Kamis, 02 Februari 2012

MAKALAH
KANDUNGAN HADIS TENTANG MENUNTUT ILMU DAN MENGHARGAI WAKTU

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
“MDP Al-Qur’an dan Hadits "


Dosen Pembimbing:
Muhammad Fatoni, M.Pd.I














Disusun Oleh :
Resti Safrina Hayati (3211093020)
Nur Kholis (3211093019)
Agus Saifulloh (3211093001)
Semester : V
Prodi : PAI “A”
Jurusan : Tarbiyah

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) TULUNGAGUNG
OKTOBER 2011

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, bahwa hanya dengan petunjuk dan hidayah-Nya penulisan makalah ini dapat terselesaikan dan sampai di hadapan para pembaca yang berbahagia. Semoga kiranya membawa manfaat yang sebesar-besarnya dan memberikan sumbangan yang berarti bagi pendidikan pada masa sekarang dan yang akan datang.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Yang telah membawa kita ke dunia yang penuh dengan kedamaian.
Dengan terselesaikannya pembuatan makalah ini penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada :

Bapak Dr. Maftukhin, M.Ag selaku Ketua STAIN Tulungagung
Muhammad Fatoni, M.Pd.I, selaku dosen pembimbing
Teman-teman yang ikut berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini.
Fasilitas perpustakaan STAIN Tulungagung

Dalam penulisan makalah ini tentunya banyak dijumpai kekurangan dan kelemahannya. Untuk itu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan mengharap tegur sapa serta saran-saran penyempurnaan, agar kekurangan dan kelemahan yang ada tidak sampai mengurangi nilai dan manfaat bagi pengembangan studi Islam pada umumnya.

Tulungagung, Oktober 2011



Penulis




DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL....................................................................................... i
KATA PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................ 1
B. Rumusan Masalah........................................................................ 1
C. Tujuan Masalah............................................................................ 1
D. Batasan Masalah.......................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Hadis tentang menuntut ilmu ................................................... 2
B. Hadis tentang menghargai waktu ................................................ 7
C. Penerapan kedua hadis dalam kehidupan sehari-hari .................. 8
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................. 10
B. Saran........................................................................................... 10

DAFTAR RUJUKAN
















BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Waktu dan ilmu adalah sebuah anugrah dari Allah swt yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan dicari. Sebagai seorang pelajar yang pandai memanfaatkan waktu dan memiliki kewajiban untuk menuntut ilmu maka harus dapat menyelesaikan belajarnya tepat waktu. Tentu saja dengan prestasi yang memuaskan.
Sebagai generasi penerus dan sebagai pelajar harusnya mereka memiliki kesadaran betapa pentingnya memanfaatkan sebuah waktu dengan baik dan menuntut ilmu. Tapi kenyataan sekarang, banyak dari mereka yang kurang menyadari hal itu.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana kandungan hadis tentang menuntut ilmu?
2. Bagaimana kandungan hadis tentang menghargai waktu?
3. Bagaimana penerapan kandungan hadis tentang menuntut ilmu dan menghargai waktu dalam kehidupan sehari-hari?
C. TUJUAN MASALAH
1. Untuk mengetahui bagaimana kandungan hadis tentang menuntut ilmu.
2. Untuk mengetahui bagaimana kandungan hadis tentang menghargai waktu.
3. Ubntuk mengetahui bagaimana penerapan kandungan hadis tentang menuntut ilmu dan menghargai waktu dalam kehidupan sehari-hari.
D. BATASAN MASALAH
Pembahasan makalah ini dibatasi hanya pada masalah kandungan hadis tentang menuntut ilmu dan menghargai waktu.



BAB II
PEMBAHASAN

A. HADIS TENTANG MENUNTUT ILMU
Abu Darda r.a. telah menceritakan hadits berikut:[1]







Artinya:
Aku telah mendengar Rosulullah saw, bersabda: ”barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu,niscahya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju ke surga.sesungguhnya para Malaikat benar-benar meletakkan sayapnya karena rida kepada penuntut ilmu. Sesungguhnya orang alim itu benar-benar dimintakan ampunan oleh semua makhluk di langit dan dibumi hingga ikan-ikan yang ada di air.keutamaan orang yang alim atas yang ahli ibadah seperti keutamaan rembulan atas semua bintang-bintang.sesungguhnya ulama itu adalah pewaris nabi,sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham melainkan mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barang siapa yang mengambil ilmu bagian yang berlimpah”.
Keterangan:
Abu Darda tinggal di Damaskus, lalu datang kepadanya seorang lelaki dari Madinah. Abu Darda berkata kepadanya, “apakah gerangan yang menyebabkan engkau datang kemari?” lelaki itu menjawab,” tiadalah aku datang kemari melainkan karena suatu hadis yang pernah kudengar darimu. “selanjutnya abu darda menceritakan hadis ini.
Para malaikat yang dimaksud di dalam hadis ini adalah yang telah disebutkan dalam hadis sebelumnya. Mereka berhenti dan mengelilingi orang-orang yang sedang menuntut ilmu untuk memperoleh bagian dari rahmat Allah yang diturunkan kepada mereka dan cahayanya. Demikian itu mereka lakukan mereka rida terhadap perbuatan orang-orang yang sedang menuntut ilmu dan sebagi penghormatan buatannya.
Yang dimaksud dengan penuntut ilmu ialah penuntut ilmu yang mengamalkan ilmunya.
Makhluk yang dilangit, maksudnya ialah para malaikat yang ada dilangit, mereka membaca tasbih seraya memuji Rabb mereka dan memintakan ampunan buat orang-orang yang dibumi. Makhluk yang dibumi, maksudnya manusia, jin dan hewan.
Al-Hiitaan, ikan-ikan; permohonan ampun oleh semua makhluk yang telah disebutkan buat orang yang alim, maksudnya mereka mendoakannya. Demikian itu karena orang yang alim dengan bimbingan dengan petunjuknya kepada manusia menyebabkan ia disukai Allah SWT.
Apabila Allah menyukainya, maka turut mencintainya pula semua malaikat dan makhluknya dan apabila mereka mencintainya maka mereka pasti mendoakannya. Hal ini ingsaAllah akan kami sebutkan dalam bab akhlak.



Artinya:
Dari Abu Hurairah r.a, dai berkata: ” Rosulullah saw bersabda: Apabila anak adam meninggal dunia, terputuslah ilmunya kecuali tiga perkara, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang mendo’akannya “. (HR. Muslim).
Kandungan Hadits:

Anjuran untuk mempersiapkan bekal sebelum mati dengan amal-amal shalih.
Amal-amal shalih yang manfaatnya tetap berlanjut setelah orangnya meninggal dunia, maka pahalanya tetap mengalir kepadanya.
Anjuran agar melaksanakan amal kebaikan dengan cara wakaf, seperti membangun masjid, madrasah, membuat sumur, Hatau menanam pohon. Semuanya itu merupakan sedekah jariyah.
Disunahakan mengajarkan ilmu dan menyusun kitab-kitab yang bermanfaat. Itulah diantara ilmu nafi’ (yang bermanfaat) yang pahalanya tetap berlangsung sepanjang zaman.
Anjuran untuk mendidik anak dan mengajari mereka perkara yang fardhu dan sunnah, serta adab sopan santun agar mereka menjadi orang-orang shalih.




Artinya: Dari Anas bin Malik, ia berkata,” Rasulullah saw bersabda, “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap umat islam. Memebrikan ilmu kepada orang yang bukan ahlinya (tidak tepat), seperti orang yang mengalungi babi dengan permata, mutiara atau emas.” (H.R Ibnu Majah No. 220)
Penjelasan Hadis:[2]
Hadis di atas mengandung pengertian bahwa mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Kewajiban itu berlaku bagi laki-laki ataupun perempuan, anak-anak ataupun dewasa. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk malas mencari ilmu. Ilmu yang wajib diketahui oleh setiap muslim adalah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan tata cara peribadatan kepada Allah swt. Hal itu disebabkan setiap muslim wajib beribadah kepada Allah swt, sedangkan kepada Allah swt tanpa mengetahui ilmunya dapat mengakibatkan kesalahan. Apabila dalam beribadah salah tata caranya, maka ibadah itu tidak akan diterima oleh Allah swt.
Ilmu-ilmu bersifat keduniaan seperti, kedokteran, ekonomi, matematika, atau ilmu yang lain merupakan suatu keutamaan. Mencari ilmu-ilmu tersebut hukumnya adalah fardu kifayah. Meskipun demikian, kita tidak boleh menganggap remeh ilmu-ilmu tersebut.
Dalam hadis tersebut juga disebutkan bahwa mengajarkan suatu ilmu kepada orang yang tidak paham adalah perbuatan sia-sia. Maksudnya, ilmu itu harus disampaikan sesuai dengan taraf berfikir si penerima ilmu. Memberikan ilmu secara tidak tepat diibaratkan mengalungkan perhiasan pada babi. Meskipun dikalungi perhiasan, babi tetap sebagai binatang kotor yang menjijikkan.
Apabila setiap orang islam menyadari pentingnya menuntut ilmu, semua akan berlomba-lomba mendapatkannya. Banyak manfaat yang diperoleh orang yang menuntut ilmu, diantaranya sebagai berikut:
1. Orang yang mencari ilmu akan memperoleh pahala seperti orang yang berjihat. Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah saw,



“Rasulullah saw bersabda: Jadilah kamu orang yang berilmu atau orang yang menuntut ilmu atau pendengar ilmu atau pecinta ilmu, dan janganlah kamu jadi orang ke lima (selain mereka) sebab kamu akan binasa”. (HR. Addarimi)





“Tuntutlah ilmu walaupun ke negeri Cina karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap mereka kepada para penuntut ilmu karena senang (rela) dengan yang dituntut”. (HR. Ibnu Abdilbar).



“Orang yang keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia kembali (ke rumahnya)”. (HR. At-Tirmidzi dan Anas bin Malik No. 2571).
Orang yang menuntut ilmu, sejak keluar dari rumah sampai ia kembali, termasuk orang yang berjuang di jalan Allah swt, hal ini menunjukkan betapa besar penghargaan Rasulullah saw terhadap orang yang bersungguh-sungguh menutut ilmu. Apabila ia mati dalam menuntut ilmu, insya allah ia termasuk golongan orang yang mati syahid.
2. Menuntut ilmu mempunyai keutamaan lebih baik dari pada salat seratus rekaat. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw kepada Abu Dzar berikut ini,



“Wahai Abu Dzar, keluarmu dari rumah pada pagi hari untuk mempelajari satu ayat dan kitab Allah itu lebih baik dari pada engkau mengerjakan salat seratus rekaat”. (HR. Ibnu Majah dan Abu Dzar No. 215).
Orang yang menuntut ilmu meskipun hanya mempelajari satu ayat Al-Qur’an, kebaikannya melebihi orang yang salat sunah seratus rekaat.
3. Orang yang suka menuntut ilmu akan dimudahkan jalannya menuju syurga dan dinaungi para malaikat. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw



“Barang siapa menempuh jalan mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Sesungguhnya para malaikat menaungkan sayap-sayapnya kepada orang yang menuntut ilmu akrena senang (terhadap apa yang diperbuat)”. (HR. At-Tirmidzi dan Abu ad-Darda’ No. 2606)
Rasulullah saw memberikan motivasi kepada umat islam agar tertarik pada ilmu dan berusaha untuk memilikinya. Hadis di atas mengandung satu syarat dan dua jawab. Syarat ialah sesuatu yang harus dimiliki (dilakukan) manusia. Jawab ialah janji yang akan ditepati Allah kepada orang yang memiliki persyaratan tersebut. Syarat yang harus dimiliki seseorang dalam hadis tersebut adalah mau berusaha menuntut ilmu. Jika itu sudah dilakukan, Allah swt akan memberikan janjinya, yaitu memudahkan jalan ke surga dan akan selalu dinaungi malaikat.
4. Menuntut ilmu menambah pengetahuan yang belum diketahui sebagaimana dalam hadis berikut,


“Dan Ibnu Abbas r.a bahwa Rasulullah saw, bersabda, “Barangsiapa belajar ilmu dan mengamalkannya, Allah akan mengajarkan apa yang belum diketahuinya.” (HR. Abu Syaikh dari Kitab at-Targhib wa at-Tarhib).
Seseorang yang mau menuntut ilmu dan mengamalkannya, Allah swt akan mengajarkan kepadanya tentang sesuatu yang belum diketahuinya. Setelah memperoleh ilmu, manusia mempunyai kewajiban untuk mengamalkannya. Dengan mengamalkan itu, seseorang akan mendapat pengalaman yang berharga dalam hidupnya.
B. HADIS TENTANG MENGHARGAI WAKTU




Artinya: Dari Abdullah bin Umar r.a berkata, “Rasulullah saw memegang pundakku seraya berkata, “Jadilah kamu di dunia ini seakan-akan kamu orang asing atau orang yang melewati suatu jalan. “Ibnu Umar berkata, “Apabila kamu berada di sore hari, janganlah kamu menunggu (melakukan sesuatu) hingga pagi datang, apabila kamu berada di pagi hari, janganlah kamu menunggu (melakukan sesuatu) hingga sore datang. Gunakanlah waktu sehatmu untuk menghadapi sakitmu dan waktu hidupmu untuk menghadapi matimu.” (HR. Al-Bukhary No. 5937).




“Dari Ibnu Abas r.a berkata Rasulullah saw, bersabda: Manfaatkan 5 keadaan sebelum datangnya 5: Masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehat sebelum masa sakitmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, masa kayamu sebelum datang masa fakirmu dan masa hidup sebelum datang matimu”. (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)
Penjelasan Hadis:
Hadis tersebut menjelaskan bahwa waktu di dunia ini kita disuruh bersikap seperti orang asing atau sedang melewati jalan. Dengan demikian, kita harus menyadari bahwa kesempatan hidup ini hanya sebentar, seperti orang yang singgah dalam suatu perjalanan.
Kita harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Apabila kamu berada di sore hari, janganlah kamu menunggu (melakukan sesuatu) hingga pagi datang. Apabila kamu berada di pagi hari, janganlah kamu menunggu (melakukan sesuatu) hingga sore datang. Artinya, apa yang mampu kita lakukan saat ini, jangan ditunda-tunda. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada saat berikutnya.
Pada akhir hadis itu dijelaskan, gunakanlah waktu sehatmu untuk menghadapi waktu sakitmu, dan waktu hidupmu untuk menghadapi waktu kematian. Ketika sehat, kita mampu melakukan berbagai aktivitas. Kesehatan harus kita manfaatkan. Jika sudah jatuh sakit, biasanya baru kita menyesalinya. Ketika masih diberi hidup oleh Allah swt, amri kita gunakan untuk memperbanyak ibadah. Apabila kematian sudah datang, tidak ada lagi yang bisa kita lakukan.
C. PENERAPAN KANDUNGAN HADIS TENTANG MENUNTUT ILMU DAN MENGHARGAI WAKTU DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Penerapan kandungan hadis menuntut ilmu dan menghargai waktu dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:
1. Memanfaatkan masa muda untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya, baik secara formal maupun non formal;
2. Menampakkan kesungguhan dalam belajar, baik ketika berada di dalam maupun di luar sekolah;
3. Lebih mengutamakan penguasaan ilmu daripada memikirkan harta;
4. Rela mengeluarkan biaya demi tercapainya suatu ilmu;
5. Rajin menghadiri majelis ilmu
6. Rajin memanfaatkan waktu-waktu longgarnya untuk membaca buku-buku ilmu pengetahuan;
7. Menyetujui dan mendukung setiap usaha untuk meningkatkan ilmu pengetahuan;
8. Gemar bergaul dengan orang-orang yang lebih pandai dan saleh serta mengurangi bergaul dengan orang-orang yang tidak berilmu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar