Minggu, 02 Januari 2011

Filsafat Dalam Perspektif Islam

Filsafat sebagai suatu cabang dari ilmu pengetahuan diyakini merupakan suatu disiplin ilmu yang cukup sulit dan terkadang dianggap hantu bagi sementara kalangan pelajar. Kadang cabang ilmu ini menjadi sebuah cemoohan yang dihujat dan dilaknat sebagian umat muslim yang tulen dan shalih dalam mendalami, mengkaji dan mengamalkan nilai – nilai ajaran islam karena dianggap berbahaya dan bisa membawa orang yang berkecimpung didalamnya menjadi seorang kafir. Filsafat sering difitnah sebagai sekuleristik, ateis, dan anarkis karena suka menyobek selubung – selubung ideologis pelbagai kepentingan duniawi, termasuk yang tersembunyi dibalik pakaian seorang 'alim. Ia tidak sopan. Ia bagaikan anjing yang menggonggong, mengganggu dan menggigit.

Pandangan semacam ini sangat wajar dan seringkali kita jumpai dalam pandangan sementara masyarakat terutama masyarakat muslim yang berkecimpung dalam urusan 'ubudiyah. Kekhawatiran inipun juga sangat wajar mengingat banyak pemburu filsafat yang pada akhirnya karena kesalahan dalam memahami dan mengkaji ilmu ini kemudian tidak lagi mengindahkan nilai – nilai yang ada dalam ajaran agama islam. Namun bagaimana sebenarnya islam memandang ilmu ini? Apakah islam benar melarang tumbuh dan berkembangnya ilmu ini? Atau justeru sebaliknya?

Pada dasarnya tidak ada larangan didalam islam tentang mempelajari ilmu filsafat. Bahkan islam sangat menganjurkan agar manusia berfilsafat. Hal ini tertuang didalam al qur'an surat al ankabut ayat 20 :



قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الْآَخِرَةَ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (20)

Artinya : "Katakanlah : "Berjalanlah dibumi, maka perhatikanlah bagaimana (Allah) memulai penciptaan (makhluk), kemudian Allah menjadikan kejadian yang akhir, Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." ( Q.S. Al Ankabut: 20)

Ayat ini memberikan sebuah inspirasi dan motivator kepada umat islam agar melakukan proses penelitian analisis yang mendalam terhadap apa yang ada di bumi. Kata أنظروا كيف بدأالخلق memberikan sebuah pemahaman bahwa proses penciptaan Allah terhadap makhluq adalah sebuah proses yang perlu mendapat perhatian yang serius, analisis yang mendalam dan juga penelitian yang detail. Penelitian, analisis ini merupakan sebuah bagian dari kerja filsafat. Hal ini dikarenakan filsafat secara hakiki adalah ilmu kritis.

Sebagai sebuah ilmu kritis maka filsafat akan bergulat pada masalah – masalah dasar kemanusian bahkan tentang masalah – masalah ketuhanan. Filasafat harus mengkritik jawaban – jawaban yang tidak memadai dan harus ikut serta dalam mencari jawaban yang benar. Bahwa filsafat juga harus mencari jawaban perlu ditegaskan berhadapan dengan suatu trend modis masakini, seakan – akan tugas filsafat terbatas pada menanyakan pertanyaan – pertanyaan yang betul. Seakan – akan bukan tugasnya untuk mencoba memberi sebuah jawaban.

Sebagai ilmu kritis filsafat juga harus mampu untuk bersikap kritis bahkan pada hakikat ilmu filsafat itu sendiri. Filsafat memang harus mencari jawaban – jawaban, namun demikian jawaban – jawaban itu tidaklah abadi. Karena itu filsafat tidak akan pernah selesai dan tak pernah sampai pada akhir sebuah masalah. Filsafat akan berkembang sejalan dengan kehidupan manusia yang dinamis, berkembang dan senantiasa diliputi masalah.

Sebagai sebuah agama islam tidak pernah melarang manusia untuk berfikir secara bebas, akan tetapi islam memberikan batasan bahwa pemikiran yang dilakukan oleh manusia tidak berhubungan dengan dzat Allah sebagai Tuhan yang wajib disembah. Hal ini sesuai dengan pernyataan hukama' :



تفكروا فى خلق الله ولا تفكروا فى ذات الله



Artinya : berfikirlah tentang apa yang telah diciptakan Allah dan janganlah kalian berfikir tentang dzat Allah.

Hal ini dapat dimaklumi karena Dzat Allah sebagi Tuhan yang wajib disembah memiliki sifat yang tak terbatas. Berbeda dengan manusia. Sehebat apapun manusia namun kehebatan manusia itu hanya bersifat nisbi. Kemampuan akal manusia takkan mampu menjangkau pada hal – hal yang bersifat transenden. Manusia hanya mampu memahami dan menjangkau hal – hal yang bersifat immanent yang menjadi bidang garapan manusia yang dalam term diatas disebut sebagai خلق الله ( ciptaan Allah ).

Dalam sejarah islam kita mengenal tokoh – tokoh yang menjadi panutan dunia dalam bidang filsafat. Dibelahan dunia bagian timur kita mengenal Abu Yusuf Ya'kub ibnu Ishaq ibnu Ismail al Ash'ats ibnu Qais Al Kindi, Ar razi, Al Farabi, Ikhwanus Shafa dll. Sementara dibelahan barat ada Ibnu Bajjah, Ibnu Thufail, ibnu Rusyd dan masih banyak lagi yang lain. Para filosof ini menjadi sebuah bukti bahwa islam tidak memandang filsafat sebagi sebuah ilmu yang tidak boleh dipelajari dalam dunia islam. Justeru sebenarnya dalam islam sangat menekankan proses berfikir yang dengan proses tersebut keimanan bertambah, islam menjadi kuat dan disegani di seluruh belahan dunia. Intinya berfilsafat adalah penting demi dan untuk menegakkan kalimah Allah atas orang – orang yang menentangnya. Karena para penentang itu tidak akan menerima argument yang hanya berdasarkan keimanan saja akan tetapi mereka butuh rasional, logis dan realistis. Pemikiran semacam itu hanya mungkin didapat ketika kita belajar tentang filsafat.



والله أعلم بالصواب

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar