi kecemasan dan kekkawatiran yang dirasakan oleh para guru khususnya.
3. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini di bagi menjadi dua yaitu sumber data primer dan sumber data skunder. Sumber data primer disini meliputi berbagai macam informasi baik yang berupa orang maupun buku, literatur, dokumen, serta data-data lain yang langsung memiliki keterkaitan dengan pembahasan penelitian ini. Sedangkan sumber data sekunder adalah segala sesuatu yang secara langsung maupun tidak langsung mendukung terhadap penelitian ini. Sumber data ini juga meliputi arsip, buku, majalah, dokumen-dokumen ataupun artikel-artikel yang bisa mendukung penelitian ini.
4. Metode Analisis Data
Adapun metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode:
1. Deskriptif : Adalah sebuah metode yang bersifat menggambarkan / menguraikan sesuatu hal menurut apa adanya.
2. Induktif : Adalah sebuah pola pendekatan yang berasal dari hal yang sifatnya spesifik dan realitas sebagai langkah awal, kemudian menuju pola cakupan yang lebih umum atau luas untuk kemudian mencapai bentuk kesimpulan.
3. Deduktif : Adalah suatu bentuk pendekatan pemikiran yang mengutamakan langkah awal dari pengetahuan umum yang telah di verifikasikan yang kemudian akan memperoleh bentuk kesimpulan yang sifatnya lebih spesifik.
H. Sistematika Pembahasan
Untuk memudahkan dalam penelitian ini, maka sistematika pembahasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Bab I : Pendahuluan, meliputi latar belakang, Batasan masalah, rumusan masalah, Tujuan Penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika pembahasan
Bab II : Pembahasan meliputi pengertian pendekatan kolaboratif, karakteristik pendekatan kolaboratif, sasaran pendekatan kolaboratif, pembinaan guru dengan pendekatan kolaboratif.
Bab III : Penutup, meliputi penutup dan daftar rujukan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pendekatan Kolaboratif
Sebelum membahas lebih jauh tentang pendekatan Colaboratif, ada baiknya dipahami dahulu apa yang dimaksud dengan pendekatan Colaborative. Hal ini dimaksudkan dalam memahami pendekataan ini sehingga dapat dihindari berbagai pembahasan yang kurang penting dalam bab ini.
Pendekatan Kolaboratif adalah pendekatan yang memberi warna kemitraan antara supervisor dan orang yang memberi supervisi. Pendekatan ini ditempuh sebagai bentuk upaya dalam memahami orang yang disupervisi agar dalam melakukan supervisi dapat diperoleh hasil yang memuaskan sebagaimana yang diharapkan. Selain itu pendekatan ini juga mempunyai beberapa arti seperti misalnya.
1. Proses, perubahan, cara mendekati.
2. Usaha dalam rangka aktifitas penelitian untuk mengadakan hubungan dengan orang yang diteliti, atau metode-metode untuk mencapai pengertian tentang masalah penelitian seterusnya.
Dari pengertian yang pertama dapat dipahami bahwa pendekatan kolaboratif merupakan cara yang dipakai oleh seorang supervisor untuk mendekati orang yang disupervisi agar terjadi hubungan yang baik antara keduanya, sehingga dimungkinkan data yang diperoleh objektif serta mampu memberikan solusi bagi permasalahan yang muncul secara tepat.
Menurut Binti Maunah pengertian pertama dapat diterapkan dalam supervisi klinis, terutama jika dikaitkan dengan cara mendekati materi yang akan dibicarakan dalam pertemuan sesudah supervisi dilaksanakan. Hal ini akan mewarnai bentuk relasi antara supervisor dengan orang yang disupervisi. Disamping itu pengertian kedua juga dapat diterapkan jika yang di supervisi sama-sama ingin memahami permasalahan yang perlu dibahas.
Dari penerapan diatas dapat dipahami bahwa pendekatan Kolaboratif adalah pendekatan yang memberikan warna kemitraan antara supervisor dan orang yang disupervisi dalam usaha untuk memperoleh pemahaman bersama tentang permasalahan yang perlu dibahas sehingga dapat diperoleh sebuah solusi yang tepat dan sesuai dengan apa yang diharapkan.
B. Karakteristik pendekatan Kolaboratif
Sebagaimana telah diketahui bahwa supervisi adalah suatu teknik pelayanan yang tujuan utamanya mempelajari dan memperbaiki secara bersama-sama. Faktor – faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Kegiatan ini diarahkan untuk membantu kinerja guru dalam melaksanakan tugasnya agar dapat mencapai target yang diinginkan.
Salah satu pendekatan dalam melaksanakan supevisi adalah pendekatan kolaboratif. Pendekatan ini memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Supervisor bertindak sebagai mitra atau rekan kerja.
2. Kedua belah pihak berbagi kepakaran.
3. Pendekatan yang digunakan merupakan pendekatan inkuiri yakni, saya mencoba memahami apa yang dilakukan oleh orang yang saya amati.
4. Diskusi sebagai langkah lanjut dari pengalaman bersifat terbuka atau fleksibel dan tujuannya jelas.
5. Tujuan supervisi ialah membantu guru dan kepala sekolah berkembang menjadi tenaga-tenaga profesional melalui kegiatan-kegiatan reflektif.
Dengan memahami karakteristik diatas dapat diilustrasikan bahwa dengan pendekatan kolaboratif, supervisi yang diterapkan akan terasa tenang dan tidak mengandung ketegangan. Bahkan sebaliknya yang muncul adalah suasana akrab dan saling memahami antar satu dengan yang lainnya. Hal ini terjadi karena supervisor menempatkan dirinya sebagai mitra bagi guru yang disupervisi bukan sebagai arspektor yang mencari kesalahan dari guru.
Disamping itu supervisi kolaboratif memberikan ruang terbuka bagi guru sehingga guru mendapat kesempatan yang luas guna menyampaikan ide ataupun maslah-masalah yang muncul dalam proses pembelajaran. Sehingga dari diskusi yang dilakukan akan mucul ide-ide baru yang merupakan problem solving dalam problem-problem yang ditemukan dalam proses pembelajaran.
Olivia sebagaimana dikutip oleh Binti Maunah memberikan sebuah gambaran tentang perbedaan antara pendekatan supervisi pengembangan sebagai berikut.
Directive Orientation Colaborative Orientation Nondirective Orientation
Clarifying
Presenting
Demonstrating
Directing
Standartdizing
Reinforcing Listening
Clarifying
Presenting
Problem solving
Negotiating
Supervisor-initiated
Listening
Clarifying
Encouraging
Presenting
Negotiating
Teacher in tiated
C. Sasaran Pendekatan Kolaboratif
Glickman sebagaimana dikutip oleh Binti Maunah menjabarkan adanya tiga tahapan perkembangan profesional, yaitu: perkembangan profesional tingkat rendah (tahap 1), perkembanagn profesional tingkat moderat (tahap II), perkembangan profesional tingkat tinggi (tahap III), tahapan itu digunakannya untuk menetapkan pilihan pendekatan supervisi terhadap guru. Dengan demikian guru yang diduga berada dalam tahap I, supervisi yang digunakan adalah directive. Sedangkan yang telah berada pada tahap II menggunakan pendekatan kolaboratif. Untuk guru yang telah memasuki tahap III, pendekatan supervisinya adalah non-direktif (Glickman dan Gordon, 1987).
Ungkapan Glickman diatas memberikan gambaran bahwa supervisi dengan pendekatan kolaboratif tepat digunakan kepada guru yang berada pada tingkat profesional tahap II (moderat). Katagorisasi Glickman terhadap guru didasarkan atas dua aspek (unsur) penting diistilahkan dengan kepedulian, yang diklasifikasikannya atas tiga katagori kepedulian diri sendiri, siswa dan profesionalisasi : dan untuk abstraksi, dipakainya istilah kekompakan kogeritif, paduan tingkat kekompakan kogeritif dan tingkat kepedulian, yang masing-masing berkategori: rendah, sedang dan tinggi itu, selanjutnya digunakan untuk menetapkan pilihan pendekatan supervisi pengajaran.
Namun penelitian yang dilakukan oleh Ginkel (1983) menghasilkan kesimpulan yang menyatakan tidak ditemukannya hubungan antara guru dengan tingkat konseptual mereka. Pernyataan ini berbeda dengan hasil penelitian Glickman yang menyatakan bahwa tingkat konseptual sangat mempengaruhi terhadap penelitian pendekatan supervisi yang diterapkan.
Pada sisi lain pengalaman mengajar guru memiliki peranan penting dalam menetapkan supervisi. Para guru yang kurang bermotivasi dan kurang terampil memiliki kecenderungan untuk disupervisi dengan pendekatan direktif. Mereka yang telah berhasil mengembangkan kompetensi dan motivasinya cenderung lebih menyukai pendekatan kolaboratif, sedangkan para guru yang telah memiliki latar belakang pengalaman yang cukup luas, kompetensi dan motivasinya tinggi, mampu bekerja bersama atau bekerja sendiri dan mampu menemukan cara mendorong murid belajar mandiri, pendekatan yag sesuai untuk mereka adalah pendekatan non direktif (Glickman, 1985). Hasil penelitian itu ditunjang pula oleh penelitian lain, yang di kerjakan oleh Ngugi (1984) yang melaporkan penemuannya, bahwa guru-guru yang telah berpengalaman lebih menyukai disupervisi dengan menggunakan pendekatan non direktif, atau kalau boleh dianalogkan dengan perilaku kepemimpinan yang dianjurkan untuk dilakukan oleh pejabat sekarang ini di Indonesia, yaitu berkembangnya perilaku itu dan “budaya menggurui atau mengktitik”ke “ budaya mendengar.”
D. Pembinaan Guru dengan Pendekatan Kolaboratif
Nur Uhbiyati sebagaimana di kutip As’aril Muhajir menyebutkan bahwa guru/pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai makluk Allah, khalifah di muka bumi, sebagai makluk sosial dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri. Pendidik memiliki tugas dalam rangka membentuk pribadi peserta didik dan mempersiapkan mereka dalam menghadapi segala bentuk tantangan dimasa yang akan datang.
Mengingat beratnya tanggung jawab guru sebagai menyiapkan kader bangsa, negara dan agama, maka guru harus mendapatkan perhatian khusus. Perhatian ini dimaksudkan agar guru mampu melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. Dalam rangka inilah, guru harus mendapatkan pembinaan khusus agar ia memiliki kompetensi dan keprofesionalan dalam menjalankan tugasnya. Salah satu cara pembinaan guru adalah dengan menggunakan pendekatan kolaboratif.
Dengan menggunakan pendekatan ini, supervisor sebagai pembina bagi guru bertindak sebagai mitra guru. Ia siap untuk mendengar segala bentuk pengaduan guru. Ia juga memberikan keleluasaan bagi seorang guru untuk menyampaikan ide, gagasan, serta pikiran yang dimilikinya. Hal ini akan menimbulkan kesan bahwa seorang supervisor dengan pendekatan ini akan menjadi bagian dari diri guru yag tidak terpisahkan. Suasana akrab menjadi ciri khas yang mendukung terhadap kinerja supervisor dalam memahami guru yang ia hadapi.
Disisi lain supervisor harus siap memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan yang muncul dari guru. Dengan memahami keadaan guru secara mendalam, diharapkan supervisor mampu memberikan problem solving yang tepat bagi guru. Dengan pendekatan kolaboratif supervisor lebih mudah untuk mendapatkan data-data yang valid dan reliable yang menjadi titik tolak untuk melakukan follow up dalam rangka meningkatkan kualitas serta kompetensi guru sehingga ia mampu melaksanakan tugasnya secara maksimal. Pendekatan ini memberikan warna tersendiri bagi guru sehingga guru tidak merasa tertekan, namun ia merasa memiliki seorang mitra yang bisa diajak sebagai teman”curhat”
BAB III
PENUTUP
1. Pendekatan Kolaboratif adalah pendekatan yang memberikan warna kemitraan antara supervisor dan orang yang di supervisi dalam usaha untuk memperoleh pemahaman bersama tentang permasalahan yang perlu dibahas sehingga dapat diperoleh sebuah solusi yang tepat dan sesuai dengan apa yang diharapkan.
2. Pendekatan ini memiliki karakteristik: supervisor bertindak sebagai rekan kerja, kedua belah pihak berbagi kepakaran, pendekatan yang diapakai adalah pendekatan inquiri, Diskusi dilaksanakan dengan terbuka dan fleksibel serta memiliki tujuan jelas, membantu guru dan kepala sekolah berkembang menjadi tenaga-tenaga profesional melalui kegiatan-kegiatan reflektif.
3. Sasaran dari pendekatan Colaboratif adalah guru yang memiliki tingkat perkembangan profesional tingkat moderat (tahap II).
4. Pembinaan guru dengan pendekatan kolaboratif memeberikan keleluasaan bagi guru untuk mengungkapkan segala permasalahan yang dihadapinya. Pendekatan ini memandang seorang guru sebagai seorang mitra bukan sebagai orang bawahan yang senantiasa dicari-cari kesalahannya.
DATAR RUJUKAN
1. Depag RI,UU,danPP RI tentang Pendidikan, (Jakarta: Depag RI,2006)
2. Syaiful Sagala, Administrasi Pendidikan Kontemporer (Bandung: Alfabeta, 2005)
3. Binti Maunah, Diklat Supervisi Pendidikan Islam (Teori dan Praktik), (Tulungagung: STAIN, 2008)
4. Piet, A. Sahertian. Frans Mataheru, Prinsip Teknik Supervisi Pendidikan, (Surabaya, Usaha Nasional, 1981
5. As’aril Muhajir, Diktat Ilmu Jiwa Belajar (Bahasa), Tulungagung: STAIN, 2001)
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara efektif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlaq mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dengan demikian pendidikan mempunyai tujuan untuk mencetak kader-kader generasi yang memiliki kecakapan dalam bidang jasmani dan sekaligus bidang rohani.
Semakin baik pendidikan suatu bangsa, semakin baik pula kualitas bangsa itu, itulah asumsi secara umum terhadap program pendidikan suatu bangsa. Pendidikan yang maju memberikan implikasi terhadap majunya suatu bangsa. Demikian pula rendahnya kualitas pendidikan menunjukkan rendahnya kualitas suatu bangsa. Dalam pendidikan, salah satu aspek yang terpenting yang menjadi penentu keberhasilan pendidikan adalah pendidik (guru). Guru yang memiliki kompetensi memadai akan menghantarkan seorang peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Sebaliknya kompetensi yang kurang yang dimiliki seorang guru akan menghambat siswa didik dalam mencapai tujuan pendidikan. Dengan demikian seorang guru harus memiliki kompetensi yang memadai. Untuk tujuan itulah diperlukan adanya pembinaan terhadap guru. Pembinaan tersebut dimaksudkan agar guru benar-benar mampu mengembangkan dirinya dan memiliki kompetensi yang cukup untuk melaksanakan tugasnya sebagai pendidik.
Makalah ini akan membahas tentang pembinaan guru melalui pendekatan kolaboratif sebagai pengantar diskusi dalam perkuliahan Pasca Sarjana STAIN Tulungagung.
B. Batasan Masalah
Agar pembahasan makalah ini tidak melebar, maka penulis memberikan batasan pada masalah yang akan dikaji pada makalah ini. Adapun masalah yang akan dikaji pada makalah ini adalah pengertian pendekatan Collaborative, Caracteristic pendekatan Collaborative, sasaran pendekatan collaborative dan pembinaan guru dengan pendekatan Collaborative.
C. Rumusan Masalah
Sesuatu dengan batasan masalah diatas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana pengertian pendekatan kolaboratif?
2. Apa saja karakteristik pendekatan kolaboratif?
3. Siapakah yang menjadi sasaran dari pendekatan kolaboratif?
4. Bagaimanakah pembinaan guru dengan pendekatan kolaboratif?
D. Tujuan Pembatasan Masalah
1. Untuk mengetahui pengertian pendekatan kolaboratif
2. Untuk mengetahui karakteristik pendekatan kolaboratif
3. Untuk mengetahui sasaran dari pendekatan kolaboratif
4. Untuk mengetahui pembinaan guru dengan pendekatan kolaboratif
E. Manfaat Penelitan
a. Secara teoritis
Penelitian ini bermanfaat bagi pengembangan khazanah ilmu pengetahuan khususnya yang berhubungan dengan supervisi terutama dalam masalah pembinaan guru dengan pendekatan Colaborative.
b. Secara Praktis
a. Bagi para peneliti selanjutnya maka penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan rujukan ataupun pijakan dalam melakukan penelitian selanjutnya.
b. Bagi kalangan akademis, maka makalah ini berguna sebagai bahan referensi dalam aktifitas akademik yang diselenggarakan yang berhubungan dengan pendekatan colaborative.
F. Penegasan Istilah
a. Teoritis
Pembinaan adalah proses, cara, pembuatan membina (negara dsb), pembaharuan, penyempurnaan, usaha, tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk memperoleh hasil yang lebih baik.
Guru adalah orang yang pekerjaannya ( mata pencahariannnya, profesinya) mengajar.
Pendekatan adalah proses, cara, perbuatan mendekati ( hendak berdamai, bersahabat dsb), usaha dalam rangka aktifitas penelitian untuk mengadakan hubungan dengan orang yang diteliti, metode untuk mencapai pengertian tentang maslah penelitian, rancangan.
Colaborative adalah (perbuatan) kerjasama (dengan musuh).
b. Operasional
Dengan demikian maka Pembinaan guru dengan pendekatan kolaboratif mengandung arti usaha untuk melakukan pembinaan/penyempurnaan terhadap seorang guru dengan cara melakukan usaha pendekatan dan menjalin kerjasama dengan guru agar dicapai tujuan bersama yang diharapkan dalam upaya untuk mengaktifkan dan mengefisienkan kegiatan pembelajaran yang ada.
G. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis peneitian dalam penelitian ini adalah study kepustakaan yaitu penelitian akademik yang tujuan utamanya adalah mengembangkan aspek teoritis maupun aspek manfaat praktis.
2. Obyek Penelitian
Yang menjadi obyek penelitian dalam penelitian ini adalah pembinaan yang dilaksanakan oleh supervisor dengan menggnakan pendekatan collaborative. Hal ini sengaja dilakukan karena dilapagan banyak terjadi penyalahgunaan wewenang yang dilakukan oleh supervisor . Bahkan seringkali seorang supervisor bertindak sebagai inspektor yang hanya bertindak untuk mencari-cari kesalahan dari orang yang disupervisi. Akibatnya banyak terjadi kecemasan dan kekkawatiran yang dirasakan oleh para guru khususnya.
3. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini di bagi menjadi dua yaitu sumber data primer dan sumber data skunder. Sumber data primer disini meliputi berbagai macam informasi baik yang berupa orang maupun buku, literatur, dokumen, serta data-data lain yang langsung memiliki keterkaitan dengan pembahasan penelitian ini. Sedangkan sumber data sekunder adalah segala sesuatu yang secara langsung maupun tidak langsung mendukung terhadap penelitian ini. Sumber data ini juga meliputi arsip, buku, majalah, dokumen-dokumen ataupun artikel-artikel yang bisa mendukung penelitian ini.
4. Metode Analisis Data
Adapun metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode:
1. Deskriptif : Adalah sebuah metode yang bersifat menggambarkan / menguraikan sesuatu hal menurut apa adanya.
2. Induktif : Adalah sebuah pola pendekatan yang berasal dari hal yang sifatnya spesifik dan realitas sebagai langkah awal, kemudian menuju pola cakupan yang lebih umum atau luas untuk kemudian mencapai bentuk kesimpulan.
3. Deduktif : Adalah suatu bentuk pendekatan pemikiran yang mengutamakan langkah awal dari pengetahuan umum yang telah di verifikasikan yang kemudian akan memperoleh bentuk kesimpulan yang sifatnya lebih spesifik.
H. Sistematika Pembahasan
Untuk memudahkan dalam penelitian ini, maka sistematika pembahasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Bab I : Pendahuluan, meliputi latar belakang, Batasan masalah, rumusan masalah, Tujuan Penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika pembahasan
Bab II : Pembahasan meliputi pengertian pendekatan kolaboratif, karakteristik pendekatan kolaboratif, sasaran pendekatan kolaboratif, pembinaan guru dengan pendekatan kolaboratif.
Bab III : Penutup, meliputi penutup dan daftar rujukan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pendekatan Kolaboratif
Sebelum membahas lebih jauh tentang pendekatan Colaboratif, ada baiknya dipahami dahulu apa yang dimaksud dengan pendekatan Colaborative. Hal ini dimaksudkan dalam memahami pendekataan ini sehingga dapat dihindari berbagai pembahasan yang kurang penting dalam bab ini.
Pendekatan Kolaboratif adalah pendekatan yang memberi warna kemitraan antara supervisor dan orang yang memberi supervisi. Pendekatan ini ditempuh sebagai bentuk upaya dalam memahami orang yang disupervisi agar dalam melakukan supervisi dapat diperoleh hasil yang memuaskan sebagaimana yang diharapkan. Selain itu pendekatan ini juga mempunyai beberapa arti seperti misalnya.
1. Proses, perubahan, cara mendekati.
2. Usaha dalam rangka aktifitas penelitian untuk mengadakan hubungan dengan orang yang diteliti, atau metode-metode untuk mencapai pengertian tentang masalah penelitian seterusnya.
Dari pengertian yang pertama dapat dipahami bahwa pendekatan kolaboratif merupakan cara yang dipakai oleh seorang supervisor untuk mendekati orang yang disupervisi agar terjadi hubungan yang baik antara keduanya, sehingga dimungkinkan data yang diperoleh objektif serta mampu memberikan solusi bagi permasalahan yang muncul secara tepat.
Menurut Binti Maunah pengertian pertama dapat diterapkan dalam supervisi klinis, terutama jika dikaitkan dengan cara mendekati materi yang akan dibicarakan dalam pertemuan sesudah supervisi dilaksanakan. Hal ini akan mewarnai bentuk relasi antara supervisor dengan orang yang disupervisi. Disamping itu pengertian kedua juga dapat diterapkan jika yang di supervisi sama-sama ingin memahami permasalahan yang perlu dibahas.
Dari penerapan diatas dapat dipahami bahwa pendekatan Kolaboratif adalah pendekatan yang memberikan warna kemitraan antara supervisor dan orang yang disupervisi dalam usaha untuk memperoleh pemahaman bersama tentang permasalahan yang perlu dibahas sehingga dapat diperoleh sebuah solusi yang tepat dan sesuai dengan apa yang diharapkan.
B. Karakteristik pendekatan Kolaboratif
Sebagaimana telah diketahui bahwa supervisi adalah suatu teknik pelayanan yang tujuan utamanya mempelajari dan memperbaiki secara bersama-sama. Faktor – faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Kegiatan ini diarahkan untuk membantu kinerja guru dalam melaksanakan tugasnya agar dapat mencapai target yang diinginkan.
Salah satu pendekatan dalam melaksanakan supevisi adalah pendekatan kolaboratif. Pendekatan ini memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Supervisor bertindak sebagai mitra atau rekan kerja.
2. Kedua belah pihak berbagi kepakaran.
3. Pendekatan yang digunakan merupakan pendekatan inkuiri yakni, saya mencoba memahami apa yang dilakukan oleh orang yang saya amati.
4. Diskusi sebagai langkah lanjut dari pengalaman bersifat terbuka atau fleksibel dan tujuannya jelas.
5. Tujuan supervisi ialah membantu guru dan kepala sekolah berkembang menjadi tenaga-tenaga profesional melalui kegiatan-kegiatan reflektif.
Dengan memahami karakteristik diatas dapat diilustrasikan bahwa dengan pendekatan kolaboratif, supervisi yang diterapkan akan terasa tenang dan tidak mengandung ketegangan. Bahkan sebaliknya yang muncul adalah suasana akrab dan saling memahami antar satu dengan yang lainnya. Hal ini terjadi karena supervisor menempatkan dirinya sebagai mitra bagi guru yang disupervisi bukan sebagai arspektor yang mencari kesalahan dari guru.
Disamping itu supervisi kolaboratif memberikan ruang terbuka bagi guru sehingga guru mendapat kesempatan yang luas guna menyampaikan ide ataupun maslah-masalah yang muncul dalam proses pembelajaran. Sehingga dari diskusi yang dilakukan akan mucul ide-ide baru yang merupakan problem solving dalam problem-problem yang ditemukan dalam proses pembelajaran.
Olivia sebagaimana dikutip oleh Binti Maunah memberikan sebuah gambaran tentang perbedaan antara pendekatan supervisi pengembangan sebagai berikut.
Directive Orientation Colaborative Orientation Nondirective Orientation
Clarifying
Presenting
Demonstrating
Directing
Standartdizing
Reinforcing Listening
Clarifying
Presenting
Problem solving
Negotiating
Supervisor-initiated
Listening
Clarifying
Encouraging
Presenting
Negotiating
Teacher in tiated
C. Sasaran Pendekatan Kolaboratif
Glickman sebagaimana dikutip oleh Binti Maunah menjabarkan adanya tiga tahapan perkembangan profesional, yaitu: perkembangan profesional tingkat rendah (tahap 1), perkembanagn profesional tingkat moderat (tahap II), perkembangan profesional tingkat tinggi (tahap III), tahapan itu digunakannya untuk menetapkan pilihan pendekatan supervisi terhadap guru. Dengan demikian guru yang diduga berada dalam tahap I, supervisi yang digunakan adalah directive. Sedangkan yang telah berada pada tahap II menggunakan pendekatan kolaboratif. Untuk guru yang telah memasuki tahap III, pendekatan supervisinya adalah non-direktif (Glickman dan Gordon, 1987).
Ungkapan Glickman diatas memberikan gambaran bahwa supervisi dengan pendekatan kolaboratif tepat digunakan kepada guru yang berada pada tingkat profesional tahap II (moderat). Katagorisasi Glickman terhadap guru didasarkan atas dua aspek (unsur) penting diistilahkan dengan kepedulian, yang diklasifikasikannya atas tiga katagori kepedulian diri sendiri, siswa dan profesionalisasi : dan untuk abstraksi, dipakainya istilah kekompakan kogeritif, paduan tingkat kekompakan kogeritif dan tingkat kepedulian, yang masing-masing berkategori: rendah, sedang dan tinggi itu, selanjutnya digunakan untuk menetapkan pilihan pendekatan supervisi pengajaran.
Namun penelitian yang dilakukan oleh Ginkel (1983) menghasilkan kesimpulan yang menyatakan tidak ditemukannya hubungan antara guru dengan tingkat konseptual mereka. Pernyataan ini berbeda dengan hasil penelitian Glickman yang menyatakan bahwa tingkat konseptual sangat mempengaruhi terhadap penelitian pendekatan supervisi yang diterapkan.
Pada sisi lain pengalaman mengajar guru memiliki peranan penting dalam menetapkan supervisi. Para guru yang kurang bermotivasi dan kurang terampil memiliki kecenderungan untuk disupervisi dengan pendekatan direktif. Mereka yang telah berhasil mengembangkan kompetensi dan motivasinya cenderung lebih menyukai pendekatan kolaboratif, sedangkan para guru yang telah memiliki latar belakang pengalaman yang cukup luas, kompetensi dan motivasinya tinggi, mampu bekerja bersama atau bekerja sendiri dan mampu menemukan cara mendorong murid belajar mandiri, pendekatan yag sesuai untuk mereka adalah pendekatan non direktif (Glickman, 1985). Hasil penelitian itu ditunjang pula oleh penelitian lain, yang di kerjakan oleh Ngugi (1984) yang melaporkan penemuannya, bahwa guru-guru yang telah berpengalaman lebih menyukai disupervisi dengan menggunakan pendekatan non direktif, atau kalau boleh dianalogkan dengan perilaku kepemimpinan yang dianjurkan untuk dilakukan oleh pejabat sekarang ini di Indonesia, yaitu berkembangnya perilaku itu dan “budaya menggurui atau mengktitik”ke “ budaya mendengar.”
D. Pembinaan Guru dengan Pendekatan Kolaboratif
Nur Uhbiyati sebagaimana di kutip As’aril Muhajir menyebutkan bahwa guru/pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar mencapai kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai makluk Allah, khalifah di muka bumi, sebagai makluk sosial dan sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri. Pendidik memiliki tugas dalam rangka membentuk pribadi peserta didik dan mempersiapkan mereka dalam menghadapi segala bentuk tantangan dimasa yang akan datang.
Mengingat beratnya tanggung jawab guru sebagai menyiapkan kader bangsa, negara dan agama, maka guru harus mendapatkan perhatian khusus. Perhatian ini dimaksudkan agar guru mampu melaksanakan tugasnya sebagai pendidik. Dalam rangka inilah, guru harus mendapatkan pembinaan khusus agar ia memiliki kompetensi dan keprofesionalan dalam menjalankan tugasnya. Salah satu cara pembinaan guru adalah dengan menggunakan pendekatan kolaboratif.
Dengan menggunakan pendekatan ini, supervisor sebagai pembina bagi guru bertindak sebagai mitra guru. Ia siap untuk mendengar segala bentuk pengaduan guru. Ia juga memberikan keleluasaan bagi seorang guru untuk menyampaikan ide, gagasan, serta pikiran yang dimilikinya. Hal ini akan menimbulkan kesan bahwa seorang supervisor dengan pendekatan ini akan menjadi bagian dari diri guru yag tidak terpisahkan. Suasana akrab menjadi ciri khas yang mendukung terhadap kinerja supervisor dalam memahami guru yang ia hadapi.
Disisi lain supervisor harus siap memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan yang muncul dari guru. Dengan memahami keadaan guru secara mendalam, diharapkan supervisor mampu memberikan problem solving yang tepat bagi guru. Dengan pendekatan kolaboratif supervisor lebih mudah untuk mendapatkan data-data yang valid dan reliable yang menjadi titik tolak untuk melakukan follow up dalam rangka meningkatkan kualitas serta kompetensi guru sehingga ia mampu melaksanakan tugasnya secara maksimal. Pendekatan ini memberikan warna tersendiri bagi guru sehingga guru tidak merasa tertekan, namun ia merasa memiliki seorang mitra yang bisa diajak sebagai teman”curhat”
BAB III
PENUTUP
1. Pendekatan Kolaboratif adalah pendekatan yang memberikan warna kemitraan antara supervisor dan orang yang di supervisi dalam usaha untuk memperoleh pemahaman bersama tentang permasalahan yang perlu dibahas sehingga dapat diperoleh sebuah solusi yang tepat dan sesuai dengan apa yang diharapkan.
2. Pendekatan ini memiliki karakteristik: supervisor bertindak sebagai rekan kerja, kedua belah pihak berbagi kepakaran, pendekatan yang diapakai adalah pendekatan inquiri, Diskusi dilaksanakan dengan terbuka dan fleksibel serta memiliki tujuan jelas, membantu guru dan kepala sekolah berkembang menjadi tenaga-tenaga profesional melalui kegiatan-kegiatan reflektif.
3. Sasaran dari pendekatan Colaboratif adalah guru yang memiliki tingkat perkembangan profesional tingkat moderat (tahap II).
4. Pembinaan guru dengan pendekatan kolaboratif memeberikan keleluasaan bagi guru untuk mengungkapkan segala permasalahan yang dihadapinya. Pendekatan ini memandang seorang guru sebagai seorang mitra bukan sebagai orang bawahan yang senantiasa dicari-cari kesalahannya.
DATAR RUJUKAN
1. Depag RI,UU,danPP RI tentang Pendidikan, (Jakarta: Depag RI,2006)
2. Syaiful Sagala, Administrasi Pendidikan Kontemporer (Bandung: Alfabeta, 2005)
3. Binti Maunah, Diklat Supervisi Pendidikan Islam (Teori dan Praktik), (Tulungagung: STAIN, 2008)
4. Piet, A. Sahertian. Frans Mataheru, Prinsip Teknik Supervisi Pendidikan, (Surabaya, Usaha Nasional, 1981
5. As’aril Muhajir, Diktat Ilmu Jiwa Belajar (Bahasa), Tulungagung: STAIN, 2001)
Langganan:
Postingan (Atom)