oleh Muhamad Fatoni pada 16 November 2010 jam 10:44
Mujahadah Kubro adalah acara seremonial yang diselenggarakan dua kali dalam setahun. Mujahadah kubro adalah sarana untuk mengoreksi diri, serta sarana audiensi kepada Allah SWT.
Acara ini biasanya akan dihadiri oleh banyak orang baik dari dalam maupun luar negeri. Tempat pelaksanaan adalah di bumi tempat lahirnya " Shalawat Wahidiyah" yakni di ponpes " KEDUNGLO AL MUNADHDHAOROH" Desa Bandar Lor Kecamatan Mojoroto Kediri. Diselenggarakan pada setiap bulan Muharram dan rajab. acara ini berlangsung selama lima hari.
Shalawat Wahidiyah adalah amalan shalawat yang di ta'lif dan dikarang oleh K.H. Abdoel Madjid Ma'roef Q.S. wa R.A. Tujuan shalawat ini adalah untuk menjernihkan hati dan ma'rifat Billah. Mengajak umat manusia agar sadar kembali mengabdikan diri kepada Allah dan Rasulullah SAW.
Sebagaimana shalawat yang lain, shalawat ini boleh diamalkan oleh siapapun tanpa pandang bulu dan golongan, tua maupun muda. Amalan shalawat ini telah diijazahkan secara umum oleh beliau Mu'allif Shalawat Wahidiyah dengan " IJAAZATAN MUTHLAQATAN". Artinya siapapun boleh menyiarkan dan mengijazahkan amalan shalawat ini kepada siapapun tanpa harus minta izin kepada sang Mua'allif.
Bila dikaji dan ditelaah secara mendalam, amalan shalawat ini mengandung makna yang sangat mendalam dan luar biasa. Mungkin saya menyebutnya dengan "Jembatan Emas" yang akan mengahantarkan orang yang membacanya menuju alam kesadaran kepada Allah SWT wa Rasulihi SAW.
Di dalam rangkaian shalawat ini terdapat rangkaian do'a yang isinya adalah bermohon kepada Allah SWT agar di tenggelamkan kedalam dasar lautan tauhid. Ketika seseorang telah tenggelam kedasar tauhid maka setiap waktu yang ia miliki akan tercurah seratus persen kepada Allah SWT. Dengan demikian seseorang yang benar - benar masuk dalam dasar ketauhidan, dia tidak akan bisa bergerak tanpa digerakkan oleh Allah, Tidak bisa melihat tanpa diperlihatkan oleh Allah. Singkatnya orang yang masuk dalam lautan tauhid akan senantiasa sadar bahwa ia adalah makhluq Allah yang lemah dan senantiasa butuh kepada Allah SWT. Dalam kondisi demikian orang akan selalu berada dalam naungan Allah dan dia betul - betul tahu akan keMaha Kuasaan Allah.
Mujahadah Kubro yang menjadi puncak acara seremonial ini sebentar lagi akan dilaksanakan di di bumi Kedunglo. Bagi kita pengamal shalawat Wahidiyah rugi rasanya apabila kita tidak menghadiri acara yang sangat monmental ini. Mari kita persiapkan hati dan kita songsong pelaksaan mujahadah kubro ini dengan meningkatkan mujahadah dan bertaqarrub kepada Allah SWT. Semoga kita termasuk kedalam penderek - penderek Allah wa Rasulihi SAW di dunia sampai akhirat. Amin...... Salam perjuangan " FAFIRRUU ILALLAH WA RASUULIHI SAW" ............
Tampilkan postingan dengan label kajian sosial islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kajian sosial islam. Tampilkan semua postingan
Senin, 15 November 2010
Diam Itu Terkadang Menghanyutkan
oleh Muhamad Fatoni pada 16 November 2010 jam 10:03
Banyak orang berpikir bahwa orang diam itu identik dengan kebodohan. Diam sama artinya dengan tidak mengerti. Ada juga yang menyebut bahwa orang diam adalah orang kuper.....
terserah apa yang dikatakan orang. akan tetapi tak selamya apa yang dikatakan orang itu benar. tidak mesti apa yang disetujui dan dipahami banyak orang itu adalah yang paling benar jika di bandingkan yang lain. Banyak orang yang nyatanya diam akan tetapi justru menyimpan banyak kelebihan dan bahkan memiliki sesutu yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Diam memang banyak membikin orang penasaran. Orang yang cenderung diam memiliki seribu bahkan berjuta rahasia yang tidak diketahui oleh orang lain. Makanya orang diam itu jauh lebih ditakuti orang daripada orang yang banyak mengumbar omongan.
Ada pepatah yang bilang " Air tenang menghanyutkan, Air beriak tanda tak dalam". Pepatah ini emngandung makna yang begitu dalam apabila kita mau untuk mengkaji dan menelaah lebih jauh. Memang pada dasarnya air yang dalam itu jarang mengeluarkan suara, justeru air yang dangkallah yang suaranya sampai kemana- mana. Pepatah ini memberi sebuah pengertian dan pemahaman kepada kita tentang arti kehidupan dan membari pelajaran kepada tingkah polah manusia.
Orang yang ilmu dan pengetahuannya tidak seberapa dalam biasanya cenderung suka untuk mengumbar banyak bicara dan ingin menunjukkan kepada orang bahwa dia tahu. Suka pamer dan banyak ulah tingkah yang dia perlihatkan dan dia tunjukkan. Berbeda dengan orang yang pengetahuannya mendalam. Orang seperti ini cenderung tidak banyak bicara. Ia bicara hanya pada saat tertentu dan jika dibutuhkan. Ia berbicara penuh dengan makna dan hikmah yang mampu memberikan pencerahan kepada siapa saja yang mendengar. Ia tidak mudah untuk mengeluarkan kata, akan tetapi setiap kata yang terucap selalu ia pikirkan dengan mendalam dan penuh dengan pertimbangan.
Begitulah orang yang memiliki pengetahuan. Dia berkata dengan penuh makna, meyiratkan arti bahwa ia adalah orang yang penuh dengan hikmah ( ilmu Pengetahuan). Mudah - Mudahan kita tidak termasuk orang yang dangkal pengetahuan akan tetapi orang yang selalu bekerja dan menimbang segala sesuatu dengan matang sehingga apa yang keluar dan terucap dari lisan dan bibir kita mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik utamanya kepada kesadaran : " FAFIRRUU iLALLAAH WA RASULIHI SALLALLAHU 'ALAIHI WA AILIHI WASALLAM"Amin..... Allahu A'lam Bish Shawaab.....
Banyak orang berpikir bahwa orang diam itu identik dengan kebodohan. Diam sama artinya dengan tidak mengerti. Ada juga yang menyebut bahwa orang diam adalah orang kuper.....
terserah apa yang dikatakan orang. akan tetapi tak selamya apa yang dikatakan orang itu benar. tidak mesti apa yang disetujui dan dipahami banyak orang itu adalah yang paling benar jika di bandingkan yang lain. Banyak orang yang nyatanya diam akan tetapi justru menyimpan banyak kelebihan dan bahkan memiliki sesutu yang tidak dimiliki oleh orang lain.
Diam memang banyak membikin orang penasaran. Orang yang cenderung diam memiliki seribu bahkan berjuta rahasia yang tidak diketahui oleh orang lain. Makanya orang diam itu jauh lebih ditakuti orang daripada orang yang banyak mengumbar omongan.
Ada pepatah yang bilang " Air tenang menghanyutkan, Air beriak tanda tak dalam". Pepatah ini emngandung makna yang begitu dalam apabila kita mau untuk mengkaji dan menelaah lebih jauh. Memang pada dasarnya air yang dalam itu jarang mengeluarkan suara, justeru air yang dangkallah yang suaranya sampai kemana- mana. Pepatah ini memberi sebuah pengertian dan pemahaman kepada kita tentang arti kehidupan dan membari pelajaran kepada tingkah polah manusia.
Orang yang ilmu dan pengetahuannya tidak seberapa dalam biasanya cenderung suka untuk mengumbar banyak bicara dan ingin menunjukkan kepada orang bahwa dia tahu. Suka pamer dan banyak ulah tingkah yang dia perlihatkan dan dia tunjukkan. Berbeda dengan orang yang pengetahuannya mendalam. Orang seperti ini cenderung tidak banyak bicara. Ia bicara hanya pada saat tertentu dan jika dibutuhkan. Ia berbicara penuh dengan makna dan hikmah yang mampu memberikan pencerahan kepada siapa saja yang mendengar. Ia tidak mudah untuk mengeluarkan kata, akan tetapi setiap kata yang terucap selalu ia pikirkan dengan mendalam dan penuh dengan pertimbangan.
Begitulah orang yang memiliki pengetahuan. Dia berkata dengan penuh makna, meyiratkan arti bahwa ia adalah orang yang penuh dengan hikmah ( ilmu Pengetahuan). Mudah - Mudahan kita tidak termasuk orang yang dangkal pengetahuan akan tetapi orang yang selalu bekerja dan menimbang segala sesuatu dengan matang sehingga apa yang keluar dan terucap dari lisan dan bibir kita mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik utamanya kepada kesadaran : " FAFIRRUU iLALLAAH WA RASULIHI SALLALLAHU 'ALAIHI WA AILIHI WASALLAM"Amin..... Allahu A'lam Bish Shawaab.....
Minggu, 01 Maret 2009
FENOMENA ZIAROH AULIYA' DI KALANGAN NAHDLIYIN
Tidak asing lagi di mata umat islam khususnya masyarakat jawa bahwa mayoritas penduduk muslim di sini mengikuti sebuah organisasi besar di indonesia yang tergabung dalam kelompok Nahdlotul 'Ulama' ( NU ). Kelompok ini adalah kelompok islam terbesar di wilayah indonesia yang mengakar sampai ke masyarakat pedesaan. Pada organisasi ini melekat keyakinan yang dalam bahwa diantara para hamba Allah ada diantara mereka yang diangkat sebagai seorang Wali ( kekasih ) Allah. Keyakinan ini telah ada sejak dahulu sampai sekarang. Keyakinan ini juga membawa implikasi bahwa diantara hamba - hamba Allah yang mendapat keistimewaan sebagi seorang wali ini juga memiliki keistimewaan di banding dengan hamba yang lain. Sehingga dalm budaya NU ini terkenal sebuah keyakinan tentang adanya barakah yang dimiliki oleh para Auliya'.
Berkenaan dengan hal ini maka ada sebuah fenomena menarik di kalangan masyarakat NU yaitu " Ziaroh ke maqam Auliya'". Ziaroh ini dimaksudkan untuk mencari barokah dengan berdo'a di samping maqam auliya'. Mereka memiliki keyakinan besar bahwa dengan berdo'a di dekat maqam auliya' ini kekuatan do'a akan semakin besar. Dengan semakin kuatnya do'a maka merekapun yakin bahwa do'a - do'a merekapun akan lebih cepat di kabulkan oleh Allah SWT.
Pada bulan - bulan tertentu, biasanya dikalangan warga NU mengadakan rombongan - rombongan dengan mengundang para ulama' atau kyai sebagai imamnya untuk bersama berdo'a munajat di maqam auliya'. Wali - wali yang biasa dikunjungi adalah para auliya' yang masyhur sebagai wali songo dikalangan masyarakat muslim indonesia. Wali - wali ini meliputi daerah Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Wali - wali yang terkenal sebagai wali songo di wilayah Jawa Timur adalah : Sunan Giri, Sunan Ampel, Sunan maulana malik Ibrahim, Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Sedang dari Jawa Tengah mereka yang masyhur sebagi wali songo adalah : Sunan kalijogo, Sunan Muria dan sunan Kudus. sedang dari Jawa Barat yang masyhur sebagi wali songo adalah Sunan Gunung Jati.
Kesemua wali - wali ini di yakini sebagi penyiar agama islam di tanah Jawa. Mereka di yakini adalah para Auliya' yang memiliki keistimewaan yang tidak di miliki oleh para auliya' lainnya. Selain itu mereka juga di kenal sebagai para pejuang yang tangguh bagi kerajaan islam kuno di jawa. Allahu A'lam
Berkenaan dengan hal ini maka ada sebuah fenomena menarik di kalangan masyarakat NU yaitu " Ziaroh ke maqam Auliya'". Ziaroh ini dimaksudkan untuk mencari barokah dengan berdo'a di samping maqam auliya'. Mereka memiliki keyakinan besar bahwa dengan berdo'a di dekat maqam auliya' ini kekuatan do'a akan semakin besar. Dengan semakin kuatnya do'a maka merekapun yakin bahwa do'a - do'a merekapun akan lebih cepat di kabulkan oleh Allah SWT.
Pada bulan - bulan tertentu, biasanya dikalangan warga NU mengadakan rombongan - rombongan dengan mengundang para ulama' atau kyai sebagai imamnya untuk bersama berdo'a munajat di maqam auliya'. Wali - wali yang biasa dikunjungi adalah para auliya' yang masyhur sebagai wali songo dikalangan masyarakat muslim indonesia. Wali - wali ini meliputi daerah Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Wali - wali yang terkenal sebagai wali songo di wilayah Jawa Timur adalah : Sunan Giri, Sunan Ampel, Sunan maulana malik Ibrahim, Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Sedang dari Jawa Tengah mereka yang masyhur sebagi wali songo adalah : Sunan kalijogo, Sunan Muria dan sunan Kudus. sedang dari Jawa Barat yang masyhur sebagi wali songo adalah Sunan Gunung Jati.
Kesemua wali - wali ini di yakini sebagi penyiar agama islam di tanah Jawa. Mereka di yakini adalah para Auliya' yang memiliki keistimewaan yang tidak di miliki oleh para auliya' lainnya. Selain itu mereka juga di kenal sebagai para pejuang yang tangguh bagi kerajaan islam kuno di jawa. Allahu A'lam
Langganan:
Postingan (Atom)