Rabu, 25 April 2012
Andaikan Aku Menjadi
Salam Perjuangan
Minggu, 22 April 2012
Sinonim Hadits
Selasa, 03 April 2012
Definisi Hadits
Ditinjau dari sisi etimologis, hadits berasal dari akar kata حَدَثَ يَحْدُثُ حُدُوْثًا . Kata ini memiliki beberapa makna diantaranya:
1. اَلْجِدَّةُ (al jiddah = baru), dalam arti sesuatu yang ada setelah tidak ada, lawan dari kata اَلْقَدِيْمُ = terdahulu.
2. اَلطَّرِيُّ ( ath thary = lunak, lembut dan baru). Ibnu Faris mengatakan bahwa hadits dari kata ini karena berita atau kalam itu dating secara silih berganti bagaikan perkembangan usia yang silih berganti dari masa ke masa.
3. اَلْخَبَرُ وَالْكَلاَمُ ( al khabar = berita, pembicaraan dan perkataan).
Sedangkan dari sisi terminology, banyak para ahli hadits yang memberikan berbagai definisi dengan menggunakan lafald yang berbeda, namun memiliki pengertian yang sama. Diantara definisi tersebut adalah definisi yang diberikan oleh Mahmud Ath Thahan (guru besar hadits Fakultas Syari’ah dan Dirasah Islamiyah di Universitas Kuwait). Beliau mendifinisikan :
مَا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوَاءٌ كَانَ قَولاً اَوْ فِعْلاً اَوْ تَقْرِيْرًا
Sesuatu yang dating dari nabi Muhammad saw baik berupa perkataan, perbuatan, atau ketetapan dan atau persetujuan.
Dalam beberapa literatur sebagian ulama’ menggunakan redaksi yang berbeda. Diantara redaksi yang dipakai adalah :
اُضِيْفَ إِلَى........ مَا = Sesuatu yang disandarkan kepada…..
مَا أُسْنِدَ إِلَى .......... = sesuatu yang disandarkan kepada……
مَا نُسِبَ إِلَى.......... = sesuatu yang dibangsakan kepada…..
مَا رُوِيَ عَنْ ........ = sesuatu yang diriwayatkan dari……..
Keempat redaksi diatas memiliki maksud yang sama antara yang satu dengan yang lain. Yaitu segala sesuatu yang bersumber dari nabi Muhammad saw atau disandarkan kepada nabi. Penyandaran ini bisa dalam bentuk perkataan, perbuatan, atau ketetapan dari nabi.
Dengan demikian secara terminology dapat diambil kesimpulan bahwa hadits adalah segala Sesuatu yang bersumber dari nabi saw baik berupa perkataan, perbuatan ataupun ketetapan dari nabi. Selain ketiga hal tersebut ada diantara ulama’ yang memasukkan hammiyah (cita – cita nabi), washfiyah (sifat nabi), tarikhi (sejarah nabi) kedalam hadits.
1. اَلْجِدَّةُ (al jiddah = baru), dalam arti sesuatu yang ada setelah tidak ada, lawan dari kata اَلْقَدِيْمُ = terdahulu.
2. اَلطَّرِيُّ ( ath thary = lunak, lembut dan baru). Ibnu Faris mengatakan bahwa hadits dari kata ini karena berita atau kalam itu dating secara silih berganti bagaikan perkembangan usia yang silih berganti dari masa ke masa.
3. اَلْخَبَرُ وَالْكَلاَمُ ( al khabar = berita, pembicaraan dan perkataan).
Sedangkan dari sisi terminology, banyak para ahli hadits yang memberikan berbagai definisi dengan menggunakan lafald yang berbeda, namun memiliki pengertian yang sama. Diantara definisi tersebut adalah definisi yang diberikan oleh Mahmud Ath Thahan (guru besar hadits Fakultas Syari’ah dan Dirasah Islamiyah di Universitas Kuwait). Beliau mendifinisikan :
مَا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَوَاءٌ كَانَ قَولاً اَوْ فِعْلاً اَوْ تَقْرِيْرًا
Sesuatu yang dating dari nabi Muhammad saw baik berupa perkataan, perbuatan, atau ketetapan dan atau persetujuan.
Dalam beberapa literatur sebagian ulama’ menggunakan redaksi yang berbeda. Diantara redaksi yang dipakai adalah :
اُضِيْفَ إِلَى........ مَا = Sesuatu yang disandarkan kepada…..
مَا أُسْنِدَ إِلَى .......... = sesuatu yang disandarkan kepada……
مَا نُسِبَ إِلَى.......... = sesuatu yang dibangsakan kepada…..
مَا رُوِيَ عَنْ ........ = sesuatu yang diriwayatkan dari……..
Keempat redaksi diatas memiliki maksud yang sama antara yang satu dengan yang lain. Yaitu segala sesuatu yang bersumber dari nabi Muhammad saw atau disandarkan kepada nabi. Penyandaran ini bisa dalam bentuk perkataan, perbuatan, atau ketetapan dari nabi.
Dengan demikian secara terminology dapat diambil kesimpulan bahwa hadits adalah segala Sesuatu yang bersumber dari nabi saw baik berupa perkataan, perbuatan ataupun ketetapan dari nabi. Selain ketiga hal tersebut ada diantara ulama’ yang memasukkan hammiyah (cita – cita nabi), washfiyah (sifat nabi), tarikhi (sejarah nabi) kedalam hadits.
Jumat, 24 Februari 2012
10 HAL YANG MENYEBABKAN DOA BELUM TERJAWAB
10 HAL YANG MENYEBABKAN DOA BELUM TERJAWAB
Suatu hari ketika, Ibrahim bin Adham seorang ‘alim yang terkenal zuhud dan wara’nya melewati pasar yang ramai. Selang beberapa saat beliau pun dikerumuni banyak orang yang ingin minta nasehat. Salah seorang diantara mereka bertanya :”Wahai guru! Allah telah berjanji dalam kitabNya, bahwa Dia akan mengabulkan do’a hambaNya. Kami tel;ah berdo’a setiap hari, siang dan malam, tapi mengapa sampai saat ini do’a kami tidak dikabulkan?”
Ibrahim bin Adham diam sejenak, lalu berkata,”Saudara sekalian! Ada sepuluh hal yang menyebabkan do’a kalian tidak dijawab oleh Allah.
Pertama, kalian mengenal Allah, namun tidak menunaikan hak – hakNya.
Kedua, kalian membaca al qur’an, tetapi kalian tidak mau mengamalkan isinya.
Ketiga, kalian mengaku bahwa iblis adalah musuh yang nyata, namun dengan suka hati kalian mengikuti jejak dan perintahnya.
Keempat, kalian mengaku mencintai rasulullah SAW, tetapi kalian suka meninggalkan ajaran dan sunnahnya.
Kelima, kalian sangat menginginkan surga, tapi kalian tak pernah melakukan amalan ahli surge.
Keenam, kalian takut dimasukkan neraka, namun kalian dengan senangnya sibuk dengan perbuatan para ahli neraka.
Ketujuh, kalian mengaku bahwa kematian pasti datang, namun kalian tidak pernah mempersiapkan bekal untuk menghadapinya.
Kedelapan, kalian sibuk mencari aib orang lain, dan melupakan cacat dan kekurangan kalian sendiri.
Kesembilan, kalian setiap hari memakan rezeki Allah, tapi kalian lupa mensyukuri nikmatNya.
Kesepuluh, kalian sering mengantar jenazah ke liang kubur, tapi kalian tidak pernah menyadari bahwa kalian juga akan mengalami hal yang serupa.”
Nasehat Ibrahim bin Adham diatas mengandung nilai yang sangat dalam. Banyak diantara manusia yang sering mengeluh kepada Allah SWT karena do’a – do’anya yang belum dikabulkan. Mereka mengira bahwa Allah ingkar akan janji yang telah Ia tuangkan didalam al qur’an yang mulia. Banyak juga diantara manusia yang kemudian lari dan mencari tempat meminta yang lain yang jauh lebih cepat. Akibatnya mereka terjebak dengan praktik – praktik dukun yang menyesatkan. Berbuat syirik dan semakin menjauh dari Allah meski dalam kehidupannya mereka lebih cepat mendapatkan harta kekayaan yang melimpah.
Demikianlah kebanyakan diantara manusia yang tidak mau introspeksi diri dan berpikir secara mendalam mengapa do’a - do’a yang mereka panjatkan siang dan malam tidak diijabahi Allah. Ibrahim mengingatkan kepada kita dengan nasehatnya diatas. Kita bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, akan tetapi nyatanya kita sering menyekutukannya. Kita tahu bahwa Allah memiliki sifat qudrah, namun kita sering merasa kita berkuasa. Allah adalah Dzat Yang Maha ‘Alim, kita mengaku pandai dan seterusnya.
Pada hakikatnya pengakuan kita sebagaimana diatas menggambarkan bahwa kita menyekutukan Allah karena sifat Allah adalah mukhalafatu lillhawaditsi ( Allah berbeda dengan makhluk ). Logikanya ketika Allah memiliki sifat qudrah maka makhluk ( termasuk didalamnya manusia ) adalah ‘ajzun ( lemah ). Kalau Allah ‘alim maka selain Allah adalah jahil demikian seterusnya.
Meskipun syirik dalam tingkatan ini tidak menyebabkan seseorang kafir, tetap sja namanya adalah syirik walaupun masih dalam tataran syirik khafi (samar ). Maka Ibrahim bin Adham mengingatkan kita bahwa kita mengenal Allah tapi kita tidak pernah memberikan hak – hakNya. Maka perlukah Allah menjawab do’a setiap orang yang tidak pernah menghargaiNya?
Jawabannya mungkin akan berbeda – beda tergantung siapa dan tendensi mereka yang ingin menjawab. Paling tidak dengan berpikir secara mendalam, merenung terhadap apa yang telah dinasehatkan Ibrahim bin Adham kita tidak akan dengan mudah untuk menyalahkan Allah lantas mencari jalan pintas demi mewujudkan apa yang kita inginkan.
Akhir – akhir ini kita sering melihat bagaimana terjadi banyak penyimpangan dalam lingkungan masyarakat kita. Baik penyimpangan itu berhubungan dengan hubungan manusia dengan Allah ( vertical ) maupun hubungan manusia dengan sesama dan alam lingkungan tempat ia berada (horizontal ). Kriminalitas merajalela, korupsi merambah diseluruh tingkatan, mulai pejabat sampai buruh dan pekerja kasar disawah, pabrik dan bangunan. Bila kita telusuri mungkin Sembilan puluh persen diantara mereka muslim. Sungguh sangat ironis sekali. Bukankah Allah memerintahkan kepada umatnya untuk senantiasa berlaku jujur? Bahkan Allah mengecam siapa saja orang yang berkata tentang sesuatu hal akan tetapi ia tidak melakukan hal itu. Sungguh ini adalah bukti betap banyak orang yang membaca al qur’an akan tetapi mereka tidak pernah mau mematuhi isinya.
Kita juga yakin bahwa iblis adalah musuh yang nyata. Kita sering mengumpat teman yang mungkin berbuat salah kepada kita dengan mengatakan “iblis” kepada mereka. Namun seringkali kita justeru mengikuti langkah – langkahnya. Kita yang mungkin bekerja disebuah pabrik, bila tidak ada mandor bekerja dengan sesukanya. Kita yang bekerja di lembaga pendidikan misalnya sering juga korupsi jam masuk, maupun pulang. Padahal kita digaji untuk mengajar dan sebagainya. Inilah sebenarnya langkah – langkah iblis. Iblis suka untuk menipu dan mencari keuntungan pribadi. Demi menghancurkan Adam a.s. ia menghalalkan segala cara agar Adam a.s. bisa keluar dari surga. Demi kenaikan gaji dan pangkat rela menyuap atau melakukan penipuan. Pantaslah kiranya dikatakan kepada mereka yang menempuh jalan semacam ini dengan orang yang mengikuti langkah iblis. Maka apakah do’a orang yang seperti ini pantas untuk dijawab Allah? Demikian seterusnya. Allahu A’lam…….
Suatu hari ketika, Ibrahim bin Adham seorang ‘alim yang terkenal zuhud dan wara’nya melewati pasar yang ramai. Selang beberapa saat beliau pun dikerumuni banyak orang yang ingin minta nasehat. Salah seorang diantara mereka bertanya :”Wahai guru! Allah telah berjanji dalam kitabNya, bahwa Dia akan mengabulkan do’a hambaNya. Kami tel;ah berdo’a setiap hari, siang dan malam, tapi mengapa sampai saat ini do’a kami tidak dikabulkan?”
Ibrahim bin Adham diam sejenak, lalu berkata,”Saudara sekalian! Ada sepuluh hal yang menyebabkan do’a kalian tidak dijawab oleh Allah.
Pertama, kalian mengenal Allah, namun tidak menunaikan hak – hakNya.
Kedua, kalian membaca al qur’an, tetapi kalian tidak mau mengamalkan isinya.
Ketiga, kalian mengaku bahwa iblis adalah musuh yang nyata, namun dengan suka hati kalian mengikuti jejak dan perintahnya.
Keempat, kalian mengaku mencintai rasulullah SAW, tetapi kalian suka meninggalkan ajaran dan sunnahnya.
Kelima, kalian sangat menginginkan surga, tapi kalian tak pernah melakukan amalan ahli surge.
Keenam, kalian takut dimasukkan neraka, namun kalian dengan senangnya sibuk dengan perbuatan para ahli neraka.
Ketujuh, kalian mengaku bahwa kematian pasti datang, namun kalian tidak pernah mempersiapkan bekal untuk menghadapinya.
Kedelapan, kalian sibuk mencari aib orang lain, dan melupakan cacat dan kekurangan kalian sendiri.
Kesembilan, kalian setiap hari memakan rezeki Allah, tapi kalian lupa mensyukuri nikmatNya.
Kesepuluh, kalian sering mengantar jenazah ke liang kubur, tapi kalian tidak pernah menyadari bahwa kalian juga akan mengalami hal yang serupa.”
Nasehat Ibrahim bin Adham diatas mengandung nilai yang sangat dalam. Banyak diantara manusia yang sering mengeluh kepada Allah SWT karena do’a – do’anya yang belum dikabulkan. Mereka mengira bahwa Allah ingkar akan janji yang telah Ia tuangkan didalam al qur’an yang mulia. Banyak juga diantara manusia yang kemudian lari dan mencari tempat meminta yang lain yang jauh lebih cepat. Akibatnya mereka terjebak dengan praktik – praktik dukun yang menyesatkan. Berbuat syirik dan semakin menjauh dari Allah meski dalam kehidupannya mereka lebih cepat mendapatkan harta kekayaan yang melimpah.
Demikianlah kebanyakan diantara manusia yang tidak mau introspeksi diri dan berpikir secara mendalam mengapa do’a - do’a yang mereka panjatkan siang dan malam tidak diijabahi Allah. Ibrahim mengingatkan kepada kita dengan nasehatnya diatas. Kita bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, akan tetapi nyatanya kita sering menyekutukannya. Kita tahu bahwa Allah memiliki sifat qudrah, namun kita sering merasa kita berkuasa. Allah adalah Dzat Yang Maha ‘Alim, kita mengaku pandai dan seterusnya.
Pada hakikatnya pengakuan kita sebagaimana diatas menggambarkan bahwa kita menyekutukan Allah karena sifat Allah adalah mukhalafatu lillhawaditsi ( Allah berbeda dengan makhluk ). Logikanya ketika Allah memiliki sifat qudrah maka makhluk ( termasuk didalamnya manusia ) adalah ‘ajzun ( lemah ). Kalau Allah ‘alim maka selain Allah adalah jahil demikian seterusnya.
Meskipun syirik dalam tingkatan ini tidak menyebabkan seseorang kafir, tetap sja namanya adalah syirik walaupun masih dalam tataran syirik khafi (samar ). Maka Ibrahim bin Adham mengingatkan kita bahwa kita mengenal Allah tapi kita tidak pernah memberikan hak – hakNya. Maka perlukah Allah menjawab do’a setiap orang yang tidak pernah menghargaiNya?
Jawabannya mungkin akan berbeda – beda tergantung siapa dan tendensi mereka yang ingin menjawab. Paling tidak dengan berpikir secara mendalam, merenung terhadap apa yang telah dinasehatkan Ibrahim bin Adham kita tidak akan dengan mudah untuk menyalahkan Allah lantas mencari jalan pintas demi mewujudkan apa yang kita inginkan.
Akhir – akhir ini kita sering melihat bagaimana terjadi banyak penyimpangan dalam lingkungan masyarakat kita. Baik penyimpangan itu berhubungan dengan hubungan manusia dengan Allah ( vertical ) maupun hubungan manusia dengan sesama dan alam lingkungan tempat ia berada (horizontal ). Kriminalitas merajalela, korupsi merambah diseluruh tingkatan, mulai pejabat sampai buruh dan pekerja kasar disawah, pabrik dan bangunan. Bila kita telusuri mungkin Sembilan puluh persen diantara mereka muslim. Sungguh sangat ironis sekali. Bukankah Allah memerintahkan kepada umatnya untuk senantiasa berlaku jujur? Bahkan Allah mengecam siapa saja orang yang berkata tentang sesuatu hal akan tetapi ia tidak melakukan hal itu. Sungguh ini adalah bukti betap banyak orang yang membaca al qur’an akan tetapi mereka tidak pernah mau mematuhi isinya.
Kita juga yakin bahwa iblis adalah musuh yang nyata. Kita sering mengumpat teman yang mungkin berbuat salah kepada kita dengan mengatakan “iblis” kepada mereka. Namun seringkali kita justeru mengikuti langkah – langkahnya. Kita yang mungkin bekerja disebuah pabrik, bila tidak ada mandor bekerja dengan sesukanya. Kita yang bekerja di lembaga pendidikan misalnya sering juga korupsi jam masuk, maupun pulang. Padahal kita digaji untuk mengajar dan sebagainya. Inilah sebenarnya langkah – langkah iblis. Iblis suka untuk menipu dan mencari keuntungan pribadi. Demi menghancurkan Adam a.s. ia menghalalkan segala cara agar Adam a.s. bisa keluar dari surga. Demi kenaikan gaji dan pangkat rela menyuap atau melakukan penipuan. Pantaslah kiranya dikatakan kepada mereka yang menempuh jalan semacam ini dengan orang yang mengikuti langkah iblis. Maka apakah do’a orang yang seperti ini pantas untuk dijawab Allah? Demikian seterusnya. Allahu A’lam…….
Jumat, 17 Februari 2012
“MENSYUKURI NIKMAT DAN MENJAGA LINGKUNGAN”
MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas
mata kuliah “Materi dan Desain Pembelajaran al-Quran Hadits”
Dosen Pengampu:
Muhammad Fatoni, M.Pd.I.
Disusun Oleh:
Binti Nadhiroh F.U. ( 3211093005)
Lailatul Fitria (3211093013)
Lia Hanifatur Rahmi (3211093014)
TARBIYAH, PAI-5A
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) TULUNGAGUNG
NOVEMBER 2011
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Mensyukuri Nikmat dan Menjaga Lingkungan” untuk mata kuliah Materi dan Desain Pembelajaran Al-Quran Hadits.
Shalawat serta salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang membawa zaman yang gelap menuju zaman yang terang benderang yakni agama islam.
Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada:
1. Dr.Maftukhin, M.Ag. selaku ketua tulungagung
2. Muhammad Fatoni, M.Pd.I. selaku dosen pengampu
3. Rekan –rekan yang telah membantu terselesaikannya makalah ini
4. Fasilitas kampus, seperti tersedianya perpustakaan
Penyusun berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca umumnya.untuk itu kritik dan saran sangat kami harapkan dari para pembaca demi perbaikan dan pengembangan makalah ini.
Demikianlah makalah kami, semoga dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya dan pembaca umumnya.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Tulungagung, November 2011
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL……………………………………………………... i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang 1
B. Rumusan masalah 1
C. Tujuan pembahasan 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Sejarah 3
B. Langkah-langkah Mengajar Sejarah 5
C. Metode pembelajaran sejarah 14
D. Media Pengajaran Sejarah
E. Tujuan Mempelajari Sejarah
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 29
B. Kritik/Saran………………………………
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Di dunia ini telah nyata terjadi berbagai kerusakan atau bencana, baik di darat maupun di laut. Kerusakan dan bencana itu adalah akibat dari perbuatan manusia itu sendiri. Penyebabnya ada beberapa kemungkinan seperti karena kemusyrikan, keingkaramn, kemunafikan dan kesesatan fikiran manusia. Mereka tidak mentaati perintah dan larangan Allah yang disampaikan oleh para rasul-Nya.
Sebagai khilafah yang memiliki tanggungjawab untuk menjaga bumi dari kerusakan, hendaknya turut melestarikan ajaran agama islam dengan benar sehingga tujuan dari agama islam sendiri dapat terwujud.
B. Rumusan Masalah
1. Ayat tentang perintah mensyukuri nikmat?
2. Ayat tentang perntah menjaga lingkungan?
C. Tujuan Pembahasan Masalah
1. Untuk mengetahui cara mensyukuri nikmat
2. Untuk mengetahui kewajiban menjaga lingkungan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Syukur
Pengertian syukur secara terminology berasal dari kata bahasa Arab, berasal dari kata شكر-يشكر-شكرا‘’ yang berarti berterima kasih kepada atau dari kata lain ‘’ شكر‘’ yang berati pujian atau ucapan terima kasih atau peryataan terima kasih[i]. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia syukur memiliki dua arti yang pertama, syukur berarti rasa berterima kasih kepada Allah dan yang kedua, syukur berarti untunglah atau merasa lega atau senang dll
B. Ayat tentang perintah mensyukuri nikmat Allah
إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ أَوْثَاناً وَتَخْلُقُونَ إِفْكاً إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقاً فَابْتَغُوا عِندَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Artinya:
Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta . Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.
Allah telah menegaskan bahwa sesembahan selain Allah itu sudah jelas merupakan hasil ciptaan tangan manusia itu sendiri, tetapi mereka berdusta dengan menganggapnya itulah tuhan yang sebenarnya. Lebih dari itu ciptaan mereka yang berbentuk patung dan berhala itu menurut kepercayaan mereka sanggup memberi manfaat kepada mereka.. Kemudian Ibrahim as mencela dan mengecam mereka bahwa patung-patung itu sedikitpun tidak sanggup memberi sanggup kepada mereka.
Sebab rizqi itu adalah wewenang mutlak yang hanya dimiliki oleh Allah saja.karena itu dianjurkan kepada mereka supaya memohon rizqi dan penghasilan itu hanya kepada Allah saja dan mensyukurinya jika yang diminta telah diperkenankanNya. Allaj saja yang mendatangkan rizqi bagi manusia serta memberi nikmat para hambanya.
Sesudah itu kepada-Nyalah manusia akan dikembalikan, dimana manusia dianjurkan mencari keridaan-Nyalah kamu dikembalikan, dimana manusia dianjurkan untuk mencari keridaan-Nya dengan jalan mendekatkan diri kepadaNya. Ayat ini ditutup dengan lafal “kepada-Nyalaj kamu dikembalikan” artinya bersiap-siaplah kamu menemui tuhan itu dengan beribadah dan bersyukur.dan kamu semua akan dimintai pertanggung jawaban atas segala amal perbuatan itu. Juga tentang nikmat yang kamu terima, serta rizqi yang kamu makan.
Firman Allah QS.An Nahl:144
١١٤. فَكُلُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّهُ حَلالاً طَيِّباً وَاشْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
114. Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu. dan syukurilah ni'mat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.
Berdasarkan ayat tersebut diatas bahwa bersyukur itu dengan cara memakan makanan yang halal dan yang tidakberlebihan sesuai ketentuan yang ditentukan Allah SWT
Hadits tentang syukur nikmat
عن ابي هريرة قال: قال رسولالله ص م :انظروالي من هو اسفل منكم و لا تنظروا لي من هو فوقكم فهواجدر ان لا تجدروا نعمةالله عليكم
Atinya:
Dari abu hurairah berkata: rasulula SAW bersabda: lihatlah orang yang lebih rendah deri pada kamu dalam urusan dunia dan janganlah kamu melihat orang yang lebih tinggi dari pada kamu, maka di lebih pantas (menempati) kedudukan yang lebih tinggi daripada kamu tidak mengandai-andai (jangan kamu pantas-pantaskan kedudukan orang diatasmu) (HR Bukhori Muslim)
C. Ayat tentang perintah menjaga lingkungan hidup
Kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya.
Baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Kita bernapas memerlukan udara dari lingkungan sekitar. Kita makan, minum, menjaga kesehatan, semuanya memerlukan lingkungan.
Pengertian lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Lingkungan bisa dibedakan menjadi lingkungan biotik dan abiotik. Jika kalian berada di sekolah, lingkungan biotiknya berupa teman-teman sekolah, bapak ibu guru serta karyawan, dan semua orang yang ada di sekolah, juga berbagai jenis tumbuhan yang ada di kebun sekolah serta hewan-hewan yang ada di sekitarnya. Adapun lingkungan abiotik berupa udara, meja kursi, papan tulis, gedung sekolah, dan berbagai macam benda mati yang ada di sekitar.
Seringkali lingkungan yang terdiri dari sesama manusia disebut juga sebagai lingkungan sosial. Lingkungan sosial inilah yang membentuk sistem pergaulan yang besar peranannya dalam membentuk kepribadian seseorang.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
41. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
٤٢. قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِن قَبْلُ كَانَ أَكْثَرُهُم مُّشْرِكِينَ
42. Katakanlah: "Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)."
Di dunia ini telah nyata terjadi berbagai kerusakan atau bencana, baik di darat maupun di laut. Kerusakan dan bencana itu adalah akibat dari perbuatan manusia itu sendiri. Penyebabnya ada beberapa kemungkinan seperti karena kemusyrikan, keingkaramn, kemunafikan dan kesesatan fikiran manusia. Mereka tidak mentaati perintah dan larangan Allah yang disampaikan oleh para rasul-Nya.
Kerusakan atau bencana akibat perbuatan buruk manusia itu bermacam-bermacam dalam Al-Quran telah banyak diterangkan agar menjadi pelajaran bagi umat manusia. Dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kita juga amat banyak kerusakan yang dimuat olehumat manusia dan akibat peritiwa alam, antara lain:
Penggundulan hutan; membuat pemukiman dan industry di sawah dan lading-ladang; pengrusakan barang , gedung , tanaman dan hewan, perkelahian , peperangan dan lain-lain.Akibat perbuatan buruk manusia yang menimbulkan kerusakan atau bencana itu, maka manusia sendirilah yang merasakan penderitaan, kesengsaraan dan kerugiaannya meskipun diantara mereka ada yang menjadi korban karena tidak ikut melekukannya. Guna mencegah timbulnya kerusakan atau bencana, maka manusia harus kembali ke jalan yang benar, mentaati perintah dan larangan Allah dan Rasulnya., peraturan perundang-undangan Negara yang berlaku, mendorong berbuat baik, dan mencegah perbuatan jahat, melakukan amal saleh dan perbuatan baik lainnya.
Jagat raya telah diciptakan Allah swt dalam keadaan yang sangat harmonis, serasi, seimbang dan memenuhi kebutuhan makhluk. Allah telah menjadikannya baik,dan menggunakan dan menjaganya bahkan memerintahkan hamba-hambaNya untuk memperbaikinya.Salah satu bentuk perbaikanyang dilakukan Allah adalah dengan mengutus para nabi dan Rasul untuk memberi peringatan agar tidak membuat kerusakan alam dan meluruskan perbuatan Ankara murka serta serta selau memperbaiki kehidupan yang kacau dala masyarakat. Secara logika orang yang tidak menyambut dan merespon kedatangan rasul atau menghambat misi mereka, bahkan memnentangnya maka dia telah melakukan salah satu bentuk pengrusakan di bumi.
Merusak sesuatu setelah diperaiki adalah jauh lebih buruk daripada erusaknya sebelum sesuatu itu diperbaiki atau pada saat dia buruk. Ayat ini secara tegas menggaris bawahi larangan tersebut, walaupun tentunya memperparah kerusakan atau merusak yang baik juga amat tercela.Allah SWT memerintahkan kepada rasulnya supaya memperhatikan ciptaannya bagaimana dia memanjangkan dan memendekkan baying-bayang dari tiap-tiap benda yang terkena sinar matahari mulai terbit sampai terbenamnya kalau dia menghendaki niscaya dia menjadikan baying-bayang itu tetap, tidak berpindah-pindah. Biasanya Allah membiarkan baying-bayang itu memanjang atau mmendek untuk dipergunakan manusia menguur waktu seperti mesir mempergunakan alat yang diberi nama “misallat” untuk mengukur waktu pada siang hari dan menetukan musim-musim selama setahun, sedangkan bangsa arab juga telah mempergunakan alat yang diberi nama “Mazsawil” untuk menentukan waktu sembahyang dengan baying-bayang sehingga mereka dapat memastikan tibanya waktu dzuhur bila bayangan jarunya sudah berpindah dari arah barat ke timur, dan tiba waktu ashar bila bayangan setiap benda yang berdiri sudah menyamainya dan hal tersebut juga dapat ita temui di beberapa masji di Indonesia. .
Dengan kekuasaannya Allah menarik bayang-bayang itu dan menggerakkannya beredar perlahan-lahan. Dalam peredaran baying-bayang itu secara perlahan-lahan dihilangkannya bersama-sama dengan terbenanya matahari sedikit demi sedikit dan siangpun berganti menjadi malam kemudian waktu, udara, dan kehidupan berganti. Siang berganti dengan malam keadaan yang terang berganti gelap, udara siang yang panas berganti menjadi malam yang sejuk. Kegiatan manusiapun bergati pada siang hari orang bekerja dan pada malam hari pada umumnya orang beristirahat dan tidur.
Alllah menerangkan bahwa dengan kekuaannya pula Dia mempergilirkan hujan diantara manusia sehingga menimbulkan musim. Musim di Indonesia tidak sama dengan musim di Negara lain seperti eropa dan jepang di Indonesia hanya mengenal dua musim yaitu hujan dan kemarau. Di Negara-negara lain ada musim gugur, semi dan salju.Dengan adanya peredaran matahari, perganian siang menjadi malam perubahan dan giliran musim itu hendaknya manusia dapat mengambil pelajaran guna keperluan hidup dan kesejahteraan urusan menusia, mendayagunakan sumber daya alam dan melestarikan daya gunanya untuk kesejahteraan generasi mendatang.
Sebagai orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT kita harus berterimakasih kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rizqi dan karunia sumber daya alam Indonesia yang subur, diantara cara mensyukurinya yaitu dengan beribadah kepada Allah, memelihara sumberdaya alam, dan tidak merusaknya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sesembahan apa saja yang disembah selain Allah SWT hanyalah ciptaan manusia belaka, dimana sesembahan demikian tidak mungkin mendatangkan keuntungan ataupun kerugian.Bila seseorang tidak mau beriman dan tetap mendurhakai Rasul tidaklah akan mendatangkan kerugian pada Rasul itu, tetapi justru menimbulkan kecelakaan bagi orang itu sendiri.
Terjadinya kerusakan di alam adalah akibat dari ulah manusia. Orang-orang yang membuat kerusakan alam dikategorikan sebagai orang-orang musyrik. Bencana dan penderitaan akibat dari rusaknya alam sepdrti banjir dan longsor baru sebagian yang diperlihatkan Allah sebagai siksa di dunia. Sedangkan di akhirat mereka akan merasakan siksa akibat dari ulahnya sendiri.
B. Kritik/Saran
Perintah menjaga lingkungan tidak diindahkan oleh sebagian besar umat manusia. Mereka lebih senang di dunia daripada memikirkan kebahagiaan di akhirat. Jika lingkungan mengalami kerusakan, manusia akan saling menyalahkan. Karena itu, Allah melarang manusia untuk membuat kerusakan di muka bumi.
MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas
mata kuliah “Materi dan Desain Pembelajaran al-Quran Hadits”
Dosen Pengampu:
Muhammad Fatoni, M.Pd.I.
Disusun Oleh:
Binti Nadhiroh F.U. ( 3211093005)
Lailatul Fitria (3211093013)
Lia Hanifatur Rahmi (3211093014)
TARBIYAH, PAI-5A
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) TULUNGAGUNG
NOVEMBER 2011
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Mensyukuri Nikmat dan Menjaga Lingkungan” untuk mata kuliah Materi dan Desain Pembelajaran Al-Quran Hadits.
Shalawat serta salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang membawa zaman yang gelap menuju zaman yang terang benderang yakni agama islam.
Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada:
1. Dr.Maftukhin, M.Ag. selaku ketua tulungagung
2. Muhammad Fatoni, M.Pd.I. selaku dosen pengampu
3. Rekan –rekan yang telah membantu terselesaikannya makalah ini
4. Fasilitas kampus, seperti tersedianya perpustakaan
Penyusun berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca umumnya.untuk itu kritik dan saran sangat kami harapkan dari para pembaca demi perbaikan dan pengembangan makalah ini.
Demikianlah makalah kami, semoga dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya dan pembaca umumnya.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Tulungagung, November 2011
Penyusun
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL……………………………………………………... i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang 1
B. Rumusan masalah 1
C. Tujuan pembahasan 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Sejarah 3
B. Langkah-langkah Mengajar Sejarah 5
C. Metode pembelajaran sejarah 14
D. Media Pengajaran Sejarah
E. Tujuan Mempelajari Sejarah
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 29
B. Kritik/Saran………………………………
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Di dunia ini telah nyata terjadi berbagai kerusakan atau bencana, baik di darat maupun di laut. Kerusakan dan bencana itu adalah akibat dari perbuatan manusia itu sendiri. Penyebabnya ada beberapa kemungkinan seperti karena kemusyrikan, keingkaramn, kemunafikan dan kesesatan fikiran manusia. Mereka tidak mentaati perintah dan larangan Allah yang disampaikan oleh para rasul-Nya.
Sebagai khilafah yang memiliki tanggungjawab untuk menjaga bumi dari kerusakan, hendaknya turut melestarikan ajaran agama islam dengan benar sehingga tujuan dari agama islam sendiri dapat terwujud.
B. Rumusan Masalah
1. Ayat tentang perintah mensyukuri nikmat?
2. Ayat tentang perntah menjaga lingkungan?
C. Tujuan Pembahasan Masalah
1. Untuk mengetahui cara mensyukuri nikmat
2. Untuk mengetahui kewajiban menjaga lingkungan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Syukur
Pengertian syukur secara terminology berasal dari kata bahasa Arab, berasal dari kata شكر-يشكر-شكرا‘’ yang berarti berterima kasih kepada atau dari kata lain ‘’ شكر‘’ yang berati pujian atau ucapan terima kasih atau peryataan terima kasih[i]. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia syukur memiliki dua arti yang pertama, syukur berarti rasa berterima kasih kepada Allah dan yang kedua, syukur berarti untunglah atau merasa lega atau senang dll
B. Ayat tentang perintah mensyukuri nikmat Allah
إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ أَوْثَاناً وَتَخْلُقُونَ إِفْكاً إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقاً فَابْتَغُوا عِندَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Artinya:
Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta . Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.
Allah telah menegaskan bahwa sesembahan selain Allah itu sudah jelas merupakan hasil ciptaan tangan manusia itu sendiri, tetapi mereka berdusta dengan menganggapnya itulah tuhan yang sebenarnya. Lebih dari itu ciptaan mereka yang berbentuk patung dan berhala itu menurut kepercayaan mereka sanggup memberi manfaat kepada mereka.. Kemudian Ibrahim as mencela dan mengecam mereka bahwa patung-patung itu sedikitpun tidak sanggup memberi sanggup kepada mereka.
Sebab rizqi itu adalah wewenang mutlak yang hanya dimiliki oleh Allah saja.karena itu dianjurkan kepada mereka supaya memohon rizqi dan penghasilan itu hanya kepada Allah saja dan mensyukurinya jika yang diminta telah diperkenankanNya. Allaj saja yang mendatangkan rizqi bagi manusia serta memberi nikmat para hambanya.
Sesudah itu kepada-Nyalah manusia akan dikembalikan, dimana manusia dianjurkan mencari keridaan-Nyalah kamu dikembalikan, dimana manusia dianjurkan untuk mencari keridaan-Nya dengan jalan mendekatkan diri kepadaNya. Ayat ini ditutup dengan lafal “kepada-Nyalaj kamu dikembalikan” artinya bersiap-siaplah kamu menemui tuhan itu dengan beribadah dan bersyukur.dan kamu semua akan dimintai pertanggung jawaban atas segala amal perbuatan itu. Juga tentang nikmat yang kamu terima, serta rizqi yang kamu makan.
Firman Allah QS.An Nahl:144
١١٤. فَكُلُواْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّهُ حَلالاً طَيِّباً وَاشْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
114. Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu. dan syukurilah ni'mat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.
Berdasarkan ayat tersebut diatas bahwa bersyukur itu dengan cara memakan makanan yang halal dan yang tidakberlebihan sesuai ketentuan yang ditentukan Allah SWT
Hadits tentang syukur nikmat
عن ابي هريرة قال: قال رسولالله ص م :انظروالي من هو اسفل منكم و لا تنظروا لي من هو فوقكم فهواجدر ان لا تجدروا نعمةالله عليكم
Atinya:
Dari abu hurairah berkata: rasulula SAW bersabda: lihatlah orang yang lebih rendah deri pada kamu dalam urusan dunia dan janganlah kamu melihat orang yang lebih tinggi dari pada kamu, maka di lebih pantas (menempati) kedudukan yang lebih tinggi daripada kamu tidak mengandai-andai (jangan kamu pantas-pantaskan kedudukan orang diatasmu) (HR Bukhori Muslim)
C. Ayat tentang perintah menjaga lingkungan hidup
Kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari lingkungannya.
Baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Kita bernapas memerlukan udara dari lingkungan sekitar. Kita makan, minum, menjaga kesehatan, semuanya memerlukan lingkungan.
Pengertian lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang memengaruhi perkembangan kehidupan manusia baik langsung maupun tidak langsung. Lingkungan bisa dibedakan menjadi lingkungan biotik dan abiotik. Jika kalian berada di sekolah, lingkungan biotiknya berupa teman-teman sekolah, bapak ibu guru serta karyawan, dan semua orang yang ada di sekolah, juga berbagai jenis tumbuhan yang ada di kebun sekolah serta hewan-hewan yang ada di sekitarnya. Adapun lingkungan abiotik berupa udara, meja kursi, papan tulis, gedung sekolah, dan berbagai macam benda mati yang ada di sekitar.
Seringkali lingkungan yang terdiri dari sesama manusia disebut juga sebagai lingkungan sosial. Lingkungan sosial inilah yang membentuk sistem pergaulan yang besar peranannya dalam membentuk kepribadian seseorang.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
41. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
٤٢. قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِن قَبْلُ كَانَ أَكْثَرُهُم مُّشْرِكِينَ
42. Katakanlah: "Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)."
Di dunia ini telah nyata terjadi berbagai kerusakan atau bencana, baik di darat maupun di laut. Kerusakan dan bencana itu adalah akibat dari perbuatan manusia itu sendiri. Penyebabnya ada beberapa kemungkinan seperti karena kemusyrikan, keingkaramn, kemunafikan dan kesesatan fikiran manusia. Mereka tidak mentaati perintah dan larangan Allah yang disampaikan oleh para rasul-Nya.
Kerusakan atau bencana akibat perbuatan buruk manusia itu bermacam-bermacam dalam Al-Quran telah banyak diterangkan agar menjadi pelajaran bagi umat manusia. Dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kita juga amat banyak kerusakan yang dimuat olehumat manusia dan akibat peritiwa alam, antara lain:
Penggundulan hutan; membuat pemukiman dan industry di sawah dan lading-ladang; pengrusakan barang , gedung , tanaman dan hewan, perkelahian , peperangan dan lain-lain.Akibat perbuatan buruk manusia yang menimbulkan kerusakan atau bencana itu, maka manusia sendirilah yang merasakan penderitaan, kesengsaraan dan kerugiaannya meskipun diantara mereka ada yang menjadi korban karena tidak ikut melekukannya. Guna mencegah timbulnya kerusakan atau bencana, maka manusia harus kembali ke jalan yang benar, mentaati perintah dan larangan Allah dan Rasulnya., peraturan perundang-undangan Negara yang berlaku, mendorong berbuat baik, dan mencegah perbuatan jahat, melakukan amal saleh dan perbuatan baik lainnya.
Jagat raya telah diciptakan Allah swt dalam keadaan yang sangat harmonis, serasi, seimbang dan memenuhi kebutuhan makhluk. Allah telah menjadikannya baik,dan menggunakan dan menjaganya bahkan memerintahkan hamba-hambaNya untuk memperbaikinya.Salah satu bentuk perbaikanyang dilakukan Allah adalah dengan mengutus para nabi dan Rasul untuk memberi peringatan agar tidak membuat kerusakan alam dan meluruskan perbuatan Ankara murka serta serta selau memperbaiki kehidupan yang kacau dala masyarakat. Secara logika orang yang tidak menyambut dan merespon kedatangan rasul atau menghambat misi mereka, bahkan memnentangnya maka dia telah melakukan salah satu bentuk pengrusakan di bumi.
Merusak sesuatu setelah diperaiki adalah jauh lebih buruk daripada erusaknya sebelum sesuatu itu diperbaiki atau pada saat dia buruk. Ayat ini secara tegas menggaris bawahi larangan tersebut, walaupun tentunya memperparah kerusakan atau merusak yang baik juga amat tercela.Allah SWT memerintahkan kepada rasulnya supaya memperhatikan ciptaannya bagaimana dia memanjangkan dan memendekkan baying-bayang dari tiap-tiap benda yang terkena sinar matahari mulai terbit sampai terbenamnya kalau dia menghendaki niscaya dia menjadikan baying-bayang itu tetap, tidak berpindah-pindah. Biasanya Allah membiarkan baying-bayang itu memanjang atau mmendek untuk dipergunakan manusia menguur waktu seperti mesir mempergunakan alat yang diberi nama “misallat” untuk mengukur waktu pada siang hari dan menetukan musim-musim selama setahun, sedangkan bangsa arab juga telah mempergunakan alat yang diberi nama “Mazsawil” untuk menentukan waktu sembahyang dengan baying-bayang sehingga mereka dapat memastikan tibanya waktu dzuhur bila bayangan jarunya sudah berpindah dari arah barat ke timur, dan tiba waktu ashar bila bayangan setiap benda yang berdiri sudah menyamainya dan hal tersebut juga dapat ita temui di beberapa masji di Indonesia. .
Dengan kekuasaannya Allah menarik bayang-bayang itu dan menggerakkannya beredar perlahan-lahan. Dalam peredaran baying-bayang itu secara perlahan-lahan dihilangkannya bersama-sama dengan terbenanya matahari sedikit demi sedikit dan siangpun berganti menjadi malam kemudian waktu, udara, dan kehidupan berganti. Siang berganti dengan malam keadaan yang terang berganti gelap, udara siang yang panas berganti menjadi malam yang sejuk. Kegiatan manusiapun bergati pada siang hari orang bekerja dan pada malam hari pada umumnya orang beristirahat dan tidur.
Alllah menerangkan bahwa dengan kekuaannya pula Dia mempergilirkan hujan diantara manusia sehingga menimbulkan musim. Musim di Indonesia tidak sama dengan musim di Negara lain seperti eropa dan jepang di Indonesia hanya mengenal dua musim yaitu hujan dan kemarau. Di Negara-negara lain ada musim gugur, semi dan salju.Dengan adanya peredaran matahari, perganian siang menjadi malam perubahan dan giliran musim itu hendaknya manusia dapat mengambil pelajaran guna keperluan hidup dan kesejahteraan urusan menusia, mendayagunakan sumber daya alam dan melestarikan daya gunanya untuk kesejahteraan generasi mendatang.
Sebagai orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT kita harus berterimakasih kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rizqi dan karunia sumber daya alam Indonesia yang subur, diantara cara mensyukurinya yaitu dengan beribadah kepada Allah, memelihara sumberdaya alam, dan tidak merusaknya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sesembahan apa saja yang disembah selain Allah SWT hanyalah ciptaan manusia belaka, dimana sesembahan demikian tidak mungkin mendatangkan keuntungan ataupun kerugian.Bila seseorang tidak mau beriman dan tetap mendurhakai Rasul tidaklah akan mendatangkan kerugian pada Rasul itu, tetapi justru menimbulkan kecelakaan bagi orang itu sendiri.
Terjadinya kerusakan di alam adalah akibat dari ulah manusia. Orang-orang yang membuat kerusakan alam dikategorikan sebagai orang-orang musyrik. Bencana dan penderitaan akibat dari rusaknya alam sepdrti banjir dan longsor baru sebagian yang diperlihatkan Allah sebagai siksa di dunia. Sedangkan di akhirat mereka akan merasakan siksa akibat dari ulahnya sendiri.
B. Kritik/Saran
Perintah menjaga lingkungan tidak diindahkan oleh sebagian besar umat manusia. Mereka lebih senang di dunia daripada memikirkan kebahagiaan di akhirat. Jika lingkungan mengalami kerusakan, manusia akan saling menyalahkan. Karena itu, Allah melarang manusia untuk membuat kerusakan di muka bumi.
Tafakkur Dalam Islam

Dalam islam, tafakkur mendapatkan posisi yang sangat penting dan mulia. Islam menganjurkan umatnya agar senantiasa bertafakkur dalam setiap langkahnya. Tafakkur dapat mengantarkan pelakunya sadar kepada Allah SWT Sang Pencipta alam semesta.
Kesadaran kepada Allah dengan sebenar benarnya merupakan impian setiap muslim sejati. Kesadaran kepada Allah tidak terbatas hanya pada pengertian terhadap sifat – sifat Allah dan pengetahuan yang bersifat ilmiah belaka. Akan tetapi kesadaran itu akan merasuk dalam tubuh setiap muslim sehingga sampai kepada relung hatinya dan berbuah pada amal shalih dan akhlak yang tercermin dalam setiap perbuatannya.
Allah SWT tidak hanya menilai seseorang dari lahiriahnya saja. Akan tetapi Allah juga melihat dari sisi bathiniyahnya. Bagaimana hati seseorang yang melakukan suatu amal. Apakah dalam melakukan amal tersebut ia benar – benar ikhlash karena Allah atau hanya sebatas menginginkan pamrih baik pamrih yang bersifat duniawi atau ukhrawi.
Kesadaran kepada Allah tidak mungkin dicapai dengan kita mempelajari ilmu belaka. Dalam kehidupan sehari – hari kita banyak menemukan orang yang cerdas dan memiliki banyak pengetahuan. Akan tetapi disitu pula kita menjumpai mereka memiliki perangai dan perilaku yang jauh dari tuntunan syari’at serta norma – norma yang berlaku dalam kehidupan social masyarakat. Semakin banyak orang pandai, semakin banyak pula penyimpangan – penyimpangan yang terjadi di lingkungan masyarakat. Muncullah pertanyaan mengapa hal ini bisa terjadi? Mengapa banyak orang pandai akan tetapi tidak mampu menggunakan kepandainnya untuk memberikan manfaat bagi umat dan masyarakat?
Penyimpangan – penyimapangan itu bisa terjadi oleh karena seseorang tafakkur terhadap kebesaran Allah. Seseorang yang memiliki pengetahuan tinggi apabila senantiasa bertafakkur terhadap kekuasaan Allah pasti akan menyadari bahwa apa yang ia miliki hanyalah sebatas apa yang diberikan Allah kepadanya. Apa yang dia miliki tidaklah sebanding dengan kekuasaan Allah sehingga ia tidak akan berbuat sombong dengan apa yang dimilikinya.
Kebanyakan penyimpangan itu terjadi karena seseorang merasa bahwa dirinya memiliki kelebihan disbanding yang lain. Rasa yang ada didalam hati ini yang kemudian mendorong seseorang untuk melakukan hal – hal yang menyimpang dan tidak sesuai dengan tuntutan syari’at.
Oleh karena itulah islam sangat menganjurkan kepada umatnya untuk bertafakkur. Tafakkur yang bisa mengantarkan pelakunya sadar kepada Allah SWT. Bahkan Allah SWT menilai kecendekiaan seseorang bukan hanya dari karya – karya ilmiahnya. Namun juga dari sejauh mana seseorang mau bertafakkur dan kemudian sejauh mana tafakkur tersebut mampu menghantarkannya kepada Allah SWT.
Dalam Q.S. Ali Imran ayat 190 – 191, Allah SWT berfirman:
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191)
Artinya; “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, perbedaan siang dan malam benar – benar terdapat tanda – tanda kekuasaan Allah bagi Ulul Albab (orang yang berakal/intelektual). Yaitu mereka yang selalu ingat kepada Allah saat mereka berdiri, duduk dan berbaring serta selalu bertafakkur dalam penciptaan langit dan bumi. Kemudian mereka berkata;”Duhai Tuhan kami, tdaklah Engkau menciptakan ini dengan sia – sia. Maha Suci Engkau. Maka jagalah kami dari sikssa api neraka.” (Q.S. Ali Imran;190 – 191).
Demikianlah Allah SWT menyatakan didalam ayat diatas. Seseorang yang mendapat derajat “Ulul Albab”, adalah mereka yang selalu ingat kepada Allah SWT baik dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring. Selain itu mereka juga senantiasa bertafakkur dalam segala ciptaan Allah SWT di muka bumi ini. Mereka tidak pernah menganggap remeh terhadap ciptaan Allah SWT walaupun dalam hal – hal yang kebanyakan orang – orang bodoh menganggapnya remeh. Didalam al qur’an surat al baqarah ayat 29 Allah SWT berfirman;
إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا فَأَمَّا الَّذِينَ آَمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَذَا مَثَلًا يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ (26)
Artinya; “Sesungguhnya Allah tidak merasa malu untuk menciptakan perumpamaan seperti nyamuk dan yang lebih dari itu. Maka adapun orang – orang yang berimab maka mereka mengetahui bahwa sesungguhnya hal itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan adapun orang – orang kafir, maka mereka berkata;”apa yang dikehendaki Allah dengan perumpamaan ini?” Allah menyesatkan banyak orang dengan perumpamaan itu dan Ia menunjukkan banyak orang dengan perumpamaan itu. Dan tiadalah orang disesatkan dengan hal itu kecuali orang – orang fasik.” (Q.S. Ali Imron;26).
Seseorang yang memiliki derajat “Ulul Albab” yang disebut – sebut Allah SWT didalam ayat sucinya al qur’an akan senantiasa beriman dan percaya bahwa dibalik apa yang diciptakan Allah mengandung hikmah dan pelajaran. Mereka selalu bertafakkur seraya terus mengingat akan kekuasaan dan kebenaran Allah. Sehingga iman yang ada didalam hati mereka bertambah. Semakin banyak ilmu yang mereka miliki semakin bertambah iman dan khaufnya kepada Allah. Mereka selalu menggunakan ilmu mereka dalam kerangka untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Kesadaran kepada Allah Sang Pencipta alam dalam diri ulul albab lahir karena mereka selalu bertafakkur dan mengingat Allah. Tafakkur terhadap seluruh ciptaan Allah yang ada didunia ini. Karena pada hakikatnya terdapat tanda – tanda kekuasaan Allah disetiap ciptaanNya. Baik yang tampak atau yang tidak tampak.
Dalam sebuah riwayat ‘Atha’ menceritakan : “Suatu hari aku bersama Ubayd bin Umair pergi kerumah Aisyah R.A. Kamipun berbincang dan diantara kami ada hijab/penghalang. Aisyah R.A. berkata, ‘wahai Ubayd,mengapa engkau tidak mengunjungi kami?’Ubayd berkata,’yang menghalangiku adalah ucapan rasulullah SAW:’berkunjunglah jarang – jarang, maka hal itu akan menambah kecintaan’. Ibnu Umair kemudian berkata,’Tolong ceritakan kepada kami sesuatu yang paling mengagumkan dari kehidupan rasulullah SAW.’ Aisyah menangis sambil berkata,’Semua keadaannya sangatlah mengagumkan. Suatu saat beliau mendatangiku sehingga kulit beliau menyentuh kulitku. Kemudian beliau berkata, ‘Aisyah, izinkan aku menyembah Rabbi ‘Azza wa Jalla’. Kemudian beliau berwudlu dan shalat. Beliau menangis hingga janggut beliau basah. Kemudian beliaupun bersujud hingga tanah pun basah karena air mata beliau. Sesudah shalat, beliau tiduran miring sehingga bilal datang memberitahukan beliau tentang shalat shubuh. Bilal berkata, ‘Yaa Rasulallah, apakah yang membuat tuan menangis? Bukankah Allah telah mengampuni dosa – dosa tuan yang sudah lewat dan yang akan datang?’ Rasulullah SAW bersabda, ‘Bagaimana aku tidak menangis wahai Bilal, sementara tadi malam turun ayat;
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (190)
Kemudian beliau berkata; “Celakalah bagi siapa yang membacanya dan tidak bertafakkur dengan kandungan didalamnya.” (H.R. Ibnu Hibban)
Demikianlah pribadi rasulullah SAW yang sangat mengagumkan. Walaupun beliau telah diampuni segala dosanya baik yang sudah maupun yang akan datang, akan tetapi beliau senantiasa bertafakkur dan beribadah kepada Allah hingga menangis dihadapan Allah SWT. Lantas bagaimana dengan kita yang sama sekali tidak ada jaminan. Masihkah kita selalu membanggakan diri dan tidak mau bertafakkur akan kebesaran Allah. Tidak berpikir betapa kuasanya Allah SWT dan betapa banyaknya nikamat, karunia yang telah Ia berikan kepada kita dan kita justeru kufur terhadapnya.
Allahu A’lam…….
AL FATIHAH……….
Jumat, 03 Februari 2012
AL-QUR’AN HADITS MADRASAH ALIYAH KELAS XI SEMESTER II
MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas
mata kuliah “MDP Al-Qur’an Hadits”
Dosen Pengampu:
MUHAMMAD FATONI, M.Pd.I
Disusun Oleh:
DYAH NOVITASARI (3211093006)
IRSYADUL IBAD ( )
ISMA LAILA NUR AZIZAH ( )
Kelas : A
Semester : V (LIMA)
Jurusan : Tarbiyah
Prodi : PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) TULUNGAGUNG
NOVEMBER 2011
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Al-Qur’an Hadits Madrasah Aliyah Kelas XI Semester II”.
Shalawat serta salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang membawa kita dari zaman yang gelap menuju zaman yang terang benderang yakni agama Islam.
Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada:
1. Dr.Maftukhin, M.Ag. selaku ketua STAIN Tulungagung
2. Muhammad Fatoni, M.Pd.I selaku dosen pengampu yang telah memberikan pengarahan bagi penyusunan makalah ini
3. Rekan –rekan yang telah membantu terselesaikannya makalah ini
4. Fasilitas kampus, seperti tersedianya perpustakaan
Penyusun berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca umumnya. Untuk itu kritik dan saran sangat kami harapkan dari para pembaca demi perbaikan dan pengembangan makalah ini.
Demikianlah makalah kami, semoga dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya dan pembaca umumnya.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Tulungagung, November 2011
PENYUSUN
DAFTAR ISI
Halaman Judul i
Kata Pengantar ii
Daftar Isi iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan Pembahasan Masalah 2
D. Batasan Masalah………………………………………………………… 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Perintah Hidup Sederhana dan Menyantuni Para Dhu’afa 3
B. Kompetisi dalam Kebaikan 5
C. Amar Ma’ruf Nahi Munkar 6
D. Ujian dan Cobaan……………………………………………………….. 8
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 12
B. Saran 12
C. Harapan………………………………………………………………… 12
DAFTAR RUJUKAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Sebagai umat Islam sudah seharusnya kita memahami dan menerapkan kandungan Al-Qur’an dan Hadits dalam kehidupan. Kedua sumber hukum Islam tersebut tidak hanya mengatur dan menjelaskan tentang ibadah saja, melainkan juga masalah sehari-hari yang sering kita temui dalam kehidupan. Dimana masalah tersebut tidak bisa dianggap remeh, seperti hidup sederhana, sebagaimana yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah. Selain itu juga membahas tentang berkompetisi dalam kebaikan. Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan. Karena dengan begitu manusia akan akan memiliki semangat juang dalam meraih kebaikan. Kemudian tentang amar ma’ruf nahi munkar. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk memikirkan dirinya sendiri, dan diam saja melihat kemunkaran. Tetapi sudah menjadi kewajiban bagi umat Islam untuk saling mengingatkan dan mengajak pada kebaikan. Begitupun dalam masalah ujian dan cobaan. Tentu ada bedanya antara umat manusia yang berakhlak mulia dengan yang tidak. Orang yang beriman dan percaya akan kekuasaan Allah pasti akan menjadikan shalat dan sabar sebagai penawar hati ketika diterpa ujian dan cobaan, dan merasa yakin akan janji Allah bahwa akan selalu ada hikmah dibalik ujian dan cobaan tersebut. Maka dari itu, masalah-masalah tersebut penting untuk dibahas.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimanakah anjuran Islam mengenai hidup sederhana dan menyantuni para dhu’afa?
2. Bagaimanakah anjuran Islam mengenai kompetisi dalam kebaikan?
3. Bagaimanakah anjuran Islam mengenai amar ma’ruf nahi munkar?
4. Bagaimanakah anjuran Islam dalam menghadapi ujian dan cobaan?
C. TUJUAN PEMBAHASAN MASALAH
Untuk mengetahui:
1. Anjuran Islam dalam hal hidup sederhana dan menyantuni para dhu’afa
2. Anjuran Islam dalam hal kompetisi dalam kebaikan
3. Anjuran Islam dalam hal amar ma’ruf nahi munkar
4. Anjuran Islam dalam hal menghadapi ujian dan cobaan
D. BATASAN MASALAH
Makalah ini hanya membahas tentang:
1. Anjuran Islam dalam hal hidup sederhana dan menyantuni para dhu’afa
2. Anjuran Islam dalam hal kompetisi dalam kebaikan
3. Anjuran Islam dalam hal amar ma’ruf nahi munkar
4. Anjuran Islam dalam hal menghadapi ujian dan cobaan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pola Hidup Sederhana dan Perintah Menyantuni Para Dhu’afa
Artinya: dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (QS al-Isra` 26-27).
Ayat 26 diatas memerintahkan untuk menunaikan kewajiban memenuhi hak keluarga dekat, orang-orang miskin, dan orang-orang dalam perjalanan. Memenuhi kewajiban yang dimaksud pada ayat tersebut adalah menyantuni mereka dengan membantu memenuhi kebutuhan pokok yang diperlukan mereka.
Di akhir ayat ini Allah SWT melarang kaum muslimin membelanjakan harta secara boros, larangan ini bertujuan agar kaum muslimin dapat mengatur pengeluaran hartanya dengan perhitungan yang cermat sesuai dengan keperluannya tepat mengenai sasaran yang dituju sebagaimana ketentuan agama. Tidak boleh membelanjakan hartanya melebihi dari yang seharusnya. Dengan kata lain dilarang berlaku boros. Namun kenyatannya masyarakat sekarang ini adalah mereka berkeinginan keras memiliki harta kekayaan yang melimpah ruah seperti apa yang dimiliki konglomerat, pengusaha-pengusaha besar, dan lainnya seperti, mobil-mobil mewah, lengkap dengan peralatan serba lux, serba elektronik, tanah, dan sawah ladang yang berpuluh hektar dengan jalan yang tidak wajar, tidak sesuai dengan peraturan-peraturan dan hukum agama.
Pada ayat 27 masih mengenai larangan boros di dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa orang-orang yang boros itu adalah saudara syaitan. Mereka akan mengalami kesusahan di dunia dan mengalami murka Allah di akherat kelak.
hadits
Artinya: Dari Miqdad bin Ma’di Karib berkata: aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : Tidak ada yang lebih jahat daripada orang yang memadati lambung perutnya dengan makanan untuk menguatkan badannya. Jika perlu ia makan hendaklah perut diisi sepetiganya dengan makanan, sepertiganya dengan air (minum), dan sepertiganya lagi untuk udara (bernafas). (HR. Imam Tirmidzi).
Hadits tersebut menjelaskan bahwa Rasulullah saw menjelaskan secara tegas larangan makan dan minum secara berlebihan. Diketahui bahwa sesuatu yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, di dalamnya pasti terdapat madharat bagi manusia. Oleh karena itu Islam menganjurkan kepada manusia untuk hidup sederhana. Dalam hadits ini juga dipahami bahwa Rasulullah menyatakan, tergolong suatu kejahatan apabila seseorang memadati perutnya dengan makanan semata-mata. Karena yang demikian itu akan menimbulkan penyakit, baik lahir maupun batin.
Selanjutnya Rasulullah memberikan arahan berupa anjuran bahwa perut hendaknya diisi dengan teratur dan terencana. Kalau anjuran ini dilakukan dengan baik, akan menunjang kesehatan jasmani dan rohani.
Hidup sederhana bukanlah hidup melarat. Tetapi sebatas mencukupi kebutuhan yang diperlukan tanpa berlebih-lebihan dan melampaui batas.
Rasulullah SAW sebagai tauladan dan panutan kita telah banyak meninggalkan contoh – contoh dalam kesederhanaan baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan. Beliau dalam berbicara senantiasa menggunakan kata – kata yang sederhana , kadang – kadang beliau diam tidak berbicara kecuali hal –hal yang sangat berguna. Seandainya berkata pun beliau selalu berisi kata – kata yang membawa kesejahteraan orang lain, bukan yang menunjukkan kelebihannya.
Dalam penggunaan harta kakayaan senantiasa digunakan di jalan Allah. Hartanya lebih banyak yang beliau hadiahkan atau disedekahkan untuk orang lain. Beliau seorang Nabi dan Rasul dengan misi untuk merubah sikap manusia dari sikap yang merusak menuju sikap yang membangun. Beliau membawa keselamatan hidup manusia dunia akhirat.
B. Berkompetisi dalam Kebaikan
Artinya: Dari setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS Al-Baqarah:148).
Ayat ini secara global dapat dipahami sebagai dorongan kepada umat Islam untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan. Allah menerangkan bahwa setiap pemeluk agama mempunyai kiblatnya sendiri-sendiri. Tentunya kiblat itulah yang menjadi kecenderungan mereka untuk menghadap sesuai dengan keyakinan mereka. Dan kaum muslimin mempunyai kiblat yang ditetapkan langsung oleh Allah yaitu ka`bah. Berlomba-lomba dalam kebaikan diantaranya adalah shalat, bersedekah, menuntut ilmu, dan amalan-amalan positif yang lain. Dampak positif yang dihasilkan dari kompetisi dalam kebaikan yaitu terciptanya kondisi kehidupan yang dinamis, maju dan senantiasa bersemangat untuk berkreasi dan berinovasi. Allah swt. Akan mengumpulkan semua manusia, dimanapun dan dari arah manapun mereka berada. Tidak ada seorang pun yang luput dan lepas dari pengawasan Allah swt., yaitu pada saat manusia menjalani kehidupan di alam akhirat. Mereka akan diperlihatkan semua amal baik atau buruk yang pernah dilakukan pada saat hidup di dunia dan semua akan mendapat balasan sesuai dengan amalnya masing-masing.
Meneladani generasi yg baik, perbuatan baik, dan yang lebih baik lagi akan dilakukan oleh seorang muslim apabila dia mau meneladani orang yang berbuat baik. Hal ini menjadi penting karena dengan demikian dia menyadari bahwa meskipun perasaannya sudah banyak perbuatan baik yang dilakukannya tetap saja dia merasa masih sedikit dibanding orang lain yang jauh lebih baik dari dirinya. Hal ini akan memicu semangatnya untuk berbuat baik yang lebih banyak lagi. Karena itu idealnya seorang mukmin bisa menjadi seperti cermin bagi mukmin lainnya ,sehingga manakala seseorang mengenal dan memperhatikan dirinya akan merasakan begitu banyak kekurangan termasuk dalam hal berbuat baik.
C. Amar Ma`ruf Nahi Munkar
Artinya : Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.(QS Ali Imran:104)
Melalui ayat diatas Allah SWT memerintahkan kepada umat Islam agar di antara mereka ada sekelompok orang yang bergerak dalam bidang dakwah yang selalu memberi peringatan apabila nampak gejala-gejala perpecahan dan pelanggaran terhadap ganjaran agama, dengan jalan mengajak dan menyeru manusia untuk melakukan kebajikan, menyeru kepada ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar. Cara yang ditempuh adalah dengan menyadarkan manusia bahwa perbuatan-perbuatan yang baik itu akan mendatangkan keuntungan dan kebahagiaan baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain, baik di dunia maupun di akherat. Begitu juga sebaliknya, bahwa kemungkaran dan kejahatan itu akan selalu menimbulkan kerugian dan kemadaratan, baik bagi pelakunya maupun orang lain.
Dari sini dapat dimengerti bahwa Allah mewajibkan kepada umat Islam untuk melakukan dan menggiatkan dakwah agar agama yang mereka anut dapat berkembang dengan baik dan sempurna.
Dalam rangka berdakwah diperlukan syarat-syarat sebagai berikut:
1. Harus memahami kandungan Al-Qur`an dan sunnah Nabi serta sejarah da`wah Rasulullah.
2. Harus memahami keadaan orang-orang yang menjadi obyek Da`wah
3. Harus memahami bahasa serta dialek orang-orang yang menjadi obyek da`wah.
4. Harus memahami agama dan madzab-madzhab yang berkembang dalam masyarakat.
Rasulullah berpesan kepada umat Islam agar mereka senantiasa waspada dan terus menggiatkan gerakan dakwah dan semangat juang sehingga ajaran Islam benar-benar ditaati oleh manusia. Apabila melihat kemunkaran kapan saja dan dimana saja, kita diperintahkan untuk mencegah dan mengubahnya sesuai dengan kemampuan dan kondisi kita masing-masing. Sebagaimana sabda Rasulullah dalam hadits berikut:
HADITS
Artinya: Dari Abi Sa’id Al Khudry ra. Ia berkata : Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: Siapapun di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah mengubahnya dengan tangan atau kekuasaannya. Apabila tidak mampu dengan cara ini, maka hendaklah menggunakan lisannya, apabila cara itu tidak mampu, maka hendaklah dengan hatinya. Demikian itu (cara terakhir) adalah termasuk selemah-lemahnya iman. (HR. Muslim).
Hadits dan perkataan Syaikhul Islam di atas menjelaskan bahwa amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan karakter seorang yang beriman, dan dalam mengingkari kemungkaran tersebut ada tiga tingkatan:
1. Mengingkari dengan tangan.
2. Mengingkari dengan lisan.
3. Mengingkari dengan hati.
Tingkatan pertama dan kedua wajib bagi setiap orang yang mampu melakukannya, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits di atas, dalam hal ini seseorang apabila melihat suatu kemungkaran maka ia wajib mengubahnya dengan tangan jika ia mampu melakukannya, seperti seorang penguasa terhadap bawahannya, kepala keluarga terhadap istri, anak dan keluarganya, dan mengingkari dengan tangan bukan berarti dengan senjata.
Adapun dengan lisan seperti memberikan nasihat yang merupakan hak di antara sesama muslim dan sebagai realisasi dari amar ma’ruf dan nahi mungkar itu sendiri, dengan menggunakan tulisan yang mengajak kepada kebenaran dan membantah syubhat (kerancuan) dan segala bentuk kebatilan.
Adapun tingkatan terakhir (mengingkari dengan hati) artinya adalah membenci kemungkaran- kemungkaran tersebut, ini adalah kewajiban yang tidak gugur atas setiap individu dalam setiap situasi dan kondisi, oleh karena itu barang siapa yang tidak mengingkari dengan hatinya maka ia akan binasa.
D. Ujian dan Cobaan
Artinya : Sungguh kami pasti akan terus menerus menguji kamu berupa sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang -orang yang bersabar. (QS Al-Baqarah:155).
Ujian atau cobaan yang diberikan kepada manusia itu pada hakikatnya sedikit sehingga betapa pun besarnya ujian dan cobaan, ia sedikit jika dibandingkan dengan imbalan dan balasan yang akan diterima. Ujian yang diberikan Allah sedikit. Ia dikatakan hanya sedikit, dan setiap manusia yang diuji mestinya harus mampu memikulnya sebab antara ujian atau cobaan dengan potensi kemampuan yang diberikan kepada manusia adalah lebih besar potensi yang ada. Masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari adalah bisakah manusia menggunakan potensi-potensi yang dianugrahkan Allah itu. Pada ayat sebelum ini adalah perintah untuk shalat dan bersabar. Sesuai tuntunan Nabi ketika ujian berlangsung maka Beliau shalat. Itu sebabnya Rasul saw., sebagaimana diriwayatkan Hudzaifah ibn Al-Yamin, bahwa “apabila beliau dihadapkan pada satu kesulitan atau ujian , beliau melaksanakan shalat”.
Sepanjang kehidupan kita, ujian & cobaan datang silih berganti karena makna kehidupan itu sendiri adalah bagaimana menghadapinya. Ujian & cobaan kehidupan adalah tantangan yang akan memilah mana orang yang tahan uji dan mana orang yang lemah, mana orang yang beriman dan mana orang tidak beriman. Bagi seorang mukmin kehidupan akan selalu mendatangkan keberuntungan karena ia bersyukur ketika memperoleh nikmat dan bersabar ketika menghadapi kesulitan. Sebaliknya orang tak beriman selalu tak beruntung, ketika memperoleh nikmat ia lupa diri dan ketika menghadapi kesulitan berat ia lupa ingatan. Sabar ialah tabah hati tanpa mengeluh dalam menghadapi cobaan dan rintangan, dalam jangka waktu tertentu, dalam rangka mencapai tujuan. Islam mengajarkan bersabar itu indah.
Dalam Al-Baqarah: 155, Allah telah menyebutkan beberapa ujian di antaraya:
1) Sedikit dari rasa takut, yakni keresahan hati atau ketakutan menyangkut sesuatu yang buruk yang terjadi atau yang akan terjadi, atau hal-hal yang tidak menyenangkan, dan tidak diharapkan yang mungkin akan terjadi.
2) Sedikit rasa lapar, yakni keinginan yang sangat kuat untuk makan dan minum karena perut kosong keroncongan, tetapi belum menemukan makanan dan minuman yang dibutuhkan.
3) Kekurangan harta, ujian ini bentuknya seperti kemiskinan.
4) Kekurangan jiwa,seperti adanya kematian dan apapun sebab dari kematian. Hal ini merupakan ujian atau cobaan bagi yang ditinggalkan.
5) Buah-buahan, tidak berbuahnya tanaman baik di perkebunan maupun sawah sebagaimana yang diharapkan.
Informasi Allah tentang “materi ujian” ini adalah merupakan nikmat besar tersendiri, sebab dengan kita mengetahui dan memahami bentuk dan macam ujian tersebut maka kita dapat mempersiapkan diri menghadapi aneka ujian itu. Ujian pada hakikatnya dibutuhkan dan diperlukan oleh manusia dalam rangka untuk kenaikan tingkat. Ujian itu sendiri baik. Yang buruk adalah kegagalan menghadapinya.
Allah memang tidak menerangkan kapan, dimana, dan dalam bentuk apa isi ujiannya. Seseorang yang takut menghadapi ujian adalah ia sama dengan menuju pintu gerbang kegagalan, demikian juga ujian-ujian IIahi. Demikian juga manusia harus siap menghadapi sesuatu apapun bentuk dan ujian dan kita yakin dengan membentengi diri dari segala macam bentuk keyakinan. Biarkan dia datang kapan saja, sebab yang paling penting bagi kita adalah bagaimana kita mampu menjawab atau menghadapinya.
HADITS
Artinya: Dari Suhaib, dia berkata: Rasulullah bersabda: Sungguh menakjubkan keadaan orang beriman karena semua urusannya baik. Hal itu tidak bisa diraih seorangpun selain mereka yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, dia bersyukur dan itu baik baginya. Jika tertimpa musibah ia bersabar dan itu adalah baik baginya. (HR. Muslim).
Semua manusia dalam menjalani kehidupan di dunia pasti akan mengalami ujian dan cobaan. Dalam menghadapi ujian dan cobaan itu manusia ada yang tetap bersikap tenang dan ada pula yang bersikap sedih, putus asa, bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengakhiri hidupnya. Namun orang beriman memiliki sikap mulia dalam menghadapi ujian dan cobaan itu sehingga dapat membawa kebaikan padanya. Dalam kandungan hadits di atas, menunjukkan sikap orang yang beriman dalam menghadapi ujian. Sikap inilah yang membedakan antara orang beriman dan orang kafir. Segala bentuk cobaan ataupun ujian dapat menjadikan setiap urusan yang dihadapinya selalu bernilai kebaikan.
Kandungan lain hadits di atas adalah semua urusan orang beriman akan menjadi baik apabila ia mau bersikap sabar saat ditimpa musibah. Sebagai seorang beriman harus yakin apapun bentuk musibah yang ditimpakan kepada kita, musibah itu pasti masih pada batas-batas kemampuan manusia. Allah tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hambaNya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Allah memerintahkan untuk menunaikan kewajiban memenuhi hak keluarga dekat, orang-orang miskin, dan orang-orang dalam perjalanan dan melarang kaum muslimin membelanjakan harta secara boros.
2. Adanya dorongan kepada umat Islam untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan.
3. Sudah menjadi kewajiban bagi umat Islam untuk selalu beramar ma’ruf nahi munkar, maka sudah selayaknya umat melakukan dakwah, meskipun hanya kepada keluarga terdekat.
4. Ujian dan cobaan harus dihadapi dengan shalat dan sabar.
B. Saran
Penting sekali bagi umat Islam untuk tidak hanya membaca Al-Qur’an dan Hadits, melainkan juga memahami dan menerapkannya dalam kehidupan.
C. Harapan
Semoga makalah ini bermanfaat bagi penyusun pada khususnya dan pembaca pada umumnya.
DAFTAR RUJUKAN
Tim Musyawarah Guru Bina PAI MAdrasah Aliyah, Lembar Kerja Siswa Al-Hikmah.
http://ayat-ayatallah.blogspot.com/2011/03/
http://www.hidayatullah.com/read/17925/11/07/2011/ayo-berkompetisi-dalam-kebaikan!.html
http://muslim.or.id/manhaj/amar-maruf-nahi-mungkar-1.html
http://dunia.pelajar-islam.or.id/dunia.pii/blog/bersabar-itu-indah-3.html
MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas
mata kuliah “MDP Al-Qur’an Hadits”
Dosen Pengampu:
MUHAMMAD FATONI, M.Pd.I
Disusun Oleh:
DYAH NOVITASARI (3211093006)
IRSYADUL IBAD ( )
ISMA LAILA NUR AZIZAH ( )
Kelas : A
Semester : V (LIMA)
Jurusan : Tarbiyah
Prodi : PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) TULUNGAGUNG
NOVEMBER 2011
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Al-Qur’an Hadits Madrasah Aliyah Kelas XI Semester II”.
Shalawat serta salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang membawa kita dari zaman yang gelap menuju zaman yang terang benderang yakni agama Islam.
Tidak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada:
1. Dr.Maftukhin, M.Ag. selaku ketua STAIN Tulungagung
2. Muhammad Fatoni, M.Pd.I selaku dosen pengampu yang telah memberikan pengarahan bagi penyusunan makalah ini
3. Rekan –rekan yang telah membantu terselesaikannya makalah ini
4. Fasilitas kampus, seperti tersedianya perpustakaan
Penyusun berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi para pembaca umumnya. Untuk itu kritik dan saran sangat kami harapkan dari para pembaca demi perbaikan dan pengembangan makalah ini.
Demikianlah makalah kami, semoga dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya dan pembaca umumnya.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Tulungagung, November 2011
PENYUSUN
DAFTAR ISI
Halaman Judul i
Kata Pengantar ii
Daftar Isi iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan Pembahasan Masalah 2
D. Batasan Masalah………………………………………………………… 2
BAB II PEMBAHASAN
A. Perintah Hidup Sederhana dan Menyantuni Para Dhu’afa 3
B. Kompetisi dalam Kebaikan 5
C. Amar Ma’ruf Nahi Munkar 6
D. Ujian dan Cobaan……………………………………………………….. 8
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan 12
B. Saran 12
C. Harapan………………………………………………………………… 12
DAFTAR RUJUKAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Sebagai umat Islam sudah seharusnya kita memahami dan menerapkan kandungan Al-Qur’an dan Hadits dalam kehidupan. Kedua sumber hukum Islam tersebut tidak hanya mengatur dan menjelaskan tentang ibadah saja, melainkan juga masalah sehari-hari yang sering kita temui dalam kehidupan. Dimana masalah tersebut tidak bisa dianggap remeh, seperti hidup sederhana, sebagaimana yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah. Selain itu juga membahas tentang berkompetisi dalam kebaikan. Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa berlomba-lomba dalam kebaikan. Karena dengan begitu manusia akan akan memiliki semangat juang dalam meraih kebaikan. Kemudian tentang amar ma’ruf nahi munkar. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk memikirkan dirinya sendiri, dan diam saja melihat kemunkaran. Tetapi sudah menjadi kewajiban bagi umat Islam untuk saling mengingatkan dan mengajak pada kebaikan. Begitupun dalam masalah ujian dan cobaan. Tentu ada bedanya antara umat manusia yang berakhlak mulia dengan yang tidak. Orang yang beriman dan percaya akan kekuasaan Allah pasti akan menjadikan shalat dan sabar sebagai penawar hati ketika diterpa ujian dan cobaan, dan merasa yakin akan janji Allah bahwa akan selalu ada hikmah dibalik ujian dan cobaan tersebut. Maka dari itu, masalah-masalah tersebut penting untuk dibahas.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimanakah anjuran Islam mengenai hidup sederhana dan menyantuni para dhu’afa?
2. Bagaimanakah anjuran Islam mengenai kompetisi dalam kebaikan?
3. Bagaimanakah anjuran Islam mengenai amar ma’ruf nahi munkar?
4. Bagaimanakah anjuran Islam dalam menghadapi ujian dan cobaan?
C. TUJUAN PEMBAHASAN MASALAH
Untuk mengetahui:
1. Anjuran Islam dalam hal hidup sederhana dan menyantuni para dhu’afa
2. Anjuran Islam dalam hal kompetisi dalam kebaikan
3. Anjuran Islam dalam hal amar ma’ruf nahi munkar
4. Anjuran Islam dalam hal menghadapi ujian dan cobaan
D. BATASAN MASALAH
Makalah ini hanya membahas tentang:
1. Anjuran Islam dalam hal hidup sederhana dan menyantuni para dhu’afa
2. Anjuran Islam dalam hal kompetisi dalam kebaikan
3. Anjuran Islam dalam hal amar ma’ruf nahi munkar
4. Anjuran Islam dalam hal menghadapi ujian dan cobaan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pola Hidup Sederhana dan Perintah Menyantuni Para Dhu’afa
Artinya: dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (QS al-Isra` 26-27).
Ayat 26 diatas memerintahkan untuk menunaikan kewajiban memenuhi hak keluarga dekat, orang-orang miskin, dan orang-orang dalam perjalanan. Memenuhi kewajiban yang dimaksud pada ayat tersebut adalah menyantuni mereka dengan membantu memenuhi kebutuhan pokok yang diperlukan mereka.
Di akhir ayat ini Allah SWT melarang kaum muslimin membelanjakan harta secara boros, larangan ini bertujuan agar kaum muslimin dapat mengatur pengeluaran hartanya dengan perhitungan yang cermat sesuai dengan keperluannya tepat mengenai sasaran yang dituju sebagaimana ketentuan agama. Tidak boleh membelanjakan hartanya melebihi dari yang seharusnya. Dengan kata lain dilarang berlaku boros. Namun kenyatannya masyarakat sekarang ini adalah mereka berkeinginan keras memiliki harta kekayaan yang melimpah ruah seperti apa yang dimiliki konglomerat, pengusaha-pengusaha besar, dan lainnya seperti, mobil-mobil mewah, lengkap dengan peralatan serba lux, serba elektronik, tanah, dan sawah ladang yang berpuluh hektar dengan jalan yang tidak wajar, tidak sesuai dengan peraturan-peraturan dan hukum agama.
Pada ayat 27 masih mengenai larangan boros di dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa orang-orang yang boros itu adalah saudara syaitan. Mereka akan mengalami kesusahan di dunia dan mengalami murka Allah di akherat kelak.
hadits
Artinya: Dari Miqdad bin Ma’di Karib berkata: aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : Tidak ada yang lebih jahat daripada orang yang memadati lambung perutnya dengan makanan untuk menguatkan badannya. Jika perlu ia makan hendaklah perut diisi sepetiganya dengan makanan, sepertiganya dengan air (minum), dan sepertiganya lagi untuk udara (bernafas). (HR. Imam Tirmidzi).
Hadits tersebut menjelaskan bahwa Rasulullah saw menjelaskan secara tegas larangan makan dan minum secara berlebihan. Diketahui bahwa sesuatu yang dilarang oleh Allah dan RasulNya, di dalamnya pasti terdapat madharat bagi manusia. Oleh karena itu Islam menganjurkan kepada manusia untuk hidup sederhana. Dalam hadits ini juga dipahami bahwa Rasulullah menyatakan, tergolong suatu kejahatan apabila seseorang memadati perutnya dengan makanan semata-mata. Karena yang demikian itu akan menimbulkan penyakit, baik lahir maupun batin.
Selanjutnya Rasulullah memberikan arahan berupa anjuran bahwa perut hendaknya diisi dengan teratur dan terencana. Kalau anjuran ini dilakukan dengan baik, akan menunjang kesehatan jasmani dan rohani.
Hidup sederhana bukanlah hidup melarat. Tetapi sebatas mencukupi kebutuhan yang diperlukan tanpa berlebih-lebihan dan melampaui batas.
Rasulullah SAW sebagai tauladan dan panutan kita telah banyak meninggalkan contoh – contoh dalam kesederhanaan baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan. Beliau dalam berbicara senantiasa menggunakan kata – kata yang sederhana , kadang – kadang beliau diam tidak berbicara kecuali hal –hal yang sangat berguna. Seandainya berkata pun beliau selalu berisi kata – kata yang membawa kesejahteraan orang lain, bukan yang menunjukkan kelebihannya.
Dalam penggunaan harta kakayaan senantiasa digunakan di jalan Allah. Hartanya lebih banyak yang beliau hadiahkan atau disedekahkan untuk orang lain. Beliau seorang Nabi dan Rasul dengan misi untuk merubah sikap manusia dari sikap yang merusak menuju sikap yang membangun. Beliau membawa keselamatan hidup manusia dunia akhirat.
B. Berkompetisi dalam Kebaikan
Artinya: Dari setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (QS Al-Baqarah:148).
Ayat ini secara global dapat dipahami sebagai dorongan kepada umat Islam untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan. Allah menerangkan bahwa setiap pemeluk agama mempunyai kiblatnya sendiri-sendiri. Tentunya kiblat itulah yang menjadi kecenderungan mereka untuk menghadap sesuai dengan keyakinan mereka. Dan kaum muslimin mempunyai kiblat yang ditetapkan langsung oleh Allah yaitu ka`bah. Berlomba-lomba dalam kebaikan diantaranya adalah shalat, bersedekah, menuntut ilmu, dan amalan-amalan positif yang lain. Dampak positif yang dihasilkan dari kompetisi dalam kebaikan yaitu terciptanya kondisi kehidupan yang dinamis, maju dan senantiasa bersemangat untuk berkreasi dan berinovasi. Allah swt. Akan mengumpulkan semua manusia, dimanapun dan dari arah manapun mereka berada. Tidak ada seorang pun yang luput dan lepas dari pengawasan Allah swt., yaitu pada saat manusia menjalani kehidupan di alam akhirat. Mereka akan diperlihatkan semua amal baik atau buruk yang pernah dilakukan pada saat hidup di dunia dan semua akan mendapat balasan sesuai dengan amalnya masing-masing.
Meneladani generasi yg baik, perbuatan baik, dan yang lebih baik lagi akan dilakukan oleh seorang muslim apabila dia mau meneladani orang yang berbuat baik. Hal ini menjadi penting karena dengan demikian dia menyadari bahwa meskipun perasaannya sudah banyak perbuatan baik yang dilakukannya tetap saja dia merasa masih sedikit dibanding orang lain yang jauh lebih baik dari dirinya. Hal ini akan memicu semangatnya untuk berbuat baik yang lebih banyak lagi. Karena itu idealnya seorang mukmin bisa menjadi seperti cermin bagi mukmin lainnya ,sehingga manakala seseorang mengenal dan memperhatikan dirinya akan merasakan begitu banyak kekurangan termasuk dalam hal berbuat baik.
C. Amar Ma`ruf Nahi Munkar
Artinya : Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.(QS Ali Imran:104)
Melalui ayat diatas Allah SWT memerintahkan kepada umat Islam agar di antara mereka ada sekelompok orang yang bergerak dalam bidang dakwah yang selalu memberi peringatan apabila nampak gejala-gejala perpecahan dan pelanggaran terhadap ganjaran agama, dengan jalan mengajak dan menyeru manusia untuk melakukan kebajikan, menyeru kepada ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar. Cara yang ditempuh adalah dengan menyadarkan manusia bahwa perbuatan-perbuatan yang baik itu akan mendatangkan keuntungan dan kebahagiaan baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain, baik di dunia maupun di akherat. Begitu juga sebaliknya, bahwa kemungkaran dan kejahatan itu akan selalu menimbulkan kerugian dan kemadaratan, baik bagi pelakunya maupun orang lain.
Dari sini dapat dimengerti bahwa Allah mewajibkan kepada umat Islam untuk melakukan dan menggiatkan dakwah agar agama yang mereka anut dapat berkembang dengan baik dan sempurna.
Dalam rangka berdakwah diperlukan syarat-syarat sebagai berikut:
1. Harus memahami kandungan Al-Qur`an dan sunnah Nabi serta sejarah da`wah Rasulullah.
2. Harus memahami keadaan orang-orang yang menjadi obyek Da`wah
3. Harus memahami bahasa serta dialek orang-orang yang menjadi obyek da`wah.
4. Harus memahami agama dan madzab-madzhab yang berkembang dalam masyarakat.
Rasulullah berpesan kepada umat Islam agar mereka senantiasa waspada dan terus menggiatkan gerakan dakwah dan semangat juang sehingga ajaran Islam benar-benar ditaati oleh manusia. Apabila melihat kemunkaran kapan saja dan dimana saja, kita diperintahkan untuk mencegah dan mengubahnya sesuai dengan kemampuan dan kondisi kita masing-masing. Sebagaimana sabda Rasulullah dalam hadits berikut:
HADITS
Artinya: Dari Abi Sa’id Al Khudry ra. Ia berkata : Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: Siapapun di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah mengubahnya dengan tangan atau kekuasaannya. Apabila tidak mampu dengan cara ini, maka hendaklah menggunakan lisannya, apabila cara itu tidak mampu, maka hendaklah dengan hatinya. Demikian itu (cara terakhir) adalah termasuk selemah-lemahnya iman. (HR. Muslim).
Hadits dan perkataan Syaikhul Islam di atas menjelaskan bahwa amar ma’ruf dan nahi mungkar merupakan karakter seorang yang beriman, dan dalam mengingkari kemungkaran tersebut ada tiga tingkatan:
1. Mengingkari dengan tangan.
2. Mengingkari dengan lisan.
3. Mengingkari dengan hati.
Tingkatan pertama dan kedua wajib bagi setiap orang yang mampu melakukannya, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits di atas, dalam hal ini seseorang apabila melihat suatu kemungkaran maka ia wajib mengubahnya dengan tangan jika ia mampu melakukannya, seperti seorang penguasa terhadap bawahannya, kepala keluarga terhadap istri, anak dan keluarganya, dan mengingkari dengan tangan bukan berarti dengan senjata.
Adapun dengan lisan seperti memberikan nasihat yang merupakan hak di antara sesama muslim dan sebagai realisasi dari amar ma’ruf dan nahi mungkar itu sendiri, dengan menggunakan tulisan yang mengajak kepada kebenaran dan membantah syubhat (kerancuan) dan segala bentuk kebatilan.
Adapun tingkatan terakhir (mengingkari dengan hati) artinya adalah membenci kemungkaran- kemungkaran tersebut, ini adalah kewajiban yang tidak gugur atas setiap individu dalam setiap situasi dan kondisi, oleh karena itu barang siapa yang tidak mengingkari dengan hatinya maka ia akan binasa.
D. Ujian dan Cobaan
Artinya : Sungguh kami pasti akan terus menerus menguji kamu berupa sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang -orang yang bersabar. (QS Al-Baqarah:155).
Ujian atau cobaan yang diberikan kepada manusia itu pada hakikatnya sedikit sehingga betapa pun besarnya ujian dan cobaan, ia sedikit jika dibandingkan dengan imbalan dan balasan yang akan diterima. Ujian yang diberikan Allah sedikit. Ia dikatakan hanya sedikit, dan setiap manusia yang diuji mestinya harus mampu memikulnya sebab antara ujian atau cobaan dengan potensi kemampuan yang diberikan kepada manusia adalah lebih besar potensi yang ada. Masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari adalah bisakah manusia menggunakan potensi-potensi yang dianugrahkan Allah itu. Pada ayat sebelum ini adalah perintah untuk shalat dan bersabar. Sesuai tuntunan Nabi ketika ujian berlangsung maka Beliau shalat. Itu sebabnya Rasul saw., sebagaimana diriwayatkan Hudzaifah ibn Al-Yamin, bahwa “apabila beliau dihadapkan pada satu kesulitan atau ujian , beliau melaksanakan shalat”.
Sepanjang kehidupan kita, ujian & cobaan datang silih berganti karena makna kehidupan itu sendiri adalah bagaimana menghadapinya. Ujian & cobaan kehidupan adalah tantangan yang akan memilah mana orang yang tahan uji dan mana orang yang lemah, mana orang yang beriman dan mana orang tidak beriman. Bagi seorang mukmin kehidupan akan selalu mendatangkan keberuntungan karena ia bersyukur ketika memperoleh nikmat dan bersabar ketika menghadapi kesulitan. Sebaliknya orang tak beriman selalu tak beruntung, ketika memperoleh nikmat ia lupa diri dan ketika menghadapi kesulitan berat ia lupa ingatan. Sabar ialah tabah hati tanpa mengeluh dalam menghadapi cobaan dan rintangan, dalam jangka waktu tertentu, dalam rangka mencapai tujuan. Islam mengajarkan bersabar itu indah.
Dalam Al-Baqarah: 155, Allah telah menyebutkan beberapa ujian di antaraya:
1) Sedikit dari rasa takut, yakni keresahan hati atau ketakutan menyangkut sesuatu yang buruk yang terjadi atau yang akan terjadi, atau hal-hal yang tidak menyenangkan, dan tidak diharapkan yang mungkin akan terjadi.
2) Sedikit rasa lapar, yakni keinginan yang sangat kuat untuk makan dan minum karena perut kosong keroncongan, tetapi belum menemukan makanan dan minuman yang dibutuhkan.
3) Kekurangan harta, ujian ini bentuknya seperti kemiskinan.
4) Kekurangan jiwa,seperti adanya kematian dan apapun sebab dari kematian. Hal ini merupakan ujian atau cobaan bagi yang ditinggalkan.
5) Buah-buahan, tidak berbuahnya tanaman baik di perkebunan maupun sawah sebagaimana yang diharapkan.
Informasi Allah tentang “materi ujian” ini adalah merupakan nikmat besar tersendiri, sebab dengan kita mengetahui dan memahami bentuk dan macam ujian tersebut maka kita dapat mempersiapkan diri menghadapi aneka ujian itu. Ujian pada hakikatnya dibutuhkan dan diperlukan oleh manusia dalam rangka untuk kenaikan tingkat. Ujian itu sendiri baik. Yang buruk adalah kegagalan menghadapinya.
Allah memang tidak menerangkan kapan, dimana, dan dalam bentuk apa isi ujiannya. Seseorang yang takut menghadapi ujian adalah ia sama dengan menuju pintu gerbang kegagalan, demikian juga ujian-ujian IIahi. Demikian juga manusia harus siap menghadapi sesuatu apapun bentuk dan ujian dan kita yakin dengan membentengi diri dari segala macam bentuk keyakinan. Biarkan dia datang kapan saja, sebab yang paling penting bagi kita adalah bagaimana kita mampu menjawab atau menghadapinya.
HADITS
Artinya: Dari Suhaib, dia berkata: Rasulullah bersabda: Sungguh menakjubkan keadaan orang beriman karena semua urusannya baik. Hal itu tidak bisa diraih seorangpun selain mereka yang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, dia bersyukur dan itu baik baginya. Jika tertimpa musibah ia bersabar dan itu adalah baik baginya. (HR. Muslim).
Semua manusia dalam menjalani kehidupan di dunia pasti akan mengalami ujian dan cobaan. Dalam menghadapi ujian dan cobaan itu manusia ada yang tetap bersikap tenang dan ada pula yang bersikap sedih, putus asa, bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengakhiri hidupnya. Namun orang beriman memiliki sikap mulia dalam menghadapi ujian dan cobaan itu sehingga dapat membawa kebaikan padanya. Dalam kandungan hadits di atas, menunjukkan sikap orang yang beriman dalam menghadapi ujian. Sikap inilah yang membedakan antara orang beriman dan orang kafir. Segala bentuk cobaan ataupun ujian dapat menjadikan setiap urusan yang dihadapinya selalu bernilai kebaikan.
Kandungan lain hadits di atas adalah semua urusan orang beriman akan menjadi baik apabila ia mau bersikap sabar saat ditimpa musibah. Sebagai seorang beriman harus yakin apapun bentuk musibah yang ditimpakan kepada kita, musibah itu pasti masih pada batas-batas kemampuan manusia. Allah tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hambaNya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Allah memerintahkan untuk menunaikan kewajiban memenuhi hak keluarga dekat, orang-orang miskin, dan orang-orang dalam perjalanan dan melarang kaum muslimin membelanjakan harta secara boros.
2. Adanya dorongan kepada umat Islam untuk selalu berlomba-lomba dalam kebaikan.
3. Sudah menjadi kewajiban bagi umat Islam untuk selalu beramar ma’ruf nahi munkar, maka sudah selayaknya umat melakukan dakwah, meskipun hanya kepada keluarga terdekat.
4. Ujian dan cobaan harus dihadapi dengan shalat dan sabar.
B. Saran
Penting sekali bagi umat Islam untuk tidak hanya membaca Al-Qur’an dan Hadits, melainkan juga memahami dan menerapkannya dalam kehidupan.
C. Harapan
Semoga makalah ini bermanfaat bagi penyusun pada khususnya dan pembaca pada umumnya.
DAFTAR RUJUKAN
Tim Musyawarah Guru Bina PAI MAdrasah Aliyah, Lembar Kerja Siswa Al-Hikmah.
http://ayat-ayatallah.blogspot.com/2011/03/
http://www.hidayatullah.com/read/17925/11/07/2011/ayo-berkompetisi-dalam-kebaikan!.html
http://muslim.or.id/manhaj/amar-maruf-nahi-mungkar-1.html
http://dunia.pelajar-islam.or.id/dunia.pii/blog/bersabar-itu-indah-3.html
Kamis, 02 Februari 2012
MAKALAH
KANDUNGAN HADIS TENTANG MENUNTUT ILMU DAN MENGHARGAI WAKTU
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
“MDP Al-Qur’an dan Hadits "
Dosen Pembimbing:
Muhammad Fatoni, M.Pd.I
Disusun Oleh :
Resti Safrina Hayati (3211093020)
Nur Kholis (3211093019)
Agus Saifulloh (3211093001)
Semester : V
Prodi : PAI “A”
Jurusan : Tarbiyah
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) TULUNGAGUNG
OKTOBER 2011
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, bahwa hanya dengan petunjuk dan hidayah-Nya penulisan makalah ini dapat terselesaikan dan sampai di hadapan para pembaca yang berbahagia. Semoga kiranya membawa manfaat yang sebesar-besarnya dan memberikan sumbangan yang berarti bagi pendidikan pada masa sekarang dan yang akan datang.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Yang telah membawa kita ke dunia yang penuh dengan kedamaian.
Dengan terselesaikannya pembuatan makalah ini penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada :
Bapak Dr. Maftukhin, M.Ag selaku Ketua STAIN Tulungagung
Muhammad Fatoni, M.Pd.I, selaku dosen pembimbing
Teman-teman yang ikut berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini.
Fasilitas perpustakaan STAIN Tulungagung
Dalam penulisan makalah ini tentunya banyak dijumpai kekurangan dan kelemahannya. Untuk itu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan mengharap tegur sapa serta saran-saran penyempurnaan, agar kekurangan dan kelemahan yang ada tidak sampai mengurangi nilai dan manfaat bagi pengembangan studi Islam pada umumnya.
Tulungagung, Oktober 2011
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL....................................................................................... i
KATA PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................ 1
B. Rumusan Masalah........................................................................ 1
C. Tujuan Masalah............................................................................ 1
D. Batasan Masalah.......................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Hadis tentang menuntut ilmu ................................................... 2
B. Hadis tentang menghargai waktu ................................................ 7
C. Penerapan kedua hadis dalam kehidupan sehari-hari .................. 8
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................. 10
B. Saran........................................................................................... 10
DAFTAR RUJUKAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Waktu dan ilmu adalah sebuah anugrah dari Allah swt yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan dicari. Sebagai seorang pelajar yang pandai memanfaatkan waktu dan memiliki kewajiban untuk menuntut ilmu maka harus dapat menyelesaikan belajarnya tepat waktu. Tentu saja dengan prestasi yang memuaskan.
Sebagai generasi penerus dan sebagai pelajar harusnya mereka memiliki kesadaran betapa pentingnya memanfaatkan sebuah waktu dengan baik dan menuntut ilmu. Tapi kenyataan sekarang, banyak dari mereka yang kurang menyadari hal itu.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana kandungan hadis tentang menuntut ilmu?
2. Bagaimana kandungan hadis tentang menghargai waktu?
3. Bagaimana penerapan kandungan hadis tentang menuntut ilmu dan menghargai waktu dalam kehidupan sehari-hari?
C. TUJUAN MASALAH
1. Untuk mengetahui bagaimana kandungan hadis tentang menuntut ilmu.
2. Untuk mengetahui bagaimana kandungan hadis tentang menghargai waktu.
3. Ubntuk mengetahui bagaimana penerapan kandungan hadis tentang menuntut ilmu dan menghargai waktu dalam kehidupan sehari-hari.
D. BATASAN MASALAH
Pembahasan makalah ini dibatasi hanya pada masalah kandungan hadis tentang menuntut ilmu dan menghargai waktu.
BAB II
PEMBAHASAN
A. HADIS TENTANG MENUNTUT ILMU
Abu Darda r.a. telah menceritakan hadits berikut:[1]
Artinya:
Aku telah mendengar Rosulullah saw, bersabda: ”barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu,niscahya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju ke surga.sesungguhnya para Malaikat benar-benar meletakkan sayapnya karena rida kepada penuntut ilmu. Sesungguhnya orang alim itu benar-benar dimintakan ampunan oleh semua makhluk di langit dan dibumi hingga ikan-ikan yang ada di air.keutamaan orang yang alim atas yang ahli ibadah seperti keutamaan rembulan atas semua bintang-bintang.sesungguhnya ulama itu adalah pewaris nabi,sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham melainkan mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barang siapa yang mengambil ilmu bagian yang berlimpah”.
Keterangan:
Abu Darda tinggal di Damaskus, lalu datang kepadanya seorang lelaki dari Madinah. Abu Darda berkata kepadanya, “apakah gerangan yang menyebabkan engkau datang kemari?” lelaki itu menjawab,” tiadalah aku datang kemari melainkan karena suatu hadis yang pernah kudengar darimu. “selanjutnya abu darda menceritakan hadis ini.
Para malaikat yang dimaksud di dalam hadis ini adalah yang telah disebutkan dalam hadis sebelumnya. Mereka berhenti dan mengelilingi orang-orang yang sedang menuntut ilmu untuk memperoleh bagian dari rahmat Allah yang diturunkan kepada mereka dan cahayanya. Demikian itu mereka lakukan mereka rida terhadap perbuatan orang-orang yang sedang menuntut ilmu dan sebagi penghormatan buatannya.
Yang dimaksud dengan penuntut ilmu ialah penuntut ilmu yang mengamalkan ilmunya.
Makhluk yang dilangit, maksudnya ialah para malaikat yang ada dilangit, mereka membaca tasbih seraya memuji Rabb mereka dan memintakan ampunan buat orang-orang yang dibumi. Makhluk yang dibumi, maksudnya manusia, jin dan hewan.
Al-Hiitaan, ikan-ikan; permohonan ampun oleh semua makhluk yang telah disebutkan buat orang yang alim, maksudnya mereka mendoakannya. Demikian itu karena orang yang alim dengan bimbingan dengan petunjuknya kepada manusia menyebabkan ia disukai Allah SWT.
Apabila Allah menyukainya, maka turut mencintainya pula semua malaikat dan makhluknya dan apabila mereka mencintainya maka mereka pasti mendoakannya. Hal ini ingsaAllah akan kami sebutkan dalam bab akhlak.
Artinya:
Dari Abu Hurairah r.a, dai berkata: ” Rosulullah saw bersabda: Apabila anak adam meninggal dunia, terputuslah ilmunya kecuali tiga perkara, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang mendo’akannya “. (HR. Muslim).
Kandungan Hadits:
Anjuran untuk mempersiapkan bekal sebelum mati dengan amal-amal shalih.
Amal-amal shalih yang manfaatnya tetap berlanjut setelah orangnya meninggal dunia, maka pahalanya tetap mengalir kepadanya.
Anjuran agar melaksanakan amal kebaikan dengan cara wakaf, seperti membangun masjid, madrasah, membuat sumur, Hatau menanam pohon. Semuanya itu merupakan sedekah jariyah.
Disunahakan mengajarkan ilmu dan menyusun kitab-kitab yang bermanfaat. Itulah diantara ilmu nafi’ (yang bermanfaat) yang pahalanya tetap berlangsung sepanjang zaman.
Anjuran untuk mendidik anak dan mengajari mereka perkara yang fardhu dan sunnah, serta adab sopan santun agar mereka menjadi orang-orang shalih.
Artinya: Dari Anas bin Malik, ia berkata,” Rasulullah saw bersabda, “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap umat islam. Memebrikan ilmu kepada orang yang bukan ahlinya (tidak tepat), seperti orang yang mengalungi babi dengan permata, mutiara atau emas.” (H.R Ibnu Majah No. 220)
Penjelasan Hadis:[2]
Hadis di atas mengandung pengertian bahwa mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Kewajiban itu berlaku bagi laki-laki ataupun perempuan, anak-anak ataupun dewasa. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk malas mencari ilmu. Ilmu yang wajib diketahui oleh setiap muslim adalah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan tata cara peribadatan kepada Allah swt. Hal itu disebabkan setiap muslim wajib beribadah kepada Allah swt, sedangkan kepada Allah swt tanpa mengetahui ilmunya dapat mengakibatkan kesalahan. Apabila dalam beribadah salah tata caranya, maka ibadah itu tidak akan diterima oleh Allah swt.
Ilmu-ilmu bersifat keduniaan seperti, kedokteran, ekonomi, matematika, atau ilmu yang lain merupakan suatu keutamaan. Mencari ilmu-ilmu tersebut hukumnya adalah fardu kifayah. Meskipun demikian, kita tidak boleh menganggap remeh ilmu-ilmu tersebut.
Dalam hadis tersebut juga disebutkan bahwa mengajarkan suatu ilmu kepada orang yang tidak paham adalah perbuatan sia-sia. Maksudnya, ilmu itu harus disampaikan sesuai dengan taraf berfikir si penerima ilmu. Memberikan ilmu secara tidak tepat diibaratkan mengalungkan perhiasan pada babi. Meskipun dikalungi perhiasan, babi tetap sebagai binatang kotor yang menjijikkan.
Apabila setiap orang islam menyadari pentingnya menuntut ilmu, semua akan berlomba-lomba mendapatkannya. Banyak manfaat yang diperoleh orang yang menuntut ilmu, diantaranya sebagai berikut:
1. Orang yang mencari ilmu akan memperoleh pahala seperti orang yang berjihat. Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah saw,
“Rasulullah saw bersabda: Jadilah kamu orang yang berilmu atau orang yang menuntut ilmu atau pendengar ilmu atau pecinta ilmu, dan janganlah kamu jadi orang ke lima (selain mereka) sebab kamu akan binasa”. (HR. Addarimi)
“Tuntutlah ilmu walaupun ke negeri Cina karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap mereka kepada para penuntut ilmu karena senang (rela) dengan yang dituntut”. (HR. Ibnu Abdilbar).
“Orang yang keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia kembali (ke rumahnya)”. (HR. At-Tirmidzi dan Anas bin Malik No. 2571).
Orang yang menuntut ilmu, sejak keluar dari rumah sampai ia kembali, termasuk orang yang berjuang di jalan Allah swt, hal ini menunjukkan betapa besar penghargaan Rasulullah saw terhadap orang yang bersungguh-sungguh menutut ilmu. Apabila ia mati dalam menuntut ilmu, insya allah ia termasuk golongan orang yang mati syahid.
2. Menuntut ilmu mempunyai keutamaan lebih baik dari pada salat seratus rekaat. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw kepada Abu Dzar berikut ini,
“Wahai Abu Dzar, keluarmu dari rumah pada pagi hari untuk mempelajari satu ayat dan kitab Allah itu lebih baik dari pada engkau mengerjakan salat seratus rekaat”. (HR. Ibnu Majah dan Abu Dzar No. 215).
Orang yang menuntut ilmu meskipun hanya mempelajari satu ayat Al-Qur’an, kebaikannya melebihi orang yang salat sunah seratus rekaat.
3. Orang yang suka menuntut ilmu akan dimudahkan jalannya menuju syurga dan dinaungi para malaikat. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw
“Barang siapa menempuh jalan mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Sesungguhnya para malaikat menaungkan sayap-sayapnya kepada orang yang menuntut ilmu akrena senang (terhadap apa yang diperbuat)”. (HR. At-Tirmidzi dan Abu ad-Darda’ No. 2606)
Rasulullah saw memberikan motivasi kepada umat islam agar tertarik pada ilmu dan berusaha untuk memilikinya. Hadis di atas mengandung satu syarat dan dua jawab. Syarat ialah sesuatu yang harus dimiliki (dilakukan) manusia. Jawab ialah janji yang akan ditepati Allah kepada orang yang memiliki persyaratan tersebut. Syarat yang harus dimiliki seseorang dalam hadis tersebut adalah mau berusaha menuntut ilmu. Jika itu sudah dilakukan, Allah swt akan memberikan janjinya, yaitu memudahkan jalan ke surga dan akan selalu dinaungi malaikat.
4. Menuntut ilmu menambah pengetahuan yang belum diketahui sebagaimana dalam hadis berikut,
“Dan Ibnu Abbas r.a bahwa Rasulullah saw, bersabda, “Barangsiapa belajar ilmu dan mengamalkannya, Allah akan mengajarkan apa yang belum diketahuinya.” (HR. Abu Syaikh dari Kitab at-Targhib wa at-Tarhib).
Seseorang yang mau menuntut ilmu dan mengamalkannya, Allah swt akan mengajarkan kepadanya tentang sesuatu yang belum diketahuinya. Setelah memperoleh ilmu, manusia mempunyai kewajiban untuk mengamalkannya. Dengan mengamalkan itu, seseorang akan mendapat pengalaman yang berharga dalam hidupnya.
B. HADIS TENTANG MENGHARGAI WAKTU
Artinya: Dari Abdullah bin Umar r.a berkata, “Rasulullah saw memegang pundakku seraya berkata, “Jadilah kamu di dunia ini seakan-akan kamu orang asing atau orang yang melewati suatu jalan. “Ibnu Umar berkata, “Apabila kamu berada di sore hari, janganlah kamu menunggu (melakukan sesuatu) hingga pagi datang, apabila kamu berada di pagi hari, janganlah kamu menunggu (melakukan sesuatu) hingga sore datang. Gunakanlah waktu sehatmu untuk menghadapi sakitmu dan waktu hidupmu untuk menghadapi matimu.” (HR. Al-Bukhary No. 5937).
“Dari Ibnu Abas r.a berkata Rasulullah saw, bersabda: Manfaatkan 5 keadaan sebelum datangnya 5: Masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehat sebelum masa sakitmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, masa kayamu sebelum datang masa fakirmu dan masa hidup sebelum datang matimu”. (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)
Penjelasan Hadis:
Hadis tersebut menjelaskan bahwa waktu di dunia ini kita disuruh bersikap seperti orang asing atau sedang melewati jalan. Dengan demikian, kita harus menyadari bahwa kesempatan hidup ini hanya sebentar, seperti orang yang singgah dalam suatu perjalanan.
Kita harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Apabila kamu berada di sore hari, janganlah kamu menunggu (melakukan sesuatu) hingga pagi datang. Apabila kamu berada di pagi hari, janganlah kamu menunggu (melakukan sesuatu) hingga sore datang. Artinya, apa yang mampu kita lakukan saat ini, jangan ditunda-tunda. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada saat berikutnya.
Pada akhir hadis itu dijelaskan, gunakanlah waktu sehatmu untuk menghadapi waktu sakitmu, dan waktu hidupmu untuk menghadapi waktu kematian. Ketika sehat, kita mampu melakukan berbagai aktivitas. Kesehatan harus kita manfaatkan. Jika sudah jatuh sakit, biasanya baru kita menyesalinya. Ketika masih diberi hidup oleh Allah swt, amri kita gunakan untuk memperbanyak ibadah. Apabila kematian sudah datang, tidak ada lagi yang bisa kita lakukan.
C. PENERAPAN KANDUNGAN HADIS TENTANG MENUNTUT ILMU DAN MENGHARGAI WAKTU DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Penerapan kandungan hadis menuntut ilmu dan menghargai waktu dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:
1. Memanfaatkan masa muda untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya, baik secara formal maupun non formal;
2. Menampakkan kesungguhan dalam belajar, baik ketika berada di dalam maupun di luar sekolah;
3. Lebih mengutamakan penguasaan ilmu daripada memikirkan harta;
4. Rela mengeluarkan biaya demi tercapainya suatu ilmu;
5. Rajin menghadiri majelis ilmu
6. Rajin memanfaatkan waktu-waktu longgarnya untuk membaca buku-buku ilmu pengetahuan;
7. Menyetujui dan mendukung setiap usaha untuk meningkatkan ilmu pengetahuan;
8. Gemar bergaul dengan orang-orang yang lebih pandai dan saleh serta mengurangi bergaul dengan orang-orang yang tidak berilmu.
KANDUNGAN HADIS TENTANG MENUNTUT ILMU DAN MENGHARGAI WAKTU
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah
“MDP Al-Qur’an dan Hadits "
Dosen Pembimbing:
Muhammad Fatoni, M.Pd.I
Disusun Oleh :
Resti Safrina Hayati (3211093020)
Nur Kholis (3211093019)
Agus Saifulloh (3211093001)
Semester : V
Prodi : PAI “A”
Jurusan : Tarbiyah
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) TULUNGAGUNG
OKTOBER 2011
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, bahwa hanya dengan petunjuk dan hidayah-Nya penulisan makalah ini dapat terselesaikan dan sampai di hadapan para pembaca yang berbahagia. Semoga kiranya membawa manfaat yang sebesar-besarnya dan memberikan sumbangan yang berarti bagi pendidikan pada masa sekarang dan yang akan datang.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Yang telah membawa kita ke dunia yang penuh dengan kedamaian.
Dengan terselesaikannya pembuatan makalah ini penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada :
Bapak Dr. Maftukhin, M.Ag selaku Ketua STAIN Tulungagung
Muhammad Fatoni, M.Pd.I, selaku dosen pembimbing
Teman-teman yang ikut berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini.
Fasilitas perpustakaan STAIN Tulungagung
Dalam penulisan makalah ini tentunya banyak dijumpai kekurangan dan kelemahannya. Untuk itu kami mohon maaf yang sebesar-besarnya dan mengharap tegur sapa serta saran-saran penyempurnaan, agar kekurangan dan kelemahan yang ada tidak sampai mengurangi nilai dan manfaat bagi pengembangan studi Islam pada umumnya.
Tulungagung, Oktober 2011
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL....................................................................................... i
KATA PENGANTAR..................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................ 1
B. Rumusan Masalah........................................................................ 1
C. Tujuan Masalah............................................................................ 1
D. Batasan Masalah.......................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Hadis tentang menuntut ilmu ................................................... 2
B. Hadis tentang menghargai waktu ................................................ 7
C. Penerapan kedua hadis dalam kehidupan sehari-hari .................. 8
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................. 10
B. Saran........................................................................................... 10
DAFTAR RUJUKAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Waktu dan ilmu adalah sebuah anugrah dari Allah swt yang harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan dicari. Sebagai seorang pelajar yang pandai memanfaatkan waktu dan memiliki kewajiban untuk menuntut ilmu maka harus dapat menyelesaikan belajarnya tepat waktu. Tentu saja dengan prestasi yang memuaskan.
Sebagai generasi penerus dan sebagai pelajar harusnya mereka memiliki kesadaran betapa pentingnya memanfaatkan sebuah waktu dengan baik dan menuntut ilmu. Tapi kenyataan sekarang, banyak dari mereka yang kurang menyadari hal itu.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana kandungan hadis tentang menuntut ilmu?
2. Bagaimana kandungan hadis tentang menghargai waktu?
3. Bagaimana penerapan kandungan hadis tentang menuntut ilmu dan menghargai waktu dalam kehidupan sehari-hari?
C. TUJUAN MASALAH
1. Untuk mengetahui bagaimana kandungan hadis tentang menuntut ilmu.
2. Untuk mengetahui bagaimana kandungan hadis tentang menghargai waktu.
3. Ubntuk mengetahui bagaimana penerapan kandungan hadis tentang menuntut ilmu dan menghargai waktu dalam kehidupan sehari-hari.
D. BATASAN MASALAH
Pembahasan makalah ini dibatasi hanya pada masalah kandungan hadis tentang menuntut ilmu dan menghargai waktu.
BAB II
PEMBAHASAN
A. HADIS TENTANG MENUNTUT ILMU
Abu Darda r.a. telah menceritakan hadits berikut:[1]
Artinya:
Aku telah mendengar Rosulullah saw, bersabda: ”barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu,niscahya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju ke surga.sesungguhnya para Malaikat benar-benar meletakkan sayapnya karena rida kepada penuntut ilmu. Sesungguhnya orang alim itu benar-benar dimintakan ampunan oleh semua makhluk di langit dan dibumi hingga ikan-ikan yang ada di air.keutamaan orang yang alim atas yang ahli ibadah seperti keutamaan rembulan atas semua bintang-bintang.sesungguhnya ulama itu adalah pewaris nabi,sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham melainkan mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barang siapa yang mengambil ilmu bagian yang berlimpah”.
Keterangan:
Abu Darda tinggal di Damaskus, lalu datang kepadanya seorang lelaki dari Madinah. Abu Darda berkata kepadanya, “apakah gerangan yang menyebabkan engkau datang kemari?” lelaki itu menjawab,” tiadalah aku datang kemari melainkan karena suatu hadis yang pernah kudengar darimu. “selanjutnya abu darda menceritakan hadis ini.
Para malaikat yang dimaksud di dalam hadis ini adalah yang telah disebutkan dalam hadis sebelumnya. Mereka berhenti dan mengelilingi orang-orang yang sedang menuntut ilmu untuk memperoleh bagian dari rahmat Allah yang diturunkan kepada mereka dan cahayanya. Demikian itu mereka lakukan mereka rida terhadap perbuatan orang-orang yang sedang menuntut ilmu dan sebagi penghormatan buatannya.
Yang dimaksud dengan penuntut ilmu ialah penuntut ilmu yang mengamalkan ilmunya.
Makhluk yang dilangit, maksudnya ialah para malaikat yang ada dilangit, mereka membaca tasbih seraya memuji Rabb mereka dan memintakan ampunan buat orang-orang yang dibumi. Makhluk yang dibumi, maksudnya manusia, jin dan hewan.
Al-Hiitaan, ikan-ikan; permohonan ampun oleh semua makhluk yang telah disebutkan buat orang yang alim, maksudnya mereka mendoakannya. Demikian itu karena orang yang alim dengan bimbingan dengan petunjuknya kepada manusia menyebabkan ia disukai Allah SWT.
Apabila Allah menyukainya, maka turut mencintainya pula semua malaikat dan makhluknya dan apabila mereka mencintainya maka mereka pasti mendoakannya. Hal ini ingsaAllah akan kami sebutkan dalam bab akhlak.
Artinya:
Dari Abu Hurairah r.a, dai berkata: ” Rosulullah saw bersabda: Apabila anak adam meninggal dunia, terputuslah ilmunya kecuali tiga perkara, yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholih yang mendo’akannya “. (HR. Muslim).
Kandungan Hadits:
Anjuran untuk mempersiapkan bekal sebelum mati dengan amal-amal shalih.
Amal-amal shalih yang manfaatnya tetap berlanjut setelah orangnya meninggal dunia, maka pahalanya tetap mengalir kepadanya.
Anjuran agar melaksanakan amal kebaikan dengan cara wakaf, seperti membangun masjid, madrasah, membuat sumur, Hatau menanam pohon. Semuanya itu merupakan sedekah jariyah.
Disunahakan mengajarkan ilmu dan menyusun kitab-kitab yang bermanfaat. Itulah diantara ilmu nafi’ (yang bermanfaat) yang pahalanya tetap berlangsung sepanjang zaman.
Anjuran untuk mendidik anak dan mengajari mereka perkara yang fardhu dan sunnah, serta adab sopan santun agar mereka menjadi orang-orang shalih.
Artinya: Dari Anas bin Malik, ia berkata,” Rasulullah saw bersabda, “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap umat islam. Memebrikan ilmu kepada orang yang bukan ahlinya (tidak tepat), seperti orang yang mengalungi babi dengan permata, mutiara atau emas.” (H.R Ibnu Majah No. 220)
Penjelasan Hadis:[2]
Hadis di atas mengandung pengertian bahwa mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Kewajiban itu berlaku bagi laki-laki ataupun perempuan, anak-anak ataupun dewasa. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk malas mencari ilmu. Ilmu yang wajib diketahui oleh setiap muslim adalah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan tata cara peribadatan kepada Allah swt. Hal itu disebabkan setiap muslim wajib beribadah kepada Allah swt, sedangkan kepada Allah swt tanpa mengetahui ilmunya dapat mengakibatkan kesalahan. Apabila dalam beribadah salah tata caranya, maka ibadah itu tidak akan diterima oleh Allah swt.
Ilmu-ilmu bersifat keduniaan seperti, kedokteran, ekonomi, matematika, atau ilmu yang lain merupakan suatu keutamaan. Mencari ilmu-ilmu tersebut hukumnya adalah fardu kifayah. Meskipun demikian, kita tidak boleh menganggap remeh ilmu-ilmu tersebut.
Dalam hadis tersebut juga disebutkan bahwa mengajarkan suatu ilmu kepada orang yang tidak paham adalah perbuatan sia-sia. Maksudnya, ilmu itu harus disampaikan sesuai dengan taraf berfikir si penerima ilmu. Memberikan ilmu secara tidak tepat diibaratkan mengalungkan perhiasan pada babi. Meskipun dikalungi perhiasan, babi tetap sebagai binatang kotor yang menjijikkan.
Apabila setiap orang islam menyadari pentingnya menuntut ilmu, semua akan berlomba-lomba mendapatkannya. Banyak manfaat yang diperoleh orang yang menuntut ilmu, diantaranya sebagai berikut:
1. Orang yang mencari ilmu akan memperoleh pahala seperti orang yang berjihat. Hal tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah saw,
“Rasulullah saw bersabda: Jadilah kamu orang yang berilmu atau orang yang menuntut ilmu atau pendengar ilmu atau pecinta ilmu, dan janganlah kamu jadi orang ke lima (selain mereka) sebab kamu akan binasa”. (HR. Addarimi)
“Tuntutlah ilmu walaupun ke negeri Cina karena sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap mereka kepada para penuntut ilmu karena senang (rela) dengan yang dituntut”. (HR. Ibnu Abdilbar).
“Orang yang keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga ia kembali (ke rumahnya)”. (HR. At-Tirmidzi dan Anas bin Malik No. 2571).
Orang yang menuntut ilmu, sejak keluar dari rumah sampai ia kembali, termasuk orang yang berjuang di jalan Allah swt, hal ini menunjukkan betapa besar penghargaan Rasulullah saw terhadap orang yang bersungguh-sungguh menutut ilmu. Apabila ia mati dalam menuntut ilmu, insya allah ia termasuk golongan orang yang mati syahid.
2. Menuntut ilmu mempunyai keutamaan lebih baik dari pada salat seratus rekaat. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw kepada Abu Dzar berikut ini,
“Wahai Abu Dzar, keluarmu dari rumah pada pagi hari untuk mempelajari satu ayat dan kitab Allah itu lebih baik dari pada engkau mengerjakan salat seratus rekaat”. (HR. Ibnu Majah dan Abu Dzar No. 215).
Orang yang menuntut ilmu meskipun hanya mempelajari satu ayat Al-Qur’an, kebaikannya melebihi orang yang salat sunah seratus rekaat.
3. Orang yang suka menuntut ilmu akan dimudahkan jalannya menuju syurga dan dinaungi para malaikat. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw
“Barang siapa menempuh jalan mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga. Sesungguhnya para malaikat menaungkan sayap-sayapnya kepada orang yang menuntut ilmu akrena senang (terhadap apa yang diperbuat)”. (HR. At-Tirmidzi dan Abu ad-Darda’ No. 2606)
Rasulullah saw memberikan motivasi kepada umat islam agar tertarik pada ilmu dan berusaha untuk memilikinya. Hadis di atas mengandung satu syarat dan dua jawab. Syarat ialah sesuatu yang harus dimiliki (dilakukan) manusia. Jawab ialah janji yang akan ditepati Allah kepada orang yang memiliki persyaratan tersebut. Syarat yang harus dimiliki seseorang dalam hadis tersebut adalah mau berusaha menuntut ilmu. Jika itu sudah dilakukan, Allah swt akan memberikan janjinya, yaitu memudahkan jalan ke surga dan akan selalu dinaungi malaikat.
4. Menuntut ilmu menambah pengetahuan yang belum diketahui sebagaimana dalam hadis berikut,
“Dan Ibnu Abbas r.a bahwa Rasulullah saw, bersabda, “Barangsiapa belajar ilmu dan mengamalkannya, Allah akan mengajarkan apa yang belum diketahuinya.” (HR. Abu Syaikh dari Kitab at-Targhib wa at-Tarhib).
Seseorang yang mau menuntut ilmu dan mengamalkannya, Allah swt akan mengajarkan kepadanya tentang sesuatu yang belum diketahuinya. Setelah memperoleh ilmu, manusia mempunyai kewajiban untuk mengamalkannya. Dengan mengamalkan itu, seseorang akan mendapat pengalaman yang berharga dalam hidupnya.
B. HADIS TENTANG MENGHARGAI WAKTU
Artinya: Dari Abdullah bin Umar r.a berkata, “Rasulullah saw memegang pundakku seraya berkata, “Jadilah kamu di dunia ini seakan-akan kamu orang asing atau orang yang melewati suatu jalan. “Ibnu Umar berkata, “Apabila kamu berada di sore hari, janganlah kamu menunggu (melakukan sesuatu) hingga pagi datang, apabila kamu berada di pagi hari, janganlah kamu menunggu (melakukan sesuatu) hingga sore datang. Gunakanlah waktu sehatmu untuk menghadapi sakitmu dan waktu hidupmu untuk menghadapi matimu.” (HR. Al-Bukhary No. 5937).
“Dari Ibnu Abas r.a berkata Rasulullah saw, bersabda: Manfaatkan 5 keadaan sebelum datangnya 5: Masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehat sebelum masa sakitmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, masa kayamu sebelum datang masa fakirmu dan masa hidup sebelum datang matimu”. (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi)
Penjelasan Hadis:
Hadis tersebut menjelaskan bahwa waktu di dunia ini kita disuruh bersikap seperti orang asing atau sedang melewati jalan. Dengan demikian, kita harus menyadari bahwa kesempatan hidup ini hanya sebentar, seperti orang yang singgah dalam suatu perjalanan.
Kita harus memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Apabila kamu berada di sore hari, janganlah kamu menunggu (melakukan sesuatu) hingga pagi datang. Apabila kamu berada di pagi hari, janganlah kamu menunggu (melakukan sesuatu) hingga sore datang. Artinya, apa yang mampu kita lakukan saat ini, jangan ditunda-tunda. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada saat berikutnya.
Pada akhir hadis itu dijelaskan, gunakanlah waktu sehatmu untuk menghadapi waktu sakitmu, dan waktu hidupmu untuk menghadapi waktu kematian. Ketika sehat, kita mampu melakukan berbagai aktivitas. Kesehatan harus kita manfaatkan. Jika sudah jatuh sakit, biasanya baru kita menyesalinya. Ketika masih diberi hidup oleh Allah swt, amri kita gunakan untuk memperbanyak ibadah. Apabila kematian sudah datang, tidak ada lagi yang bisa kita lakukan.
C. PENERAPAN KANDUNGAN HADIS TENTANG MENUNTUT ILMU DAN MENGHARGAI WAKTU DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Penerapan kandungan hadis menuntut ilmu dan menghargai waktu dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:
1. Memanfaatkan masa muda untuk menuntut ilmu sebanyak-banyaknya, baik secara formal maupun non formal;
2. Menampakkan kesungguhan dalam belajar, baik ketika berada di dalam maupun di luar sekolah;
3. Lebih mengutamakan penguasaan ilmu daripada memikirkan harta;
4. Rela mengeluarkan biaya demi tercapainya suatu ilmu;
5. Rajin menghadiri majelis ilmu
6. Rajin memanfaatkan waktu-waktu longgarnya untuk membaca buku-buku ilmu pengetahuan;
7. Menyetujui dan mendukung setiap usaha untuk meningkatkan ilmu pengetahuan;
8. Gemar bergaul dengan orang-orang yang lebih pandai dan saleh serta mengurangi bergaul dengan orang-orang yang tidak berilmu.
Jumat, 21 Januari 2011
Mutiara Hikmah
Oleh : Muhamad Fatoni Al Balitary
" Hidup adalah perjuangan yang penuh resiko dan tantangan, majulah karena kau pasti akan menang"
" Seberapa besar nyalimu untuk menghadapi tantangan, sebesar itulah kekuatanmu dalam menghadapi hidup"
" Dunia bukanlah akhir dari segalanya, dunia adalah awal perjalanan manusia, maka celakalah manusia yang menganggap dunia sebagai tempat untuk bermanja – manja dan senda gurau semata"
" Cinta adalah anugerah dari Yang Kuasa, namun cinta seringkali digunakan senjata syaithan untuk menjerumuskan manusia, Berhati – hatilah dengan cinta karena syaithan akan senantiasa membayang – bayanginya"
" Manusia adalah penampakan dari miniature alam, maka padanyalah hancur tidaknya semesta alam"
" Roda kehidupan senantiasa berputar, adakalanya bahagia adakalanya susah. Jangan lupa dikala bahagia dan jangan pula engkau putus asa dikala susah dan merana"
" Hadapi hidup dengan keimanan dan ketaqwaan niscaya Tuhan akan menunjukkan jalan , tuntunan dan petunjukNYA"
" Hidup bukan sekedar lamunan, bukan pula sekeedar daging, seonggok nasi atau menuruti hawa nafsu, namun hidup adalah untuk menemukan hakikat yang hakiki mencari ilmu "SANGKAN PARANING DUMADI"
" Semoga Bermanfaat"
5 Pebruari 2005
PPST (Pondok Pesantren Sirajuth Thalibin)
" Hidup adalah perjuangan yang penuh resiko dan tantangan, majulah karena kau pasti akan menang"
" Seberapa besar nyalimu untuk menghadapi tantangan, sebesar itulah kekuatanmu dalam menghadapi hidup"
" Dunia bukanlah akhir dari segalanya, dunia adalah awal perjalanan manusia, maka celakalah manusia yang menganggap dunia sebagai tempat untuk bermanja – manja dan senda gurau semata"
" Cinta adalah anugerah dari Yang Kuasa, namun cinta seringkali digunakan senjata syaithan untuk menjerumuskan manusia, Berhati – hatilah dengan cinta karena syaithan akan senantiasa membayang – bayanginya"
" Manusia adalah penampakan dari miniature alam, maka padanyalah hancur tidaknya semesta alam"
" Roda kehidupan senantiasa berputar, adakalanya bahagia adakalanya susah. Jangan lupa dikala bahagia dan jangan pula engkau putus asa dikala susah dan merana"
" Hadapi hidup dengan keimanan dan ketaqwaan niscaya Tuhan akan menunjukkan jalan , tuntunan dan petunjukNYA"
" Hidup bukan sekedar lamunan, bukan pula sekeedar daging, seonggok nasi atau menuruti hawa nafsu, namun hidup adalah untuk menemukan hakikat yang hakiki mencari ilmu "SANGKAN PARANING DUMADI"
" Semoga Bermanfaat"
5 Pebruari 2005
PPST (Pondok Pesantren Sirajuth Thalibin)
Rekonstruksi Pemikiran Di Tahun 2011
Oleh : Muhamad Fatoni Al Balitary
Tanpa terasa perjalanan waktu telah membawa kita pada sebuah transisi peralihan waktu. Baru kemarin rasanya kita dihadapkan pada berbagai persoalan pelik dan penuh dengan tantangan di tahun 2010. Masih hangat rasanya dalam ingatan dan benak kita berbagai kejadian dan juga peristiwa yang telah berlalu ditahun 2010 yang menjawab misteri terpendam yang kita rasakan di tahun 2009. Memang demikianlah sunatullah yang berjalan bahwa waktu akan menjawab berbagai rahasia yang dahulu tiada pernah kita ketahui. Berkatalah seorang sya'ir 'arab ( ahli sya'ir ) :
ستبدى لك الأيام ما كنت جا هلا ويأتيك بالأخبارمن لم تزود
Artinya : "Hari – hari itu akan menjelaskan kepadamu tentang apa yang sebelumnya tiada engkau ketahui, dan akan datang kepadamu seseorang yang membawa informasi –informasi tidak pernah engkau kira"
Sya'ir ini memberikan sebuah pemahaman kepada kita bahwa segala sesuatu yang ada didunia ini pada awalnya adalah sebuah rahasia yang tidak seorangpun tahu akan rahasia itu. Namun rahasia – rahasia itu akan terjawab seiring dengan perjalanan waktu yang dilalui oleh seorang anak manusia. Tahun 2010 adalah rahasia bagi kita anak manusia di tahun 2009, namun 2010 adalah masa lalu, sejarah dan kenangan bagi kita yang saat ini bisa menghirup nafas dengan lega di tahun 2011.
Sejenak kita bertafakur, merenung dan melakukan refleksi terhadap apa yang kita lakukan selama satu tahun yang lalu. Benarkah dalam menjalani hidup dan kehidupan di tahun tersebut kita telah menjalani dengan penuh arti, makna, dan manfaat??? Atau selama ini masih banyak waktu yang kita buang sia – sia tanpa arti yang hanya berujung pada penyesalan yang tiada arti??? Sejenak kita kosongkan hati dan jiwa kita untuk menelaah apa yang difirmankan Allah SWT didalam kitab suciNYA Al Qur'an :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18)
Artinya :"Wahai orang – orang yang beriman ! Bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat ) dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh, Allah maha teliti terhadap ap yang kamu kerjakan" ( Q.S. Al Hasyr ; 18 )
Secara tegas al qur'an memerintahkan kepada setiap orang untuk melihat, berfikir dan menganalisis apa yang telah ia lakukan selama hidup yang telah ia jalani untuk batu loncatan di hari esok ( Akhirat ). Meski hari esok di dalam ayat ini di tafsirkan oleh para mufassirin sebagai kehidupan akhirat, namun apabila kita mau mengkaji dan meneliti konteks ayat ini tidak hanya berbicara pada persoalan akhirat semata.
Hari esok disini bisa juga diartikan sebagai masa depan. Setiap orang memiliki masa lalu dan setiap orang yang hidup tentunya juga memiliki masa depan. Masa lalu adalah apa yang telah dilalui oleh seseorang dari sebagian umur yang ia miliki, sedang masa depan adalah bagian dari umur yang belum ia lalui dan masih menjadi sebuah misteri. Misteri itu akan terjawab manakala manusia telah menjalani sisa – sisa hidup yang belum ia jalani itu.
Berangkat dari beberapa konsep diatas kita mencoba untuk berfikir dan melakukan sebuah rekonstruksi besar – besaran terhadap apa yang selama ini telah kita lakukan. Rekonstruksi itu mesti kita mulai dari rekonstruksi pemikiran dan cara pandang kita dalam menghadapi masa yang akan dating ( masa depan ) tentunya dengan melakukan sebuah refleksi dan perenungan terhadap apa yang pernah kita lakukan dan kerjakan dimasa lalu ( dalam hal ini sebelum 2011 ).
Paradigma dan pola pikir kita akan sangat berpengaruh pada tindakan kita dan kesuksesan yang akan kita raih di masa – masa mendatang. Barangkali sebelum tahun ini kita pernah berpikir bahwa hidup adalah hal yang harus kita jalani dengan santai dan tanpa sebuah tanggung jawab. Mungkin kita juga sering ingkar dan cenderung melupakan apa yang telah menjadi komitmen kita sendiri. Kita sering lupa akan tanggung jawab kita baik kepada orang tua, guru, atasan, sesama maupun kepada mkhluk Allah yang ada di dunia. Hari ini kita bvuat komitmen baru dan kita mulai semua itu dengan penuh semangat dan tanggung jawab.
Sebagai seorang guru misalnya, kita mempunyai tugasa dan tanggung jawab yang sangat berat untuk mengawal dan menghantarkan siswa didik kita ke jenjang kesuksesan. Menghantarkan mereka menyambut masa depan cerah dan gemilang. Menanamkan kepada mereka tentang arti kehidupan dan tanggung jawab kepada diri dan sesama. Hidup tidaklah mungkin dijalani sendiri, namun senantiasa butuh kepada orang lain yang dengan mereka kita bisa memenuhi segala hajat dan kebutuhan. Siswa perlu tahu akan hal itu dan guru bertanggung jawab dalam memberikan pemahaman ini kepada siswa. Selain itu disamping mengajar dan mentransfer pengetahuan kepada siswa maka guru harus mampu memberi dedikasi dan uswah kepada siswa. Hal ini sangat penting mengingat figure guru adalah sentral dalam pandangan siswa.
Demikian halnya siswa, memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar. Berapa banyak waktu, tenaga dan harta yang dikeluarkan oleh ayah dan ibu untuk membiayai pendidikannya. Apabila siswa tidak amanah dan tanggung jawab yang terjadi bukanlah ilmu yang akan ia dapat melainkan hanya menghambur – hamburkan harta dan uang orang tua. Seorang siswa mesti rajin dan giat dalam belajar, jangan hanya bermain dan menghabiskan waktu tanpa ada kepastian. Jika hal ini tidak segera dirubah maka yang terjadi adalah penyesalan yang berkepanjangan.
Selain itu penting untuk dimengerti siswa bahwa ilmu itu ia dapat dari guru yang dengan telatennya mengorbankan waktu dan pemikiran mereka untuk mendidik siswa – siswinya. Padahal siswa – siswi itu bukanlah darah dagingnya, bahkan juga bukan kerabatnya. Tak jarang seorang guru sakit namun ia paksakan dating untuk mengajar dan mendidik siswa – siswinya. Semua ia korbankan demi dan untuk sebuah tanggung jawab untuk mencerdaskan anak didik. Namun tidak jarang atau mungkin banyak sekali suara – suara sumbang yang terdengar dari siswa tentang guru. Terkadang ada ucapan siswa yang mencaci guru dengan cacian yang tak sepantasnya, semisal GURU CEREWET, KEMAYU, KEONG RACUN, BOTAK, BUTUG dan kata – kata yang senada dengan itu. NA'UDZU BILLAAHI MIN DZAALIKA…………
Kenyataan ini sering kita dapatkan dalam lingkungan belajar. Hal ini harus segera dihilangkan jauh – jauh dan dibuang dari kehidupan siswa. Jika hal ini dibiarkan maka akibatnya sangat fatal bagi siswa itu sendiri. Teringat akan sebuah ungkapan para hukama' :
من قا ل لأستا ذه لم لم يفلح
Artinya : "barangsiapa yang berkata kepada gurunya "mengapa" (dengan maksud menentang ), maka dia tidak akan mendapat kebahagiaan"
Dikalangan para salafus shalih qaul 'ulamak ini sangat diperhatikan dan dilaksanakan dalam tindakan sehari – hari. Rasa hormat santri kepada seorang 'ulama' dan kyai serta para ustadz begitu tinggi sehingga banyak diantara mereka yang sukses dan bahagia dalam hidupnya. Meski dengan kehidupan yang sangat sederhana, namun mereka merasakan kebahagiaan. Berbeda dengan kenyataan sekarang. Banyak orang pandai dan kaya akan tetapi kehidupan mereka tidak tenang. Mungkin salah satu penyebabnya adalah selama mereka belajar menimba ilmu dari guru mereka tidak hormat, patuh, taat atau bahkan berani menentang guru. Sehingga akibatnya kehidupan mereka tidak bahagia.
Seyogyanya memang seorang murid menaruh rasa hormat kepada orang yang telah memberikan ilmu kepada mereka. Bukankah imam Ali bin Abi Thalib yang dikenal sebagi pintu gerbang ilmu juga menaruh rasa hormat yang tiada tara pada guru – gurunya??? Beliau berkata :
أنا عبد من علمنى حرفا ان شاء باع وان شاء أعتق
Artinya : "Aku adalah budak orang yang mengajariku satu huruf. Jika ia ingin, maka ia bisa menjualku dan jika ia ingin, ia bisa memerdekakan aku"
Tahun 2011 adalah tahun yang masih banyak mengandung rahasia bagi kehidupan kita. Mari kita awali dengan merekonstruksi ( membangun ulang ) pemikiran kita, paradigma ( cara pandang ) kita agar tahun ini menjadi tahun yang lebih baik disbanding tahun – tahun yang lalu. Jangan sampai tahun ini mengalami kemunduran dan kemerosotan disbanding tahun kemarin. Coba kita belajar dari alam, betapa banyak kejadian dan peristiwa alam yang menunjukkan bahwa bumi telah tua dan renta. Bencana dimana – mana, mulai gunung meletus, longsor, gempa bumi dan banjir yang menelan korban yang tak terbilang banyaknya. Ternyata harta tak lagi berharga, kehormatan dan harga diri serta pangkat dan jabatan tiada lagi ada artinya bila di hadapkan pada kenyataan bahwa itu semua akan ditinggalkan ketika ruh sudah dijemput malaikat 'Izrael Sang Pencabut Nyawa.
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89)
Artinya :"(yaitu) hari dimana tiada manfaat (bagi mereka) harta dan anak – anak mereka, kecuali seseorang yang datang kepada Allah dengan membawa hati yang selamat" (Q.S. al Syu'ara' ; 26 )
"SEMOGA BERMANFAAT"
Tanpa terasa perjalanan waktu telah membawa kita pada sebuah transisi peralihan waktu. Baru kemarin rasanya kita dihadapkan pada berbagai persoalan pelik dan penuh dengan tantangan di tahun 2010. Masih hangat rasanya dalam ingatan dan benak kita berbagai kejadian dan juga peristiwa yang telah berlalu ditahun 2010 yang menjawab misteri terpendam yang kita rasakan di tahun 2009. Memang demikianlah sunatullah yang berjalan bahwa waktu akan menjawab berbagai rahasia yang dahulu tiada pernah kita ketahui. Berkatalah seorang sya'ir 'arab ( ahli sya'ir ) :
ستبدى لك الأيام ما كنت جا هلا ويأتيك بالأخبارمن لم تزود
Artinya : "Hari – hari itu akan menjelaskan kepadamu tentang apa yang sebelumnya tiada engkau ketahui, dan akan datang kepadamu seseorang yang membawa informasi –informasi tidak pernah engkau kira"
Sya'ir ini memberikan sebuah pemahaman kepada kita bahwa segala sesuatu yang ada didunia ini pada awalnya adalah sebuah rahasia yang tidak seorangpun tahu akan rahasia itu. Namun rahasia – rahasia itu akan terjawab seiring dengan perjalanan waktu yang dilalui oleh seorang anak manusia. Tahun 2010 adalah rahasia bagi kita anak manusia di tahun 2009, namun 2010 adalah masa lalu, sejarah dan kenangan bagi kita yang saat ini bisa menghirup nafas dengan lega di tahun 2011.
Sejenak kita bertafakur, merenung dan melakukan refleksi terhadap apa yang kita lakukan selama satu tahun yang lalu. Benarkah dalam menjalani hidup dan kehidupan di tahun tersebut kita telah menjalani dengan penuh arti, makna, dan manfaat??? Atau selama ini masih banyak waktu yang kita buang sia – sia tanpa arti yang hanya berujung pada penyesalan yang tiada arti??? Sejenak kita kosongkan hati dan jiwa kita untuk menelaah apa yang difirmankan Allah SWT didalam kitab suciNYA Al Qur'an :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (18)
Artinya :"Wahai orang – orang yang beriman ! Bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat ) dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh, Allah maha teliti terhadap ap yang kamu kerjakan" ( Q.S. Al Hasyr ; 18 )
Secara tegas al qur'an memerintahkan kepada setiap orang untuk melihat, berfikir dan menganalisis apa yang telah ia lakukan selama hidup yang telah ia jalani untuk batu loncatan di hari esok ( Akhirat ). Meski hari esok di dalam ayat ini di tafsirkan oleh para mufassirin sebagai kehidupan akhirat, namun apabila kita mau mengkaji dan meneliti konteks ayat ini tidak hanya berbicara pada persoalan akhirat semata.
Hari esok disini bisa juga diartikan sebagai masa depan. Setiap orang memiliki masa lalu dan setiap orang yang hidup tentunya juga memiliki masa depan. Masa lalu adalah apa yang telah dilalui oleh seseorang dari sebagian umur yang ia miliki, sedang masa depan adalah bagian dari umur yang belum ia lalui dan masih menjadi sebuah misteri. Misteri itu akan terjawab manakala manusia telah menjalani sisa – sisa hidup yang belum ia jalani itu.
Berangkat dari beberapa konsep diatas kita mencoba untuk berfikir dan melakukan sebuah rekonstruksi besar – besaran terhadap apa yang selama ini telah kita lakukan. Rekonstruksi itu mesti kita mulai dari rekonstruksi pemikiran dan cara pandang kita dalam menghadapi masa yang akan dating ( masa depan ) tentunya dengan melakukan sebuah refleksi dan perenungan terhadap apa yang pernah kita lakukan dan kerjakan dimasa lalu ( dalam hal ini sebelum 2011 ).
Paradigma dan pola pikir kita akan sangat berpengaruh pada tindakan kita dan kesuksesan yang akan kita raih di masa – masa mendatang. Barangkali sebelum tahun ini kita pernah berpikir bahwa hidup adalah hal yang harus kita jalani dengan santai dan tanpa sebuah tanggung jawab. Mungkin kita juga sering ingkar dan cenderung melupakan apa yang telah menjadi komitmen kita sendiri. Kita sering lupa akan tanggung jawab kita baik kepada orang tua, guru, atasan, sesama maupun kepada mkhluk Allah yang ada di dunia. Hari ini kita bvuat komitmen baru dan kita mulai semua itu dengan penuh semangat dan tanggung jawab.
Sebagai seorang guru misalnya, kita mempunyai tugasa dan tanggung jawab yang sangat berat untuk mengawal dan menghantarkan siswa didik kita ke jenjang kesuksesan. Menghantarkan mereka menyambut masa depan cerah dan gemilang. Menanamkan kepada mereka tentang arti kehidupan dan tanggung jawab kepada diri dan sesama. Hidup tidaklah mungkin dijalani sendiri, namun senantiasa butuh kepada orang lain yang dengan mereka kita bisa memenuhi segala hajat dan kebutuhan. Siswa perlu tahu akan hal itu dan guru bertanggung jawab dalam memberikan pemahaman ini kepada siswa. Selain itu disamping mengajar dan mentransfer pengetahuan kepada siswa maka guru harus mampu memberi dedikasi dan uswah kepada siswa. Hal ini sangat penting mengingat figure guru adalah sentral dalam pandangan siswa.
Demikian halnya siswa, memiliki tugas dan tanggung jawab yang besar. Berapa banyak waktu, tenaga dan harta yang dikeluarkan oleh ayah dan ibu untuk membiayai pendidikannya. Apabila siswa tidak amanah dan tanggung jawab yang terjadi bukanlah ilmu yang akan ia dapat melainkan hanya menghambur – hamburkan harta dan uang orang tua. Seorang siswa mesti rajin dan giat dalam belajar, jangan hanya bermain dan menghabiskan waktu tanpa ada kepastian. Jika hal ini tidak segera dirubah maka yang terjadi adalah penyesalan yang berkepanjangan.
Selain itu penting untuk dimengerti siswa bahwa ilmu itu ia dapat dari guru yang dengan telatennya mengorbankan waktu dan pemikiran mereka untuk mendidik siswa – siswinya. Padahal siswa – siswi itu bukanlah darah dagingnya, bahkan juga bukan kerabatnya. Tak jarang seorang guru sakit namun ia paksakan dating untuk mengajar dan mendidik siswa – siswinya. Semua ia korbankan demi dan untuk sebuah tanggung jawab untuk mencerdaskan anak didik. Namun tidak jarang atau mungkin banyak sekali suara – suara sumbang yang terdengar dari siswa tentang guru. Terkadang ada ucapan siswa yang mencaci guru dengan cacian yang tak sepantasnya, semisal GURU CEREWET, KEMAYU, KEONG RACUN, BOTAK, BUTUG dan kata – kata yang senada dengan itu. NA'UDZU BILLAAHI MIN DZAALIKA…………
Kenyataan ini sering kita dapatkan dalam lingkungan belajar. Hal ini harus segera dihilangkan jauh – jauh dan dibuang dari kehidupan siswa. Jika hal ini dibiarkan maka akibatnya sangat fatal bagi siswa itu sendiri. Teringat akan sebuah ungkapan para hukama' :
من قا ل لأستا ذه لم لم يفلح
Artinya : "barangsiapa yang berkata kepada gurunya "mengapa" (dengan maksud menentang ), maka dia tidak akan mendapat kebahagiaan"
Dikalangan para salafus shalih qaul 'ulamak ini sangat diperhatikan dan dilaksanakan dalam tindakan sehari – hari. Rasa hormat santri kepada seorang 'ulama' dan kyai serta para ustadz begitu tinggi sehingga banyak diantara mereka yang sukses dan bahagia dalam hidupnya. Meski dengan kehidupan yang sangat sederhana, namun mereka merasakan kebahagiaan. Berbeda dengan kenyataan sekarang. Banyak orang pandai dan kaya akan tetapi kehidupan mereka tidak tenang. Mungkin salah satu penyebabnya adalah selama mereka belajar menimba ilmu dari guru mereka tidak hormat, patuh, taat atau bahkan berani menentang guru. Sehingga akibatnya kehidupan mereka tidak bahagia.
Seyogyanya memang seorang murid menaruh rasa hormat kepada orang yang telah memberikan ilmu kepada mereka. Bukankah imam Ali bin Abi Thalib yang dikenal sebagi pintu gerbang ilmu juga menaruh rasa hormat yang tiada tara pada guru – gurunya??? Beliau berkata :
أنا عبد من علمنى حرفا ان شاء باع وان شاء أعتق
Artinya : "Aku adalah budak orang yang mengajariku satu huruf. Jika ia ingin, maka ia bisa menjualku dan jika ia ingin, ia bisa memerdekakan aku"
Tahun 2011 adalah tahun yang masih banyak mengandung rahasia bagi kehidupan kita. Mari kita awali dengan merekonstruksi ( membangun ulang ) pemikiran kita, paradigma ( cara pandang ) kita agar tahun ini menjadi tahun yang lebih baik disbanding tahun – tahun yang lalu. Jangan sampai tahun ini mengalami kemunduran dan kemerosotan disbanding tahun kemarin. Coba kita belajar dari alam, betapa banyak kejadian dan peristiwa alam yang menunjukkan bahwa bumi telah tua dan renta. Bencana dimana – mana, mulai gunung meletus, longsor, gempa bumi dan banjir yang menelan korban yang tak terbilang banyaknya. Ternyata harta tak lagi berharga, kehormatan dan harga diri serta pangkat dan jabatan tiada lagi ada artinya bila di hadapkan pada kenyataan bahwa itu semua akan ditinggalkan ketika ruh sudah dijemput malaikat 'Izrael Sang Pencabut Nyawa.
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89)
Artinya :"(yaitu) hari dimana tiada manfaat (bagi mereka) harta dan anak – anak mereka, kecuali seseorang yang datang kepada Allah dengan membawa hati yang selamat" (Q.S. al Syu'ara' ; 26 )
"SEMOGA BERMANFAAT"
Minggu, 02 Januari 2011
Pendidikan Islam Di Era Modern
Pendidikan adalah factor yang sangan urgen dan significan dalam sejarah peradaban manusia. Tingkat kemajuan peradaban seringkali diidentikkan dengan seberapa tingkat kemajuan pendidikan di Negara tersebut.
Pendidikan islam adalah salah satu bagian dari system pendidikan yang ada didunia. Pendidikan islam digunakan untuk menyebut sebagian dari bentuk pendidikan yang secara otomatis memiliki cirri dan karakter yang berbeda serta watak yang berbeda dengan pendidikan lain diluar pendidikan islam.
Sementara itu bila ditinjau dari pengertian pendidikan dengan merujuk pada sistim pendidikan nasional sebagaimana yang tercantum pada undang undang republic Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentangg Sistem Pendidikan Nasional, maka pendidikan memiliki arti "usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalaian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara." Pengertian pendidikan sebagaimana yang terdapat pada undang – undang diatas lebih menekankan pada aspek pendidikan sebagai sebuah lembaga formal ( dalam hal ini sekolah – sekolah formal semisal SD/MI,SMP/MTs dll).
Pada dasarnya pendidikan islam juga bisa diartikan sebagaimana pengertian diatas hanya saja didalam pendidikan islam upaya yang dilakukan dalam upaya pengembangan potensi anak tersebut harus senantiasa berpedoman pada nilai – nilai yang terkandung didalam al qur'an maupun hadits yang merupakan sumber utama dalam kehidupan umat islam. Hal ini mutlak mengingat keduanya adalah asas utama yang menjadi pondasi bagi bangunan islam secara kaffah.
Perlu diketahui bahwa pendidikan islam tidak sama dengan pendidikan agama islam. Ahmad marimba nengatakan bahwa pendidikan agama islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa agar memahami ajaran islam (knowing), terampil melakukan ajaran islam ( doing ), dan melakukan ajaran islam dalam kehidupan sehari – hari. Sedangkan pendidikan islam adalah bimbingan jasmani rohani berdasarkan hukum – hukum agama islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran – ukuran islam. Pendidikan agama islam menekankan pada aspek – aspek pengetahuan tentang ajaran agama islam yang pada akhirnya menunut untuk diterapkan dalam kehidupan sehari – hari sebagai sebuah tingkah laku yang islami. Pendidikan agama islam ini mencakup materi – materi seperti fiqih, qur'an hadits, aqidah akhlak, tasawuf dll. Sedangkan pendidikan islam lebih menitik beratkan pada upaya pembentukan manusia yang memiliki kepribadian utama menurut ukuran islam. Pendidikan ini mencakup segala aspek kehidupan yang dijiwai dengan semangat islam didalamnya. Pendidikan dalam kategori yang kedua ini bisa mencakup ilmu – ilmu yang mungkin secara langsung tidak berhubungan dengan islam akan tetapi bila dikaji secara mendalam tidak keluar juga dari jalur islam semisal filsafat, matematika, biologi, kimia, kedokteran geografi dsb. Pendidikan islam mencakup berbagai ranah keilmuwan namun dikembangkan sesuai dengan koridor – koridor keislaman yang sesuai dengan al qur'an dan hadits. Sehingga para ilmuwan dan intelektual yang berkecimpung dalam disiplin ilmunya masing – masing tetap tidak keluar dari jalur yang telah ditetapkan islam.
Sejarah mencatat bahwa banyak kalangan diluar islam yang mengembangkan keilmuwan sesuai dengan bidangnya sampai pada puncaknya mereka berbalik dan menentang agama mereka sendiri. Kita mengenal Nietze yang karena kegandrungannya pada disiplin ilmu yang ia miliki sampai akhirnya mengatakan bahwa "Tuhan Telah Mati". Ada juga Karl Marx yang karena kegilaannya sampai – sampai dia mengatakan "Agama Adalah Candu" dan masih banyak sederetan ilmuwan dan intelektual barat yang pada titik klimaks pemikiran mereka memiliki pemahaman yang senafas dengan Nietze dan Marx. Lain halnya dalam dunia islam. Puncak intelektual yang diperoleh dalam pengembaraan keilmuwan justru menjadikan mereka sebagai insane shalih yang semakin tawadlu' dan rendah dihadapan Allah. Mereka semakin sadar akan kelemahan yang mereka miliki dan semakin sadar bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Segala – galanya. Dalam islam kita mengenal al Farazi ahli astronomi islam yang pertama kali menyusun astrolabe, Al Fargani penulis ringkasan astronomi yang diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis. Dalam bidang kedokteran kita mengenal Al Razi, tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measle, ia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Selain itu ada Ibnu Sina seorang filosof yang berhasil menemukan system peredaran darah pada manusia bahkan bukunya al qanuun fi al thib diakui sebagai ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah. Tidak berhenti disitu dalam bidang optic kita menganal Abu Ali Al Hasan Ibnu al Haytami yang dikenal dibarat dengan nama al hazen. Dialah orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dililihat. Menurut teorinya bendalah yang mengirim cahaya ke mata dank arena menerima cahaya itu mata melihat benda yang bersangkutan. Dalam bidang kimia ada jabir ibnu Hayyan yang terkenal sebagai bapak kimia. Ia berpendapat bahwa logam seperti timah, besi, dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan suatu zat tertentu. Matematikapun tidak dibiarkan lepas oleh para ilmuwan dan intelektual islam. Dalam disiplin matematika kita mengenal Muhammad ibnu Musa Al Khawarizmi yang juga mahir dalm bidang astronomi. Dialah yang menciptakan ilmu Al Jabbar dan masih banyak lagi disiplin ilmu yang menjadi perhatian ilmuwan dan intelektual muslim kala itu dalam membangun pendidikan islam seperti filsafat, theology, sains, geografi dsb. Namun yang perlu dicatat tidak ada dalam tradisi sejarah intelektual muslim yang dalam titik klimaksnya menentang islam. Hal ini sangat berbeda dengan budaya intelektual barat yang sekuleris. Justeru sebaliknya keilmuwan yang diperoleh menjadi pelengkap bagi mereka untuk menjadi insane yang memiliki perilaku utama dan shalih. Konsistensi para intelektual muslim ini berimplikasi pada kejayaan islam pada masa pemerintahan khilafah Abbasiyah khususnya pada masa pemerintahan khalifah Harun Al Rasyid yang begitu cinta dan meneruh perhatian besar pada tradisi keilmuwan.
Akan tetapi dunia islam mengalami perubahan dan kemunduran yang sangat drastis pasca terjadinya serangfan salib. Umat islam menjadi psimis dan bahkan memandang bahwa ilmu yang benar dan mesti dipelajari adalah ilmu yang berhubungan dengan kehidupan akhirat semata (fiqih, akhlak, tasawuf dan yang semisal). Pandangan ini lebih diperparah lagi dengan banyaknya fatwa ulama' saat itu yang mengatakan bahwa belajar beberapa cabang ilmu ( seperti filsafat, logika, astronomi dan yang semisal ) hukumnya adalah haram. Pandangan semacam inilah yang pada akhirnya menimbulkan adanya dikotomi keilmuwan dalam islam. Ada ilmu agama dan ilmu umum. Belajar ilmu agama itu hukumnya wajib sedangkan yang lain tidak. Parahnya lagi ditambah fatwa yang menyatakan bahwa pintu ijtihad telah ditutup.
Fenomena diatas menjadi sebuah pemicu mundurnya islam dan peradaban islam dimata dunia. Ghazwul fikri yang diterapkan oleh mereka yang tidak suka terhadap islam semakin mulus dan menuai hasil dengan munculnya generasi islam yang shalih namun tidak peka terhadap situasi social yang ada.
Di era Modern ini, pendidikan islam dihadapakan pada situasi global dimana barat telah mengalami puncak kejayaan dengan penguasaan teknologi informasi dan sains yang luar biasa. Pendidikan islam harus segera berbenah diri dalam menghadapi percaturan global apabila tidak ingin semakin usang dan kuna tertelan oleh waktu. Apabila pendidikan islam tidak segera berbenah diri dengan melakukan rekonstruksi dan rekonsiliasi dalam kurikulum dan materinya serta konsentrasi bidang garapannya sudah dapat dipastikan bahwa pendidikan islam akan ditinggalkan dan tidak lagi mendapat perhatian dari umat dan masyarakat.
Fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa pendidikan islam ( dalam hal ini pesantren salaf ) mengalami tingkat kemerosotan yang sangat significan. Lembaga pesantren kurang diminati sementara generasi islam oleh karena kurikulum dan materi yang didalamnya stagnan dan tidak memberi sebuah tantangan dan jaminan bagi kehidupan dimasa mendatang. Pesantren harus segera berbenah diri apabila tidak ingin ditinggalkan sama sekali oleh masyarakat.
Oleh sebab itu di era modern seperti saat ini pendidikan islam harus mampu memberikan sebuah solusi dan jawaban riel dan nyata bagi masyarakat. Pendidikan islam harus mampu bersaing dengan pendidikan yang lain dengan mempersiapkan generasi yang siap bersaing.
Materi dan konsentrasi garapan pendidikan islam tidak hanya berkutat pada aspek religius ( Fiqih, Qur'an hadits, Akhlak dll ). Lebih dari itu pendidikan islam harus mampu memberikan kontribusi yang besar dalam bidang – bidang yang lain seperti matematika, informasi, teknologi, ekonomi, geografi dan lain sebagainya. Dengan mengubah konsentrasi kajian dan bidang garapan tentunya bukan berarti pendidikan islam meninggalkan aspek religiusnya. Namun aspek religius itu harus senantiasa menjiwai, menjadi ruh yang akan menjadi sebuah motivator dalam mengembangkan keilmuwan.
Jika aspek – aspek ini diperhatikan dan betul – betul digarap dengan maksimal bukan mustahil islam akan menjadi agama yang memiliki peradaban tinggi dan menjadi pusat peradaban dunia. Islam akan kembali mengulang masa keemasanya dalam keilmuwan, menjadi kiblat dunia dalam hal ilmu dan pengetahuan.
Hal yang mesti dilakukan untuk pertama kali adalah membangunkan generasi muslim dari tidur panjangnya. Mesti diakui mesti saat ini telah banyak bermunculan lembaga – lembaga pendidikan islam bahkan mungkin telah menjamur di seluruh penjuru tanah air mulai dari play group sampai perguruan tinggi semisal STAIN, UIN dsb, namun budaya dan nuansa keilmuwan masih sangat sedikit ( Untuk tidak menyebut jarang dan bahkan tidak ada ) kita jumpai. Berbeda dengan pendidikan diluar islam seperti lembaga pendidikan Kristen. Mahasiswa dan siswa cenderung bersifat pasif dalam mengembangkan keilmuwan. Jarang diketemukan budaya baca, tulis, dan analisis yang ditemukan dalam kehidupan sehari – hari mereka. Keadaan seperti ini timbul dari tidak adanya rasa butuh dan perhatian pada ilmu. Hal inilah yan g semestinya dihilangkan dari generasi islam.
Apabila kita bernostalgia dengan kembali melihat biografi ulama' – ulama' dahulu pada masa kejayaan islam, disana akan kita temukan betapa mereka sangat menghargai ilmu pengetahuan. Ekonomi yang sulit, jarak jauh yang mesti ditempuh tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk mencari, mangkaji dan mendaatkan pengetahuan. Mereka rela untuk meninggalkan tanah kelahirannya, keluarga bahkan kesenangan hidup dunia demi dan untuk ilmu pengetahuan.
Pendidikan islam yang mampu menjadi solusi dan problem solving terhadap persoalan umat adalah harapan bersama. Harapan itu tidak mungkin bisa terwujud tanpa adanya budaya – budaya keilmuwan yang diciptakan oleh generasi muslim yang menjadi harapan.
Pendidikan islam memerlukan tangan – tangan yang tulus dalam memajukan islam sebagai sebuah peradaban yang kokoh. Peran serta semua kalangan tentunya diharapkan disini dalam rangka menyambut apa yang disabdakan oleh rasulullah saw : " Islam itu tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi dari islam". Semoga apa yang menjadi harapan dan cita – cita rasulullah ini tidak hanya menjadi sebuah jargon yang me"nina bobok" kan umat islam. Umat islam mesti bangun dari tidunya dan sadar bahwa untuk mencapai sebuah peradaban yang tinggi perlu adanya kerja keras, usaha yang serius, keistiqamahan dalam usaha, sabar dalam meraih mimpi, dan tidak meremehkan pada segala hal meskipun hal itu remeh dalam lahirnya. Perlu sebuah perjuangan yang tidak mudah dan yang pasti dalam setiap perjuangan perlu adanya pengorbanan. Mudah – mudahan dalam waktu yang tidak lama lagi cita – cita rasul itu bisa terealisasi dan kita sebagai generasi sadar akan tanggung jawab besar dalam menjadikan islam sebagai agama yang paling tinggi diantara agama yang lain. Tinggi dalam hal agama, peradaban, ekonomi, iptek dan sebagainya dalam seluruh aspek kehidupan. Amin.
والله أعلم بالصواب
Pendidikan islam adalah salah satu bagian dari system pendidikan yang ada didunia. Pendidikan islam digunakan untuk menyebut sebagian dari bentuk pendidikan yang secara otomatis memiliki cirri dan karakter yang berbeda serta watak yang berbeda dengan pendidikan lain diluar pendidikan islam.
Sementara itu bila ditinjau dari pengertian pendidikan dengan merujuk pada sistim pendidikan nasional sebagaimana yang tercantum pada undang undang republic Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentangg Sistem Pendidikan Nasional, maka pendidikan memiliki arti "usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalaian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara." Pengertian pendidikan sebagaimana yang terdapat pada undang – undang diatas lebih menekankan pada aspek pendidikan sebagai sebuah lembaga formal ( dalam hal ini sekolah – sekolah formal semisal SD/MI,SMP/MTs dll).
Pada dasarnya pendidikan islam juga bisa diartikan sebagaimana pengertian diatas hanya saja didalam pendidikan islam upaya yang dilakukan dalam upaya pengembangan potensi anak tersebut harus senantiasa berpedoman pada nilai – nilai yang terkandung didalam al qur'an maupun hadits yang merupakan sumber utama dalam kehidupan umat islam. Hal ini mutlak mengingat keduanya adalah asas utama yang menjadi pondasi bagi bangunan islam secara kaffah.
Perlu diketahui bahwa pendidikan islam tidak sama dengan pendidikan agama islam. Ahmad marimba nengatakan bahwa pendidikan agama islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa agar memahami ajaran islam (knowing), terampil melakukan ajaran islam ( doing ), dan melakukan ajaran islam dalam kehidupan sehari – hari. Sedangkan pendidikan islam adalah bimbingan jasmani rohani berdasarkan hukum – hukum agama islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran – ukuran islam. Pendidikan agama islam menekankan pada aspek – aspek pengetahuan tentang ajaran agama islam yang pada akhirnya menunut untuk diterapkan dalam kehidupan sehari – hari sebagai sebuah tingkah laku yang islami. Pendidikan agama islam ini mencakup materi – materi seperti fiqih, qur'an hadits, aqidah akhlak, tasawuf dll. Sedangkan pendidikan islam lebih menitik beratkan pada upaya pembentukan manusia yang memiliki kepribadian utama menurut ukuran islam. Pendidikan ini mencakup segala aspek kehidupan yang dijiwai dengan semangat islam didalamnya. Pendidikan dalam kategori yang kedua ini bisa mencakup ilmu – ilmu yang mungkin secara langsung tidak berhubungan dengan islam akan tetapi bila dikaji secara mendalam tidak keluar juga dari jalur islam semisal filsafat, matematika, biologi, kimia, kedokteran geografi dsb. Pendidikan islam mencakup berbagai ranah keilmuwan namun dikembangkan sesuai dengan koridor – koridor keislaman yang sesuai dengan al qur'an dan hadits. Sehingga para ilmuwan dan intelektual yang berkecimpung dalam disiplin ilmunya masing – masing tetap tidak keluar dari jalur yang telah ditetapkan islam.
Sejarah mencatat bahwa banyak kalangan diluar islam yang mengembangkan keilmuwan sesuai dengan bidangnya sampai pada puncaknya mereka berbalik dan menentang agama mereka sendiri. Kita mengenal Nietze yang karena kegandrungannya pada disiplin ilmu yang ia miliki sampai akhirnya mengatakan bahwa "Tuhan Telah Mati". Ada juga Karl Marx yang karena kegilaannya sampai – sampai dia mengatakan "Agama Adalah Candu" dan masih banyak sederetan ilmuwan dan intelektual barat yang pada titik klimaks pemikiran mereka memiliki pemahaman yang senafas dengan Nietze dan Marx. Lain halnya dalam dunia islam. Puncak intelektual yang diperoleh dalam pengembaraan keilmuwan justru menjadikan mereka sebagai insane shalih yang semakin tawadlu' dan rendah dihadapan Allah. Mereka semakin sadar akan kelemahan yang mereka miliki dan semakin sadar bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Segala – galanya. Dalam islam kita mengenal al Farazi ahli astronomi islam yang pertama kali menyusun astrolabe, Al Fargani penulis ringkasan astronomi yang diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis. Dalam bidang kedokteran kita mengenal Al Razi, tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measle, ia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Selain itu ada Ibnu Sina seorang filosof yang berhasil menemukan system peredaran darah pada manusia bahkan bukunya al qanuun fi al thib diakui sebagai ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah. Tidak berhenti disitu dalam bidang optic kita menganal Abu Ali Al Hasan Ibnu al Haytami yang dikenal dibarat dengan nama al hazen. Dialah orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dililihat. Menurut teorinya bendalah yang mengirim cahaya ke mata dank arena menerima cahaya itu mata melihat benda yang bersangkutan. Dalam bidang kimia ada jabir ibnu Hayyan yang terkenal sebagai bapak kimia. Ia berpendapat bahwa logam seperti timah, besi, dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan suatu zat tertentu. Matematikapun tidak dibiarkan lepas oleh para ilmuwan dan intelektual islam. Dalam disiplin matematika kita mengenal Muhammad ibnu Musa Al Khawarizmi yang juga mahir dalm bidang astronomi. Dialah yang menciptakan ilmu Al Jabbar dan masih banyak lagi disiplin ilmu yang menjadi perhatian ilmuwan dan intelektual muslim kala itu dalam membangun pendidikan islam seperti filsafat, theology, sains, geografi dsb. Namun yang perlu dicatat tidak ada dalam tradisi sejarah intelektual muslim yang dalam titik klimaksnya menentang islam. Hal ini sangat berbeda dengan budaya intelektual barat yang sekuleris. Justeru sebaliknya keilmuwan yang diperoleh menjadi pelengkap bagi mereka untuk menjadi insane yang memiliki perilaku utama dan shalih. Konsistensi para intelektual muslim ini berimplikasi pada kejayaan islam pada masa pemerintahan khilafah Abbasiyah khususnya pada masa pemerintahan khalifah Harun Al Rasyid yang begitu cinta dan meneruh perhatian besar pada tradisi keilmuwan.
Akan tetapi dunia islam mengalami perubahan dan kemunduran yang sangat drastis pasca terjadinya serangfan salib. Umat islam menjadi psimis dan bahkan memandang bahwa ilmu yang benar dan mesti dipelajari adalah ilmu yang berhubungan dengan kehidupan akhirat semata (fiqih, akhlak, tasawuf dan yang semisal). Pandangan ini lebih diperparah lagi dengan banyaknya fatwa ulama' saat itu yang mengatakan bahwa belajar beberapa cabang ilmu ( seperti filsafat, logika, astronomi dan yang semisal ) hukumnya adalah haram. Pandangan semacam inilah yang pada akhirnya menimbulkan adanya dikotomi keilmuwan dalam islam. Ada ilmu agama dan ilmu umum. Belajar ilmu agama itu hukumnya wajib sedangkan yang lain tidak. Parahnya lagi ditambah fatwa yang menyatakan bahwa pintu ijtihad telah ditutup.
Fenomena diatas menjadi sebuah pemicu mundurnya islam dan peradaban islam dimata dunia. Ghazwul fikri yang diterapkan oleh mereka yang tidak suka terhadap islam semakin mulus dan menuai hasil dengan munculnya generasi islam yang shalih namun tidak peka terhadap situasi social yang ada.
Di era Modern ini, pendidikan islam dihadapakan pada situasi global dimana barat telah mengalami puncak kejayaan dengan penguasaan teknologi informasi dan sains yang luar biasa. Pendidikan islam harus segera berbenah diri dalam menghadapi percaturan global apabila tidak ingin semakin usang dan kuna tertelan oleh waktu. Apabila pendidikan islam tidak segera berbenah diri dengan melakukan rekonstruksi dan rekonsiliasi dalam kurikulum dan materinya serta konsentrasi bidang garapannya sudah dapat dipastikan bahwa pendidikan islam akan ditinggalkan dan tidak lagi mendapat perhatian dari umat dan masyarakat.
Fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa pendidikan islam ( dalam hal ini pesantren salaf ) mengalami tingkat kemerosotan yang sangat significan. Lembaga pesantren kurang diminati sementara generasi islam oleh karena kurikulum dan materi yang didalamnya stagnan dan tidak memberi sebuah tantangan dan jaminan bagi kehidupan dimasa mendatang. Pesantren harus segera berbenah diri apabila tidak ingin ditinggalkan sama sekali oleh masyarakat.
Oleh sebab itu di era modern seperti saat ini pendidikan islam harus mampu memberikan sebuah solusi dan jawaban riel dan nyata bagi masyarakat. Pendidikan islam harus mampu bersaing dengan pendidikan yang lain dengan mempersiapkan generasi yang siap bersaing.
Materi dan konsentrasi garapan pendidikan islam tidak hanya berkutat pada aspek religius ( Fiqih, Qur'an hadits, Akhlak dll ). Lebih dari itu pendidikan islam harus mampu memberikan kontribusi yang besar dalam bidang – bidang yang lain seperti matematika, informasi, teknologi, ekonomi, geografi dan lain sebagainya. Dengan mengubah konsentrasi kajian dan bidang garapan tentunya bukan berarti pendidikan islam meninggalkan aspek religiusnya. Namun aspek religius itu harus senantiasa menjiwai, menjadi ruh yang akan menjadi sebuah motivator dalam mengembangkan keilmuwan.
Jika aspek – aspek ini diperhatikan dan betul – betul digarap dengan maksimal bukan mustahil islam akan menjadi agama yang memiliki peradaban tinggi dan menjadi pusat peradaban dunia. Islam akan kembali mengulang masa keemasanya dalam keilmuwan, menjadi kiblat dunia dalam hal ilmu dan pengetahuan.
Hal yang mesti dilakukan untuk pertama kali adalah membangunkan generasi muslim dari tidur panjangnya. Mesti diakui mesti saat ini telah banyak bermunculan lembaga – lembaga pendidikan islam bahkan mungkin telah menjamur di seluruh penjuru tanah air mulai dari play group sampai perguruan tinggi semisal STAIN, UIN dsb, namun budaya dan nuansa keilmuwan masih sangat sedikit ( Untuk tidak menyebut jarang dan bahkan tidak ada ) kita jumpai. Berbeda dengan pendidikan diluar islam seperti lembaga pendidikan Kristen. Mahasiswa dan siswa cenderung bersifat pasif dalam mengembangkan keilmuwan. Jarang diketemukan budaya baca, tulis, dan analisis yang ditemukan dalam kehidupan sehari – hari mereka. Keadaan seperti ini timbul dari tidak adanya rasa butuh dan perhatian pada ilmu. Hal inilah yan g semestinya dihilangkan dari generasi islam.
Apabila kita bernostalgia dengan kembali melihat biografi ulama' – ulama' dahulu pada masa kejayaan islam, disana akan kita temukan betapa mereka sangat menghargai ilmu pengetahuan. Ekonomi yang sulit, jarak jauh yang mesti ditempuh tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk mencari, mangkaji dan mendaatkan pengetahuan. Mereka rela untuk meninggalkan tanah kelahirannya, keluarga bahkan kesenangan hidup dunia demi dan untuk ilmu pengetahuan.
Pendidikan islam yang mampu menjadi solusi dan problem solving terhadap persoalan umat adalah harapan bersama. Harapan itu tidak mungkin bisa terwujud tanpa adanya budaya – budaya keilmuwan yang diciptakan oleh generasi muslim yang menjadi harapan.
Pendidikan islam memerlukan tangan – tangan yang tulus dalam memajukan islam sebagai sebuah peradaban yang kokoh. Peran serta semua kalangan tentunya diharapkan disini dalam rangka menyambut apa yang disabdakan oleh rasulullah saw : " Islam itu tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi dari islam". Semoga apa yang menjadi harapan dan cita – cita rasulullah ini tidak hanya menjadi sebuah jargon yang me"nina bobok" kan umat islam. Umat islam mesti bangun dari tidunya dan sadar bahwa untuk mencapai sebuah peradaban yang tinggi perlu adanya kerja keras, usaha yang serius, keistiqamahan dalam usaha, sabar dalam meraih mimpi, dan tidak meremehkan pada segala hal meskipun hal itu remeh dalam lahirnya. Perlu sebuah perjuangan yang tidak mudah dan yang pasti dalam setiap perjuangan perlu adanya pengorbanan. Mudah – mudahan dalam waktu yang tidak lama lagi cita – cita rasul itu bisa terealisasi dan kita sebagai generasi sadar akan tanggung jawab besar dalam menjadikan islam sebagai agama yang paling tinggi diantara agama yang lain. Tinggi dalam hal agama, peradaban, ekonomi, iptek dan sebagainya dalam seluruh aspek kehidupan. Amin.
والله أعلم بالصواب
Langganan:
Postingan (Atom)
