Tampilkan postingan dengan label TENTANG WAHIDIYAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TENTANG WAHIDIYAH. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Desember 2010

Mujahadah Kubro Dipondok Pesantren Kedunglo Al Munadhdharah Bandar Lor Mojoroto Kediri 23 – 12 – 2010

Pondok pesantren Kedunglo Kediri bulan ini memiliki hajatan besar yaitu resepsi mujahadah kubro. Mujahadah kubro adalah acara sremonial yang dilaksanakan oleh seluruh pengamal shalawat wahidiyah diseluruh nusantara bahkan secara internasional. Acara ini diselenggarakan dua kali dalam setahun. Tepatnya pada setiap bulan muharam dan bulan rajab yaitu pada hari jum'at pertama setelah tanggal lima belas muharam dan rajab. Acara ini diselenggarakan di pusat lahirnya shalawat wahidiyah yakni pondok Pesantren Kedunglo Al Munadhdharah desa Bandar Lor kecamatan Mojoroto Kota Madya Kediri Jawa Timur Indonesia.
Acara mujahadah kubro yang digelar pada bulan Muharam ini dimaksudkan untuk kembali mengenang ulang tahun lahirnya shalawat wahidiyah sekaligus haul Mbah K.H.Muhamad Ma'roef Q.S. wa R.A. Sedangkan mujahadah yang diselenggarakan pada bulan Rajab adalah untuk memperingati peristiwa isra' mi'raj rasulullah SAW sekaligus haul Mbah K.H. Abdoel Madjid Ma'roef Q.S. wa R.A.
K.H. Ma'roef Q.S. wa R.A.adalah pendiri pondok pesantren Kedunglo tempat lahirnya shalawat wahidiyah dan ajarannya. Beliau adalah seorang 'ulama' sepuh pada masa penjajahan. Beliau ikut aktif dalam mengambil kemerdekaan Indonesia kala itu. Beliau juga terkenal sebagai tokoh agama yang sangat disegani di kediri. Pada masa hidupnya beliau aktif di organisasi NU dan sempat menjabat sebagai majlis syuro. Sedangkan K.H Abdoel Madjid Ma'roef Q.S. wa R.A. adalah putra Mbah Ma'roef. Beliau ikut serta dibawa haji disaat masih bayi. Di tanah suci ini pada setiap tengah malam Mbah Ma'roef senantiasa membawa putranya ketalang besi dibawah ka'bah. Disana Mbah Ma'roef senantiasa berdo'a dan meminta kepada Allah SWT agar putranya kelak dijadikan sebagai seorang yang shalaih, berguna dan bermanfaat bagi umat dan masyarakat.
Pasca wafatnya Mbah Ma'roef K.H. Abdoel Madjid Ma'roef Q.S. wa R.A. memperbanyak riyadlah dan mujahadah karena merasa prihatin terhadap nasib dan kondisi umat masyarakat dikala itu yang jauh meninggalkan Allah wa rasulihi SAW. Beliau mendekatkan diri kepada Allah SWT dan senantiasa puasa disiang harinya. Tidak henti – hentinya beliau memutar tasbih sambil membaca do'a kepada Allah agar segera diberi hidayah untuk bisa menyelamatkan umat dan masyarakat. Amalan yang paling banyak diamalkan Mbah Yahi kala itu adalah amalan shalawat, diantaranya shalawat nariyah, munjiyat, masisiyah, baedlawi dan lain sebagainya. Beliau sudah terbiasa mengkhatamkan shalawat nariyah sebanyak 4444 dalam satu jam.
Ditengah – tengah riyadlahnya inilah mbah yahi mendapat alamat ghaib yang intinya adalah agar beliau segera menyelamatkan umat dan masyarakat. Alamat ini terjadi beberapa kali dan pada puncaknya pada sekitar tahun 1963 beliau mendapat alamat lagi. Alamat yang ini lebih keras dan bernada ancaman apabila beliau tidak segera bertindak untuk menyelamatkan umat dan masyarakat. Pada saat itulah dalam kondisi hati yang senantiasa tawajuh dihadapan Allah SWT dan hati yang syauq kepada Allah dan rasulullah SAW lahirlah dari kandungan beliau shalawat yang pertama dari rangkaian shalawat wahidiyah yaitu shalawat ma'rifat yang isinya adalah memohon kepada Allah SWT agar ditenggelamkan kedalam samudera tauhidnya Allah sehingga tidak bisa melihat, mendengar, menemukan,merasakan, bergerak, dan diam kecuali diliputi dengan kesadaran kepada Allah SWT. Shalawat inilah yang pada akhirnya dikenal sebagai shalawat wahidiyah yang mempunyai mafaat dan faedah untuk membersihkan hati dan ma'rifat billah.
Pelaksanaan mujahadah kubro ini dibagi menjadi lima gelombang. Gelombang pertama dilaksanakan pada malam jum'at. Gelombang pertama ini disponsori oleh PW pusat dan santriwan santriwati pondok. Gelombang kedua dilaksanakan pada malam sabtu. Gelombang ini disponsori oleh jama'ah ibu – ibu. Seluruh petugas acara sampai pengisi kuliah dipercayakan kepada ibu –ibu. Disusul selanjutnya gelombang remaja yang dilaksanakan pada malam minggu. Semua yang bertugas adalah dari remaja. Dilanjutkan dengan gelombang kanak – kanak yang dilaksanakan pada hari minggu pagi. Yang bertugas pada acara inipun diambil dari kanak – kanak wahidiyah. Puncak acara ini adalah pada malam senin atau malam terakhir yakni gelombang bapak – bapak. Biasanya sepanjang jalan dari perempatan Bandar Kidul sampai Bandar lor penuh sesak dipadati mujahidin dan mujahidat dari antero nusantara. Ada yang berasal dari jawa, bali, sumatera, flores, NTT, Kalimantan, sulawesi, papua, bahkan dari negeri manca. Para petugas acarapun juga berasal dari berbagai daerah di belahan nusantara.
Sebelum acara mujahadah kubro dilaksanakan, biasanya seluruh pengamal shalawat wahidiyah dimanapun berada menyongsong acara ini dengan mujahadah. Sebelum kubro ada penyongsongan dengan mujahadah 40-an. Yaitu mujahadah selama 40 hari berturut – turut yang dilaksanakan sesuai dengan bilangan yang ada dalam lembaran shalawat wahidiyah. Setelah itu dilaksanakan mujahadah nonstop selama beberapa hari sampai selesainnya acara pada malam senin. Selain itu mereka yang bertugas sebagai security diharuskan melaksanakan mujahadah keamanan untuk mempersiapkan hati dan bathin mereka dalam mengamankan jalanya mujahadah kubro. Tidak hanya berhenti disitu petugas pentas yang tampil dalam acara seremonial inipun diharuskan mempersiapkan diri secara maksimal baik dhahir maupun bathin. Selain mereka mempersiapkan diri dengan fisik mereka, merekapun harus mempersiapkan diri dengan mujahadah penyongsongan yang biasanya dengan bilangan peningkatan seribu atau limaribuan. Hal inilah yang mungkin akan sangat membedakan acara – acara yang digelar dalam kegiatan mujahadah shalawat wahidiyah dengan kegiatan – kegiatan yang lain.
Kalau kegiatan – kegiatan diluar wahidiyah seringkali ada guyon dan humor, maka di dalam acara – acara wahidiyah nyaris tidak pernah dijumpai humor. Acara wahidiyah senantiasa diliputi rasa khusyu' haru dan syahdu. Bahkan tidak jarang mujahidin dan mujahidat menangis ditengah – tengah mujahadah. Isak tangis mujahidin dan mujahidat seringkali terdengar disaat – saat acara sedang berlangsung. Hal ini jarang terjadi didalam acara ceramah dan pengajian – pengajian diluar wahidiyah.
Mujahadah kubro memang sebuah sarana audiensi kepada Allah SWT wa rasulihi SAW. Oleh sebab itulah pada setiap acara beliau Romo K.H. Abdoel Lathief Madjid R.A. senantiasa mengingatkan kepada para pengamal agar disaat berada di kedunglo jangan sampai ada yang ingat kepada selain Allah. Artinya masih memikirkan dunia yang ending – endingnya akan membuat mereka lupa akan tujuan awal ke kedunglo hingga pulang dari kedunglo dengan hampa tanpa membawa hasil apapun.
Kali ini mujahadah kubro akan dilaksanakan besok pada malam jum'at tanggal 23 Desember sampai senin tanggal 27 Desember 2010. Bagi para muslimin muslimat yang ingin lebih mengenal tentang shalawat wahidiyah dan ajarannya bisa hadir di acara mujahadah kubro. Namun demikian yang ingin hadir disarankan dan dianjurkan untuk mempersiapkan hati dan bathinnya untuk benar – benar mencari hidayah Allah SWT bukan untuk maksud lain yang tidak baik. Dan bagi para pengamal shalawat wahidiyah dimanapun berada mari hadir di acara yang penuh barakah ini. Dan akhirnya saya ucapkan :

"SELAMAT MENGIKUTI MUJAHADAH KUBRO DALAM RANGKA HUT SHALAWAT WAHIDIYAH - 47 DAN HAUL MBAH K.H. MOEHAMAD MA'ROEF Q.S. WA R.A."

Semoga kita benar – benar dapat mengambil hikmah, barokah dan manfaat yang sebesar – besarnya dari acara ini untuk memperjuangkan umat dan masyarakat sadar kembali "FAFIRRUU ILALLAAH WA RASUULIHI SAW " amin.


'Allahu A'lam bi Al Shawab….

Jumat, 24 April 2009

LAHIRNYA SHALAWAT WAHIDIYAH

Oktober 10, 2008Posted by kris1bangun in agama. trackback
Pada awal bulan Juli 1959. Hadlrotus Syekh Al-Mukarrom Romo KH Abdoel Madjid Ma’roef, Pengasuh Pesantren Kedunglo, Desa Bandar Lor, Kota Kediri, senantiasa Riyadloh (bermunajat) kepada Allah SWT. Karena waktu itu beliau melihat masyarakatnya mengalami kerusakan mental yang sangat hebat dan sudah diambang pintu kehancuran sehingga tidak mau saling memperhatikan masalah kesadaran kepada Allah wa Rasuulihi Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam. Dan selang beberapa tahun Beliau menerima “alamat ghoib”-istilah Beliau - dalam keadaan terjaga dan sadar, bukan dalam mimpi. Maksud dan isi alamat ghoib tersebut kurang lebih: “supaya ikut berjuang memperbaiki mental masyarakat lewat jalan bathiniyah”. Dan ketika itu beliau sangat gemetar sekali. Beliau selama tiga kali mengalami peristiwa seperti diatas yakni Beliau Rasulullah Sholallohu ‘Alaihi wa Sallam datang dihadapan beliau Al-Mukarrom Romo KH Abdoel Madjid Ma’roef dan memberi peringatan seperti isi alamat ghoib tersebut. Dan yang terakhir kalinya tersebut Rasulullah mengancam kepada Syekh Al-Mukarrom Romo KH Abdoel Madjid Ma’roef akan dilaknat Allah apabila tidak melaksanakan perintah tersebut. Kemudian Beliau Syekh Al-Mukarrom Romo KH Abdoel Madjid Ma’roef tersungkur didalam masjid menangis kemudian sambil memegang pena diatas kertas. Kemudian pena tersebut bergerak sendiri dan menuliskan kurang lebih “ALLOOHUMMA KAMAA ANTA AHLUH, SHOLLI WASALLIM WABAARIK ‘ALAA SAYYIDINAA WAMAULAANAA, WASYAFII’INAA, WAHABIIBINAA, WAQURROTI A’YUNINAA MUHAMMADIN SHOLLALLOOHU ‘ALAIHI WASALLAMA KAMAA HUWA AHLUH…………..dst. Kemudian Mbah Yahi memperkenalkan kepada para Ulamma di sekelilingnya agar mencoba tulisan tersebut. Dan Alhamdulillah dikaruniai manfaat dan faedah. Kemudian Mbah Yahi menambahkan Shalawat tersebut dari Al Qur’an. Dan lama sebelum menjadi lembaran Shalawat Wahidiyah dibutuhkan waktu selama 17 tahun lebih beberapa bulan. Dan Beliau berpesan agar diamalkan sesuai tuntunannya, dan beliau yang akan bertanggung jawab tentang Shalawat Wahidiyah. Dan bagi yang tidak mau mengamalkannya juga tidak apa – apa (keluar dari perjuangan Wahidiyah). Demikian kurang lebihnya sedikit pengalaman Shalawat Wahidiyah. Jadi sekarang tinggal yang kita mau apa tidak mengamalkannya karena kita tinggal memetik buahnya saja. Jadi cukup Mbah Yahi Muallif Sholawat Wahidiyah yang merasakan pahit dan getirnya yang memperjuangakan amalan Sholawat Wahidiyah demi kesadaran umat masyarakat di akhir zaman yang telah jauh dalam kelalaian dan sudah diambang pintu kehancuran.

BIOGRAFI MU'ALLIF SHALAWAT WAHIDIYAH

BACALAH SELALU NIDA' " YAA SAYYIDII YAA RASUULALLAH " DIMANAPUN DAN KAPANPUN ANDA BERADA
TENTANG WAHIDIYAH
Perjuangan untuk Kesadaran & Kesadaran umtuk Perjuangan

I. Kelahiran dan masa Kanak-kanak
KH. Abdul Madjid QS. Wa RA. Lahir dari pernikahan Syekh Mohammad Ma’roef pendiri pondok pesantren Kedunglo dengan Nyai Hasanah putri Kyai Sholeh Banjar Melati Kediri.
KH. Abdul Madjid QS. Wa RA, lahir pada hari Jum’at Wage malam 29 Ramadhan 1337 H atau 20 Oktober 1918 sebagai putra ke tujuh dari sembilan bersaudara. Beliau lahir di tengah pesantren yang luas dan sepi dikelilingi rawa-rawa dengan jumlah santri yang tidak pernah lebih dari empat puluh orang yaitu KEDUNGLO.
Ketika masih baru berusia dua tahun oleh bapak ibunya, beliau dibawa pergi haji ke Mekkah Al Mukaromah. Di Mekkah, setiap memasuki jam dua belas malam Kyai Ma’roef selalu menggendong beliau ke Baitulloh dibawah Talang Mas. Di sana Kyai Ma’roef berdoa agar bayi yang berada dalam gendongannya kelak menjadi orang besar yang sholeh hatinya. Begitu juga di tampat-tempat mustajabah lainnya. Kyai Ma’roef selalu mendoakan beliau agar menjadi orang yang sholeh.
Konon selama berada di Mekkah, beliau juga di khitan disana dan akan diambil anak oleh salah seorang ulama Arab dan disetujui oleh Kyai Ma’roef, tatapi Nyai Hasanah keberatan sehingga beliau tetap dalam asuhan kedua orang tuanya.
Cerita bahwa beliau akan diangkat sebagai anak oleh ulama Mekkah memunculkan sebuah ungkapan “Kalau bukan karena Kyai Madjid maka Sholawat Wahidiyah tidak akan lahir, dan kalau bukan karena Nyai Hasanah Sholawat Wahidiyah tidak akan lahir di bumi Kedunglo”.
Sepulang dari Mekkah, muncul kebiasaan unik pada diri beliau, Beliau yang masih dalam usia tiga tahun (balita), hampir di setiap kesempatan berkata, “Qul dawuha siro Muhammad” sambil meletakkan kedua tangannya diatas kepala. Kebiasaan semacam itu terus berlangsung hingga beliau memasuki usia tujuh tahun.
Kebiasaan lain beliau semasa kanak-kanak adalah suka menyendiri, kurang suka bergaul dan sangat pendiam, beliau hanya mau bermain dengan mbak Ayunya Romlah dan mbak Ayunya ini pula yang mengajari beliau baca tulis Al qur’an untuk pertama kali.
Sifat pendiam dan tidak suka memamerkan keistimewaan yang dimiliki terus dibawa beliau hingga memasuki usia remaja. Karena sifat pendiam beliau inilah hingga tidak ada yang tahu keistimewaan-keistimewaan beliau di masa kanak-kanak dan remajanya.
Walaupun secara lahiriyah tidak tampak istimewa dibanding dengan Gus Malik adiknya yang pandai dan sering menampakkan kekeramatannya. Dan Gus Malik pula yang bertindak sebagai wakil ayahnya apabila Kyai Ma’roef tidak ada atau sedang berhalangan, hingga tidak sedikit yang menyangka bahwa Gus Malik lah calon penerus Kyai Ma’roef. Akan tetapi pada hakikatnya, Kyai Ma’roef telah mempersiapkan Agus Madjid sebagai penggantinya sejak beliau baru di lahirkan. Terbukti, meski masih berusia dua tahun, ayahnya telah membawa pergi haji. Padahal kita semua tahu bagaimana kondisi transportasi dan akomodasi jamaah haji di tahun 1920-an. Sungguh sulit, penuh rintangan dan melelahkan belum lagi kondisi cuaca alam tanah Arab yang berbeda jauh dari kondisi di Indonesia, dan itu ditempuh berbulan-bulan lamanya.
Bukti lain bahwa beliau dipersiapkan sebagai calon pengganti ayahnya, adalah setiap mendekati bulan haji. Kyai Ma’roef selalu kedatangan tamu dari kalangan Sayyid dan Sayyidah dari jazirah Arab. Saat itulah, sambil menggendong Agus Madjid, Nyai Hasanah berkata kepada tamunya,”Niki ndoro Sayyid yugo kulo njenengan suwuk, dados tiyang ingkang sholeh atine.” (ini tuan Sayyid, doakan anak saya agar menjadi orang yang sholeh hatinya).
Pernah suatu hari saat Kyai Ma’roef sedang bepergian, datang seorang Habib hendak bersilahturrahmi. Karena Kyai Ma’roef tidak ada, si tamu minta dipanggilkan Agus Madjid katanya mau didoakan. Karena Agus Madjid sedang bermain dan belum mandi, maka abdi dalem membawa Gus Malik yang sudah rapi untuk menemui tamu tersebut. “Wah, ini bukan Agus Madjid, tolong bawa Agus Madjid kemari!” kata si habib kepada abdi dalem.
II. Pada Masa Remaja
Memasuki usia sekolah, beliau sekolah di Madrasah Ibtida’iyah namun hanya sampai kelas dua. Selanjutnya, Kyai Ma’roef mengantar beliau mondok ke Jamsaren Solo pada Kyai Abu Amar. Genap tujuh hari di Jamsaren. Beliau dipanggil gurunya disuruh kembali ke Kedunglo “Wis Gus panjenengan kondur!”, sambil dititipi surat agar disampaikan kepada ayahnya. Beliau menuruti perintah Kyai Abu Amar meski dengan pikiran penuh tanda tanya kembali ke Kediri. Setiba di rumah, ternyata ayahnya yang mengantarkan beliau mondok masih belum kembali sementara yang diantarkan sudah kembali.
Terdorong akan jiwa muda yang ingin menimba ilmu pengetahuan. Beliau kemudian mondok ke Mojosari Loceret Nganjuk. Namun setelah hari ke tujuh beliau dipanggil Kyai Zainudin gurunya. “Gus sampeyan sampun cukup, mboten usah mondok kundor mawon, wonten dalem kemawon”. (Gus anda sudah cukup, tidak usah mondok pulang saja, di rumah saja). Beliau pun kembali pulang ke Kediri dan matur kepada ayahnya kalau gurunya tidak bersedia memberinya pelajaran.
“Wis kowe tak wulang dewe, sak wulan podho karo sewu wulan”. (Kalau begitu kamu saya ajari sendiri, satu bulan sama dengan seribu bulan). Ujar Kyai Ma’roef.
Maka setelah empat belas hari mondok di Jamsaren dan Mojosari, gurunya adalah ayahnya sendiri Kyai Ma’roef yang telah mewarisi ilmu Kyai Kholil dari Bangkalan. Oleh ayahnya setiap selesai sholat Maghrib beliau diajari aneka macam ilmu yang diajarkan dipondok pesantren maupun ilmu yang tidak diajarkan di pondok pesantren. Sehingga Kyai Ma’roef pernah berkata kepada adik Gus Madjid “Madjid itu tidak kalah dengan anak pondokan”.
Tak heran kalau pada akhirnya beliau tumbuh sebagai pemuda yang sangat alim dan wara’. Ibarat padi semakin tinggi ilmunya beliau semakin tawadhu dan pendiam sehingga siapapun tidak pernah menyangka kalau di balik kediamannya tersimpan segudang ilmu pengetahuan dan sejuta keistimewaan. Tapi, itulah keistimewaan beliau yang tidak pernah menunjukkan keistimewaan dan karomah-karomahnya kepada sesamanya.
III. Masa Dewasa
a. Pernikahan
Ketika berusia 27 tahun dan hampir menguasai seluruh ilmu ayahnya, beliau semakin tampak dewasa dan matang. Tidaklah heran jika banyak gadis yang mengidamkan beliau. Karena disamping beliau dikenal sebagai putra kyai yang masyur dan makbul doanya, beliau adalah sosok pemuda alim berwajah tampan nan rupawan bagaikan rembulan.
Namun dari sekian gadis, pitri-putri yang mendambakan dipersunting beliau, akhirnya pilihannya jatuh pada gadis bernama Shofiyah yang baru berusia 16 tahun putri K. Moh. Hamzah dengan Umi Kulsum, buyut KH. Mansyur pendiri kota Tulung Agung yang mendapat tanah perdikan dari Sultan Hamengkubuwono II karena telah berhasil mengeringkan sumber Tulung Agung dan kini menjadi alun-alun kota Tulung Agung.
Semula, beliau dijodohkan dengan sepupunya sendiri yaitu “Nyai Zainap” putri KH. Abdul Karim Manaf dari Lirboyo (yang akhirnya dinikahi oleh KH. Mahrus Lirboyo). Tetapi saat ditawari akan dinikahkan dengan saudara sepupunya yang cantik dan pintar itu beliau hanya diam saja. Meski tidak mendapat jawaban yang pasti dari beliau, antar pihak Kedunglo dan Lirboyo sepakat akan menikahkan keduanya.
Kemudian diselenggarakan upacara akad nikah putra dan putri kyai yang masih kerabat dekat dan sama-sama pernah menjadi santri Kyai Kholil Bangkalan ini, dengan menyembelih lima ekor kambing.
Tetapi entah kenapa, ketika Pak Naib meng-akid, calon pengantin putra hanya diam saja tidak menjawab. Berkali-kali Pak Naib mengucapakan ijab tetapi tidak mendapat jawaban qobul dari Agus Madjid. Maka mengertilah bahwa beliau tidak mau dinikahkan dengan Nyai Zainab saudara sepupunya tersebut.
Setelah pernikahan antar kerabat tersebut batal, beliau ditawari kembang dari Tawangsari kota Tulung Agung oleh Yusuf santri ayahya yang tidak lain adalah paman si gadis. Beliau setuju dan melihat si gadis tersebut sedang memetik beberapa kuntum bunga Melati dari balik jendela di bawah menara masjid. Si gadis itu tidak lain adalah Nyai Shofiyah putri ke tujuh dari dua belas bersaudara.
Pernikahan antara Kyai Abdul Madjid dengan Nyai Shofiyah dikaruniai empat belas anak, yaitu : Ning Unsiyati (Almh), Ning Nurul Isma, Ning Khuriyah(Almh), Ning Tatik Farikhah, Agus Abdul Latif, Agus Abdul Hamid, Ning Fauziah(Almh), Ning Djauharotul Maknunah, Ning Istiqomah, Agus Moh.Hasyim Asy’ari(Alm), Ning Tutik Indiyah, Agus Syafi Wahidi Sunaryo, Ning Khuswatun Nihayah dan Ning Zaidatun Inayah.
b. Kepribadian dan Kehidupan Berumah Tangga
Beliau mempunyai kepribadian yang sangat mempesona. Menurut penuturan orang-orang yang hidup sejaman beliau, akhlak Mbah Yahi Abdul Madjid QS wa RA adalah biakhlaqi Rasulillah. Berbadan sedang dengan warna kulit putih bersih. Berhidung mancung agak tumpul dan berbibir bagus agak lebar dengan garis bibir tidak jelas yang menunjukkan bahwa beliau mempunyai tingkat kesabaran yang luar biasa. Matanya cekung dengan kelopak dan pelipis mata ke dalam bak gua menunjukkan bahwa beluai seorang yang mempunyai pemikiran yang tajam dan dalam. Di antara kedua matanya terdapat urat halus dan lurus sebagai pertanda beliau Mbah Yahi Madjid mempunyai otak briliyan. Tangannya halus dan lembut selembut hatinya yang pemaaf. Kalau berjalan beliau melangkah dengan pelan tapi pasti dengan sorot mata mengarah kebawah. Terkadang beliau juga menoleh ke kanan/ke kiri untuk melihat situasi dan keadaan jamaah.
Kalau bicara tenang dan santai disertai senyum, beliau juga sering melontarkan kalimat-kalimat canda yang membuat beliau dan tamunya tertawa. Beliau juga bebicara dengan jawami’ kalam, artinya kata-kata yang dituturkannya mengandung makna yang banyak, karena beliau mempunyai kemampuan untuk mengungkapkan sesuatu dengan ringkas dan padat. Beliau juga mampu memberikan makna yang banyak dalam satu ucapan yang dituturkannya. Beliau juga mengucapkan kata-kata dengan jelas, tidak lebih dan tidak kurang dari yang dikehendaki. Beliau memperhatikan sungguh-sungguh kepada orang yang berbicara dengannya.
Disamping itu beliau dikenal sangat dermawan. Tak jarang tamunya yang sowan dan tampak tidak punya ongkos buat pulang diberi ongkos oleh beliau. Pernah juga beliau memberi belanja kepada seorang pengamal yang tidak punya penghasilan. Ada pula seorang pengamal yang ingin tahu keramatnya beliau, ketika si tamu pamit pulang beliau memberikan jubahnya kepada si tamu tersebut.
Beliau sangat memperhatikan kebersihan dan kesucian badannya. Baju yang telah dipakai sekali tidak di pakai lagi. Karena tidak heran kalau beliau sering mencuci pakaiannya sendiri bahkan juga menguras jedingnya sendiri. Dalam masalah ini beliau pernah mengungkapkan rumah itu hendaknya suci seperti masjid dan bersih seperti rumah sakit.
Bila marah, beliau Cuma diam. Hanya roman mukanya yang sedikit berubah. Kalau beliau mau berbicara pertanda bahwa marahnya sudah hilang dan seperti tidak terjadi apa-apa. Perihal marah ini Mbah Nyahi sebagai orang terdekat yang telah menemani beliau lebih dari 40 tahun menuturkan. “Kalau beliau kurang berkenan kepada saya, atau ada kesalahan yang telah saya lakukan tetapi saya kurang menyadarinya, beliau hanya diam saja dengan roman muka sedikit berubah tidak seperti biasanya. Kalau Mbah Yahi sudah demikian, saya bingung dan sedih sekali. Begitu besarkah kesalahan saya di mata beliau? kemudian satu persatu saya koreksi kesalahan apa yang telah saya lakukan sehingga beliau tidak menegur saya. Semakin saya koreksi, saya merasakan terlalu banyak kesalahan yang telah saya perbuat sehingga saya tidak tahu dimana letak kesalahan saya sendiri. Namun itu tidak berlangsung lama, sebentar kemudian beliau menegur saya dan selanjutnya seperti tidak pernah terjadi apa-apa.”
Dari sini kita tahu bahwa kehidupan rumah tangga beliau jauh dari perselisihan dan tidak pernah terjadi pertengkaran. Kalaupun ada kesalahan yang telah dilakukan, masing-masing sibuk mengkoreksi kesalahannya sendiri. Itulah Mbah Yahi, yang sering berfatwa agar para pengamal lebih sering “nggrayahi jithoke dewe” (mengoreksi kesalahannya sendiri), ketimbang mengurusi kesalahan orang lain dan ternyata lebih dulu diterapkan pada keluarga beliau.
Kehidupan rumah tangga beliau adalah potret kehidupan rumah tangga harmonis dan sangat bahagia. Sebagai suami, beliau adalah sosok suami yang romantis, amat setia, mencintai dan menyayangi istri sepenuh hati. Meski sebagai putra kyai, beliau tidak segan-segan menghibur istrinya dengan mengajak menonton pasar malam seraya menggandeng tangan Mbah Nyahi bahkan beliau juga menggendong Mbah Nyahi apabila menjumpai jalan yang licin atau kubangan-kubangan di tengah jalan. “Kalau kami jalan berdua, Mbah Yahi itu tidak pernah melepaskan tangan saya. Beliau selalu menggandeng tangan saya. Kemana-mana selalu kami lakukan berdua. Bahkan untuk mencari hutangan kalau kami tidak punya uang, kami mencari bersama-sama”. Tutur Mbah Nyahi saat menceritakan kemesraan Mbah Yahi.
Dalam kehidupan sehari-hari Mbah Yahi Madjid QS wa RA, sebagaimana yang dikatakan Mbah Nyahi RA, beliau adalah manusia biasa seperti manusia lainnya. Beliau mencuci baju sendiri dan kerap kali mencucikan baju Mbah Nyahi atau baju putra-putrinya yang tertinggal di kamar mandi pribadi beliau. Beliau selalu membantu Mbah Nyahi menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Kalau Mbah Nyahi akan memasak sayur santan, beliau yang memarut kelapanya dan Mbah Nyahi yang membuat bumbunya. Beliau juga membantu mengasuh putra-putrinya yang masih kecil-kecil, memandikan, mendandani bahkan menyuapi.
Kalau persediaan padi hasil panenan habis, beliau memanen sayuran kangkung yang beliau tanam sendiri, lalu di jual ke pasar oleh Mbah Nyahi untuk dibelikan beras. Tak jarang beliau sekeluarga hanya makan sayur kangkung saja. Dalam kehidupan rumah tangga Mbah Yahi dulu, tidak mempunyai apa-apa sama sekali sudah biasa. Dan kondisi semacam itu diterima dengan tabah, sabar dan ikhlas oleh Mbah Nyahi.
Melihat kondisi Mbah Yahi sekeluarga yang sangat sederhana dan apa adanya tersebut. Pak Haji Alwan merasa kasihan dan berkata kepada Mbah Yahi, “Romo Kyai Ma’roef itu orangnya ampuh dan apa-apa yang beliau inginkan, Kyai Ma’roef tinggal berdo’a mohon keapada Allah langsung diijabahi”. Tapi apa jawab Mbah Yahi.
“Pak Haji Alwan, kalau bapak dulu dengan berdoa langsung diijabahi oleh Allah, sedangkan saya ndak usah berdoa, hanya krenteg(terbetik) dalam hati saja langsung diijabahi oleh Allah, tapi saya tidak mau”.
Jawaban Mbah Yahi QS wa RA di atas mengingatkan kita kepada Rasulullah SAW, saat Malaikat Jibril merasa sangat prihatin menyaksikan kehidupan harian Rasulullah makhluk terkasih di sisi Allah yang hidup sangat sederhana, sehingga Malaikat Jibril menawari Rasulullah hendak mengubah gunung menjadi emas. “Biarlah saya begini, sehari lapar sehari kenyang. Ketika aku lapar , aku bisa mengingat Tuhanku dan menjadi orang yang sabar. Dan ketika aku kenyang, aku bisa memuji Tuhanku dan menjadi hamba yang bersyukur”. Itulah jawaban manusia termulia di muka bumi ini.
Dalam menerima tamu beliau juga tidak pilih-pilih atau tanpa pandang bulu, baik itu dari kalangan atas atau sebaliknya, beliau selalu menerima dan menghormati tamu yang datang kepada beliau dengan memperlakukan para tamu dengan baik dan bertutur kata dengan bahasa yang halus (boso/dengan krama inggil bahasa jawa).
Mbah Yahi QS wa RA pada awal-awal penciptaan Sholawat Wahidiyah, senantiasa prihatin. Beliau prihatin karena urusan-urusan penting yang sedang dihadapinya. Keprihatinan beliau bukanlah berkaitan dengan masalah khusus mengenai diri beliau, melainkan yang berhubungan dengan masyarakat jami’al alamin.
Hal lain mengenai beliau adalah setiap orang yang memandang beliau akan merasakan kesejukan yang merasuk ke dalam hati. Dan siapapun yang beliau pandang hatinya pasti bergetar.
c. Aktivitas Keorganisasian
Sebelum mentaklif Sholawat Wahidiyah beliau adalah adalah aktifis NU (Nahdatul Ulama) sebuah organisasi terbesar di Indonesia. Ketika usia remaja beliau aktif di Anshor dan di Kepanduan (sekarang Pramuka) milik NU. Beliau juga gemar berolah raga khususnya sepak bola. Jadi meskipun beliau telihat sangat pendiam dan nampak kurang pergaulan, tetapi kenyataannya beliau adalah seorang yang luwes dalam pergaulan. Keaktifannya di NU terus berlanjut meski beliau sudah menikah. Beliau pernah menjabat sebagai Pimpinan Syuriah NU kec. Mojoroto tahun 1948 dan Syuriah NU cabang Kodya Kediri. Namun setelah beliau mentaklif Sholawat Wahidiyah dan ajarannya tahun 1963 beliau tidak lagi aktif di organisasi tersebut.
Dalam memimpin organisasi beliau juga sangat bijaksana, pernah suatu saat diadakan rapat pimpinan di Bandar Lor, yang hadir ada lima orang dan salah satu di antaranya adalah Bapak Alwi Bandar Lor. Dalam rapat tersebut beliau mendawuhkan “Nopo sampun podo setuju?”(apa semua sudah setuju?) lalu para tamu mengatakan setuju kemudian diam, lalu beliau berkata “Terus kados pundi?” (Lalu bagaimana?) dan anehnya untuk tinggal mengetok atau mengakhiri sampai lama sekali , sehingga dapat disimpulkan bahwa beliau dalam memutuskan hasil musyawarah tidak langsung memvonis tetapi dengan menunggu pendapat dari anggota musyawarah.
IV. Peristiwa-Peristiwa Penting Pada Awal Penyiaran Sholawat Wahidiyah
Pada Tahun 1964, Mbah Yahi menyelenggarakan resepsi ULTAH sholawat Wahidiyah yang Pertama dan disebut EKAWARSA sekaligus khitanan Agus Abdul Hamid dan selapan harinya Ning Tutik Indiyah dengan mengundang Pembesar Ulama dari berbagai daerah di Jawa Timur, disamping keluarga dan kaum muslimin lainnya. Hadir sebagai tamu antara lain : KH. Abdul Wahab Hasbullah (Rois “Am Nahdhatul Ulama dan pengasuh Pesantren bahrul Ulum Tambak Beras Jombang), KH. Machrus Ali (Syuriah NU Wilayah Jatim dan Pengasuh Ponpes Lirboyo Kediri), KH. Abdul Karim Hasyim (putra pendiri NU dan pengasuh pesantren Tebu Ireng Jombang) dan KH. Hamim Djazuli (Gus Mik) (putra pendiri Ponpes Al Falah Ploso Mojo Kediri).
Kesempatan baik tersebut dipakai oleh Mbah Yahi untuk menyiarkan Sholawat Wahidiyah kepada segenap hadirin. “Permisi saya mempunyai amalan Sholawat Wahidiyah apakah panjenengan mau saya beri ijazah?” Kata Mbah Yahi dalam sambutannya. Spontan yang hadir menjawab “Kerso”(mau), diantara hadirin ada yang berdiri dan ada pula yang setengah berdiri. Saat itu pula Kyai Wahab Hasbullah spontan berdiri sambul mengacungkan tangannya dibarengi ucapan yang lantang. “Qobiltu awwalan, Qobiltu awwalan”(Saya terima duluan).
Sementara itu KH. Wahab Hasbullah dalam sambutannya antara lain mengatakan, “Hadirin….ilmu Gus Abdul Madjid dalam sekali, ibarat sumur begitu sedalam sepuluh meter, sedang saya hanya memiliki ukuran satu koma dua meter saja, Sholawatnya Gus Madjid ini akan saya amalkan”.
Setelah itu beliau semakin gencar dalam menyiarkan Sholawat Wahidiyah dan membentuk sebuah organisasi yang bernama “PUSAT PENYIARAN SHOLAWAT WAHIDIYAH” yang diketuai oleh bapak KH. Yassir dari Jamsaren Kediri.
Pernah pada suatu saat beberapa ulama utusan Partai NU cabang Kediri bersama-sama bersilahturahmi kepada beliau mohon penjelasan tentang Sholawat Wahidiyah beliaupun menjelaskan dengan jawaban yang singkat dan tepat. Beberapa pertanyaan yang diajukan diantaranya: “Sholawat Wahidiyah itu prinsipnya apa? Dasarnya apa dan menurut Qoul yang mana? Dengan tegas beliau menjawab. “Sholawat Wahidiyah itu susunan saya sendiri”. Para tamu kembali bertanya, “apa benar, Kyai mengatakan kalau orang yang membaca Sholawat Wahidiyah itu sama dengan ibadah setahun?” Di jawab oleh Mbah Yahi, “Oh, bukan begitu. Saya hanya mendapat alamat, kalau membaca Sholawat “Allohumma kamma Anta Ahluh…..” itu sama dengan ibadah setahun. Begitu itu, ya tidak saya jadikan hukum. Adalagi keterangan lain, “Orang membaca Sholawat badawi sekali sama dengan khatam dalil sepuluh kali”. Para tamu masih terus bertanya, “Apa benar Kyai, kalau tidak mengamalkan sholawat Wahidiyah itu tidak bisa makrifat?. Itukan menjelek-jelekkan thoriqoh, menafikkan thoriqoh?” Dengan tegas dan lugas beliau menjawab, “Bukan begitu, masalah jalannya makrifat itu banyak”. Setelah itu para tamu tidak bertanya-tanya lagi.
Suatu ketika Muallif juga memberikan penjelasan mengenai Sholawat Wahidiyah di Dk. Mayan desa Kranding kec. Mojo kab. Kediri di hadapan para Kyai se-kecamatan Mojo Selatan. Yang hadir pada saat itu antara lain KH. M. Djazuli Pengasuh Penpes Al Falah ploso. Dalam khutbah iftitahnya beliau Muallif Sholawat Wahidiyah mengucapkan : “Alhamdulillahi aataanaa bilwahidiyyati bifadli robbina”.
Sebelum Wahidiyah disebarkan secara umum. Beliau mengirimkan Sholawat Wahidiyah yang ditulis tangan oleh K. Muhaimin (Alm) santri Kedunglo, kepada para ulama Kediri dan sekitarnya disertai surat pengantar yang beliau tanda tangani sendiri. Sejauh itu tak satupun kyai yang dikirimi Sholawat mempersoalkan Sholawat Wahidiyah. “Semua doa sholawat itu baik”. Begitu komentar para kyai waktu itu.
Kalau pada akhirnya muncul pengontras-pengontras Wahidiyah, oleh Mbah Yahi pengontras itu justru dipandang sebagai kawan seperjuangan bukan sebagai lawan. Sebab dengan adanya pengontras tersebut mendorong pengamal jadi lebih giat dalam bermujahadah dan sesungguhnya para pengontras itu ikut menyiarkan Wahidiyah dengan cara dan gayanya sendiri-sendiri. Karena dengan adanya pengontras itu, orang yang semula belum tahu Wahidiyah menjadi tahu. Mereka juga ikut andil dalam perjuangan Fafirruu Ilalloh wa Rasulihi SAW.
V. Wasiat Muallif Sholawat Wahidiyah tanggal 7 dan 9 Mei 1986
Kurangnya keserasian kerja diantara lembaga yang didirikan oleh Muallif yaitu: Penyiar Sholawat Wahidiyah Pusat (PSW Pusat) dan Dewan Pertimbangan Perjuangan Wahidiyah (DPPW) yang ingin terus mencampuri urusan teknis operasional PSW Pusat, sehingga muncul berbagai masalah antara DPPW dan PSW Pusat. Sementara itu di Pondok Kedunglo juga muncul permasalahan-permasalahan yang melibatkan sebagian keluarga.
Dengan arif dan bijaksana Muallif Sholawat Wahidiyah RA membentuk suatu Team yang disebut “Team 3”, yang terdiri dari K. Ihsan Mahin, K Moh. Jazuli Yusuf dan H. Moh. Syifa. Team 3 ditugasi langsung oleh Muallif RA untuk mencari penyelesaian berbagai kasus dan permasalahan yang terjadi baik di lingkungan PSW Pusat dan DPPW maupun yang berhubungan dengan Pondok Kedunglo.
Ditunjuk Drs. Syamsul Huda sebagai Pejabat sementara wakil ketua PSW Pusat menggantikan K. Moh. Jazuli Yusuf.
Pada tanggal 7 Mei 1986 Muallif Sholawat Wahidiyah RA memberikan “wasiat” kepada Team 3 yang sowan (datang) melaporkan hasil-hasil kerjanya dan mohon petunjuk lebih lanjut. Ikut hadir mendengarkan Moh. Ruhan Sanusi, Ketua PSW Pusat waktu itu.
Tanggal 9 Mei 1986 Muallif Sholawat Wahidiyah RA menyampaikan wasiat tersebut diatas yang dihadiri ± 115 hadirin-hadirot dari pengurus PSW Pusat serta para anggota DPPW dan sebagian Pengurus PSW Kab/Ko serta pengamal Wahidiayh yang ada kaitannya dengan berbagai masalah. Mereka hadir atas undangan Team 3 dalam rangka persidangan menyelesaikan masalah yang terjadi pada waktu itu. Wasiat tersebut intinya adalah :
1. Pondok Kedunglo adalah Hak Waris.
2. SMP dan SMA Wahidiyah, di-ijinkan asal tidak mengganggu kehidupan pondok dan masjid Kedunglo dan tidak mengganggu perjuangan Wahidiyah.
3. Soal Wahidiyah: Wahidiyah adalah seperti perjuangan Islam pada umumnya, bukan hak waris. Para Penyiar Sholawat Wahidiyah dan para Pengamal Wahidiyah adalah “wakil saya”(wakil beliau Muallif Sholawat Wahidiyah RA) “Al Wakil Atsiirul-Muwakkil”, “Muwakkil kuasa penuh”.
“Segala perbuatan dan perkataan, maupun apa saja, yang merugikan perjuangan terutama, yang menjadikan fitnah, ini supaya dibuang sama sekali!”
Menunjuk A.F. Baderi supaya duduk menjadi wakil ketua II, sehingga pimpinan PSW Pusat menjadi 3 (tiga orang, yaitu: Moh. Ruhan Sanusi, K. Moh. Jazuli Yusuf, dan A.F. Baderi. Menunjuk Drs. Imam Mahrus menjadi sekretaris I PSW Pusat dan Agus Imam Yahya Malik sebagai sekretaris II. (Ket: untuk lebih lengkapnya pembaca dapat mendengarkan kaset wasiat tersebut).
VI. Wafatnya Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah RA
Romo Yahi kurang sehat, beliau gerah (sakit), dan kabar itu segera menyebar keseluruh peserta resepsi Mujahadah Kubro di bulan Rojab tahun 1989. kontan saja resepsi Mujahadah Kubro dalam rangka memperingati peristiwa Isro’ Mi’roj Nabi Muhammad SAW menjadi lain dari biasanya. Suasana syahdu terasa sangat melingkupi hari-hari Mujahadah Kubro. Apalagi pada malam pertama, kedua dan ketiga Mbah Yahi tidak mios (tidak hadir secara langsung ketempat acara) untuk menyampaikan fatwa dan amanat.
Pada malam terakhir, sebenarnya beliau sudah melimpahkan pengisian fatwa dan amanat kepada orang lain. Tetapi hadirin para pengamal Sholawat Wahidiyah sangat merindukan beliau hadir ditengah-tengah peserta untuk mendengarkan langsung fatwa terakhir beliau. kemudian wakil dari peserta menyampaikan kepada Mbah Yahi akan kerinduan dan kecintaan para pengamal kepada Mbah Yahi. Akhirnya beliau berkenan menyampaikan fatwa dan amanat terakhirnya.
Syukur alhamdulillah, karena kasih sayang Mbah Yahi kepada para pengamal, beliau berkenan menyampaikan fatwa terakhir di malam terakhir pelaksanaan mujahadah kubro meski dari kamar dalem tengah. Pada kesempatan tersebut beliau meng-ijasahkan Sholawat Wahidiyah kepada seluruh hadirin untuk diamalkan dan disiarkan dengan kalimat, “ajaztukum bihadzihis sholawatil wahidiyyati fil amali wan nasyri”.
Setelah itu kondisi kesehatan beliau semakin menurun, walau demikian beliau masih juga berkenan mengisi pengajian Minggu pada dari dalem.
Begitulah beliau Mbah Yahi QS wa RA, di saat-saat akhir hayatnya beliau masih membimbing dan mentarbiyah pengikutnya.
Pada hari Selasa Wage tanggal 7 Maret 1989 atau 19 Rojab 1409 jam 10.30 WIB, beliau dipanggil menghadap sang Kholik Allah SWT. (Ditulis dari berbagai sumber)N ANDA BERADA